Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.
Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
...~ Sudut Pandang Dimas ~...
Pagi terakhir di apartemen nomor 404 seharusnya menjadi sesi pengemasan yang tenang. Truk pindahan sudah menunggu di bawah, dan aku sedang memastikan kardus-kardus berisi "sarang bantal" Linda tersegel rapat. Namun, di dunia yang melibatkan istri siluman ekor sembilan yang sedang hamil tujuh bulan, kata "tenang" hanyalah mitos urban yang tidak pernah menjadi kenyataan.
Gara-gara hormon kehamilan yang sedang mencapai titik didih akibat stres pindahan, sihir penyamaran Linda mendadak bocor total. Bukan hanya ekornya yang mekar seperti kipas raksasa, tapi kedua telinga rubahnya yang runcing dan berbulu halus itu mencuat tegak di puncak kepalanya, berkedut-kedut menangkap frekuensi suara dari luar koridor.
“Logistik keamanan kita sedang berada di zona merah,” keluh ku panik sembari mencoba menarik tudung jaket Linda agar menutupi telinga itu. “Satu jam lagi kita berangkat. Hanya satu jam! Kenapa Elkan harus memilih saat ini untuk menendang segel sihir ibunya? Kalau ada tetangga yang lihat, rencana pindahan kita akan berubah menjadi konferensi pers fenomena paranormal.”
"Dimas, lepaskan! Jaket ini gatal!" keluh Linda, ia mencoba menepis tangan ku. "Telinga ku butuh napas! Rasanya pengap sekali terhimpit kain sintetis ini!"
"Linda, sayang, tahan sebentar! Aku sedang menunggu kurir terakhir yang mengambil paket pengembalian router internet. Setelah itu kita bersih," kata ku dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipis.
Tepat saat itu, bel pintu berbunyi. Ding-dong!
"Paket! Kurir ekspres!" suara cempreng seorang pemuda terdengar dari balik pintu.
Jantung ku hampir copot. Aku melihat Linda yang sedang duduk di sofa, asyik mengunyah keripik kentang. Tudung jaketnya merosot, dan sepasang telinga rubah berwarna kemerahan itu berdiri tegak, bergoyang ke kiri dan ke kanan mengikuti irama kunyahannya. Sembilan ekor di belakangnya bahkan menyapu lantai dengan santai.
"Linda! Sembunyi ke kamar! Sekarang!" bisik ku dengan nada komando level darurat.
"Malas, Dimas. Kaki ku bengkak," jawabnya enteng.
Sial. Kurir itu mengetuk pintu lagi, kali ini lebih keras. "Permisi? Paket pengambilan router atas nama Bapak Dimas?"
Aku tidak punya pilihan. Aku harus membuka pintu sedikit saja, mengambil resi, dan mengusirnya secepat mungkin. Aku mengatur napas, memasang senyum "Manajer Ramah" andalan ku, dan membuka pintu hanya selebar sepuluh sentimeter.
"Ah, ya. Mas Kurir. Ini routernya sudah saya bungkus—"
Namun, kurir itu seorang anak muda dengan topi miring yang tampaknya punya rasa ingin tahu sebesar lubang hitam malah mencoba mengintip ke dalam. "Wah, lagi pindahan ya, Pak? Butuh bantuan angkut sekalian? Kebetulan saya lagi mengejar target poin bonus hari ini."
"Tidak perlu, Mas. Terima kasih. Saya sudah pakai jasa truk," kata ku, mencoba mendorong pintu menutup.
Tiba-tiba, suara krak terdengar dari dalam. Linda baru saja menjatuhkan gelas air minumnya karena Elkan memberikan tendangan kejutan. Linda refleks berdiri, dan karena dia lupa sedang dalam mode 'terbuka', dia berjalan menuju arah pintu untuk mengambil lap.
"Dimas, gelasnya pecah—"
Linda muncul tepat di celah pandangan kurir itu. Tudung jaketnya benar-benar jatuh ke bahu. Telinga rubahnya yang besar berkedut tajam ke arah kurir, dan salah satu ekornya yang panjang menyembul dari balik pinggangnya, melambai seperti bendera perang.
