Tutorial membuat jera pelakor? Gampang! Nikahi saja suaminya.
Tapi, niat awal Sarah yang hanya ingin membalas dendam pada Jeni yang sudah berani bermain api dengan suaminya, malah berakhir dengan jatuh cinta sungguhan pada Axel, suami dari Jeni yang di nikahinya. Bagaimana nasib Jeni setelah mengetahui kalau Sarah merebut suaminya sebagaimana dia merebut suami Sarah? Lalu akankah pernikahan Sarah dengan suami dari Jeni itu berakhir bahagia?
Ikuti kisahnya di dalam novel ini, bersiaplah untuk menghujat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady ArgaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6.
Sepasang suami istri yang tampak sudah berumur dengan rambut penuh uban dan wajah yang mulai keriput tampak berlari tergesa-gesa di koridor rumah sakit.
Wajah tua mereka tampak sangat khawatir, sampai beberapa kali hampir menabrak orang berpapasan dengan mereka saking paniknya.
"Zulaikha! Zulaikha!"
Panggil Nyonya Ellen, ibu kandung Sarah. Zulaikha adalah nama asli Bu Leha, keponakan Nyonya Ellen.
"Bibi! Akhirnya Bibi sampai." Bu Leha menyambut kedatangan bibinya dan memeluknya erat.
"Kenapa? Ada apa dengan Sarah? Kenapa dia bisa sampai masuk rumah sakit?" cecar Tuan Bryan, ayah kandung Sarah.
Bu Leha melepas pelukannya dari tubuh Nyonya Ellen.
"Saya tidak tau persisnya, Paman. Lebih baik nanti Paman dan Bibi tanyakan langsung saja pada Sarah," ujar Bu Leha.
Tuan Bryan terduduk di kursi tunggu sambil memegang kepalanya. Pak Hasan dengan sigap langsung merangkulnya dan menepuk-nepuk punggung Paman kandung istrinya itu.
"Inilah yang sejak dulu aku takutkan, kalian juga tau kenapa dulu aku bersikeras tidak mau menerima Bima menjadi menantu ku. Aku sudah biasa menilai perilakunya, dan lihatlah sekarang hasilnya," papar Tuan Bryan kesal.
Nyonya Ellen turut duduk di sebelah suaminya dan mengusap lengannya pelan.
"Sabarlah, Dad. Kita belum tau apa yang sudah terjadi sebenarnya, tidak baik mengumpat sebelum tau kebenarannya. Lebih baik sekarang kita tunggu saja kabar dari dokter, semoga anak kita Sarah baik-baik saja.".
Tuan Bryan menggeram rendah. "Tentu saja, jika sampai putri kesayanganku kenapa-kenapa. Aku bersumpah akan mencari si brengs*k Bima itu sampai ke kerak neraka sekalipun."
Aura kemarahan Tuan Bryan sangat kentara, Nyonya Ellen saja sampai merinding di buatnya.
"Iya, sudahlah. Sekarang fokus saja pada kesembuhan Sarah dulu, Dad," pinta nyonya Ellen sembari mengusap tangan suaminya dan menggenggamnya erat.
Beberapa saat, hening tercipta. Mereka tampak sibuk dengan pikirannya masing-masing. Entah berdoa untuk kesembuhan Sarah, atau menyusun rencana untuk membalas pelaku penganiayaan atas Sarah.
Yang jelas, hanya Ardi di sana yang nampak tenang. Berbeda dengan yang lain yang tampak sangat gelisah dan tegang.
Ceklek
Setelah cukup lama menunggu akhirnya pintu ruangan itu terbuka, dan dokter yang tadi keluar menemui Bu Leha kini tampak keluar lagi dengan wajah lebih ramah.
"Apa ini keluarga pasien?" tanyanya pada Bu Leha.
"I- iya, Dok. Saya mommy nya Sarah." Nyonya Ellen berjalan cepat mendekat ke dokter.
Dokter itu tersenyum. "Ah, baiklah Nyonya. Saya hanya ingin menyampaikan kalau pasien atas nama Sarah sudah melewati masa kritisnya. Luka-lukanya sudah di bersihkan dan beberapa tulang retak juga sudah di pasangi gips. Seterusnya saya sarankan untuk rawat inap dulu agar pasien bisa lebih cepat membaik."
Tuan Bryan turut berdiri dan mendekat. "Ya, ya. Tolong lakukan apapun yang terbaik untuk putri saya."
Dokter menatap Tuan Bryan dan mengangguk. "Tentu saja, Tuan. Sudah tugas kami."
Setelah menyelesaikan semua administrasi, kini Sarah sudah di pindahkan ke sebuah ruang rawat VIP yang di minta Tuan Bryan untuk kenyamanan putrinya.
