Diputusin pas lagi sayang- sayangnya tentu membuat nyesek dan sakit hati. Itulah yang dialami oleh Vina yang di putus oleh Dafa. Putus tanpa kejelasan yang dilakulan Dafa membuat Vina pusing tujuh keliling memikirkan kesalahan yang mungkin diperbuatnya.
Namun, perlakuan Dafa yang sama ketika mereka masih berpacaran menambah pening Vina. Perhatian- perhatian diberikan pada Vina, membuat gadis itu yang belum move on hampir goyah.
Apa sebenarnya alasan Dafa memutuskan hubungan jika masih memberikan perhatian dan harapan? Lalu, apakah Vina dapat bertahan hingga akhir atau malah goyah dan kembali jatuh?
Ikuti kelanjutan hubungan keduanya yang penuh dengan lika- liku dan berbagai emosi yang menguras hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Fujiwara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Janji
Esok paginya, Candra mengantar Vina untuk pulang ke rumah. Candra sudah rapi dengan seragamnya sementara Vina masih mengenakan baju semalam. Sesampainya di rumahnya, Vina segera masuk kamar untuk mandi dan mempersiapkan semua keperluan sekolahnya.
“Ayah sama Bunda kok sepi?” tanya Candra melihat dua anak Pak Cahyo duduk manis di meja makan.
“Masih di rumah Nenek.”
“Terus yang masak sarapan siapa?”
“Nggak ada, pagi ini kita makan ini,” jawab Eky menunjuk roti tawar di meja makan.
“Mana kenyang,” gerutu Candra mengambil selembar roti tawar itu.
“Semalem Kak Vina kok nggak pulang?” tanya Faris.
“Nginep di rumah gue dia, kangen katanya.”
Mendengar jawaban Candra, Faris hanya memuta bola mata malas. Faris yakin sesuatu terjadi pada kakaknya lagi. Semalam dirinya tidur lebih awal jadi tidak tau apa yang terjadi.
Vina dan Candra sampai di sekolah yang masih sepi, tadi mereka sengaja berangkat pagi agar bisa sarapan di kantin terlebih dulu. Kini keduanya duduk disalah satu kursi kantin yang sepi. Di hadapan keduanya sudah ada mangkok soto dan teh hangat.
“Tumben lo berdua berangkat pagi buta?”
“Mau sarapan dulu. Ayah sama Bunda nggak dirumah,” jawab Vina.
“Kemana Ayah sama Bunda?”
“Jenguk Neneknya Vina.”
“Gue nggak nanya lo,” ucap Bara sewot.
“Noh udah dijawab sama Candra.”
Bara mengangguk paham, “Oke, Babang ganteng mau ke kelas dulu.”
“Najis,” umpat Candra dan Vina bersamaan.
Bara tidak menggubris kedua cewek itu, dirinya langsung undur diri darisana. Sementara Vina melanjutkan sarapannya.
“Lo nanti balik sama gue?”
“Bareng Bang Eky aja.”
“Lo masih belum dapet penjelasan dari Dafa?”
“Belum.”
Selesai mengisi perut dua gadis itu berjalan bersama menuju kelas karena sebentar lagi bel masuk akan berdering. Suasana koridor juga mulai dipadati anak- anak yang berlarian ke sana- sini. Langkah Vina dan Candra terhenti ketika Dafa berdiri menghadang mereka. Candra menatap Dafa dingin, sementara Vina membuang wajah. Dafa mengusap tengkuknya sebelum mengucapkan sepatah kata.
“Tadi gue ke rumah lo, tapi kata Eky lo udah berang…”
“Ngapain lo ke rumah Vina?!”
“Gue mau jemput Vina, mau ngajak ke…”
Belum sempat Dafa menyelesaikan ucapannya, Vina sudah lebih dulu pergi darisana. Gadis itu sudah benar- benar muak dengan perilaku cowok itu. Sudah cukup dirinya dipermainkan, kini Vina bertekad untuk tidak mencari- cari alasan mengapa Dafa memutuskannya. Ia sudah lelah batin.
