Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Keesokan paginya, Bima datang ke rumah Sari tepat sesuai waktu yang telah disepakati. Untungnya kekhawatirannya tidak terjadi. Bianca tidak turun untuk mencari masalah.
Namun setelah Sari turun ke bawah, polwan itu muncul di balkon lantai tiga dengan piyama, menatap tajam ke arah Bima di bawah. Bima langsung mengerti. Semalam Sari pasti sudah berbicara dengannya. Bianca terpaksa menahan diri. Berbeda dengan Bianca yang sembrono, Sari masih sangat memperhatikan reputasi dan martabat.
Kalau tidak, dengan sifat galak gadis itu, mungkin sejak pukul enam pagi dia sudah menunggu di bawah dengan membawa pisau dapur.
"Kau tunggu saja!" teriak Bianca dari balkon sambil mengepalkan tangan.
Menghadapi tantangan itu, Bima tidak berkata apa-apa. Ia hanya membuat dua gerakan provokatif—seperti gestur "kemari kau"—sebelum masuk ke mobil. Bianca di balkon hampir meledak karena marah. Seandainya bukan karena berada di lantai tiga, mungkin ia sudah melompat turun. Melihat wajahnya yang merah karena kesal, suasana hati Bima yang semula sudah cukup baik kini menjadi semakin baik.
"Aku akan sibuk di kantor hari ini," kata Sari setelah masuk ke mobil. Ia duduk di kursi belakang sambil membaca dokumen, tanpa mengangkat kepala. "Bianca akan menjemputku setelah pulang kerja. Kalau kau tidak ada urusan, pergi saja membantu di tim armada. Yang penting saat aku membutuhkan mobil, aku bisa menemukanmu."
"Oh? Padahal aku berencana duduk di kantormu sepanjang hari," jawab Bima sambil tersenyum melihatnya lewat kaca spion. "Supaya aku bisa memastikan mobilmu selalu siap."
Sari terdiam. Siapa pernah melihat sopir yang duduk di kantor bos sepanjang hari? Ia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di dalam kepala pria ini.
"Ngomong-ngomong..." Sari ragu sejenak sebelum berkata, "nanti malam aku akan pergi ke rumahmu."
"Hah?" Bima langsung tampak terkejut. "Perubahanmu terlalu cepat! Aku belum siap secara mental. Lagi pula tempat tidurku agak keras, aku takut kau tidak terbiasa."
Garis hitam langsung muncul di wajah Sari. Selama dua hari berinteraksi dengan pria ini, ia merasa kemampuan berpikirnya selalu tertinggal beberapa langkah. Ia menggertakkan gigi dengan kesal.
"Aku akan membawa Bianca ke sana supaya kau meminta maaf padanya! Apa hubungannya dengan tempat tidurmu? Diam dan jangan bicara lagi!"
Bima hanya tertawa dalam hati. Namun ia harus mengakui satu hal—ketika Sari sedang marah, wanita itu justru memiliki pesona yang berbeda.
Setelah tiba di perusahaan, Bima tidak lagi mencari-cari kesempatan untuk menggoda Sari. Ia langsung menuju garasi tim armada mobil dan berjalan-jalan santai di sana. Para sopir lainnya tampak lesu karena semalam mereka minum terlalu banyak. Namun begitu melihat Bima datang, semangat bergosip mereka langsung bangkit.
"Bima, gimana pertempuran semalam?" tanya Bang Jaka sambil tersenyum licik.
Bima mengernyit bingung. "Pertempuran apa?"
"Ah, jangan pura-pura!" kata Bang Jaka. "Kau yang mengantar Yeni pulang, kan? Dia jelas naksir kau, ditambah lagi dia mabuk berat. Masa setelah minum kalian nggak bikin 'gol'?"
Agus yang wajahnya tampak licik ikut menggeleng-gelengkan kepala di samping. "Aku berani jamin Bima pasti nggak ngapa-ngapain semalam. Dia pria sejati yang tahan godaan!"
Bima menoleh heran. "Kau tahu dari mana?"
Agus terkekeh. "Itu rahasia."
"Rahasia apaan! Cepetan bilang!" beberapa sopir lain langsung ikut ribut.