Kurir itu mematung. Matanya melotot hingga hampir keluar dari bingkai kacamatanya. Mulutnya menganga, memegang resi pengiriman yang gemetar di tangannya. "Itu... itu... Mbaknya... kupingnya..."
“Habis sudah,” keluh ku, dunia ku terasa melambat. “Skenario A: Aku menghapus memorinya dengan pukulan (tidak mungkin, aku bukan petarung). Skenario B: Aku lari membawa Linda (tapi barang-barang belum masuk truk). Skenario C: Improvisasi komedi paling gila yang pernah terpikirkan oleh otak manajer.”
Aku langsung melebarkan pintu, menarik kurir itu masuk, dan merangkul bahunya dengan tawa yang dipaksakan sangat keras. "Hahaha! Masnya kaget ya? Bagus! Berarti kostumnya sangat realistis!"
Kurir itu menatap ku bingung. "Kos... tum?"
"Iya! Kostum!" aku berteriak ke arah Linda, memberikan kode mata yang sangat intens. "Sayang! Berhenti latihan karakternya! Kurirnya sampai ketakutan tuh! Hahaha!"
Linda, yang untungnya cepat tanggap dalam situasi terdesak, langsung memasang wajah sombong ala ratu rubah namun dengan nada bicara yang dibuat-buat. "Oh? Jadi mekanik motorik di telinga ini sudah terlihat alami, ya? Aku bilang juga apa, Dimas. Animatronics Jepang memang tidak pernah mengecewakan."
"Anima... tronics?" kurir itu berbisik, mulai mendekat ke arah Linda dengan mata penuh kekaguman. "Itu bisa gerak-gerak sendiri, Mbak? Sumpah, kayak asli banget! Bulunya juga... kayak beneran ada darahnya."
"Tentu saja!" aku memotong, berdiri di antara mereka. "Ini untuk acara Grand Opening pameran Anime dan Logistik Internasional minggu depan. Saya bagian manajer operasionalnya, dan istri saya ini... eh, model utamanya! Kami sedang mengepaskan kostum. Telinga ini pakai sensor gelombang otak, Mas. Kalau Mbaknya haus, telinganya gerak ke kiri. Kalau laper, gerak ke kanan. Canggih, kan?"
Aku melihat ekor Linda yang menyembul. "Dan lihat ini! Ekornya juga pakai motor servo terbaru! Sangat heavy duty!"
Kurir itu menyentuh ujung ekor Linda yang terdekat. Linda hampir saja mengeluarkan taringnya, tapi aku segera mencubit tangan ku sendiri agar tetap tenang. "Hati-hati, Mas! Kabelnya masih sensitif! Jangan ditarik, nanti konslet!"
"Gila... keren banget, Pak," kurir itu menggeleng-gelengkan kepala. "Saya kira tadi saya beneran lihat siluman. Soalnya gerakannya halus banget, nggak ada suara mesinnya sama sekali."
"Itulah teknologi 2026, Mas! Tanpa suara, halus, dan... sangat mahal!" kata ku sembari mendorong kurir itu kembali ke pintu. "Oke, ini resinya sudah saya tanda tangani. Terima kasih sudah mampir! Jangan lupa kasih bintang lima untuk layanan 'Antar Jemput Kostum' kami, ya!"
Aku membanting pintu dan langsung menguncinya dengan tiga slot sekaligus. Aku bersandar di pintu, napas dan keringat ku bercampur menjadi satu.
"Kostum?" Linda menatap ku datar, telinga rubahnya kini layu ke bawah karena kelelahan menahan akting. "Kau bilang aku pakai animatronics?"
"Itu satu-satunya cara agar dia tidak menelepon polisi atau dinas rahasia, Linda!" aku berjalan menuju sofa dan menjatuhkan diri di sana. "Dia hampir saja meraba ekor mu. Kalau dia tadi sampai merasakan kehangatan darah mu, dia pasti tahu itu bukan kabel."
