NovelToon NovelToon
Surga Yang Terlupakan

Surga Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Selingkuh / Pelakor
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"

Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.

Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.

Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: Janji di Balik Fajar

Matahari baru saja menampakkan semburat jingganya di ufuk timur Jakarta saat Hana sudah terbangun. Tidak ada alarm yang berisik, hanya debaran jantungnya yang ritmis, seolah menghitung mundur detik-detik menuju perubahan besar dalam hidupnya. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Raka. Namun, berbeda dengan sepuluh tahun lalu—saat ia dirias dalam ketakutan dan balutan kebaya berat yang menyesakkan—pagi ini Hana merasa seringan kapas.

Ia berjalan menuju jendela apartemennya, menatap kota yang mulai menggeliat. Di meja riasnya, tidak ada tumpukan kotak perhiasan dari brand ternama. Hanya ada sebuah kotak kayu kecil buatan Raka yang berisi sepasang cincin emas polos dan sebuah bros melati perak. Sederhana, namun nilainya melampaui seluruh brankas Aris Gunawan.

Pintu apartemennya diketuk pelan. Maya masuk dengan wajah segar, membawa buket bunga melati asli yang aromanya langsung memenuhi ruangan.

"Siap, Tuan Putri?" goda Maya, matanya berkaca-kaca melihat sahabatnya.

Hana tersenyum, memeluk Maya erat. "Terima kasih, May. Untuk semuanya. Kalau bukan karena kamu yang menarikku keluar dari rumah itu, aku mungkin tidak akan pernah sampai di hari ini."

"Hush, jangan mulai melankolis. Kamu yang berjuang, Na. Aku hanya pemandu jalannya," balas Maya sambil mulai menyiapkan peralatan rias. "Hari ini, kita akan membuatmu menjadi pengantin paling bahagia, bukan pengantin paling mahal."

Di tempat lain, di balik jeruji besi yang dingin, Aris Gunawan duduk meringkuk di sudut selnya. Kabar kegagalan Baron sudah sampai ke telinganya melalui pengacara yang datang kemarin. Bukan hanya gagal memeras Hana, keterlibatan Aris dalam membocorkan dokumen pribadi dari dalam penjara kini menambah masa hukumannya dua tahun lagi.

Aris menatap langit-langit sel yang lembap. Ia membayangkan hari ini. Ia tahu ini adalah hari pernikahan Hana. Ia bisa membayangkan Hana tertawa, sesuatu yang jarang ia lihat selama sepuluh tahun mereka bersama. Ia teringat bagaimana ia selalu mengatur apa yang boleh dan tidak boleh dipakai Hana, siapa yang boleh ia ajak bicara, dan bagaimana ia harus tersenyum di depan kamera.

"Aku yang menghancurkan semuanya," bisik Aris pada kesunyian.

Ia menyadari bahwa kekuasaan dan uang yang dulu ia banggakan tidak bisa membeli satu hal yang sekarang dimiliki Raka: rasa hormat dan cinta tulus dari Hana. Aris memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Hana yang sedang berjalan menuju pelaminan, namun bayangan itu justru semakin nyata, menyiksanya dengan penyesalan yang terlambat.

Acara pernikahan diadakan di taman belakang "Ruang Temu" cabang pertama. Tidak ada tenda raksasa yang menutupi langit, hanya untaian lampu kecil yang menggantung di antara pepohonan. Kursi-kursinya adalah karya tangan Raka dan anggota koperasi, masing-masing memiliki karakter kayu yang unik.

Tamu yang datang tidak mencapai ribuan. Hanya sekitar seratus orang; keluarga Raka, Maya, Bu Endang, dan para wanita anggota koperasi yang sudah menganggap Hana sebagai kakak dan guru mereka.

Saat musik akustik lembut mulai mengalun, Hana muncul dari balik pintu kafe. Ia mengenakan gaun putih tulang sederhana dari bahan katun berkualitas tinggi dengan aksen sulaman tangan karya salah satu anggota koperasinya. Rambutnya disanggul modern dengan hiasan bunga melati segar.

Raka berdiri di ujung karpet rumput, mengenakan jas kayu manis yang senada dengan suasana taman. Saat matanya bertemu dengan mata Hana, dunia seolah berhenti berputar. Raka tidak bisa menahan air matanya. Ia melihat wanita yang ia cintai sejak remaja, wanita yang sempat hilang dalam kegelapan, kini berjalan ke arahnya dengan kepala tegak dan senyum yang paling jujur.