“Vin, tunggu!” teriak Candra mengejar sahabatnya yang sudah sampai ambang pintu kelas.
Dafa hanya bisa melihat Vina dari jauh, raut wajahnya terlihat sendu. Tak lama bel tanda pelajaran dimulai berdering, mau tak mau Dafa juga harus masuk kelas.
...🐈🐈🐈...
Siang ini pelajaran di kelas Vina adalah olahraga, semua anak di kelas Vina sudah menuju lapangan untuk pemanasan. Di lapangan basket outdoor Pak Bagus – guru olahraga – sudah menunggu disana. Melihat hal itu, semua anak langsung lari menghampiri guru dengan perut buncit itu.
“Silahkan mulai pemanasan, sebelumnya ketua kelas pimpin berdoa dulu.”
Teo mulai mengatur pasukannya dan menjalankan yang diperintahkan Pak Bagus tadi. Setelah berdoa mereka mulai gerakan pemanasan yang dipimpin oleh Teo dan diakhiri dengan lari mengelilingi lapangan basket 3 kali.
“Kamu! Siapa namamu?”
“Wildan, Pak.”
“Ya, sama kamu ikut saya ke gudang ambil peralatan!”
Wildan dan Agus yang ditunjuk berjalan mengikuti kemana Pak Bagus, sementara anak- anak yang lain menepi sembari menunggu mereka kembali. Vina dan Candra berkumpul dengan teman- teman perempuannya. Mereka duduk selonjoran di bawah pohon yang rindang.
“Loh? Kok mereka jam olahraganya sekarang?” ucap Lia membuat teman- teman yang lain menoleh.
“Iya, bukannya IPA 2 nanti jam terakhir ya?” kata Vivin menimpali.
“Coba samperin sana.”
Vivin yang sudah bersiap menghampiri anak- anak kelas IPA 2 mengurungkan niatnya saat melihat Pak Bagus kembali bersama Wildan dan Agus. Pak Bagus meniup peluitnya dan menyuruh semuanya berkumpul.
“Hari ini kelas IPA 2 akan digabung dengan kelas IPA 5 dikarenakan nanti saya tidak bisa memberi materi di jam terakhir,” ucap Pak Bagus membuat seketika suasana ricuh.
“Harap diam dan dengarkan dulu! Nanti yang laki- laki bisa bermain basket, IPA 2 lawan IPA 5. Sedangkan yang perempuan bisa bermain bola beracun. Silahkan bagi timnya dan saya minta bantuan salah satu anak laki- laki untuk menjadi wasit di permainan bola beracun, saya akan jadi wasit di permaianan basket,” jelas Pak Bagus.
“Kalian bisa mulai sekarang, ini bolanya. Harap kalian bermain dengan fair.”
Anak- anak mulai membubarkan diri dan berjalan ke lapangan masing- masing. Anak perempuan sudah berada di posisi mereka, begitu pula dengan anak laki- laki.
Permainan sudah dimulai, teriakan- teriakan anak perempuan mulai memenuhi lapangan. Terutama Lia yang menjerit dengan suara melengking saat dirinya hampir saja terkena bola. Vina menggeplak Lia karena merasa terganggu dengan suara cewek itu.
“Awas… awas! Minggir sebelah sana!” teriak Vivin.
“Yah, kena gue.”
Lama- lama banyak dari kelas Vina maupun kelas lawan yang keluar. Permainan makin ramai, apalagi bel istirahat pertama baru berbunyi. Banyak anak- anak menyempatkan diri untuk menonton sebentar sebelum melanjutkan langkahnya kembali menuju kantin.
“Vina! Awas!” teriak Erin.
Namun terlambat, bola yang datang sangat cepat menyebabkan Vina tidak bisa menghindar lagi. Alhasil bola itu tepat mengenai wajahnya membuat ia terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk.
PRITT!
Bara meniup peluit dengan sekuat tenaga menyatakan Vina harus keluar dari lapangan bermain. Namun tiba- tiba terjadi keributan saat Candra memekik.
“Darah! Vin, lo berdarah!”
Bara segera berlari mendekat, cowok itu melihat hidung Vina yang mengeluarkan darah sementara para cewek histeris.
