“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28. Satu Kata yang Salah Tempat
Begitu mengenali mobil itu, seketika wajah Alvian berubah cerah.
“Kakek! Nenek!”
Ia langsung berlari kecil begitu pintu mobil terbuka.
Husain turun lebih dulu. Disusul Fatima di sisi lain. Wajah mereka seperti biasa. Tenang. Hangat.
Tidak ada yang berubah. Tidak ada yang menunjukkan… bahwa sesuatu sedang tidak baik-baik saja.
“Alvian…” suara Fatima langsung melembut. Tangannya terbuka menyambut.
Alvian memeluknya erat.
“Kangen!” serunya polos.
Husain tersenyum lebar. Mengusap kepala cucunya.
“Sudah tambah besar,” gumamnya ringan.
Ayza masih berdiri di tempatnya. Belum melangkah mendekat. Tatapannya tertahan pada dua orang itu.
Orang tua suaminya. Orang yang… tidak tahu apa-apa.
“Assalamu’alaikum, Nak.”
Suara Husain akhirnya sampai padanya.
Ayza tersadar. Sedikit tersentak. Lalu melangkah mendekat.
“Wa’alaikumsalam…”
Suaranya tetap lembut. Tertata. Seperti biasa. Namun jemarinya… tanpa sadar saling mengunci.
Fatima menatapnya. Lebih lama dari biasanya.
“Capek?” tanyanya pelan. “Kamu kayak kurang tidur.”
Ayza tersenyum tipis.
“Enggak kok, Bun.” Jawaban yang ringan. Terlalu ringan.
Husain mengangguk. Tidak curiga.
“Mana Kaisyaf?” tanyanya santai. “Ayah tadi coba hubungi, tapi gak diangkat.”
Pertanyaan itu… jatuh tepat di tengah suasana yang masih terlihat tenang.
Namun bagi Ayza, itu seperti sesuatu yang langsung menekan dadanya.
Untuk satu detik… ia tidak menjawab. Hanya diam.
Sementara di depannya, dua orang tua itu menunggu dengan ekspresi biasa.
Tanpa tahu… bahwa jawaban sederhana itu… tidak lagi sederhana.
Dan hari ini, Ayza benar-benar menyadari… bahwa bukan hanya dirinya yang belum tahu kebenaran.
"Ayza?" panggil Fatima karena Ayza terdiam.
Ayza tersentak pelan saat namanya dipanggil.
“Iya, Bun?”
Fatima menatapnya lebih dalam dari biasanya. “Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan itu sederhana. Tapi entah kenapa… terasa seperti sedang menguji.
Ayza mengangguk kecil. “Baik, Bun.”
Namun sebelum suasana kembali netral—
“Umi pasti kangen Abi,” celetuk Alvian polos. “Aku juga.”
Kalimat itu membuat Husain dan Fatima langsung menoleh.
Sekarang… bukan hanya Ayza yang diam.
“Ayo masuk, Yah, Bun,” ucap Ayza akhirnya. Cepat. Seolah ingin memindahkan suasana.
Ruang tengah terasa hangat seperti biasa. Namun hari ini… ada sesuatu yang berbeda.
Alvian sudah duduk di lantai, sibuk membuka oleh-oleh. Wajahnya kembali ceria.
Sementara itu, Ayza masuk ke dapur. Menyiapkan teh. Gerakannya rapi. Terbiasa. Terlalu terbiasa… untuk seseorang yang sedang tidak baik-baik saja. Ia kembali dengan nampan di tangan. Dua cangkir teh dan dua toples berisi cemilan di atasnya.
“Minum dulu, Yah, Bun…”
Namun sebelum cangkir itu benar-benar menyentuh meja—
“Memangnya Kaisyaf ke mana?”
Pertanyaan Husain membuat tangannya berhenti sepersekian detik di udara. Sangat singkat. Tapi cukup terlihat… bagi yang memerhatikan.
Ayza menurunkan cangkir itu pelan.
“Abi ke luar kota, Yah.” Nada suaranya tenang. Terlatih.
“Sudah lama?” tanya Fatima lagi.
“Baru beberapa hari,” jawab Ayza singkat.
Ia merapikan posisi nampan. Tangannya terlihat sibuk… padahal tidak perlu.
“Abi sekarang suka pulang malam,” sahut Alvian lagi, tanpa beban. “Kadang aku gak ketemu Abi, meskipun Abi pulang.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan dengan polos—
“Sekarang malah makin jarang pulang.”
Kali ini… ruangan benar-benar terasa-- sunyi.
Husain dan Fatima saling pandang sejenak. Lalu… perlahan, tatapan mereka kembali ke Ayza.
Lebih tajam. Lebih mencari.
“Kalian baik-baik saja, 'kan?” tanya Fatima pelan.
Ayza mengangguk.
“Iya, Bun.”
Jawaban itu keluar tanpa jeda. Namun justru karena itu… terasa seperti sesuatu yang sudah disiapkan.
Fatima tidak langsung percaya.
“Jadi karena itu… kalian sudah lama tidak ke rumah?”
Kalimat itu tidak tinggi. Tidak menekan. Namun cukup… untuk membuat Ayza tidak punya banyak ruang lagi untuk menghindar.
Fatima masih menatap Ayza. Tatapannya lembut… tapi terlalu lama untuk sekadar perhatian biasa.
“Ayza…” suaranya pelan, “…kamu yakin baik-baik saja?”
Ayza tersenyum tipis. Terlalu cepat.
“Iya, Bun.”
Jawaban itu ringan. Tapi tidak benar-benar menenangkan.
Fatima tidak langsung membalas. Hanya mengangguk kecil… meski jelas belum puas.
