Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabuk Pengaman
Malam ini, kediaman utama keluarga Willey disulap menjadi tempat berkumpulnya para pilar bisnis dan saudara-saudara jauh. Undangan makan malam keluarga besar bukan sekadar acara makan-makan biasa bagi Noah dan Viona; ini adalah "ujian akting" tingkat tinggi. Salah sedikit saja, gosip tentang pernikahan kontrak mereka bisa menyebar secepat api di atas bensin.
Noah sudah siap di ruang tamu, mengenakan kemeja hitam berbahan satin yang sedikit mengkilap di bawah lampu kristal. Ia sesekali melirik jam tangannya, sampai suara langkah heels yang beradu dengan lantai marmer mengalihkan perhatiannya.
Viona muncul. Gaun hitamnya memeluk tubuh dengan sempurna, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya yang digelung santai justru membuat leher jenjangnya terekspos jelas. Riasan matanya yang tajam seolah menantang siapa pun yang berani menatapnya.
“Gimana? Gue udah oke, nggak?" tanya Viona, sambil memutar tubuhnya sedikit di depan Noah.
Noah terdiam. Detik seolah melambat. Ia tidak hanya melihat Viona sebagai sahabat masa kecilnya lagi malam ini. Tatapannya menelusuri tiap lekuk dan detail riasan Viona, dari binar matanya sampai bibirnya yang berwarna merah gelap. Ada sorot mata yang sulit diartikan, sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kekaguman biasa. Tatapan yang membuat bulu kuduk Viona meremang.
“Looks good," jawab Noah akhirnya. Suaranya sedikit lebih berat dari biasanya. Ia berdehem, berusaha menetralisir suasana yang mendadak terasa panas.
Viona mencibir, meski hatinya sedikit lega. "Cuma looks good? Gue dandan dua jam loh ini! Puji kek, bilang 'Istriku cantik banget malam ini' gitu."
Noah melangkah mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Ia meraih tangan Viona, lalu melingkarkannya ke lengan kokohnya.
“Simpan itu buat di depan paman dan bibi nanti, Viona," bisik Noah tepat di samping telinganya.
“Malam ini, lo harus nempel sama gue. Jangan jauh-jauh, atau mereka bakal curiga kenapa pengantin baru duduknya pisah-pisahan."
Viona menelan ludah. Aroma parfum kayu cendana dari tubuh Noah mulai mengusik fokusnya. "Iya, iya. Gue udah siapin naskah paling romantis sedunia buat mereka."
“Bagus," sahut Noah sambil mulai berjalan menuju pintu. "Dan satu lagi... kalau bisa, jangan terlalu cantik. Gue males harus ngusir saudara-saudara jauh gue yang masih jomblo karena mereka nggak bisa berhenti ngeliatin lo."
Viona tersedak ludahnya sendiri. Ia menoleh cepat ke arah Noah, tapi suaminya itu sudah kembali ke mode wajah datarnya, seolah kalimat barusan hanyalah angin lalu.
“Tadi lo bilang apa? Ulangin!" seru Viona sambil mengejar langkah Noah.
“Nggak ada pengulangan buat mahasiswa yang telat denger," jawab Noah santai, kembali ke mode dosennya yang menyebalkan, tapi tangan kirinya justru menggenggam tangan Viona lebih erat saat mereka melangkah menuju mobil.
———
Lampu kristal ruang makan mewah itu memantul di mata Noah yang malam ini tampak lebih tajam dari biasanya. Begitu mereka melangkah masuk, Noah langsung melingkarkan tangannya di pinggang Viona, menariknya mendekat sampai pinggul mereka bersentuhan. Viona sempat tersentak, tapi dia langsung memasang senyum terbaiknya, senyum "Nyonya Willey" yang sempurna.
Dari kejauhan, Daniel dan Clara sudah melambai dengan wajah penuh kemenangan. Proyek Singapura sudah di depan mata, dan melihat Noah merangkul Viona seperti itu adalah jaminan bahwa investasi mereka tidak sia-sia.
“Halo, selamat malam semua," sapa Noah dengan suara baritonnya yang tenang.
“Pengantin baru kita seger amat! Gimana? Udah goal?!" celetuk Tante Merry, salah satu kerabat yang paling vokal kalau urusan privasi orang.
Viona hampir saja tersedak udara, tapi sebelum dia sempat menjawab, Noah sudah mendahuluinya.
“Hahaha, Tante... goal every day! Wajib!" jawab Noah dengan nada santai tapi berani.
Viona melirik Noah dari sudut matanya. Sial, aktingnya niat banget! batinnya. Namun, di tengah tawa kerabat yang lain, Viona menyadari satu hal: sepupu jauh Noah, Kevin, tidak berhenti menatapnya dengan tatapan lapar yang tidak sopan.
