“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Jawaban yang Sama, Makna yang Berbeda
Husain menyandarkan punggungnya. Tatapannya kembali ke cucunya.
Alvian masih sibuk dengan oleh-oleh. Fatima mulai bercerita ringan.
Namun Husain… tidak benar-benar mendengarkan.
Tatapannya perlahan beralih ke Ayza.
“Ayza.”
Ayza menoleh. “Iya, Yah?”
Nada itu… tetap sopan.
Tapi Husain menangkap sesuatu. Ia tidak langsung bertanya inti.
“Kaisyaf ke luar kota… urusan kerja?”
“Iya, Yah.” Jawaban cepat.
“Ke mana?” Pertanyaannya sederhana.
“Surabaya,” jawab Ayza.
Husain mengangguk pelan. “Berapa lama biasanya?”
Ayza mengernyit tipis. “Tergantung kerjaannya, Yah.”
“Kalau yang sekarang?”
Sekali lagi, pertanyaan biasa.
Namun kali ini, Ayza tidak langsung menjawab. “…belum tahu pasti.”
Husain tidak langsung bereaksi. Hanya mengangguk kecil. Seolah cukup. Namun beberapa detik kemudian—
“Dia sehat?” Pertanyaan itu berubah arah.
Ayza sedikit terdiam. “Sehat, Yah.”
Jawaban itu keluar, tapi tidak sehalus sebelumnya.
Husain menangkapnya. Ia tidak membantah atau pun menekan. Hanya… mengalihkan sedikit.
“Jarang pulang. Susah dihubungi. Sekarang ke luar kota lama…”
Ia berhenti sejenak.
“Kerjanya lagi berat, ya?”
Kalimat itu… seperti simpati. Padahal sebenarnya… umpan.
Ayza mengangguk. “Iya, Yah. Lagi banyak kerjaan.”
Husain menatapnya lebih dalam. Lalu—
“Dia tidak cerita apa-apa ke kamu?”
Satu kalimat itu… berbeda. Tidak tinggi, tapi langsung ke inti.
Ayza menatapnya. Untuk satu detik, terlalu lama.
“Tentang apa, Yah?” Ia balik bertanya.
Dan di situ… Husain hampir yakin. Ia tidak menjawab langsung. Hanya mengangguk pelan, seolah menyudahi.
“Tidak apa-apa.”
Namun tatapannya… tidak lagi sama.
***
Sementara itu di tempat lain.
Ruang kerja itu kembali hening setelah pembahasan terakhir selesai.
Beberapa berkas masih terbuka di meja. Angka-angka. Strategi. Semua sudah diputuskan.
Ridho menutup map terakhir.
“Sudah cukup, Pak Fahri.”
Nada suaranya hormat. Tegas. Tapi kali ini… ada sedikit kepuasan di sana.
Fahri tidak langsung menjawab. Tatapannya masih tertuju pada berkas di depannya.
Ridho melanjutkan.
“Pak Kaisyaf memang tidak pernah salah menilai orang.”
Fahri akhirnya menoleh.
Ridho tersenyum tipis.
“Waktu beliau bersikeras mengadakan tes ulang untuk Anda. Waktu beliau mensponsori Anda ikut balapan. Semua keputusannya selalu tepat.”
Kalimat itu tulus. Namun—
Fahri tidak membalas senyum itu. Tatapannya justru berubah lebih dalam dan tajam.
“Pak Ridho.”
Panggilan itu halus. Tapi cukup membuat suasana berubah.
Ridho langsung diam.
“Ada yang ingin aku tanyakan.”
Nada Fahri tetap tenang. Tapi… tidak bisa diabaikan.
Ridho mengangguk kecil. “Silakan, Pak.”
“Kak Kaisyaf sekarang di mana?”
Pertanyaan itu langsung, tanpa pembuka..
“Beliau sudah bilang pada Bapak," jawab Ridho. "Beliau sedang di luar negeri. Terkait tender—”
“Di mana?” potong Fahri tenang, tapi tajam.
“Di Singapura, Pak.” Jawab Ridho cepat.
Namun, Fahri tidak langsung mengangguk. “Proyek apa?”
Ridho mulai merasakan arah ini. “Pengembangan kerja sama—”
“Berapa hari?” potongnya tanpa mengubah ekspresi.
“Masih berjalan, Pak.”
“Tender itu…” Fahri menyandarkan tubuhnya perlahan ke kursi. Tatapannya tidak lepas dari Ridho. “…biasanya tidak sampai berhari-hari tanpa jeda.”
Ridho memilih diam.
“Apalagi sampai tidak bisa dihubungi.”
Kalimat terakhir itu pelan, tapi jelas.
Fahri menatapnya lebih dalam.
“Pak Ridho…”
Nada suaranya turun. Lebih tenang, tapi justru lebih berat.
“…ini benar soal tender?”
Fahri diam sejenak, lebih lama dari sebelumnya.
“…atau ada hal lain yang aku tidak tahu?”
Ridho menarik napas pelan.
“Maaf, Pak,” ucapnya akhirnya. Nada suaranya tetap hormat. Namun kali ini… jelas membatasi.
“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan Anda.”
Fahri tidak langsung bereaksi. Tatapannya tetap tertuju pada Ridho tanpa berkedip.
“Soal ini…” lanjut Ridho, “…nanti saat beliau kembali, Anda bisa menanyakannya langsung.”
Kalimat itu selesai. Dan justru setelah itu… suasana terasa lebih berat.
Fahri akhirnya menyandarkan tubuhnya ke kursi perlahan. Namun tatapannya tidak berubah.
