NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:10.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Karang di Tengah Badai Warisan

Jakarta Timur di bulan Maret terasa lebih pengap dari biasanya. Debu konstruksi dari proyek flyover di dekat persimpangan ruko menyatu dengan udara panas yang lembap. Namun, panas di luar tak sebanding dengan ketegangan yang membeku di dalam ruang pertemuan sementara di lantai dua ruko yang kini setengah terenovasi.

Hana duduk tenang di ujung meja kayu panjang—sebuah prototipe meja kerja buatan Raka. Di hadapannya, tiga orang pria paruh baya mengenakan setelan jas yang tampak agak kekecilan dan seorang wanita tua dengan perhiasan emas yang mencolok di pergelangan tangannya, menatap Hana dengan pandangan menghakimi. Mereka adalah sepupu-sepupu jauh Mama Sarah yang selama sepuluh tahun pernikahan Hana dengan Aris, nyaris tak pernah menampakkan batang hidungnya.

"Ibu Hana, kami tidak ingin ribut. Kami hanya ingin keadilan," ujar pria tertua, namanya Pak Hendra, sambil mengetuk-ngetukkan jari di atas salinan surat wasiat yang nampak kusam. "Ruko ini adalah aset keluarga besar Gunawan. Aris memberikannya kepada Anda dalam kondisi mental yang tidak stabil di penjara. Itu bisa dibatalkan secara hukum."

Wanita di sebelahnya, Tante Lastri, menimpali dengan suara melengking. "Betul. Dan lagipula, buat apa ruko semahal ini cuma buat tempat baca anak-anak gelandangan? Itu pemborosan aset keluarga. Kami punya hak waris di sini."

Hana menarik napas panjang, aromanya bercampur dengan bau cat baru dan kayu pinus. Ia melirik Maya yang duduk di sampingnya, yang sudah siap dengan tumpukan map legalitas.

"Tante Lastri, Pak Hendra," suara Hana rendah namun jernih, memotong keriuhan kecil itu. "Selama sepuluh tahun saya menjadi menantu di keluarga ini, saya hanya melihat Mama Sarah kesepian. Saat beliau sakit dan meninggal, saya tidak melihat satu pun dari Anda datang membawa bantuan, atau sekadar bunga. Kenapa sekarang, saat ruko ini mulai diperbaiki untuk kepentingan sosial, Anda baru ingat soal 'hak keluarga'?"

"Itu urusan internal kami!" bantah Pak Hendra, wajahnya memerah. "Yang jelas, surat ini menyatakan bahwa kakek Aris menginginkan aset ini tetap di tangan garis keturunan laki-laki."

Maya segera menggeser sebuah dokumen ke tengah meja. "Surat yang Anda bawa itu sudah kedaluwarsa oleh akta hibah terbaru yang ditandatangani Aris Gunawan di depan notaris dan dua saksi sah, termasuk perwakilan dari Kemenkumham. Aris menyerahkan ini bukan kepada pribadi Hana Keiko, melainkan kepada Yayasan Ruang Temu. Secara hukum, aset ini sudah bukan milik perorangan, melainkan milik badan hukum sosial."

"Kami akan gugat!" ancam Tante Lastri. "Kami punya pengacara!"

Hana berdiri perlahan. Ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah jalan raya yang bising. Di bawah sana, beberapa anak kecil dari pemukiman padat sedang mengintip malu-malu ke arah ruko yang sedang dicat warna warni itu.

"Silakan gugat," ucap Hana tanpa menoleh. "Tapi ketahuilah satu hal. Jika Anda memenangkan gugatan ini, Anda tidak hanya merebut bangunan dari saya. Anda merampas satu-satunya kesempatan anak-anak di lingkungan ini untuk mengenal dunia lewat buku. Anda akan dikenal sebagai keluarga yang mengusir anak-anak miskin demi menambah pundi-pundi emas di tangan Anda. Apakah itu reputasi yang Anda inginkan untuk nama Gunawan?"

Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Strategi Hana bukan hanya hukum, tapi moral. Ia tahu orang-orang ini sangat peduli pada citra sosial mereka, meskipun hati mereka kosong.

Setelah kerabat jauh itu pergi dengan gerutu dan ancaman yang mulai melemah, Hana terduduk lemas di kursinya. Raka masuk membawa dua botol air mineral dingin, langsung memijat bahu Hana yang tegang.

"Mereka hanya bayang-bayang, Na. Jangan biarkan mereka mengambil energimu untuk Makassar," bisik Raka.

"Aku hanya sedih, Ka. Aris mencoba berbuat baik satu kali saja dalam hidupnya, tapi keluarganya sendiri yang mencoba merusaknya," jawab Hana, meneguk airnya.

"Justru karena itu kita harus tetap tegak. Pondok Literasi ini harus jadi. Ini bukan cuma soal buku, tapi soal membuktikan bahwa kebaikan bisa menang atas ketamakan," sahut Raka mantap.

