NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33

BAB 33: Gema di Ruang Hampa

Musim dingin di Berlin seolah enggan beranjak, membalut Kastil Hohenzollern dengan kabut kelabu yang kaku. Jet pribadi keluarga mendarat di landasan aspal yang basah, dan tak lama kemudian, iring-iringan limosin hitam memasuki gerbang besi raksasa yang melambangkan kekuasaan klan tersebut.

Di aula utama yang megah, Julian dan Elara sudah menunggu. Sejak kematian Sophia, Max menjadi pusat gravitasi bagi keluarga ini—satu-satunya peninggalan hidup dari sebuah tragedi yang megah.

"Max! Keponakan kesayanganku!" Elara berlari kecil, gaun sutranya berdesir di atas lantai marmer. Ia segera berlutut dan mencoba memeluk Max. "Bagaimana perjalananmu? Kau terlihat semakin tampan, persis seperti foto kakek buyutmu."

Max tidak menghindar, namun ia juga tidak membalas pelukan itu. Tubuh mungilnya tetap tegak, matanya yang berwarna abu-abu baja menatap bibinya dengan datar. "Perjalanannya membosankan, Bibi Elara. Singapura terlalu panas," jawabnya dengan suara yang terlalu stabil untuk anak seusianya.

Julian melangkah maju dengan senyum lebar, mencoba mencairkan suasana. Ia membawa sebuah kotak besar berisi set robotik terbaru yang ia pesan dari Jepang. "Hei, jagoan! Lihat apa yang Paman bawa. Kita bisa merakit ini di ruang tengah nanti. Kau ingin mencoba fungsi sensornya?"

Max melirik kotak itu sebentar, lalu kembali menatap Julian. "Terima kasih, Paman Julian. Tapi aku sedang tidak ingin bermain. Aku lebih suka membaca laporan pasar yang ditinggalkan Ayah di pesawat tadi."

Julian dan Elara saling berpandangan. Ada rasa getir yang menyelinap di hati mereka. Max adalah hasil dari didikan Aurelius yang tanpa celah, namun juga tanpa kehangatan. Elara terus mencoba memanjakan Max dengan segala macam manisan dan pakaian mahal, sementara Julian tak henti-hentinya mengajak Max bermain bola atau merakit robot, berharap ada sedikit percikan tawa dari bocah itu. Namun, Max tetaplah Max—sebuah miniatur dari The Iron Kaiser.

Aurelius berjalan melewati mereka, hanya memberikan anggukan singkat. "Biarkan dia istirahat. Dia lelah karena protokol di Singapura," ucap Aurelius dingin sebelum menghilang di balik pintu ruang kerjanya.

Tiga hari berlalu sejak kepulangan mereka yang penuh ketegangan dari Singapura. Atmosfer di dalam kastil tetap menekan. Aurelius menenggelamkan diri dalam pekerjaan, mencoba menghapus bayangan Hana yang menangis di bandara Changi. Namun, kunci berkarat di sakunya seolah terus berdenyut, mengingatkannya pada luka yang tak kunjung mengering.

Sore itu, Aurelius berada di perpustakaan pribadi keluarga—sebuah ruangan raksasa dengan ribuan buku kuno yang baunya seperti kertas tua dan sejarah. Ia sedang duduk di kursi kulit besar, meninjau dokumen akuisisi bank di Zurich.

Pintu perpustakaan yang berat terbuka sedikit. Langkah kaki kecil yang teratur terdengar di atas permadani Persia. Aurelius tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang.

"Masuklah, Max," ucap Aurelius tanpa mengalihkan pandangan dari dokumennya.

Max melangkah masuk, berhenti tepat tiga langkah di depan meja ayahnya. Ia berdiri dengan tangan di belakang punggung, postur yang sempurna. "Ayah sedang sibuk?"

Aurelius meletakkan pulpen emasnya. Ia menatap putranya. Wajah Max mengingatkannya pada perpaduan yang menyakitkan: mata tajam miliknya, dan kelembutan garis bibir Sophia yang kini jarang tersenyum. "Untukmu, aku selalu punya waktu. Ada apa?"

Max terdiam sejenak. Ia menatap lukisan besar di dinding perpustakaan yang menggambarkan silsilah keluarga Hohenzollern. Kemudian, ia kembali menatap ayahnya dengan sorot mata yang menuntut jawaban jujur.

"Aku hanya ingin tahu... bagaimana Ibuku," ucap Max datar, namun ada getaran halus yang tersembunyi di balik nada suaranya.

Pertanyaan itu menghantam Aurelius tepat di dadanya. Sesak yang ia rasakan di Singapura kembali menyerang, lebih tajam dan lebih dalam. Selama lima tahun ini, ia hampir tidak pernah membicarakan Sophia secara mendalam di depan Max. Ia hanya memberikan gambaran umum bahwa ibunya adalah seorang wanita bangsawan yang terhormat.

Aurelius menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya di kursi. "Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu, Max? Apakah Bibi Elara menceritakan sesuatu?"

"Tidak," jawab Max pendek. "Tapi di Singapura, wanita itu... Nona Asuka... dia menatapku seolah dia mengenal setiap bagian dariku. Dan Paman Kaito menatapku dengan kebencian. Lalu aku teringat, aku tidak punya ingatan tentang wanita yang melahirkanku. Aku hanya punya foto-foto yang dipajang di aula. Aku ingin tahu, apakah dia mencintaiku? Atau aku hanya sebuah tugas untuknya?"

