[kiamat + ruang dimensi + wanita tangguh]
oh yeah, untuk jodoh Lin yan mungkin akan penuh plot twist dan tidak seperti novel pada umumnya yang pria mana yang bersama Lin yan bisa jadi itu jodohnya, nah bukan ya jadi jodohnya mungkin akan terlambat atau apakah selama ini berada di sekitarnya? tidak ada yang tau bagaimana jodoh si gadis gila akan muncul.
Sinopsis :
Bagaimana jika seorang gadis dari rumah sakit jiwa bertansmigrasi ke novel kiamat? apakah dia akan mengacaukan alur cerita novel atau mengikuti alur novel itu?
kehidupan Lin Yan si gadis gila dari rumah sakit jiwa dengan sifat psikopat gila akan memenuhi hari dengan kegilaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ilmuwan
Di lantai 3, ia menemukan mereka. Tiga pria—satu tua berambut putih dengan janggut tipis, dua muda berkacamata tebal—bersembunyi di ruang laboratorium yang terkunci. Pintu kaca tebal, tapi di luar, lima zombie level 2 menggedor-gedor dengan keras, kaca mulai retak. Para ilmuwan itu gemetar ketakutan di sudut ruangan.
Saat melihat Lin Yan muncul di lorong, zombie-zombie itu berbalik. Tiga panah api, dua panah es—semua zombie tumbang dalam hitungan detik, tubuh mereka terbakar atau membeku.
Pintu laboratorium terbuka perlahan. Ketiga pria itu keluar dengan gemetar, mata mereka membelalak melihat mayat-mayat zombie yang masih berasap dan membeku.
"K-Kau... kau menyelamatkan kami!" seru ilmuwan tua, hampir menangis. "Terima kasih! Terima kasih banyak! Dewa benar-benar mendengar doa kami!"
Lin Yan menatap mereka datar, tanpa ekspresi. "Siapa kalian?"
"Aku Profesor Chen Weiguo, mantan kepala peneliti di sini." Ilmuwan tua itu berbicara cepat, napasnya tersengal. "Ini dua asistenku, Xiao Li dan Xiao Wang. Kami terjebak sejak hari pertama kiamat. Makanan habis tiga hari lalu, air tinggal sedikit, zombie makin pintar." Ia menunjuk pintu. "Mereka belajar, tahu kami di sini. Sudah tiga hari mereka coba masuk. Tolong... tolong bawa kami pergi! Kami bisa kerja! Kami bisa apa saja!"
Lin Yan diam, mengamati mereka. Pakaian lusuh, wajah kuyu dengan lingkaran hitam di bawah mata, badan kurus karena kelaparan, tapi mata mereka masih berbinar—ada kecerdasan di sana, meskipun bercampur ketakutan. Ilmuwan kimia? Biologi? Ah, dia tidak tahu dan tidak peduli.
【Bawa mereka. Mereka bisa berguna. Penelitian, analisis, pengembangan vaksin. Kau butuh orang yang tahu hal-hal yang tidak kau tahu. Ilmuwan itu aset berharga di dunia kiamat!】
"Repot. Ngurus mereka. Mau ngasih makan, ngasih tempat, ngurusin mereka."
【Pikir masa depan, DASAR PEMALAS! Layar sistem berkedip-kedip merah. Kau mau sendirian selamanya? Suatu saat Lin Feng butuh teman selain kau. Kau butuh orang lain yang bisa bantu hal teknis. Zombie level 5 nanti punya kekuatan elemen—mereka bisa analisis itu! Bikin senjata khusus! Bikin vaksin kalau kau kena virus! JANGAN Cuma pikir tidur dan merokok saja!】
Lin Yan menghela napas panjang. Ia menatap ketiga ilmuwan itu.
"Aku bisa bawa kalian keluar. Tapi ada syarat."
Profesor Chen mengangguk cepat, hampir kejang. "Apa saja! Kami setuju apa saja! Kerja rodi juga mau!"
Lin Yan mengeluarkan rokok dari saku, menyalakannya dengan jentikan jari—api kecil muncul dari ujung telunjuknya. Ketiga ilmuwan itu terbelalak melihatnya, mulut terbuka.
"K-Kau punya kekuatan api?" bisik Xiao Li.