"Zulaikha, Hasan, Ardi ... sekali lagi terima kasih sudah membawa Sarah ke rumah sakit tepat waktu dan memberi tahu kami. Kami sangat risau sebelumnya karna Sarah sama sekali tak pernah mengeluh apapun pada kamu tentang masalah rumah tangganya. Padahal, kami sangat tau bagaimana watak si Bima itu semenjak dulu dia melamar ke kantor sebagai seorang OB," kenang nyonya Ellen dengan mata menerawang jauh.
Bu Leha mengambil tangan Nyonya Ellen dan menggenggamnya.
"Untungnya kami bertetangga, Bi. Walau mereka belum tau hubungan antara kita, tapi setidaknya setelah ini semua bisa baik-baik saja. Saya setuju dengan Bibi, Sarah ... terlalu baik untuk menjadi istri Bima."
Nyonya Ellen menatap putrinya yang kini terbaring lemah tak berdaya di atas brankar. Putri yang sejak kecil selalu di manjakannya kini tampak ringkih dan tak terurus.
"Setelah ini, aku akan membawanya pulang, Zu. Sudah cukup putriku menderita karena salah memilih suami," ujar nyonya Ellen menyusut air matanya dengan tisu yang ada di atas meja.
"Ya, itu lebih baik Bibi. Terlalu riskan jika memberi kesempatan lagi pada Bima untuk bersama Sarah. Saya yang selalu melihat dan mendengar langsung bagaimana kasarnya Bima pada Sarah, hanya saja ... saya tidak berani ikut campur karena status saya yang tidak di ketahui Sarah sebagai saudaranya," tukas Bu Leha pelan.
Nyonya Ellen tersenyum kecil dan merangkul Bu Leha dalam dekapannya.
"Its okay, saya sudah sangat berterima kasih dengan kamu membawa Sarah kemari di waktu yang tepat."
Tuan Bryan yang baru kembali dari toilet kamar langsung bergabung dengan istrinya dan keluarga Bu Leha.
"Apa yang sebenarnya sudah di perbuat pria bajing*n itu pada putriku? Lihatlah, betapa banyak perban di tubuhnya!"
Bu Leha saling pandang dengan Pak Hasan dan Ardi, seakan bertanya haruskan dia menceritakan apa yang terjadi dengan apa adanya.
Pak Hasan mengangguk samar, seakan mengerti arti tatapan Bu Leha.
Setelah beberapa helaan nafas barulah Bu Leha membuka suaranya.
"Sa- Sarah ... di pukuli oleh Bima menggunakan ... i- ikat pinggang, Paman."
Nyonya Ellen dan Tuan Bryan tampak terkejut, tak terkecuali Tuan Bryan yang wajahnya langsung memerah marah.
"Kurang ajar!" desisnya geram.
Rahang Tuan Bryan sampai bergemeletuk saking marahnya dia, darahnya serasa berdesir mendidih di nadinya dengan tangan terkepal sampai buku-buku jarinya memutih.
Nyonya Ellen menubruk suaminya dengan tangisan tertahan.
"Kita harus berikan keadilan untuk Sarah, Dad. Aku tidak ikhlas putriku di perlakukan seperti itu."
Tuan Bryan merangkul Nyonya Ellen erat. "Iya, tentu saja. Sangat mudah bagiku untuk sekedar memberi pelajaran pada pria tak tahu terima kasih itu. Lihat saja, akan ku buat dia berteriak minta ampun di bawah kakiku."
Setelahnya Tuan Bryan tampak menuju balkon untuk menelpon seseorang, wajahnya yang terlihat dari pintu kaca tampak tegang. Sambil sesekali menatap ke arah brankar putrinya di dalam ruangan.
Nyonya Ellen berjalan menuju pembaringan Sarah, dan mencium kening putrinya ringan karna juga ada perban yang melilit di kepalanya.
"Cepatlah sembuh, Sayang. Pulanglah bersama Momy, sudah cukup kamu menderita seperti ini. Bukan hanya kamu yang sakit, tapi Momy lebih sakit melihat kondisi mu saat ini."
Tuan Bryan menghampiri istrinya dan turut mengelus pelan jemari putri kesayangannya.
"Tenanglah, keadilan akan segera berlaku untuk putri kita," bisik Tuan Bryan.
Ceklek
Pintu ruangan terbuka, beberapa orang berpakaian jas hitam dan berkacamata dengan tubuh tegap dan kekar tampak memasuki ruangan.
Tuan Bryan berdiri menyambut mereka dengan bersedekap dada.
"Kami siap menjalankan tugas, Tuan." Salah satu dari pria berjas itu berucap tegas.
Tuan Bryan tersenyum miring dan menunjukkan ponselnya pada mereka, pria berjas itu.
"Cari pria pengecut ini, dan bawa ke hadapanku dengan suka rela ataupun terpaksa."