Aurelius memejamkan matanya sebentar. Bayangan Sophia yang berteriak kesakitan di ruang operasi kembali terlintas. Bayangan Sophia yang rela mati demi memberikan napas bagi Max.

"Ibumu..." Aurelius memulai, suaranya sedikit parau. "Dia adalah wanita yang sangat ambisius, Max. Dia sangat bangga dengan darah yang mengalir di tubuhnya. Tapi, di hari kau lahir, dia membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar nama besar."

Max mendekat satu langkah. "Apakah dia mencintai Ayah?"

Pertanyaan ini jauh lebih sulit. Aurelius teringat kemesraan palsu yang ia berikan pada Sophia. Ia teringat bagaimana ia luluh hanya karena kasihan dan tanggung jawab, bukan karena cinta yang membakar seperti yang ia rasakan pada Hana.

"Dia mencintaiku dengan caranya sendiri, Max. Sebuah cinta yang posesif, yang ingin memiliki seutuhnya," jawab Aurelius jujur. "Dan dia sangat mencintaimu. Dia memberikan nyawanya agar kau bisa berdiri di sini hari ini. Dia menyebutmu sebagai kemenangan terbesarnya sebelum dia pergi."

Max menunduk, menatap ujung sepatunya yang mengkilap. "Apakah dia mirip dengan Nona Asuka?"

Rahang Aurelius mengeras. "Sama sekali tidak. Mereka adalah dua kutub yang berbeda. Ibumu adalah matahari yang membakar, sementara Hana... Hana adalah hujan yang menenangkan namun menghancurkan."

Max terdiam cukup lama, mencerna setiap kata ayahnya. "Bibi Elara bilang, Ibu meninggal karena aku terlalu kuat untuknya. Apakah itu benar? Apakah aku yang membunuhnya?"

Aurelius tersentak. Ia berdiri dan menghampiri putranya. Ia berlutut di depan Max, memegang kedua bahu kecil itu. "Jangan pernah katakan itu lagi, Max. Ibumu memilih untuk memberikan hidupnya padamu. Itu bukan kesalahanmu. Itu adalah pengorbanannya. Dia pergi agar kau bisa menjadi pemimpin klan ini suatu saat nanti."

Max menatap mata ayahnya. "Lalu kenapa Ayah selalu terlihat sedih saat melihatku? Apakah karena setiap kali Ayah melihatku, Ayah teringat kematiannya? Atau Ayah teringat wanita dari Jepang itu?"

Aurelius terpaku. Ketajaman Max adalah kutukan. Anak ini bisa merasakan keretakan di dalam topeng ayahnya. "Aku sedih karena aku gagal memberikanmu keluarga yang utuh, Max. Aku sedih karena dunia tempat kita tinggal tidak memberikan ruang untuk kebahagiaan yang sederhana."

Max mengangguk perlahan. Ia meletakkan tangannya yang kecil di atas tangan ayahnya. "Terima kasih, Ayah. Aku hanya ingin tahu bahwa aku lahir dari sesuatu yang nyata, bukan hanya dari kontrak bisnis."

Aurelius menarik Max ke dalam pelukan yang jarang terjadi. Ia mendekap putranya erat-erat, menghirup aroma sabun bayi yang masih tersisa di rambut Max. Di dalam perpustakaan yang sunyi itu, sang kaisar dan pangerannya berbagi duka yang sama.

"Kau nyata, Max. Kau adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa dalam hidupku," bisik Aurelius.

Max melepaskan pelukan itu, kembali ke mode dinginnya yang biasa. "Aku mengerti. Aku akan kembali ke kamar untuk menyelesaikan laporan pasarnya. Selamat malam, Ayah."

Max berbalik dan berjalan keluar dengan langkah yang mantap. Aurelius berdiri diam di tengah perpustakaan, menatap pintu yang tertutup. Dadanya masih terasa sesak. Pertanyaan Max tentang ibunya telah membuka luka lama, namun penyebutan nama Hana di tengah percakapan itu membuatnya sadar bahwa hantu dari masa lalu tidak akan pernah membiarkannya tenang.

Ia kembali ke mejanya, namun ia tidak bisa lagi membaca dokumen itu. Ia mengambil kunci berkarat dari sakunya, menaruhnya di bawah lampu meja, dan menatapnya lama. Di Berlin yang dingin ini, ia menyadari bahwa ia sedang membesarkan seorang putra yang mungkin akan menjadi lebih dingin darinya—seorang putra yang lahir dari kematian seorang ibu dan kerinduan seorang ayah pada wanita yang tak boleh ia miliki.

Malam itu, di kamarnya yang luas, Max tidak membaca laporan pasar. Ia berdiri di balkon kamarnya, menatap salju yang turun. Di tangannya, ia memegang sebuah sapu tangan kecil bermotif bunga melati yang ia temukan jatuh di bandara Singapura tempo hari—milik Hana.

"Ibu..." bisik Max lirih, menatap langit malam. "Jika kau ada di sana, katakan padaku... apakah Ayah benar-benar mencintaiku, atau dia hanya mencintai tanggung jawabnya?"

Max melipat sapu tangan itu dengan rapi dan menyimpannya di bawah bantalnya. Rahasia kecil yang tidak akan pernah ia beritahukan pada siapa pun, termasuk ayahnya. Di dalam hati kecil Maximilian, sebuah bibit keingintahuan tentang "Bibi" dari Jepang itu mulai tumbuh, mengancam untuk meruntuhkan tembok yang telah dibangun Aurelius dengan susah payah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!