"Tapi 'Anime dan Logistik Internasional'? Ide macam apa itu, Dimas? Siapa yang mau datang ke pameran seperti itu?" Linda mulai tertawa, tawa yang awalnya pelan lalu meledak menjadi tawa geli yang membuat perutnya terguncang.
"Entahlah! Yang penting dia percaya!" aku ikut tertawa, sebuah tawa lega yang bercampur histeria.
“Ternyata menjadi manajer memberi ku kemampuan berbohong secara sistematis,” keluh ku sembari memandangi langit-langit apartemen yang akan kami tinggalkan. “Tapi ini adalah tanda yang jelas. Apartemen ini sudah tidak aman lagi. Pertahanan kita sudah jebol oleh rasa penasaran manusia biasa. Jika seorang kurir saja bisa melihat 'kebocoran' ini, bagaimana dengan Genta?”
"Dimas," Linda mendekat, melingkarkan ekor-ekornya di tubuh ku, memberikan kehangatan yang tulus. "Terima kasih. Aku tahu aku ceroboh tadi. Elkan benar-benar tidak mau diam."
"Aku tahu. Dia juga pasti sudah tidak sabar ingin menghirup udara Merapi," aku mengelus perutnya. "Ayo, kita selesaikan koper terakhir. Aku tidak mau ada kurir makanan atau tetangga yang tiba-tiba datang minta gula."
Kami menghabiskan tiga puluh menit terakhir dengan sangat efisien. Setiap sudut apartemen 404 kini kosong. Hanya menyisakan debu dan kenangan tentang bagaimana aku pertama kali menemukan bulu rubah di atas kasur ku setahun yang lalu.
Aku berjalan ke arah balkon untuk terakhir kalinya. Menatap gedung-gedung Jakarta yang berdiri angkuh. Di kota inilah aku bertemu Linda. Di kota inilah aku belajar bahwa cinta tidak harus memiliki bentuk yang seragam. Namun, kota ini juga terlalu sempit untuk keajaiban yang sedang kami bawa.
"Sudah siap, Dimas?" Linda berdiri di dekat pintu, mengenakan jubah paling tebal dan topi kelinci yang kami beli kemarin. Kali ini, sihir penyamarannya sudah kembali stabil, meski ia terlihat seperti gumpalan kain berjalan.
"Siap," aku mengambil kunci apartemen, menatapnya sekali lagi, lalu memutar kunci itu. Klik.
Satu bab dalam hidup ku resmi terkunci.
“Selamat tinggal, apartemen 404,” keluh terakhir ku saat kami berjalan menuju lift. “Terima kasih sudah menjadi saksi bisu transformasi ku dari pria kantoran yang membosankan menjadi penjaga rahasia paling luar biasa di dunia. Kami pergi untuk mencari ruang yang lebih luas, untuk anak yang lebih hebat dari semua teknologi yang pernah aku sebutkan pada kurir tadi.”
Kami turun ke parkiran bawah tanah. Truk logistik ku sudah mulai bergerak keluar. Aku membukakan pintu mobil untuk Linda, memastikan dia nyaman dengan tumpukan bantal di kursi penumpang.
Saat mobil kami mulai meluncur keluar dari area apartemen, aku melihat kurir tadi sedang berdiri di depan pos satpam, masih bercerita dengan semangat pada satpam kompleks tentang "kostum rubah paling canggih yang pernah ada".
"Kau dengar itu?" tanya Linda sambil tersenyum miring. "Sekarang kau sudah menjadi legenda di kalangan kurir."
"Lebih baik jadi legenda kostum daripada jadi buronan klan," jawab ku sambil menginjak gas.
Mobil kami membelah kemacetan pagi Jakarta untuk terakhir kalinya, menuju arah timur. Menuju jalur Pantura yang panjang, menuju lereng Merapi yang berkabut, dan menuju kehidupan yang meski penuh misteri setidaknya tidak akan menuntut ku untuk menjelaskan telinga istri ku setiap kali ada orang yang mengetuk pintu.
100000/10
would recommend
semangat terus up nyaaa👍👍👍😍😍