“Heh! Siapa tadi yang lempar bolanya?! Ngaku lo!” bentak Candra pada anak- anak kelas IPA 2.
“Gu… gue. Maaf, gue nggak sengaja,” ucap Fena takut- takut.
“Kalo main selow dong! Lo ada dendam apa sama temen gue?!”
“Can, udah. Dia udah bilang nggak sengaja. Sekarang lo bawa Vina ke UKS aja,” kata Bara mencoba melerai.
“Nggak bisa, gue tau dia pasti sengaja!”
Keributan masih terjadi, membuat Pak Bagus juga harus ikut turun tangan. Bara tadi menjerit frustasi dan meminta bantuan guru buncit itu. Para anak cowok juga menghentikan permainan mereka dan segera melihat apa yang sedang terjadi. Vina masih menyeka hidungnya, darah masih keluar darisana.
“Bawa Vina ke UKS dulu, obtain dulu lukanya!” perintah Pak Bagus.
Vina hanya bisa pasrah saat dua orang memapahnya, ia sudah terlalu pening untuk melihat siapa yang membantunya.
“Dongakin pala lo, biar darahnya berhenti keluar.”
“Jangan! Nanti penyumbatan di otak. Jalan biasa, jangan nunduk juga.”
“Ckck, Vina mana punya otak.”
Vina menggeram mendengar celetukan itu, ia tau siapa yang mengatainya tidak punya otak itu. Ia menjambak rambut Candra yang baru saja mengatainya itu.
“Woi! Sakit, rambut gue, Vin! Ampun! Lo sakit tenaganya masih kek babon ya?”
Vina melirik sinis, beruntung mereka sampai di UKS. Ia segera berbaring dan memejamkan matanya, tiba- tiba ia merasa mengantuk. Vina tidak peduli apa yang akan dilakukan para petugas UKS pada hidungnya.
...🐈🐈🐈...
Entah berapa lama Vina tertidur, ia membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali. Hal pertama yang dilihatnya adalah langit- langit sebuah ruangan berwarna putih kusam. Lalu pandangannya beralih menyapu seluruh ruangan, Vina mengernyit melihat seseorang hendak masuk tapi di tahan oleh seseorang.
“Gue cuma mau kasih ini ke Vina.”
“Mana titipin ke gue aja.”
“Nggak, gue mau ketemu langsung sama Vina.”
“Kalo udah ketemu mau ngapain?! Kalo udah di kasih terus lo mau apa?! Mana titipin gue aja!”
“Ada apaan sih ribut amat?” tanya Vina mengernyit, dirinya sudah penasaran setengah mati.
“Eh, udah sadar lo? Pules amat tidurnya, Neng,” cibir Candra.
“Masih sakit, Vin?”
“Udah nggak, lo ngapain disini?” tanya Vina heran melihat Dafa berdiri di depan ruang UKS dengan menenteng kantong plastik.
“Hmm, gue mau kasih ini,” jawab Dafa memberikan kantong plastik yang ternyata berisi plester dan beberapa bungkus jajanan serta minuman.
“Thank’s, lain kali lo nggak usah repot- repot. Ayo, Can, ke kelas.”
Vina melempar kantong plastik itu diatas mejanya, teman- teman sekelas Vina seketika mengerubunginya. Vina hanya mengambil susu kotak rasa pisang dan yang lainnya ia bagi pada siapa pun yang mau. Candra dengan ganas mengambil beberapa bungkus ciki.
“Yah, gue cuma kebagian plester,” ucap Wildan.
“Udah nasib lo, sana balik ke alam masing- masing.”
“Lo udah sembuh? Gimana keadaan hidung lo? Jadi makin pesek nggak?” tanya Lia mengunyah wafer cokelat hasil rampasan.
“Segar bugar sekarang, orang tidurnya nyenyak sekali.”
“Rese’ lo, Can. Balikin jajanan gue!”
“Udah terlanjur masuk perut, mau lo ambil lagi silahkan. Tunggu gue berak dulu.”
