Di kehidupan sebelumnya, Arga Bimantara adalah pria malang yang terjebak dalam jerat cinta buta kepada Tiara. Namun, pengabdiannya hanya dibalas pengkhianatan. Ia harus melihat kedua orang tuanya meninggal dalam kemiskinan dan kehinaan, sementara dirinya sendiri habis dikuras sebagai "sapi perah" oleh keluarga Tiara yang parasit. Arga mati dalam penyesalan mendalam, menyia-nyiakan hidup tanpa sisa.
Tak disangka, takdir memberinya kesempatan kedua. Arga terlempar kembali ke tahun 2000—titik awal di mana segalanya masih bisa diperbaiki.
Kali ini, Arga tidak akan lagi menjadi "si penjilat" yang lemah. Dengan ingatan masa depan dan modal miliaran rupiah dari keberuntungan yang ia rebut, ia memulai langkah pertamanya dengan satu tindakan tegas: Memutuskan hubungan dengan Tiara dan menghancurkan skema licik keluarga wanita itu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Saat itu, Hadi tertawa lebar, menunjuk Arga, lalu berkata,
"Pak Bagus, izinkan saya memperkenalkan. Ini Nak Arga. Beliau menguasai ilmu perhitungan primbon dan memiliki kemampuan yang luar biasa. Dia adalah orang yang membawa keberuntungan bagi saya."
"Banyak masalah besar saya sebelumnya dapat diselesaikan berkat bantuannya."
Kemudian Hadi menoleh ke Arga dan melanjutkan,
"Nak Arga, ini Pak Bagus Mahendra. Dahulu beliau bekerja di otoritas keuangan pusat. Namun karena merasa jenuh, beliau memutuskan terjun ke dunia bisnis sendiri. Hotel ini dan satu-satunya diler Mercedes-Benz di Semarang semuanya milik beliau."
Hadi bercanda sambil tersenyum,
"Jika Nak Arga ingin membeli Mercy, cukup hubungi Pak Bagus. Kami jamin mobil bisa dibeli dengan harga miring dan unitnya langsung keluar hari itu juga."
Di Semarang pada tahun 2000, membeli Mercedes-Benz bukan perkara mudah. Sekalipun punya uang, tetap harus mengandalkan relasi kuat.
Arga mengulurkan tangan dan berkata dengan sopan, "Salam kenal, Pak Bagus."
Setelah mereka bertiga duduk, Hadi langsung berbicara terus terang,
"Kali ini saya mengundang Nak Arga untuk dua hal."
"Pertama, baru-baru ini ada pameran batu mulia di kota. Katanya pameran, tetapi sebenarnya itu adalah pertemuan eksklusif di kalangan kami, para pelaku dunia keuangan."
"Jaringan harus terus dipelihara agar bisnis tetap kokoh."
"Saya dengar Nak Arga juga sedang bermain saham belakangan ini, jadi saya ingin mengundang Anda untuk ikut bersama kami. Bagaimana, tertarik?"
Begitu mendengarnya, Arga langsung memahami maksud Hadi. Di kehidupan sebelumnya, ia adalah praktisi keuangan dan sangat mengenal lingkaran elit ini. Anggota kelompok ini adalah tokoh-tokoh terkemuka; satu keputusan dari mereka bisa menggoyang harga pasar di berbagai industri!
Tak disangka, dalam kehidupan ini ia bisa menembus lingkaran tersebut dengan begitu mudah. Arga menebak bahwa Hadi ingin membalas budi dengan memperkenalkannya kepada Bagus. Karena tujuan terbesar Arga adalah menjadi orang terkaya, memperluas jaringan finansial adalah langkah mutlak.
Maka Arga pun mengangguk dan menyetujui dengan senang hati.
"Nak Arga, ini adalah Kartu Hitam Candi Muda milik Bank Semarang. Silakan Anda terima."
Setelah berbincang sejenak, Hadi mendorong sebuah kartu kredit hitam legam ke hadapan Arga. Di atasnya terukir relief candi perak yang sangat mewah.
Bahkan Bagus pun tampak terkejut dan berkata dengan nada tak percaya,
"Bukankah kartu ini hanya diterbitkan seratus di seluruh negeri? Dan di Jawa Tengah… hanya ada satu?"
Kartu ini adalah simbol status yang mutlak! Sebelumnya, Bagus pernah meminta Hadi untuk mendapatkannya, tetapi ditolak. Tak disangka, kini Hadi justru menyerahkannya kepada Arga!
Saat itu, Bagus akhirnya menatap Arga dengan saksama. Namun, dalam pandangannya, pemuda ini tampak biasa saja—selain wajahnya yang tampan. Sama sekali tidak terlihat seperti seorang ahli supranatural.
Setelah beberapa saat, Hadi bertanya dengan rasa ingin tahu,
"Nak Arga, izinkan saya bertanya, dari mana Anda mempelajari ilmu perhitungan ini? Jika rahasia, Anda tidak perlu menjawab."
