NovelToon NovelToon
Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Cinta Yang Tak Pernah Hilang

Status: tamat
Genre:Anak Kembar / Berbaikan / Ibu Pengganti / Tamat
Popularitas:535
Nilai: 5
Nama Author: Gretha

Novel "Cinta yang Tak Pernah Hilang" mengisahkan perjalanan Lia, seorang ibu tunggal yang mencari anak laki-laki nya Rio yang hilang karena diperdaya lembaga adopsi yang tidak resmi, hingga akhirnya menemukan dia tinggal bersama keluarga angkat Herman dan Nina di Langkat, dimana Rio membangun hubungan hangat dengan kedua keluarga, menjalani kehidupan dengan dukungan bersama, belajar serta berkembang menjadi anak yang cerdas dan penuh cinta, membuktikan bahwa keluarga tidak hanya terbatas pada darah namun pada kasih sayang yang menyatukan semua pihak dalam suka dan duka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 : SURAT UNTUK ANAK KITA

Sinar matahari pagi sudah mulai menyinari seluruh bagian halaman belakang rumah sakit ketika Lia menyelesaikan cucian terakhir dari ruangan perawatan anak-anak. Udara yang hangat mulai terasa sedikit menyengat pada kulitnya yang sudah terbiasa dengan kerja keras setiap hari. Dia membawa sebuah kotak kecil berisi alat tulis dan beberapa kertas bergaris yang sudah dia siapkan semalam – kertas itu digunakan untuk menulis surat yang mungkin bisa dia kirimkan jika suatu hari menemukan jejak Adit. Setiap baris yang dia tulis akan menjadi jembatan penghubung antara masa lalu yang menyakitkan dan masa depan yang penuh dengan harapan.

“Lia, kamu sudah selesai kerja pagi?” tanya Bu Warsih yang baru saja keluar dari kamar tidurnya, membawa sebuah baskom berisi bubur ayam yang masih hangat. “Anak-anak sudah bangun dan menunggu kamu di kontrakan lho. Mal bilang kamu selalu menyembunyikan sesuatu setiap kali mereka mau bertanya tentang Kak Adit.”

Lia mengangguk dengan senyum lembut, menerima baskom makanan dengan rasa terima kasih yang mendalam. Dia menyimpan buku catatan kecil yang selalu dia bawa kemana-mana ke dalam tas kerja yang sudah dia jahit sendiri dari kain bekas. Di dalam tas itu, selain alat tulis dan foto kecil yang selalu dia simpan dengan hati-hati, terdapat sebuah amplop kertas coklat yang sudah lama tidak pernah dia buka – sebuah surat dari orang tuanya yang tinggal di Jawa sebelum mereka meninggal dunia beberapa tahun yang lalu.

“Saya sudah lama ingin membuka surat itu, Bu Warsih,” ucap Lia dengan suara yang sedikit getar. “Namun setiap kali melihatnya, hati saya selalu terasa seperti ditusuk jarum. Saya khawatir isi surat itu akan membuat saya semakin kehilangan harapan untuk menemukan Adit.”

Bu Warsih mengangguk dengan pengertian yang dalam. Dia sudah melihat betapa beratnya beban yang Lia pikul sendirian selama bertahun-tahun. “Kamu adalah orang yang kuat, Lia. Tidak semua orang bisa menghadapi kesulitan seperti yang kamu alami,” ucapnya dengan suara hangat seperti ibu yang selalu ada untuknya. “Saya tahu kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk anak-anak. Cinta yang kamu berikan pada mereka tidak akan pernah hilang, bahkan jika mereka berada di tempat yang berbeda.”

Lia mengambil amplop surat tua dengan hati-hati, merasakan tekstur kertas yang sudah mulai menguning akibat usia. Dia menggunakan ujung jari yang lembut untuk membuka amplop tanpa merusak kertas di dalamnya. Isi surat itu adalah tulisan tangan orang tuanya yang sudah lama tidak dia dengar suara atau lihat wajahnya lagi:

 

“Untuk putri kita yang tersayang, Lia.

Kita tahu hidupmu penuh dengan ujian yang berat, namun kita percaya kamu memiliki kekuatan untuk menghadapinya. Setiap hari kita berdoa agar kamu dan cucu-cucu kita selalu sehat dan bahagia. Kita tidak bisa membantu secara fisik, namun doa dan cinta kita selalu menyertaimu di mana pun kamu berada.

Kita tahu kamu telah membuat keputusan yang sulit tentang Adit. Kita tidak akan pernah menyalahkanmu karena kita tahu betapa sulitnya kamu berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan. Yang terpenting adalah kamu memberikan cinta yang penuh pada anak-anak yang ada di sisimu sekarang.

Ingat selalu bahwa keluarga bukan hanya tentang tempat tinggal atau darah yang sama, melainkan tentang kasih sayang yang kita bagikan satu sama lain. Cinta yang kamu berikan pada Mal dan Rini akan selalu menjadi bagian dari mereka, dan cinta itu akan membawa mereka pada jalan yang benar.

Jika suatu hari kamu menemukan Adit kembali, ingatlah bahwa cinta yang kamu berikan padanya tidak akan pernah hilang – ia akan selalu menjadi bagian dari dirinya, seperti bagian dari dirimu yang selalu ada dalam hati Mal dan Rini.