Setelah suasana kembali tenang, Agus yang berjalan paling belakang mendekati Bima dan berbisik pelan. "Tadi kau tanya gimana aku tahu? Gini... pagi ini aku liat Yeni. Wajahnya murung, nggak semangat sama sekali. Kami sempet godain dia, tapi dia nggak marah."
Ia menyeringai penuh arti. "Kita semua tahu dia suka kau. Kalau semalam kalian beneran 'main', dia pasti bahagia setengah mati. Hari ini dia pasti melompat-lompat ke kantor dengan semangat!"
"Jadi dari ekspresinya, aku bisa menebak—kalian nggak sampai ke tahap itu." Agus lalu menepuk bahu Bima. "Tapi situasi kayak gitu jelas nggak masuk akal. Jadi aku punya spekulasi berani: kemungkinan besar semua kondisi sudah oke, tapi karena suatu alasan... gagal di detik-detik terakhir."
Bima benar-benar sedikit kagum pada kemampuan analisis Agus. Apa yang dikatakan pria itu hampir sepenuhnya benar. Malam tadi, setelah ia mengantar Yeni pulang, gadis itu berkali-kali memberi isyarat agar Bima menginap.
Bebek panggang yang sudah sampai di mulut—bukan gaya Bima untuk tidak memakannya. Setelah sampai di rumah, mereka bahkan langsung berguling di atas tempat tidur. Ciuman dan sentuhan sudah berjalan panas.
Namun tepat pada saat-saat paling krusial... Yeni tiba-tiba berkata dengan wajah canggung bahwa hari itu ia sedang "kedatangan tamu bulanan". Bima hampir menangis tanpa air mata. Ia hanya bisa pergi dengan hati penuh penderitaan. Ah... setiap kali mengingatnya, rasanya seperti luka yang disiram cuka.
Setelah Agus pergi, Bima berniat keluar jalan-jalan. Kalau nanti bertemu Yeni, situasinya pasti agak canggung. Namun sebelum ia sempat keluar, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Dewi, memintanya datang ke kantor HRD.
Ketika Bima masuk, ia melihat mata Dewi sedikit bengkak dan merah. Wajahnya juga tampak lesu. Memang bisa dimaklumi, siapa pun yang punya adik seperti Rino pasti sulit merasa tenang.
"Terima kasih buat kejadian semalam," kata Dewi ragu-ragu. "Bang Tigor dan orang-orangnya nggak menyulitkanmu, kan?"
Bima duduk santai di sofa di seberangnya, menyilangkan kaki dengan rileks.
“Menyulitkanku? Dia berani?” katanya sambil tertawa. “Waktu aku sudah mulai melanglang buana, dia itu masih pakai celana bolong selangkangan dan main lumpur! Begitu aku melotot sedikit saja, dia langsung kencing di celana.”
“Dia bahkan menangis sambil memohon agar aku tidak menamparnya. Orang kayak begitu, kalau kutampar justru seperti memberinya operasi plastik gratis.”
“Pfft—”
Dewi tidak bisa menahan tawa.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, wajahnya kembali memiliki sedikit warna. Tentu saja ia tahu kenyataannya tidak mungkin sesederhana yang diceritakan Bima. Ia sudah tinggal di kawasan kumuh bertahun-tahun dan sangat memahami seperti apa ngerinya sosok Bang Tigor. Namun karena Bima tidak ingin menjelaskan, ia juga tidak berniat bertanya lebih jauh.
“Sebenarnya… dua hari lalu aku seharusnya langsung memecatmu,” desah Dewi. “Aku tidak seharusnya memintamu mengantar Bu Sari.”
“Wah, jadi sekarang kau ingin membalas air susu dengan air tuba?” goda Bima.
Dewi memutar bola matanya. Gerakan kecil itu justru membuatnya tampak semakin manis. “Orang yang bahkan Bang Tigor pun tidak berkutik di depannya, tapi bersedia datang ke Garuda Group cuma untuk jadi sopir biasa… itu jelas tidak masuk akal.”
Ia menatap lurus ke mata Bima. “Sampai sekarang aku tidak akan bertanya macam-macam atau menuntut penjelasan. Aku hanya ingin meminta satu hal darimu.”
“Tolong… jangan sakiti Sari.”