Arga menyesap teh dengan tenang, lalu berkata perlahan,
"Sejujurnya, sebulan yang lalu saya hanyalah orang biasa."
"Namun suatu malam bulan lalu, saya bermimpi bertemu Kanjeng Ratu Kidul."
"Beliau mengatakan bahwa saya adalah titisan salah satu abdinya yang harus menjalankan tugas di dunia."
"Dan tugas itu... ada pada diri saya."
"Puf—!"
Bagus tak mampu menahan tawa. Minuman yang baru diteguknya hampir tersembur keluar. Sebaliknya, Hadi justru mendengarkan dengan serius.
Arga mengabaikan reaksi Bagus dan melanjutkan aktingnya, "Beliau pulalah yang mengajarkan saya ilmu melihat masa depan dan membuka mata batin saya."
"Jadi, mulai sekarang kami harus memanggilmu 'Sakti'?" Bagus mencibir. Jelas, ia sama sekali tidak percaya.
Arga berkata dengan tenang, "Pak Bagus tidak perlu percaya, tetapi sebaiknya jangan meremehkan kekuatan alam. Di sekitar Anda ada aliran air. Itu adalah elemen yang harus dihormati. Jika menyinggungnya, Anda bisa terkena sial."
"Apa maksudmu? Aliran air ini bisa membuatku tenggelam?" Bagus berkata meremehkan sambil melirik sungai buatan yang dangkal itu.
Arga menggeleng, "Tentu tidak. Saya hanya mengingatkan agar Anda berhati-hati."
Bagus memutar mata, lalu menoleh ke Hadi, "Hadi, teman muda yang kamu bawa ini benar-benar jago membual."
Hadi ragu sejenak sebelum berkata, "Pak Bagus, Nak Arga tidak bercanda. Saya rasa kita sebaiknya pindah posisi duduk."
"Pindah apa?" Bagus mendengus. "Dia jelas cuma penipu. Bagaimana mungkin kamu, pimpinan bank, bisa tertipu? Saya tidak akan ke mana-mana. Saya ingin melihat kesialan apa yang menimpaku!"
Begitu kata-kata itu terucap—
BOOM!
Sebelum Bagus sempat bereaksi, sebuah batu besar dari taman buatan tiba-tiba runtuh, menghantam bahunya, lalu jatuh ke lantai.
"Pak Bagus! Anda tidak apa-apa?!"
Hadi segera maju menolong, keringat dingin mengalir di dahinya. Untungnya, Bagus hanya mengalami memar ringan. Pada saat itu juga, Hadi semakin yakin dengan kemampuan Arga!
Padahal, Arga tahu peristiwa ini dari berita di kehidupan sebelumnya. Laporan itu menyebutkan batu taman hotel Bagus runtuh dan melukainya tepat pada hari ini. Karena itulah Arga sengaja memanfaatkan narasi "kekuatan alam".
"Aku tidak apa-apa. Hanya kecelakaan," ujar Bagus sambil meringis.
"Ini bukan kecelakaan, Pak Bagus! Cepat minta maaf pada Nak Arga!" desak Hadi.
"Pak Bagus, Anda masih tidak percaya, ya?" Arga mengangkat bahu, lalu berkata dengan tegas, "Kalau begitu, izinkan saya memberi satu ramalan lagi."
"Besok, Anda akan menyangkal ibu kandung Anda sendiri… sebanyak tiga kali!"
"Cukup!" Bagus membentak keras. "Masih muda bukannya kerja bener malah jadi dukun palsu! Kamu bisa tipu Hadi, tapi tidak aku! Maaf, Hadi. Saya pamit dulu!"
Dengan wajah murka, Bagus berdiri dan pergi. Jika bukan karena menghormati Hadi, ia sudah memanggil polisi.
"Bagus! Bagus!" Hadi mengejarnya. "Jangan pergi! Nak Arga benar-benar ahli!"
"Hadi, aku tidak mengerti kenapa kamu jadi percaya klenik begini!" Bagus kesal. "Coba pikir, besok aku bakal menyangkal ibuku tiga kali? Itu ibuku sendiri! Mana mungkin?! Kamu benar-benar sudah tidak waras."
Bagus menggeleng dan pergi. Hadi kembali ke ruangan dengan tergesa.
"Nak Arga, mohon jangan tersinggung!" Kemudian ia bertanya pelan, "Ehm... Nak Arga, apakah Pak Bagus benar-benar akan menyangkal ibunya besok?"
Arga tersenyum misterius. "Tunggu saja dan lihat."
Bagus Mahendra sama sekali tidak menanggapi serius ucapan Arga.
Baginya, peristiwa "runtuhnya bebatuan taman" kemarin hanyalah sebuah kecelakaan biasa yang kebetulan diramalkan.
Keesokan paginya, baru saja ia bangun tidur, ibunya—Ibu Siti—sudah menariknya keluar rumah dengan penuh semangat.
"Cepat, Gus, cepat! Di supermarket seberang ada diskon telur murah! Ikut Ibu sekarang, kita borong buat stok di rumah!"