Dengan cinta yang tak pernah pudar,

Orang Tua Kamu yang Tersayang”

 

Air mata mulai menetes di pipi Lia saat membaca kata-kata yang penuh kasih dari orang tuanya yang sudah tidak bisa dia temui lagi. Setiap kalimatnya seperti pelukan hangat yang dia cari selama bertahun-tahun, sebuah konfirmasi bahwa keputusannya – meskipun sulit – berasal dari cinta yang tulus untuk anaknya. Dia menyimpan surat itu dengan hati-hati di dalam buku catatan yang selalu dia bawa, menempelkannya di halaman yang sama dengan foto kembaran agar selalu ada di pandangannya.

“Saya sudah siap untuk mulai mencari dia dengan cara yang benar, Bu Warsih,” ucap Lia dengan suara yang penuh tekad setelah menyimpan surat orang tuanya kembali ke dalam laci mejanya yang terkunci. “Saya tidak akan pernah berhenti mencari Adit sampai menemukan dia dan memastikan dia hidup dengan cinta dan kebahagiaan yang layak baginya.”

Bu Warsih mengangguk dengan senyum yang penuh dukungan. “Saya akan selalu membantu kamu dalam segala cara yang bisa saya lakukan, Lia. Kamu tidak akan pernah sendirian lagi dalam perjuangan ini.”

Ketika matahari mulai berpindah ke arah barat dan udara mulai sedikit mendingin, Lia melanjutkan pekerjaannya dengan membawa beberapa karung cucian dari bagian dokter dan perawat. Dia dengan hati-hati memisahkan pakaian berdasarkan jenis kain dan warna agar tidak saling mewarnai. Setiap kain diperiksa dengan cermat – mencari noda atau sobekan yang perlu diperbaiki sebelum dikembalikan.

Di antara tumpukan pakaian dokter yang bersih dan rapi, sebuah baju tidur anak-anak berwarna biru muda menarik perhatiannya – ada bintik merah kecil berbentuk hati di bagian belakangnya yang sudah mulai memudar namun masih jelas terlihat. Hatinya berdebar kencang saat menyentuhnya dengan hati-hati, memastikan bahwa itu bukan hanya ilusi yang muncul karena keinginannya yang kuat untuk menemukan Adit.

“Pak Joko, apakah pakaian ini berasal dari ruangan anak-anak?” tanya Lia dengan suara yang sedikit gemetar, menunjukkan bagian belakang baju yang memiliki ciri khas yang tidak akan pernah dia lupakan.

Pak Joko mendekat untuk melihat dengan cermat. “Ya, ini dari ruangan perawatan anak-anak. Ada seorang pasien baru yang masuk beberapa hari yang lalu – anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun dengan nama Rio. Dia ditemukan berkeliaran di sekitar pasar sebelum dibawa ke rumah sakit karena demam tinggi. Dia tidak bisa memberikan informasi tentang keluarganya kecuali mengatakan dia punya ibu bernama Lia dan dua saudara perempuan kembar.”

Lia merasa napasnya terhenti sejenak sebelum dia bisa berkata apa-apa. Dia melihat bintik merah pada baju itu dengan mata yang semakin berkaca-kaca. “Bisakah saya melihat anak itu, Pak Joko? Saya tidak ingin mengganggunya, hanya ingin melihatnya dan memastikan dia baik-baik saja.”

Pak Joko mengangguk dengan pengertian. “Dia sedang berada di ruangan rawat inap anak-anak lantai dua. Kamu bisa melihatnya setelah selesai kerja sore, tetapi harus hati-hati ya – dia masih sedikit takut pada orang baru setelah mengalami kesulitan sebelum ditemukan.”

Setelah menyelesaikan semua cucian sore dan mengaturnya rapi di rak yang sudah disiapkan, Lia membersihkan dan merapikan mejanya yang selalu menjadi tempatnya menyimpan kenangan dan harapan. Dia mengambil foto kecil itu dengan hati-hati, menciumnya dengan lembut sebelum menyimpannya kembali ke dalam kotak kayu yang dia buat sendiri. Di dalam kotak itu juga ada buku catatan baru yang dia mulai untuk mencatat setiap langkah yang akan dia lakukan untuk mencari Adit dengan cara yang benar dan sah – mulai dari mengumpulkan informasi dari rumah sakit, menghubungi dinas sosial, hingga mencari bantuan dari komunitas yang benar-benar peduli dengan anak-anak yang hilang atau terpisah dari keluarga mereka.

“Saya akan menemukanmu, Adit,” bisik Lia dengan suara penuh tekad saat melihat ke arah kamar rawat inap yang terletak jauh di kejauhan. Matahari mulai terbenam di balik gedung rumah sakit, meninggalkan warna jingga kemerahan di langit yang semakin gelap. Namun di dalam hati Lia, cahaya harapan semakin jelas dan kuat – setelah bertahun-tahun mencari dalam kegelapan, akhirnya ada sinyal yang jelas bahwa anaknya ada di dekatnya, dan kali ini dia akan melakukan segalanya dengan cara yang benar untuk memastikan mereka bisa hidup bersama dalam cinta dan keharmonisan yang layak bagi mereka semua.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!