Vina mendengus malas mendengar jawaban Candra yang tanpa filter itu. Tak lama kerumunan massa membubarkan diri kala Pak Umar masuk kelas di jam terakhir ini.
“Gue tidur lama juga ya?” gumam Vina.
“Baru sadar lo? Gue kira malah lo mati.”
Ingin rasanya Vina mencekik leher Candra hingga putus, tapi sayang nanti dirinya akan kehilangan partner gilanya.
Vina mendengus malas pada pelajaran kali ini. Kelas Vina diberi tugas untuk menggambar sketsa sebuah bunga. Sedangkan Vina yang memang tidak memiliki bakat menggambar hanya bisa mengerang frustasi. Sedaritadi yang dilakukannya hanya mencoret- coret dan menghapus coretan itu lagi.
“Lo ngapa dah? Riweh amat,” tanya Candra yang masih fokus pada gambarnya.
“Liat gambar punya lo dong.”
“Nih, hasil mahakarya gue nih.”
Vina menyemburkan tawa ngakak melihat gambar Candra yang bentuknya absurd, suara tawa Vina mengundang seluruh pasang mata di kelasnya termasuk Pak Umar yang daritadi tertidur dimejanya.
“Lo gambar kembang apa deh? Bentuknya gini amat.”
“Berisik lo! Mana balikin. Mending gue daripada punya lo.”
“Vina, Candra! Jangan ribut!” peringat Pak Umar yang masih merem melek.
“Iya, Pak,” jawab Vina dan Candra kompak.
Tak lama suara bel berbunyi dan seketika seluruh penghuni kelas bersorak gembira karena sudah waktunya pulang. Anak- anak yang tadinya lesu kini berubah semangat. Mereka serempak membereskan semua alat tulisnya dan memasukkan ke dalam tas.
“Tugas tadi di buat PR, ya? Dikumpulkan Minggu depan,” ucap Pak Umar, “Saya akhiri, kalian boleh pulang. Selamat siang.”
Setelah kepergian Pak Umar, suasana kelas riuh oleh suara anak- anak perempuan juga laki- laki yang masih meributkan tugas menggambar ini.
“Ke Mentari yuk? Gambar disana,” ajak Erin pada yang lain.
“Ayo!” jawab Vina semangat.
“Lo udah nggak apa- apa emang?” tanya Lila.
“Iya nggak apa- apa. Ayo! Lo mau ikut, Can?”
“Ada yang traktir nggak?”
“Mana ada? Bayar sendiri lah.”
Candra diam dengan kening berkerut seperti memikirkan sesuatu, membuat anak- anak yang lain memutar bola matanya.
“Gue nggak ikut. Bye gue pulang dulu,” ucap Candra berpamitan, ia menggeplak bahu Vina dan segera pergi darisana.
Akhirnya anak- anak perempuan di kelas Vina berkumpul di Mentari. Bohong jika mereka benar mengerjakan tugas menggambar, karena yang dilakukan mereka hanya ghibah. Memang benar meja penuh dengan buku gambar dan pritilannya, tapi yang bekerja bukan tangan, melainkan mulut mereka.
“Gue perhatiin sekarang si Fena lengket banget sama Dafa,” celetuk Nisa.
“Apa iya? Tapi gue liat tampang si Dafa B aja tuh, dia masih seneng kumpul sama anak cowok yang lain.”
Vina tidak berminat mendengarkan celotehan teman- temannya, entah mengapa percakapan mereka jadi berbelok seperti ini. Padahal tadi mereka lurus- lurus saja.
“Gue sih yakin pas tadi jam penjas si Fena sengaja ngincar Vina.”
“Iya, gue gedek lama- lama liat tampang sok polosnya. Ngomongnya nggak sengaja tapi tampangnya kek yang seneng gitu.”
“Heh! Tadi katanya mau buat tugas?” kata Vina yang sudah mulai jengah dengan bahan obrolan teman- temannya.
“Hehehehe, jadi keasyikkan. Tetiba gue jadi males gambar.”