Noah, yang memiliki insting pelindung setajam elang, menyadari itu. Tanpa memutuskan pembicaraan, Noah menarik kursi Viona agar lebih rapat ke kursinya sampai tidak ada celah. Tangannya tidak lepas dari pinggang Viona, bahkan sesekali jemarinya mengusap lembut sisi perut Viona, sebuah gestur kepemilikan yang sangat nyata.
“Viona sayang, gimana hotelnya? Bunda dengar, akan ada penambahan restoran lagi ya?" tanya Clara, mencoba mengalihkan pembicaraan ke arah bisnis keluarga.
Viona menarik napas, mencoba fokus meskipun sentuhan tangan Noah di pinggangnya bikin dia agak susah berpikir jernih. "Oh iya, Bun. Mau nambahin restoran base Timur Tengah gitu sih. Lagi research koki yang pas juga."
“Hebat ya Viona, masih sempat mikirin bisnis di tengah bulan madu," sahut Kevin, si sepupu jauh, sambil menyesap wine-nya. "Kalau Noah terlalu sibuk di kampus, kabari aku ya Vio. Aku tahu beberapa koki hebat di Dubai yang bisa aku kenalkan... secara pribadi."
Suasana meja makan mendadak sedikit dingin. Senyum Noah tidak hilang, tapi matanya berubah sedingin es.
“Makasih tawarannya, Kev," potong Noah, suaranya rendah tapi penuh penekanan. "Tapi Viona nggak perlu bantuan 'pribadi'. Selama dia punya gue, semua akses yang dia butuhin udah tersedia. Kan, Sayang?"
Noah menoleh ke arah Viona, lalu mengecup pelipisnya dengan lembut di depan semua orang. Viona mematung. Ini bukan lagi sekadar sandiwara di depan orang tua, ini adalah pernyataan perang.
———
Setelah acara keluarga yang penuh sandiwara itu, Viona memaksa Noah untuk pergi ke club.
"Noah... ayo please..." rengek Viona.
Lampu neon berwarna biru dan ungu menyambar-nyambar di dalam club, menciptakan bayangan yang bergerak mengikuti dentum bass yang menggetarkan dada. Noah berdiri tegak seperti karang di tengah lautan manusia yang bergoyang. Ia masih mengenakan kemeja hitam dari acara makan malam tadi, membuatnya terlihat seperti pria paling berbahaya sekaligus paling tampan di ruangan itu.
"Noah! Ayo menari!" teriak Viona. Ia tertawa lepas, beban dari tatapan keluarga besar Willey seolah luruh bersama keringat dan musik.
Viona menarik tangan Noah, menyeret suaminya itu ke tengah lantai dansa. Noah tidak menolak, tapi ia juga tidak banyak bergerak. Ia membiarkan dirinya menjadi poros bagi Viona. Tangannya masuk ke saku celana, sementara matanya tak pernah lepas mengawasi sekeliling, memastikan tidak ada pria mabuk yang berani menyentuh "istrinya".
Namun, perlahan fokus Noah bergeser.
Viona mulai menari. Gerakannya lincah, mengikuti irama musik dengan perasaan bebas. Rambutnya yang tadi digelung rapi kini sudah terurai sebagian, membingkai wajahnya yang tampak bercahaya di bawah lampu strobe. Gaun hitamnya mengikuti setiap lekuk tubuhnya saat ia berputar dan tertawa.
Noah tersadar sepenuhnya. Detik itu, ia seperti lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar.
Viona begitu indah. Ia tidak lagi melihat sahabat yang suka mengeluh soal selai stroberi. Ia melihat seorang wanita yang benar-benar memukau. Matanya turun meneliti tubuh Viona, lalu berhenti pada wajahnya, dan berakhir di bibir ranum yang sedikit terbuka karena lelah menari.
'Sial,' batin Noah. Suara musik di sekitarnya mendadak meredup, digantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang berdegup lebih keras dari bass di club ini.
Viona mendekat, melingkarkan lengannya di leher Noah karena merasa pening akibat alkohol yang mulai bekerja. Ia berjinjit, mendekatkan bibirnya ke telinga Noah.
"Lo... kok diem aja? Nggak seru!" bisik Viona, napasnya yang beraroma cocktail buah terasa hangat di kulit leher Noah.
Noah tidak menjawab. Alih-alih melepaskan tangan Viona, ia justru melingkarkan tangannya di pinggang Viona dengan erat, menarik tubuh gadis itu hingga benar-benar menempel pada dadanya. Noah menunduk, menatap Viona dengan intensitas yang bisa membuat siapa pun meleleh.
“Vio," suara Noah rendah, hampir tenggelam dalam musik, tapi Viona bisa merasakannya melalui getaran di dada Noah. "Inget syarat gue tadi pagi? Gue bakal nemenin lo, tapi lo harus ikutin cara gue."
Viona mengerjap, matanya yang sedikit sayu menatap Noah dengan bingung. "Cara... cara apa?"
Noah tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap bibir Viona lebih lama, seolah sedang menimbang-nimbang sebuah keputusan besar yang akan mengubah persahabatan mereka selamanya.