Dua rumah yang berdampingan, satu pagar yang memisahkan, dan ribuan rahasia yang terkunci rapat.
Bagi Ayrania Johan, Alano adalah gangguan terbesar dalam hidupnya. Sepupu angkat yang jahil, kapten basket yang gonta-ganti pacar seperti mengganti jersey, dan cowok yang hobi memanggilnya dengan sebutan konyol—"Ayang". Sebagai sekretaris OSIS yang teladan, Ayra hanya ingin masa SMA-nya tenang, tanpa drama, dan tanpa gangguan dari tingkah tidak terduga Alano.
Namun bagi Alano, Ayra adalah dunianya. Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di rumah keluarga Malik sepuluh tahun lalu sebagai anak angkat, hatinya sudah tertambat pada gadis kecil yang memberinya cokelat dan senyuman paling tulus. Status mereka sebagai "keluarga" adalah pelindung sekaligus penjara baginya. Alano memilih topeng playboy dan kejahilan demi menyembunyikan rasa cemburu yang membakar setiap kali cowok lain mendekati "Ay"-nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Pagi itu, rumah keluarga Johan terasa sangat sunyi. Tidak ada suara denting sendok yang beradu dengan piring sereal, atau suara Ayra yang sibuk mencari kaos kaki OSIS-nya. Di lantai dua, tepatnya di dalam kamar bernuansa krem dan pastel, Ayra meringkuk di balik selimut tebalnya. Wajahnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, matanya sayu, dan bibirnya kering.
"Ugh..." Ayra kembali merasa gejolak hebat di perutnya.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia berlari kecil menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Hoek... hoek... Suara muntah itu terdengar menyesakkan. Lambungnya kosong, yang keluar hanyalah cairan asam yang pahit. Tubuhnya gemetar hebat, ia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin karena kakinya tak lagi sanggup menopang berat badannya.
Mama Aura masuk dengan wajah cemas, membawa segelas air hangat dan handuk kecil. "Sayang... ya ampun, kamu makin parah."
"Ma... pusing..." bisik Ayra lirih. Ia dibantu Mama Aura kembali ke tempat tidur. Begitu kepalanya menyentuh bantal, dunianya serasa berputar 360 derajat.
Di sekolah, Alano gelisah. Ia berdiri di depan kelas 10 IPS 1, menunggu sosok gadis berkuncir kuda itu lewat, namun nihil. Bel masuk sudah berbunyi lima menit yang lalu, tapi kursi Ayra di dalam kelas masih kosong.
Tanpa pikir panjang, Alano mengeluarkan ponselnya. Ia mengirim pesan singkat ke Bima.
Bim, izinin gue ke guru piket. Bilang gue ada urusan keluarga mendadak.
Alano langsung berlari menuju parkiran, melompati motornya, dan melesat pulang. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu semalam badan Ayra sudah hangat, tapi ia tidak menyangka Ayra akan jatuh sakit separah ini.
Sesampainya di rumah, Alano tidak lewat pintu depan. Ia sudah biasa lewat pintu samping yang menghubungkan taman rumah mereka. Ia langsung naik ke lantai dua rumah Ayra—karena Mama Aura sudah menganggapnya anak sendiri, ia tidak ragu masuk ke wilayah pribadi itu.
"Ma? Ayra gimana?" tanya Alano saat berpapasan dengan Mama Aura di koridor atas.
"Demamnya tinggi, No. Terus tiap dikasih bubur atau minum selalu dimuntahin lagi. Mama bingung, mau dibawa ke dokter tapi Ayra-nya nggak mau gerak, katanya kepalanya sakit banget kalau dibawa jalan," jawab Mama Aura sedih. "Mama mau ke apotek dulu beli obat mual yang biasa, Papa kamu lagi di kantor."
"Biar Lano yang jagain, Ma. Lano di sini aja," ucap Alano sungguh-sungguh.
