"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki itu, Kak. Tolong gantikan aku."
Violet tahu ia seharusnya menolak. Tapi dua puluh dua tahun ia menjadi anak pungut di rumah orang mengajarinya satu hal: hutang budi tidak pernah benar-benar lunas.
Maka ia berdiri di pelaminan itu. Mengenakan gaun yang bukan untuknya, membawa nama yang bukan miliknya sejak lahir, menikahi laki-laki yang bahkan tidak menoleh padanya sampai akad selesai diucapkan.
Jenderal Muda Adriel Voss. Kejam, dingin, dan menyimpan kehancuran di balik setiap keputusannya. Pernikahan ini seharusnya menjadi awal penderitaan Violet.
Yang tidak ia duga, justru di rumah laki-laki itulah untuk pertama kali ada seseorang yang melihatnya sebagai manusia, bukan sekadar bayangan yang mengisi ruang kosong.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#17
"Aaah! "
Krak!
Suara ranting patah berbunyi keras, sementara Violet yang kehilangan keseimbangan nya hampir saja terjatuh ke tanah, jika saja sebuah tangan kekar tidak segera menahan pinggang nya dari belakang.
Violet yang sudah bersiap mengambil ancang-ancang dan menutup mata merasa aneh karena ia mengira aja tersungkur ke bawah, barulah ketika ia membuka kelopak nya, wajah tampan Adriel sudah berada dengan radius yang begitu dekat dengan nya, bahkan napas mereka hampir bertubrukan.
Mata mereka bertemu untuk beberapa saat dan saling terkunci, bukan sekali dua kali mereka dalam jarak sedekat ini namun tetap saja rasanya masih sama seperti pertama kali.
Keduanya masih belum menyadari dan seolah betah berlama-lama dalam posisi seperti itu, sampai ketika satpam kediaman mang Djarot yang hendak lewat tak sengaja melihat keduanya dan justru malah panik sendiri dan mengeluarkan suara keras.
"Eh, tuan, nyonya. Maaf saya mengganggu. "
Suara mang Djarot sontak menjadi interupsi dan membuat keduanya menyadari posisi masing-masing. Adriel refleks melepaskan lengannya dari pinggang ramping Violet, dan gadis itu juga terlihat buru- buru merapikan kondisinya, seolah tidak terjadi apa- apa.
Canggung memenuhi udara, sampai kang Djarot pergi keduanya masih asyik berdehem saja, sampai akhir nya Adriel yang berbicara duluan.
"Lain kali hati- hati. "
"Maaf, tadi aku tak sengaja melihat seekor burung yang jatuh dari sarangnya, dia sedikit terluka jadi aku mengobati nya dan mengembalikannya lagi ke sarangnya, sampai akhirnya tadi aku kehilangan keseimbangan dan terjatuh, untungnya ada tuan. Terimakasih banyak. "
Hening menyelimuti mereka namun kini sudah tak se canggung tadi. Lalu sampai pada titik Adriel menoleh ke arah Violet, tatapan laki-laki itu sedikit berubah.
Lebih dalam, bukan yang lembut tapi entah kenapa sukses membuat Violet merasa terhipnotis dan seolah berenang di mata yang menghanyutkan itu.
"Sampai kau akan memanggilku 'tuan'? "
Violet tertegun. "Memangnya kenapa? "
"Yang pertama aku bukan tuan mu, dan kau bukan pembantu ku. Kedua, berhenti lah memperlakukan dirimu rendah seolah-olah kau pelayan. Kau adalah istri ku. "
Tiga kata terakhir itu membuat Violet membeku, meski bukan pertama kalinya Adriel mengucapkan itu tapi entah kenapa rasanya masih seperti pertama kali ia mendengar nya dari mulut pria itu.
Adriel sendiri terlihat canggung dengan kata-kata nya, lalu ia berdehem pelan. "Setidaknya untuk saat ini, di mata hukum yang sah kau adalah istri ku. Jadi aku ingin meminta kau merubah kebiasaan buruk mu itu dan mulai panggil lah aku senyaman mu, asal tidak lagi dengan panggilan itu. "
Violet mengangguk mengerti. Ia juga menyadari kesalahannya, meski tak saling cinta setidaknya di depan publik mereka tetap harus berakting layaknya suami- istri yang rukun.
"Baiklah.... Adriel. "
Kali ini Adriel menoleh, dan apa yang membuat Violet terkejut adalah kerutan samar di bibir laki-laki yang bahkan tak pernah tersenyum dengan baik itu.
"Good job. Setidaknya itu lebih baik, Violet. "
Dan untuk pertama kalinya, Violet mendengar namanya di sebut dengan sebaik itu.
Apakah ini pertanda mereka akhirnya semakin dekat? bukan ke arah yang romantis, setidaknya tidak ada lagi jarak di antara mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu, Adriel sedang berada di ruang kerjanya, menandatangani beberapa dokumen yang harus siap besok, tangannya yang memegang pena begitu cekatan dan fokus, sampai suara notifikasi dari ponselnya yang datang beruntun membuat fokusnya seketika pecah.