"Diam dan dengar." Lin Yan menghembuskan asap. "Pertama: aku tidak mau repot. Kalian harus bisa mengurus diri sendiri. Makan, mandi, cuci baju—urus sendiri. Kedua: kalian harus bekerja. Aku tidak tahu kalian ahli apa, tapi kalian harus berguna. Kalau tidak berguna, kalian akan Jie keluarkan."
Profesor Chen menelan ludah. "Keluar ke mana?"
"Ke luar tembok. Biar jadi zombie." Lin Yan tersenyum tipis—senyum yang membuat merinding.
Ketiga ilmuwan itu langsung menggigil.
"Ketiga: patuh. Kalau aku bilang diam, diam. Kalau aku bilang lari, lari. Kalau aku bilang teliti sesuatu, teliti. Jangan banyak tanya, jangan banyak protes. Jelas?"
"J-Jelas..." jawab mereka serempak.
"Bagus. Ikut."
Lin Yan membawa mereka turun, melewati lorong-lorong penuh mayat zombie. Di luar, ia berhenti di balik gedung, memastikan tidak ada yang melihat. Lalu dengan konsentrasi, ia mengeluarkan mobil militer hitam dari ruang dimensi—muncul tiba-tiba di depannya dengan suara "pop" halus.
Ketiga ilmuwan itu terbelalak lagi, kali hampir jatuh.
"K-Kau punya kemampuan ruang juga?!" seru Xiao Wang.
"Diam," potong Lin Yan. "Masuk. Cepat."
Mereka naik dengan gemetar, masih tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan. Xiao Li, asisten muda, berbisik pada Xiao Wang, "Dia punya kekuatan api, ruang, mungkin lebih. Dia... dia manusia?"
"berisik," kata Lin Yan dari kursi depan tanpa menoleh. "Aku bisa dengar bisikan kalian. Jangan banyak tanya."
Mobil melaju meninggalkan fasilitas penelitian.
Perjalanan memakan waktu dua jam. Selama itu, ketiga ilmuwan hanya bisa diam, terlalu takut dan terlalu kagum untuk bicara. Mereka melihat pemandangan di luar—kota hancur, mayat bergelimpangan, zombie berkeliaran dalam kelompok, beberapa gedung masih terbakar. Dunia benar-benar sudah berubah menjadi neraka.
Akhirnya, mobil memasuki jalan setapak menanjak. Hutan lebat di kiri kanan, pepohonan tinggi menjulang. Lalu, di depan, muncul tembok tinggi dengan pagar besi di atasnya—pagar dengan ukiran bunga mawar hitam dan merah yang melilit indah.
Pintu gerbang besi besar terbuka otomatis saat mobil mendekat, tanpa suara.
Dan ketiga ilmuwan itu... membeku total.
Di dalam, pemandangan yang sama sekali berbeda. Bukan kekacauan kiamat, tapi keindahan seperti surga yang hilang. Jalan setapak beraspal hitam mulus, diapit semak-semak mawar merah dan hitam yang bermekaran indah, kelopak-kelopak bunga bertebaran di aspal. Pepohonan hijau rindang, udara segar dan bersih, burung-burung berkicau riang. Lampu-lampu taman bergaya antik berjejer rapi, siap menyala saat malam. Di ujung jalan, sebuah kastil megah berdiri gagah—tiga lantai dengan arsitektur gothic modern, dinding hitam dan merah, jendela-jendela besar berbingkai emas, menara dengan ukiran panah. Di sekelilingnya, taman bunga mawar yang luas terbentang, air mancur memancar di tengah.
"Ini... ini..." Profesor Chen terbata-bata, air mata mulai mengalir. "Surga?"
"Ini lebih indah dari surga," bisik Xiao Wang.
"Apa kita sudah mati?" Xiao Li mencubit lengannya sendiri. "Sakit... berarti hidup."
Lin Yan memarkir mobil di depan pintu utama kastil. Ia turun, menyalakan rokok, dan berkata datar, "Selamat datang di rumahku. Surga Gila namanya. Ingat syaratnya: jangan merepotkan. Kalau melanggar, kalian akan Jie usir."
Di pintu kastil, Lin Feng sudah menunggu dengan wajah kaget. Rambutnya agak berantakan, mungkin baru bangun. Matanya membelalak melihat tiga orang asing turun dari mobil.