Alano membuka pintu kamar Ayra dengan sangat perlahan. Ruangan itu sedikit gelap karena gordennya hanya dibuka separuh. Ia berjalan mendekat ke sisi tempat tidur. Melihat Ayra yang biasanya galak dan kaku kini tampak begitu rapuh, hati Alano terasa seperti diremas-remas.
"Ay..." bisiknya pelan.
Ayra membuka matanya sedikit. "Lano? Kamu... kok nggak sekolah?"
"Gimana mau sekolah kalau 'Ayang' gue lagi teler begini," canda Alano, tapi suaranya bergetar karena khawatir. Ia duduk di pinggir ranjang, memeras handuk kecil yang sudah direndam air hangat di dalam waskom.
Ia meletakkan handuk itu di dahi Ayra. "Badan lo panas banget, Ay. Udah kayak setrikaan."
Ayra hanya memejamkan mata, menikmati sensasi dingin dari handuk itu. "Mual, Lan... perut aku sakit."
Alano terdiam. Ia teringat dulu saat ia kecil dan sakit, almarhum ibu kandungnya sering mengusap perutnya dengan minyak kayu putih. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Alano mengambil botol minyak kayu putih di atas meja rias Ayra.
Ia sedikit menyibakkan selimut Ayra. "Maaf ya, gue usapin biar anget perutnya. Jangan mikir macem-macem, gue cuma mau lo sembuh."
Ayra terlalu lemas untuk protes. Ia merasakan tangan Alano yang besar dan hangat mengusap perutnya secara perlahan. Gerakannya sangat lembut, seolah Alano takut jika ia menekan terlalu keras, Ayra akan hancur. Anehnya, rasa mual yang tadi menyiksa perlahan-lahan mulai sedikit mereda. Kehadiran Alano entah bagaimana memberikan rasa aman yang tidak bisa dijelaskan oleh Ayra.
Beberapa saat kemudian, Ayra mulai tertidur karena kelelahan. Alano tetap di sana, tidak beranjak sedikit pun. Ia menatap wajah Ayra dalam diam. Ia merapikan anak rambut yang menempel di dahi Ayra yang berkeringat.
"Lo itu keras kepala banget sih, Ay," bisik Alano pada gadis yang sedang terlelap itu. "Lo selalu fokus sama OSIS, sama Rendy, sama sekolah... sampe lo lupa kalau ada gue yang selalu nunggu lo nengok ke belakang."
Alano menggenggam tangan Ayra yang terasa panas. "Gue rela bolos tiap hari, gue rela dihukum Pak Gunawan, asal lo nggak sakit kayak gini. Liat lo lemes begini bikin gue ngerasa gagal jagain lo."
Tanpa sadar, Alano mengecup punggung tangan Ayra dengan lembut. Ia tidak tahu bahwa Ayra sebenarnya belum sepenuhnya tertidur. Gadis itu berada di ambang antara sadar dan mimpi. Ia mendengar suara bisikan Alano, ia merasakan sentuhan lembut di tangannya.
Dalam hati kecilnya, Ayra merasa tersentuh. Selama ini ia selalu menganggap Alano hanyalah beban, pengganggu, dan cowok yang tidak serius. Tapi hari ini, di saat ia berada di titik terendahnya, Alano-lah yang ada di sana. Bukan Rendy yang ia banggakan, bukan teman-teman OSIS-nya, tapi Alano—si "Boy Next Door" yang selalu ia usir.
Ayra sedikit menggerakkan jarinya, membalas genggaman tangan Alano meski sangat lemah. Ia tidak membuka mata, tapi sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum yang sangat tipis.
Alano terkejut melihat respon itu. Ia tersenyum lebar, merasa sangat lega. "Cepet sembuh, Ay... Ayang-nya Lano."
Sore itu, Alano benar-benar menjaga Ayra sampai Mama Aura kembali. Ia bahkan sempat menyuapi Ayra sesendok demi sesendok bubur dengan kesabaran ekstra, meskipun Ayra berkali-kali menolak. Bagi Alano, kesembuhan Ayra adalah prioritas utamanya, melebihi apa pun di dunia ini.