“Tidak bisa…” ulangnya pelan. Bukan bertanya. Lebih seperti… memastikan.
Tidak ada jawaban dari Ridho.
Fahri mengangguk kecil. "Baik.”
Satu kata pendek. Namun entah kenapa… justru itu yang membuat Ridho sedikit menegang.
Fahri meraih berkas di depannya. Menutupnya pelan.
“Kalau begitu…” lanjutnya tenang, “…berarti memang ada hal yang tidak seharusnya aku tahu.”
Ridho terdiam. Ia tidak membantah. Dan itu… sudah cukup.
Fahri berdiri, merapikan jasnya.
“Terima kasih, Pak Ridho.”
Nada suaranya kembali formal. Namun sebelum berbalik, ia berhenti sebentar.
“…aku tidak akan berhenti mencari tahu.”
Kalimat itu ringan, tapi jelas. Bukan ancaman, lebih ke… keputusan.
Fahri lalu melangkah pergi. Meninggalkan Ridho yang masih berdiri di tempatnya.
Kali ini, bukan Fahri yang tertekan.
Tapi Ridho.
***
Malam sudah cukup larut saat Fahri pulang. Rumah masih terang.
“Fahri.”
Suara Rahman terdengar dari ruang tengah.
Fahri menghentikan langkahnya. Menoleh. Lalu berjalan mendekat.
“Ayah.”
Rahman duduk tenang. Namun tatapannya… tidak biasa.
“Duduk," katanya singkat. Tegas.
Tanpa berkata apapun Fahri duduk.
Rahman mengamatinya. Seolah menimbang sesuatu.
“Kamu masih sering ke rumah Ayza?” tanyanya akhirnya..
Fahri tidak kaget. Tapi jelas… tidak menganggap itu pertanyaan ringan.
“Sesekali,” jawabnya tenang. “Kalau ada perlu.”
Rahman mengangguk kecil.
“Perlu… atau kamu yang cari alasan?”
Pertanyaan itu halus, tapi mengarah.
Fahri menatap ayahnya. Kali ini lebih serius.
“Perlu, Yah.” Tidak defensif. Tapi jelas.
“Kamu tak pernah dekat dengan wanita manapun…” Rahman menyandarkan punggungnya., “...Ayza satu-satunya perempuan yang dekat denganmu.”
“Memang benar,” kata Fahri akhirnya. Jujur.
Rahman mengangguk. Tidak terkejut.
“Tetap menganggap dia kakak?.”
“Iya.”
“Dan kamu tahu dia istri orang.”
“Iya.”
Jawabannya tetap tenang. Tidak goyah.
“Kalau suatu hari…” Rahman menatap lebih dalam. “…dia tidak lagi jadi istri orang… kamu tetap akan bilang itu ‘sekadar dekat’?”
Pertanyaan itu… inti. Tidak ada lagi lapisan.
Fahri diam. Bukan karena tidak punya jawaban. Tapi karena… ia memilih.
“Iya," jawabnya tanpa ragu..
Fahri melanjutkan, suaranya tetap rendah.
“Karena dari awal… aku tahu posisiku di mana.”
Tatapannya lurus.
“Dan aku tidak pernah punya niat keluar dari itu.”
Rahman mengamatinya lama. Seolah mencari celah. Tapi tak ada.
“Reza berpikir kamu menunggu,” ucap Rahman.
Fahri sedikit mengernyit.
“Aku tidak menunggu siapa pun.”
Jawaban itu cepat. Tegas.
“Termasuk Ayza?”
-
...🔸🔸🔸...
..."Kebenaran tidak selalu disembunyikan dengan kebohongan, tapi dengan jawaban yang terdengar benar."...
..."Semakin banyak yang bertanya, semakin jelas ada sesuatu yang disembunyikan."...
..."Tidak semua diam berarti tidak tahu, kadang itu hanya menunggu waktu yang tepat."...
..."Ada jawaban yang terdengar benar… tapi tidak pernah benar-benar menenangkan."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fatima bertanya - Om Fahri ngga ke sini ? Ayza yang menjawab.
Alvian tahu Umi bohong dengan jawabannya.
Alvian sampai tak ada selera untuk makan. Padahal lapar.
Alvian...big hug 🥲
Tega sekali Ayza.
Ayza. Coba resapi apa kata kedua mertuamu.
Fatima di sini baru tahu yang terluka yang paling kecil.
Fahri juga terluka.
Husain mesti ketemu dengan Fahri ini. Bicara dari hati ke hati. Apa Fahri setuju dengan jalan yang di pilih Ayza.
Mesin tidak dimatikan.
Fahri matanya terus menatap gerbang sekolah.
Fahri hanya bisa melihat Alfian dari jarah jauh. Alfian yang terlihat tidak ceria.
Alfian tidak capai Umi. Tapi kangen sama Om Fahri. Andai Alvian boleh jujur.
Benar-benar jarak yang dipilih Ayza - membuat dua pria saling merindu.
Husain dan Fatima berkunjung ke rumah Ayza.
Tak ada sambutan dari Alvian.
Bertemu calon yang dijodohkan.
Di awal pertemuan - reza maupun Fahri cuma sekedar menjalankan. Bertemu, tak ada niat untuk melangkah serius.
Kasihan sekali Naila. Reza sudah merasa cukup mengenal Naila dari data yang dikirim ke orang tua Reza.
Reza tidak menolak perjodohan - tapi sikap dan kalimat yang terucap sudah jelas tak bisa diharapkan.
Naila - mundur saja.