Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Arena pertarungan Keluarga Han kini telah berubah menjadi kawah neraka yang mencekam.
Di satu sisi, Han Lie berdiri dengan aura yang kacau balau. Efek Pil Darah Iblis yang ditelannya secara diam-diam kini mulai bekerja dengan ganas. Pembuluh darah di wajah dan leher Han Lie menonjol keluar, berdenyut dengan warna ungu kehitaman yang tidak wajar. Matanya yang semula jernih kini merah sepenuhnya, tanpa menyisakan warna putih sedikit pun. Qi yang memancar dari tubuh Han Lie bukan lagi berwarna emas murni seperti teknik Pedang Cahaya Matahari miliknya, melainkan bercampur dengan kabut darah yang berbau anyir.
"Kekuatan..." Han Lie mendesis, suaranya parau dan ganda, seolah ada iblis yang ikut berbicara dari dalam tenggorokannya. "Inilah kekuatan setengah langkah Pengumpulan Qi! Han Feng, kau hanyalah semut di hadapan dewa!"
Di sisi lain, Han Feng berdiri tenang, namun ketenangan Han Feng jauh lebih menakutkan.
Jika Han Lie adalah badai api yang liar dan meledak-ledak, maka Han Feng adalah gunung berapi aktif yang sedang menahan letusan. Udara di sekitar Han Feng berdistorsi karena gelombang panas yang tak kasat mata. Lantai batu granit di bawah kaki Han Feng mulai retak dan mendesis, perlahan berubah warna menjadi hitam hangus.
Itu adalah efek dari Gerbang Naga Api yang terbuka di dalam dantian Han Feng. Energi api purba mengalir deras ke seluruh meridian, memanaskan darah Han Feng hingga mendidih, dan menyalurkan panas ekstrem itu ke dalam Pedang Meteor Hitam di tangannya.
Pedang raksasa yang semula hitam pekat dan dingin itu kini mulai memancarkan cahaya merah redup dari dalam. Garis-garis retakan alami dan lubang meteor di permukaan pedang itu menyala seperti aliran magma yang siap tumpah.
"Dewa?" Han Feng tertawa kecil, uap panas keluar dari sela-sela giginya. "Kau menjual masa depanmu demi kekuatan pinjaman selama lima belas menit, dan kau berani menyebut dirimu dewa? Han Lie, kau menyedihkan."
"MATI KAU!"
Han Lie tidak bisa lagi menahan amarahnya. Akal sehatnya telah dikikis oleh efek samping obat terlarang itu. Han Lie menghentakkan kakinya, menciptakan ledakan sonik kecil.
Tubuh Han Lie melesat maju. Kecepatannya dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya. Bagi penonton awam, Han Lie benar-benar menghilang, hanya meninggalkan jejak cahaya emas kemerahan di udara.
Teknik Pedang Cahaya Matahari: Tebasan Fajar Berdarah!
Han Lie muncul tepat di atas kepala Han Feng, menebaskan Pedang Sinar Matahari-nya secara vertikal. Pedang itu memancarkan bilah Qi sepanjang tiga meter yang tajam dan panas, berniat membelah Han Feng menjadi dua bagian dari kepala hingga selangkangan.
Penonton menjerit ngeri. Serangan itu terlalu kuat. Bahkan Han Tie dengan Lonceng Emas-nya pun tidak akan selamat dari tebasan ini.
Namun, Han Feng tidak bergeming.
Han Feng tidak mencoba menghindar. Han Feng mengangkat Pedang Meteor Hitam-nya ke atas dengan satu tangan, memblokir serangan itu secara langsung.
KLAANG!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga mengguncang seluruh arena. Gelombang kejut menyapu debu dan kerikil ke arah penonton barisan depan, membuat mereka menutup wajah dengan lengan.
Ketika debu menipis, pemandangan yang tersaji membuat mata semua orang terbelalak.
Han Feng masih berdiri tegak di tempatnya. Kaki Han Feng terbenam sepuluh sentimeter ke dalam lantai batu, namun lututnya tidak menekuk sedikit pun. Lengan kanannya yang memegang pedang raksasa itu kokoh seperti pilar langit.
Pedang emas Han Lie tertahan di tengah udara, terhenti oleh bilah kasar Pedang Meteor Hitam.
"Hanya segitu?" tanya Han Feng dingin.
Wajah Han Lie berubah menjadi ekspresi ketidakpercayaan. "Mustahil! Ini kekuatan 5000 Jin lebih! Bagaimana kau bisa menahannya dengan satu tangan?!"
"5000 Jin?" Han Feng menyeringai, seringai iblis yang mengerikan. "Siapa bilang batasku 5000 Jin? Itu hanya batas alat pengukur bodoh kalian."