Rasanya Vina ingin mengumpat, rencana awal yang ingin mengerjakan tugas malah meleset. Sembilan puluh persen ghibah dan lima persennya ngobrol ngalor- ngidul, lalu lima persennya nugas. Begitulah cewek jika sudah dikumpulkan jadi satu.
Kini Vina tengah menunggu Eky yang katanya sanggup menjemputnya, tapi sudah setengah jam Vina menunggu belum juga terlihat bulu hidungnya. Ponsel Vina berdering, tanpa melihat siapa si penelpon ia segera menjawab panggilan itu.
“Halo? Eh, maaf. Assalamualaikum, Bang Eky kemana sih? Katanya mau jemput?! Kok lama?!” tanya Vina nge- gas begitu tahu si penelpon adalah abangnya.
“Lah? Terus gue gimana? Kenapa tiba- tiba bisa bocor bannya? Hmm, ya udah gue pesen B-Jek aja.”
Vina menghembuskan nafas lelah, dirinya benar- benar sial hari ini. Akhirnya Vina berjalan menuju halte depan sekolahnya untuk memesan B-Jek. Ia tidak nyaman jika harus menunggu di Mentari seorang diri. Teman- teman laknatnya tadi meninggalkan dirinya seorang diri.
TIINN!
Vina spontan menoleh melihat sebuah mobil berhenti didepannya, ia mengernyit. Padahal dirinya belum memesan, kenapa si kang driver sudah tiba? Juga ia berencana memesan ojek motor yang harganya lebih murah ditambah dengan promo. Kaca mobil diturunkan oleh sang pengemudi dan terlihatlah wajah glowing Galang dengan senyum pasta giginya.
“Kak Galang?”
Kini Vina mengucap syukur di dalam hati, ia tidak perlu mengeluarkan ongkos. Juga tidak perlu berjibaku dengan polusi di sore hari ini. Vina bisa duduk nyaman di mobil Galang. Sebuah keberuntungan Vina yang sejak tadi selalu dilanda kesialan.
“Kok baru pulang?” tanya Galang.
“Iya, Kak. Tadi buat tugas dulu di Mentari. Kak Galang darimana?”
“Gue juga tadi ke Mentari, ambil pesenan.”
Vina hanya mengangguk seadanya, dirinya masih belum membayar utang pada Galang karena kemarin batal. Ia merasa tidak enak pada Galang.
“Besok luang nggak, Kak?”
“Hmm, besok gue balik jam satu siang. Kenapa?”
“Gue rencana mau traktir lo, Kak. Kan, kemarin belum jadi. Jadi kalo besok lo ada waktu, gue mau tepatin janji yang kemarin nggak jadi.”
Galang yang mendengar ucapan Vina tertawa, membuat Vina mengernyitkan dahi bingung. Perasaan tidak ada yang lucu dari ucapannya.
“Ya elah, nggak usah dianggap serius, Vin. Gue cuma bercanda nagih janji lo. Udah nggak usah dipikirin lagi.”
Vina menggeleng, “Nggak, Kak. Janji itu utang, gue nggak mau punya utang. Kalo nanti gue meninggal, nggak yakin abang sama adek gue mampu bayar. Jadi gue harus tetap tepatin dan bayar utang itu.”
“Serem amat omongan lo, Vin,” jawab Galang terkekeh geli.
...🐈🐈🐈...
Bonus Pict:
Gambar bunga punya Candra
dah punya gc ayo gunakan para membernya
😂😂😂😂 lagi seru-seru, baca pertarungan mereka....tegang dengan emosinya Juno. Eh kox gambar mas Kardi mendelik 🤣🤣🤣
Si bunda juga iseng banget, sampe nyuruh semua anaknya beli minyak goreng promo
Untung sukses bund 👍👍😂😂
Eh Ekky, kamu kox sepertiku, yang suka maling mangga 🤣🤣 dan selalu sukses juga 😂😂 sumpah deh, nih cerita eh, episode....judulnya Maling Mangga yang Gesrek 🤣🤣🤣
pagi pagi absen dimari
kolom misi tertera karya Author lain 🤦🤦🤦
Omegot NT mah
duh....nostalgila dehh
kalian bikin kepengen 😥😥