Langkah Hana mantap. Tidak ada keraguan. Setiap langkahnya terasa seperti sedang menginjak-injak masa lalunya yang pahit.

Saat sampai di depan Raka, Raka meraih tangan Hana. Tangannya hangat dan kokoh.

"Kamu cantik sekali, Na," bisik Raka, suaranya bergetar karena emosi.

"Terima kasih sudah menungguku pulang, Ka," jawab Hana pelan.

Prosesi akad nikah berlangsung dengan khidmat. Saat penghulu menyatakan "Sah", sorak sorai rendah dan isak tangis haru terdengar dari deretan kursi tamu. Bu Endang menangis sesenggukan di bahu suaminya, merasa bangga melihat pemimpinnya akhirnya menemukan pelabuhan yang layak.

Hana menandatangani buku nikah dengan tangan yang stabil. Saat ia mencium tangan Raka, ia merasakan sebuah kedamaian yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Ini bukan tentang status "Istri", tapi tentang kemitraan jiwa.

Resepsi berlangsung dengan sangat santai. Tidak ada antrean panjang yang melelahkan. Hana dan Raka berkeliling, mengobrol dengan para tamu, tertawa bersama, dan bahkan ikut menyajikan kopi untuk beberapa teman lama.

"Mbak Hana, ini ada kado kecil dari kami semua," ujar Bu Endang sambil menyerahkan sebuah album foto besar.

Hana membukanya. Di dalamnya bukan foto-foto pesta, melainkan foto-foto proses pembangunan cabang pertama hingga kedua, testimoni dari para wanita yang berhasil mandiri berkat koperasi, dan di halaman terakhir, sebuah tulisan kolektif: "Terima kasih telah menjadi ruang pertemuan bagi mimpi-mimpi kami yang hampir mati."

Hana memeluk album itu ke dadanya, matanya basah. "Kalianlah yang membuat 'Ruang Temu' memiliki arti. Tanpa kalian, ini hanya bangunan kayu biasa."

Sore harinya, saat matahari mulai terbenam dan memberikan warna keemasan pada taman, Raka mengajak Hana ke sudut taman yang lebih sepi. Ia memberikan sebuah kotak kecil lagi.

"Lagi?" goda Hana.

"Ini yang terakhir untuk hari ini," kata Raka sambil tersenyum.

Hana membukanya. Isinya adalah sebuah kunci perak dengan gantungan kayu bertuliskan "Pondok Harapan".

"Aku sudah merenovasi pondok di atas bukit itu, Na. Aku menambahkan ruang kerja kecil untukmu menulis, dan sebuah balkon yang langsung menghadap ke matahari terbit. Itu adalah rumah kita yang sesungguhnya. Jauh dari kebisingan kota, tempat kita bisa menanam kenangan baru tanpa ada debu masa lalu."

Hana menatap kunci itu, lalu menatap Raka. Ia menyadari bahwa perjalanannya dari rumah marmer yang dingin milik Aris menuju pondok kayu yang hangat milik Raka adalah perjalanan spiritual yang luar biasa. Ia telah kehilangan segalanya untuk mendapatkan segalanya.

"Aku mencintaimu, Raka."

"Aku lebih mencintaimu, Hana."

Malam itu, "Ruang Temu" dipenuhi cahaya lampu yang hangat. Di tengah hiruk-pikuk kebahagiaan itu, Hana menyadari bahwa ia telah menulis bab penutup bagi penderitaannya dan baru saja memulai bab pertama bagi kebahagiaan sejatinya.

Ia bukan lagi wanita yang tak terlihat. Ia bukan lagi korban perselingkuhan. Ia adalah Hana, seorang istri, seorang pengusaha, seorang pejuang, dan kini... seorang wanita yang merdeka sepenuhnya.

Cahaya bulan purnama di atas Jakarta seolah merestui janji mereka. Di balik fajar esok hari, Hana tahu ia akan terbangun di samping pria yang menghargai jiwanya, siap menghadapi dunia dengan kekuatan yang baru. Masa lalu memang meninggalkan bekas luka, namun bekas luka itulah yang membuatnya menjadi karya seni yang paling indah di mata Raka.

1
Weni suci Fajar wati
sungguh karya yang luar biasa,,👍
Weni suci Fajar wati
Kak aku membaca dari awal sampai di titik ini,,, banyak sekali hal yang aku pelajari dari cerita kakak,,, makasih untuk cerita yang luar biasa ini,,, semangat Kak,,,aku tunggu cerita selanjutnya,,,
PNC
bener bener Satra
PNC
kereeeeeennnn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!