Maya menutup tas kerjanya. "Aku akan urus sengketa ini di pengadilan, Na. Aku punya bukti kuat bahwa mereka hanya mencoba memeras. Kamu fokuslah pada pengiriman abon ikan perdana dari Makassar besok pagi. Itu adalah bukti nyata bahwa koperasimu bekerja."

Keesokan harinya, fokus Hana beralih total. Melalui sambungan video dari Makassar, Laras dan Dewi menunjukkan tumpukan dus berisi "Abon Ikan Celebes - Ruang Temu". Ini adalah produk pertama hasil kolaborasi para istri nelayan di Makassar yang dilatih oleh Dewi.

"Mbak Hana, batch pertama sebanyak 500 toples sudah siap kirim ke Jakarta dan Surabaya!" seru Laras dengan wajah berseri-seri. "Ibu-ibu di sini sangat senang. Mereka bilang, baru kali ini mereka memegang uang hasil keringat sendiri tanpa harus meminta pada suami."

Hana tersenyum lebar melihat wajah-wajah wanita Makassar di layar ponselnya. Mereka melambaikan tangan, beberapa bahkan meneteskan air mata haru. "Hebat, Laras! Pastikan kualitasnya terjaga. Dan sampaikan pada mereka, uang itu adalah martabat mereka."

Di Jakarta, ruko Pondok Literasi pun mulai menampakkan hasil. Rak-rak buku buatan Raka mulai terpasang. Hana menghabiskan sore itu dengan menyusun buku-buku donasi di rak kategori dongeng. Tiba-tiba, seorang anak kecil bernama Dimas, yang ayahnya bekerja sebagai pemulung di dekat sana, masuk ke dalam ruko.

"Bu... apa saya boleh pegang buku ini?" tanya Dimas sambil menunjuk buku bergambar dinosaurus.

Hana berjongkok, menyamakan tingginya dengan anak itu. "Tentu saja, Dimas. Bukan cuma pegang, Dimas boleh baca di sini setiap hari. Nanti kalau Dimas rajin, Ibu akan ajarkan cara menggambar naga yang lebih hebat dari ini."

Melihat mata Dimas yang berbinar, Hana menyadari bahwa segala gangguan dari sepupu-sepupu Aris tidak ada artinya. Satu binar mata anak ini adalah balasan yang jauh lebih berharga daripada seluruh emas Tante Lastri.

Malam harinya, Aris di penjara menerima kunjungan dari Maya. Ia mendengar tentang gangguan dari sepupu-sepupunya. Aris hanya terdiam lama, sebelum akhirnya berkata dengan nada suara yang pecah.

"Katakan pada Hana... jangan menyerah. Jika mereka butuh saksi di pengadilan, aku akan bicara. Aku akan ceritakan pada hakim betapa busuknya mereka saat ibuku sakit. Aku ingin melakukan satu hal yang benar sebelum aku mati di sini, May."

Kabar itu sampai ke Hana saat ia sedang bersiap-siap istirahat di "Pondok Harapan" bersama Raka. Hana tertegun mendengarnya.

"Aris mau jadi saksi?" tanya Raka heran.

"Sepertinya dia benar-benar sudah mencapai titik nadirnya, Ka. Dia ingin menebus dosanya dengan cara yang paling menyakitkan bagi egonya: mengakui kebaikan mantan istrinya di depan hukum," analisis Hana.

Hana berjalan ke balkon, menatap bintang-bintang Jawa Barat yang jernih. Perjalanan menuju Bab 31 ini telah membawanya pada sebuah rekonsiliasi yang tak terduga. Bukan rekonsiliasi untuk kembali bersama, tapi rekonsiliasi dengan kenyataan bahwa setiap manusia punya titik balik, sekecil apa pun itu.

Ia mengambil buku catatannya, menuliskan refleksi penutup hari:

"Terkadang, musuh terbesarmu bisa menjadi sekutu yang tak terduga saat ia menyadari bahwa kebencian tidak memberinya tempat untuk pulang. Sengketa warisan ini bukan lagi tentang properti, tapi tentang mempertahankan cahaya bagi anak-anak seperti Dimas. Aku tidak akan membiarkan kegelapan masa lalu keluarga Gunawan memadamkan apa yang sedang kami bangun."

1
Renova Simanjuntak
lanjut lg,,thor,🙏
koq udh habisssss lg?
Renova Simanjuntak
ceritanya,cukup.baguss.thor
mungkin ini salah satu inspirasi buat wanita yg sedang survival dr ketidak adilan perlakuan pasangan sah kita dlm berumah tangga.

menyerukan,wanita utk jgn terpuruk dengan kehidupan tapi berusaha ttp semangat utk menjalaninya walau tdk mudah
Renova Simanjuntak
awal yg menyesakkan🤭 baru aja,,bab 1..hati dan pikiran sdh dibuat,,bergejolak,dan campur campurr.

semangattt,,,thorr
Lannifa Dariyah
koq rumah nya 10 tahun?
sementara 7 tahun lalu mereka masih mengontrak.
ingat2 Thor apa yg ditulis.
Annisa Rahman: iya kk typo
total 1 replies
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!