Otot lengan Han Feng menegang.
Sutra Hati Naga Purba: Ledakan Kekuatan 50 Banteng!
Han Feng menghentakkan pedangnya ke atas dengan kasar.
DUAK!
Han Lie merasakan kekuatan pantulan yang mengerikan menjalar dari pedangnya, merambat ke lengan, dan menghantam bahunya. Rasanya seperti menabrak kereta tempur yang sedang melaju kencang.
Tubuh Han Lie terlempar ke belakang, melayang di udara. Dia melakukan salto kikuk untuk mendarat kembali, namun kakinya terseret mundur sejauh lima meter, meninggalkan parit di lantai arena.
Tangan Han Lie gemetar hebat. Pedang Sinar Matahari di tangannya berdengung nyaring, seolah menangis kesakitan. Ada retakan halus yang muncul di bilah pedang roh tingkat rendah itu.
"Pedangku..." Han Lie menatap senjatanya dengan horor. "Pedang Rohku retak karena beradu dengan rongsokan besi itu?"
"Rongsokan?" Han Feng melangkah maju. Setiap langkahnya meninggalkan jejak kaki yang menyala merah di lantai. "Benda ini ditempa dari inti bintang yang jatuh. Beratnya, kepadatannya, dan ketahanannya... jauh melampaui mainan tusuk gigi berlapis emas milikmu."
Han Feng mulai berlari.
Awalnya pelan, lalu semakin cepat.
Langkah Naga Guntur: Mode Serbu!
BUM! BUM! BUM!
Han Feng menerjang seperti badak berapi. Pedang Meteor Hitam diseret di samping tubuhnya, ujungnya membelah lantai batu, menciptakan percikan api yang panjang.
Han Lie panik. Dia tidak berani beradu kekuatan fisik lagi. Dia harus menggunakan keunggulan jangkauan Qi-nya.
"Jangan mendekat! Hujan Pedang Matahari!"
Han Lie mengayunkan pedangnya gila-gilaan, menembakkan puluhan bilah Qi berbentuk jarum cahaya ke arah Han Feng.
Han Feng tidak peduli. Dia memutar pedang raksasanya di depan tubuh seperti baling-baling.
WUSH! WUSH! TRANG! TRANG!
Pedang Meteor Hitam yang kini membara itu menghancurkan setiap serangan Qi yang datang. Panas yang dipancarkan pedang Han Feng begitu tinggi hingga membakar Qi Han Lie menjadi asap sebelum sempat menyentuh kulit Han Feng.
Jarak mereka menipis. Sepuluh meter... Lima meter...
"Menyingkirlah dari hadapanku!" Han Feng meraung.
Dia melompat tinggi ke udara. Tubuhnya menutupi sinar matahari, menciptakan bayangan raksasa yang menelan Han Lie.
Han Feng memegang gagang pedang dengan kedua tangan, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala. Seluruh energi api dari Gerbang Naga Api dialirkan ke dalam pedang itu, mengubahnya menjadi tongkat besi merah membara raksasa.
Teknik Pedang Tanpa Nama: Hantaman Meteor Jatuh!
Han Lie mendongak, matanya mencerminkan teror murni. Dia merasa langit sedang runtuh menimpanya.
Tidak ada jalan lari. Han Lie terpaksa mengangkat pedangnya dengan kedua tangan, mengaktifkan seluruh sisa Qi dari Pil Darah Iblis untuk membentuk perisai cahaya di atas kepalanya.
"Perisai Matahari Mutlak!"
Han Feng menghantamkan pedangnya ke bawah.
DUUUUUAAAAARRRR!
Ledakan kali ini jauh lebih dahsyat daripada saat melawan Han Tie.
Cahaya merah dan emas bertabrakan, menciptakan bola energi yang menyilaukan mata. Gelombang panas menyapu seluruh arena, membuat alis dan rambut penonton di barisan depan hangus terpanggang.
Di tengah ledakan itu, terdengar suara KRAAAKK yang nyaring dan menyedihkan.
Perisai cahaya Han Lie hancur. Pedang Sinar Matahari Han Lie patah menjadi dua bagian.
Dan akhirnya... Pedang Meteor Hitam Han Feng menghantam bahu kiri Han Lie.
"AAAAAARRGGGHHH!"
Jeritan Han Lie terdengar seperti binatang yang disembelih.
Tulang bahu kirinya hancur lebur. Pedang Han Feng tidak memotongnya (karena tumpul), tapi menghancurkan daging dan tulangnya hingga rata dengan dada.
Han Lie jatuh berlutut, darah segar menyembur dari mulut dan bahunya. Lututnya menghantam lantai hingga retak.