"Jie?! Mereka siapa?!" serunya.
"gak tau, tadi ku pungut." Lin Yan menghembuskan asap. "Ilmuwan katanya. Mereka bakal tinggal di sini."
"TINGGAL DI SINI?!" Lin Feng hampir melompat. "JIE! KAU BILANG DULU! MAU DILETAKKAN DIMANA MEREKA"
"gak usah berisik, banyak kamar kosong." Lin Yan berjalan melewati adiknya. "Kau urus mereka, kenalkan peraturan. Kasih makan, kasih kamar, kasih penjelasan. Aku mau mandi."
"JIE!" teriak Lin Feng, tapi Lin Yan sudah masuk ke dalam, jaketnya melambai di belakang.
Lin Feng menghela napas panjang, lalu tersenyum ramah—berusaha menjadi tuan rumah yang baik meskipun masih bingung setengah mati. "Selamat datang... um... silakan masuk. Aku Lin Feng, adiknya... ya, orang yang baru lihat itu."
Profesor Chen tertawa kecil, gugup. "Terima kasih... kami... kami tidak tahu harus berkata apa. Nama aku Profesor Chen, ini Xiao Li dan Xiao Wang."
"Biasa saja." Lin Feng mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu megah. "Kakakku memang aneh, tapi dia baik kok. Kalau sudah diterima di sini, berarti kalian berguna. Jangan kecewakan dia."
Mereka masuk ke dalam, meninggalkan pintu kastil yang tertutup perlahan. Di luar, matahari mulai terbenam, menyinari tembok tinggi dan bunga mawar yang melilit indah dengan cahaya jingga.
Di dalam kamarnya di lantai tiga, Lin Yan berbaring di ranjang, menghela napas panjang. Ia sudah mengganti pakaiannya—kini mengenakan gaun tidur dengan bahan tipis transparan berwarna biru langit, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping. Walaupun ramping, otot perut dan otot tangannya terlihat padat, hasil latihan iblis berminggu-minggu. Rambut pendeknya sedikit berantakan, memberi kesan seksi yang kontras dengan penampilan garangnya tadi.
Kadang-kadang ia suka tampil feminim, kadang tomboy. Terserah mood-nya.
【Misi selesai. 50 inti kristal terkumpul. 100 zombie level 1 terbunuh. 3 ilmuwan tambahan. Hadiah laboratorium sudah terpasang di basement.】Layar sistem muncul dengan ikon piala.
"Bagus." Lin Yan memejamkan mata. "Besok baru lihat. Sekarang... tidur."
【DASAR PEMALAS! BARU PULANG, MAKAN DULU, MANDI, TERUS TIDUR? KERJAAN LU CUMA ITU?!】teriak sistem.
"Aku udah mandi. Makan nanti. Sekarang tidur." Lin Yan menarik selimut.
【...BAIKLAH. TAPI INGAT, ILMUWAN ITU TANGGUNG JAWAB LU. KALAU MEREKA BERMASALAH, LU YANG URUS.】
"Iya, iya. Besok."
Di luar, suara Lin Feng dan para ilmuwan terdengar samar—percakapan canggung, tawa kecil, suara pintu dibuka. Kehidupan baru mulai terbentuk di dalam kastil.
Lin Yan tersenyum kecil dalam tidurnya. Mungkin memiliki orang lain tidak terlalu buruk. Tapi untuk saat ini, tidur adalah prioritas utama.
Di bawah, Profesor Chen berdiri di kamarnya—kamar tamu mewah dengan jendela menghadap taman. Ia menatap keluar, melihat tembok tinggi dan lampu-lampu taman yang mulai menyala otomatis. Air mata mengalir di pipinya.
"Kita selamat," bisiknya pada Xiao Li dan Xiao Wang yang juga terpukau. "Kita benar-benar selamat."
"Tapi Profesor, orang itu..." Xiao Li ragu. "Dia menakutkan."
"Dia penyelamat kita." Profesor Chen mengusap air mata. "Apapun syaratnya, kita terima. Kita harus berguna. Jangan sampai dia usir kita."
Mereka mengangguk, bertekad.
Di dunia yang hancur ini, mereka menemukan surga.
Dan surga itu dijaga oleh seorang gadis gila yang sedang tidur pulas di lantai atas.