Nama 'Grayson voss' tertera paling awal saat dia mengecek notif ponsel yang mengganggu nya itu. Adriel berdecak pelan, untuk sesaat wajah tenang nya di liputi amarah.
Sudah beberapa minggu berlalu semenjak ancaman ayahnya di camp waktu itu ia anggap angin lalu, dan sejak saat itulah ia selalu di teror dengan ribuan surat yang datang memintanya untuk segera memenuhi undangan ayahnya untuk mengajak Violet. Tidak puas sampai disitu Grayson juga meneror nya setiap saat dengan puluhan pesan dan panggilan dari orang tua itu, yang sebisa mungkin Adriel abaikan.
Namun seperti nya kali ini tidak bisa lagi, sampai surat itu datang lagi keesokan harinya.
Kali ini bukan lewat ajudan. Bukan lewat pesan singkat. Tapi langsung berbentuk amplop tebal bersegel formal yang diantarkan ke depan pintu kediaman Voss oleh kurir berseragam yang bahkan tidak mau pergi sebelum ada yang menandatangani tanda terima.
Kebetulan yang membuka pintu adalah Violet.
Dan ia membaca nama pengirimnya. Grayson Voss.
Violet membawa amplop itu masuk dan meletakkannya di meja ruang kerja Adriel seperti biasa, tapi kali ini ia tidak langsung pergi. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk membuka segel itu, entah kenapa, mungkin karena sudah satu bulan nama itu muncul terus dan Adriel selalu memilih diam setiap kali Violet menyinggungnya.
Ia membuka amplopnya.
Isi suratnya panjang. Bahasa formalnya rapi tapi isinya tidak ramah sama sekali. Intinya satu, Grayson memberi Adriel tenggat waktu, datang dengan istrinya minggu ini atau ia yang akan datang sendiri ke kediaman ini dan konsekuensinya tidak akan menyenangkan bagi siapapun.
Violet meletakkan surat itu kembali di meja.
Duduk di kursi depan meja kerja Adriel dan berpikir lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam itu Violet mencoba membuka topik itu di meja makan.
Sebisa mungkin ia menyampaikan dengan caranya yang sangat hati-hati, memilih kata-katanya, memulai dari arah yang tidak langsung. Ia bilang surat tadi sudah ia taruh di meja kerja, kalau Adriel mau membacanya nanti.
Adriel mengangguk tanpa menoleh dari piringnya.
"Adriel," Violet melanjutkan pelan, "mungkin tidak ada salahnya untuk--"
"Tidak! "
Satu kata. Datar dan tegas, memotong ucapan Violet dengan cepat. Lalu pintu langsung ditutup sebelum sempat dibuka.
Violet menghela napas. Tapi ia belum menyerah.
Dua hari berikutnya ia mencoba lagi dengan pendekatan berbeda. Kali pertama ia bilang bahwa menghadiri undangan itu bukan berarti menyerah, tapi menunjukkan bahwa Adriel yang memegang kendali situasi.
Adriel sontak menaruh cangkir kopinya terlalu keras di meja. Tidak bilang apa-apa. Berdiri dan pergi ke ruang kerja begitu saja.
Kali kedua pun sama. Violet bilang bahwa menghindari terus hanya akan memberi Grayson lebih banyak amunisi.
Adriel berbalik dari jendela dengan rahang yang mengeras dan tatapan yang membuat Violet diam seketika. Bukan marah yang meledak. Tapi jenis dingin yang seperti memperingatkan bahwa ada batas yang sebaiknya tidak dilewati.
Hingga Violet tidak melanjutkan kalimatnya lagi.
*****
Bibi Matilda yang akhirnya menyadari perang dingin yang sudah berlangsung tiga hari itu mengetuk kamar Violet malam harinya.
"Nyonya tidak akan berhasil dengan cara itu," kata perempuan itu sambil duduk di tepi tempat tidur Violet dengan tenang seperti orang yang hendak bercerita panjang. "Tuan Adriel sudah terlalu lama menutup topik soal ayahnya. Tidak ada yang bisa masuk dari sana kecuali satu orang."
Violet menatapnya. "Siapa?"
"Nyonya Ayln."
Nama itu asing di telinga Violet. "Siapa dia?"
Bibi Matilda tersenyum dengan cara yang agak nostalgia. "Pengasuh khusus Tuan sejak bayi. Wanita paling sabar yang pernah saya kenal seumur hidup saya." Ia berhenti sebentar. "Tuan Grayson memang sudah lama melarang mereka bertemu, tapi nyonya Ayln dan Tuan Adriel itu..." ia mengetuk dadanya pelan, "terikatnya di sini. Kalau ada yang bisa membujuk Tuan untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan, hanya nyonya Ayln lah orangnya."
Violet diam memikirkan itu. Apakah ia harus menemui nyonya Ayln? jujur saja, ia tak tahu apa yang terjadi antara ayah dan anak itu hingga mereka memiliki hubungan yang lebih seperti seorang musuh. Dan menemui nyonya Ayln adalah sama seperti mendapatkan kunci jawabannya.
Melihat Violet yang berpikir keras,bibi Matilda tersenyum lantas menepuk bahunya pelan. "Saya punya alamatnya kalau nyonya mau. "
*****
BERSAMBUNG