Di sampingnya, Husain sejak tadi diam. Namun tatapannya tidak lepas dari Ayza.
Mengamati. Menilai. Dan itu… lebih menekan daripada pertanyaan apa pun.
Beberapa detik hening.
Lalu—
Husain meraih ponselnya.
“Yah?” panggil Fatima pelan.
Namun Husain tidak menjawab. Jarinya sudah menekan satu nama.
Kaisyaf.
Ayza yang melihat itu… seketika menegang. Napasnya tertahan.
Panggilan tersambung.
Satu kali.
Dua kali.
Lebih lama dari biasanya. Dan setiap detik yang berlalu… terasa semakin berat.
Sementara itu di tempat yang jauh dari Ayza.
Ponsel di atas meja bergetar.
Nara yang sedang mengecek catatan medis menoleh. Nama di layar membuatnya diam.
Ayah.
Ia melirik ke arah ranjang. Kaisyaf akhirnya terlelap. Napasnya masih belum stabil. Wajahnya pucat. Sisa kelelahan jelas terlihat.
Ponsel itu terus bergetar.
Nara ragu.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu ia mengangkat.
“…halo?”
Suaranya langsung berubah. Profesional. Terukur.
“Selamat siang, Pak. Saya sekretaris Pak Kaisyaf.”
Di rumah Ayza.
Husain sedikit mengernyit.
“Sekretaris?” ulangnya.
“Iya, Pak,” jawab Nara tenang. “Bapak sedang istirahat. Tadi ada meeting panjang.”
Jawaban itu rapi. Terlalu rapi.
Husain belum sempat bicara lagi—
Pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Seorang perawat masuk tergesa.
“Doctor —” ucapnya cepat. “Patient in room 312 is critical—”
Nara langsung menoleh. Wajahnya berubah. Namun terlambat. Kalimat itu… sudah terdengar jelas.
Di rumah Ayza.
Husain terdiam.
Tatapannya yang semula biasa… perlahan berubah. Tidak drastis. Tapi cukup untuk membuat sesuatu terasa berbeda.
“Critical…?” ulangnya dalam hati.
Fatima menoleh, mengernyit melihat perubahan itu.
“Yah…?” panggilnya pelan.
Husain tidak langsung menjawab. Ia hanya menggeleng tipis. Terlalu tipis untuk dianggap penjelasan.
Di sampingnya, Ayza berdiri diam. Ia tidak tahu pasti apa yang terjadi di ujung telepon tadi. Tapi entah kenapa… ada firasat buruk yang perlahan merambat.
“…maaf, Pak. Itu bukan—” suara Nara terdengar, berusaha menutup.
Namun Husain sudah lebih dulu memotong.
“Di mana Kaisyaf sekarang?”
Nada suaranya rendah. Tenang. Tapi kali ini… tidak memberi ruang untuk jawaban yang dibuat-buat.
Nara terdiam.
Beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya.
“…Pak—” ia mencoba lagi, tapi kali ini tidak meyakinkan seperti tadi.
Husain tidak mengulang pertanyaannya.
Ia hanya menunggu. Dan justru itu… yang membuat tekanan terasa lebih kuat.
“Excuse me—” ucap perawat tadi. Suaranya mendesak.
Tanpa berkata apa-apa, Nara mengakhiri panggilan itu. Lalu ia berbalik. Mengikuti perawat dengan langkah cepat, seolah panggilan tadi… bukan lagi prioritas.
Kembali di ruang tamu—
Husain menutup telepon perlahan. Tidak ada ekspresi berlebihan. Tidak ada kepanikan. Justru itu… yang membuatnya terasa lebih berat
Fatima menatapnya.
“Siapa tadi?” tanyanya.
Husain menghela napas pelan. Lalu menoleh.
“Orang kantor,” jawabnya singkat.
Jawaban yang terdengar wajar. Terlalu wajar.
Fatima mengangguk kecil. Tidak curiga.
Namun berbeda dengan Ayza. Ia tidak bertanya. Tapi matanya… sempat menangkap sesuatu.
Dan itu cukup untuk membuat dadanya kembali terasa tidak tenang.
Husain menyandarkan punggungnya. Tatapannya lurus ke depan.
Namun pikirannya… tidak lagi di ruangan itu. Potongan-potongan kecil mulai tersusun.
Telepon yang lama baru diangkat.
Suara asing.
Kata yang tidak seharusnya terdengar.
“Critical.”
Rahangnya mengeras sedikit.
Dan kali ini… sesuatu yang selama ini ia anggap biasa… mulai terasa tidak masuk akal.
Ia melirik sekilas ke arah Ayza. Hanya sebentar. Namun cukup untuk memastikan satu hal.
Ada sesuatu yang disembunyikan. Dan kali ini… ia tidak akan tinggal diam.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang bukan kebohongan yang menghancurkan, tapi satu kata yang terdengar di waktu yang salah."...
..."Kebenaran tidak selalu muncul dengan suara keras, kadang ia hanya terselip, lalu mengubah segalanya."...
..."Yang disembunyikan dengan rapi, justru paling mudah runtuh saat tak sengaja terbuka."...
..."Ada hal yang bisa kita tutupi dari dunia… tapi tidak dari orang yang benar-benar memerhatikan."...
..."Ketika satu orang mulai curiga, kebohongan tak lagi punya tempat untuk bersembunyi."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Dan Pak Husein tidak akan tinggal diam,akan melakukan apapun demi Kaisyaf.
langsung nyusul ke Luar Negri bersama Ayza...
semoga Kaisyaf terselamatkan
jangan di bikin meninggoy thor...
awas saja,,kalo Kaisyaf meninggoy mau berenti baca🥺