NovelToon NovelToon
Nox Astra: Sovereign Of The Nine Stars

Nox Astra: Sovereign Of The Nine Stars

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi / Tamat
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Seat Bos

1. Konsep Utama (The Core)
Protagonis: Kaelan Veyris (Reinkarnasi Ryan Hartman).
Bakat: EX-Grade Talent "All" (Potensi melampaui dewa, penguasaan semua elemen & jalur).
Organisasi: Nox Astra (Simbol: 9 Bintang). Bergerak dari bayangan untuk menguasai 5 benua.
Misi Utama: Membangun kekuatan absolut melalui panti asuhan rahasia dan jaringan teleportasi kuno.
2. Hierarki Kekuatan (Power System)
Grade Bakat: F (Terendah) sampai S (Legenda), SS (Mitos), dan EX (Kaelan).
Jalur Utama:
Sword Path: Sword Trainee hingga Transcendent Sword (Tebasan Dimensi).
Mage Path: Mana Initiate hingga Transcendent Mage (Manipulasi Realitas).
Hybrid Path: Gabungan keduanya (Kaelan & Nox).
Sihir Langka: Teleportasi jarak jauh (Teknik kuno yang hanya dikuasai Kaelan/Nox Astra).

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seat Bos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AWAL DARI ORGANISASI BAYANGAN

Matahari belum juga menampakkan diri di ufuk timur Veyris, namun pelataran tengah mansion sudah bergema oleh suara denting logam dan langkah kaki yang berat. Udara pagi yang menusuk tulang seakan tidak mempan bagi para ksatria yang sedang melakukan pemanasan.

Di sudut balkon, Kaelan berdiri menatap ke bawah. Tangannya yang mungil mencengkeram pagar pembatas kayu. Di bawah sana, ia melihat Nox—bocah berambut putih yang baru semalam ia beri nama—sedang diseret oleh salah satu instruktur ksatria menuju barisan kadet.

Nox tampak sangat kecil dibandingkan anak-anak ksatria lainnya yang rata-rata berusia sepuluh tahun ke atas. Namun, sorot mata merahnya tidak goyah. Sebelum masuk ke barisan, Nox mendongak sejenak ke arah balkon, seolah merasakan keberadaan tuannya. Kaelan hanya memberikan anggukan tipis yang nyaris tak terlihat.

Bertahanlah, Nox. Bakat SS-mu tidak akan berguna jika fisikmu hancur di hari pertama, batin Kaelan.

"Kaelan! Jangan melamun. Turun sekarang!" suara bariton Count Aldric menggelegar dari bawah.

Kaelan segera turun. Di tengah lapangan, Aldric sudah berdiri tegak tanpa baju zirah, hanya mengenakan kemeja latihan tipis yang memperlihatkan otot-otot lengannya yang seperti lilitan baja. Di sampingnya, Mira berdiri membawa nampan berisi pedang kayu kecil yang disesuaikan untuk ukuran tubuh balita.

Mira tampak bingung dan cemas. "Count... apa tidak terlalu dini bagi Tuan Muda? Dia baru saja sembuh dari kejadian kemarin..."

"Dunia tidak peduli dia masih balita atau bukan, Mira," jawab Aldric dingin sambil mengambil pedang kayu itu dan melemparnya ke arah Kaelan.

Hup!

Kaelan menangkapnya dengan satu tangan. Beratnya pas, tapi bagi tubuh anak tiga tahun, ini tetaplah beban yang cukup menguras tenaga.

"Kaelan," Aldric menatap putranya dengan intensitas seorang komandan perang. "Kau bilang kau belajar sendiri dari buku. Sekarang, tunjukkan pada Papa bagaimana kau mengalirkan mana ke pedang itu. Jika kau gagal, kau akan lari keliling lapangan ini lima puluh kali."

Kaelan menarik napas dalam. Ini adalah ujian pertamanya di bawah pengawasan langsung sang High Aura Knight. Jika ia terlalu lemah, ayahnya akan menganggapnya remeh. Jika ia terlalu kuat, rahasianya sebagai Bakat EX akan terancam.

Aku harus berada di level 'Genius Grade A' yang masuk akal, pikir Kaelan.

Ia menutup matanya. Ia tidak menggunakan Sirkulasi Aether yang murni, melainkan memanipulasi mananya agar terlihat sedikit kasar dan tidak stabil—khas seorang pemula yang berbakat. Ia membayangkan mana biru di ulu hatinya mengalir lambat menuju lengannya, lalu merambat ke permukaan pedang kayu.

Wush!

Pedang kayu itu mengeluarkan pendar cahaya biru redup. Cahayanya bergetar, terkadang terang, terkadang meredup.

Aldric tertegun. Para ksatria yang sedang berlatih di sekitar mereka pun berhenti. Menyelubungi senjata dengan mana (Mana Coating) adalah teknik yang biasanya baru bisa dikuasai oleh ksatria remaja setelah bertahun-tahun latihan fisik. Melihat seorang balita melakukannya dalam hitungan detik... itu adalah pemandangan yang mustahil.

"Cukup," ucap Aldric, suaranya sedikit gemetar karena bangga bercampur ngeri. "Sekarang, coba tebas tiang kayu itu."

Kaelan berlari kecil, lalu mengayunkan pedangnya dengan teknik Silent Step yang ia samarkan sebagai gerakan lincah anak kecil.

BRAKK!

Tiang kayu latihan itu terbelah dua. Bukan karena kekuatan fisik, tapi karena mana yang tajam memotong serat kayunya.

"Luar biasa..." gumam Mira, matanya berbinar-binar. Tanpa ia sadari, karena emosinya yang meluap melihat keberhasilan Kaelan, udara di sekitar Mira sedikit bergetar. Sebuah vas bunga di dekatnya mendadak bergeser beberapa sentimeter tanpa disentuh.

Kaelan menangkap fenomena itu. Sihir Ruang Mira mulai bereaksi terhadap fluktuasi manaku. Bagus.

Aldric berjalan mendekati Kaelan, lalu mengacak rambut putranya. "Kau benar-benar anakku. Tapi teknikmu masih kasar. Kau terlalu banyak membuang mana yang tidak perlu. Mulai hari ini, setiap pagi kau akan berlatih bersamaku. Dan sore hari, kau akan belajar strategi perang bersama ibumu."

"Siap, Papa!" seru Kaelan dengan senyum ceria, meski di dalam kepalanya ia sedang merencanakan hal lain.

Sesi latihan berlanjut hingga matahari meninggi. Kaelan sengaja menjatuhkan diri ke tanah, berpura-pura kelelahan agar Aldric menghentikan latihannya.

"Mira, bawa Kaelan kembali ke kamarnya. Biarkan dia istirahat," perintah Aldric.

Mira segera menggendong Kaelan. Saat mereka berjalan menjauhi lapangan, Kaelan menyandarkan kepalanya di bahu Mira. Ia bisa merasakan aliran mana perak Mira yang masih tertidur.

"Mila..." bisik Kaelan pelan.

"Iya, Tuan Muda?"

"Mila pernah ngerasa... dunia kayak tiba-tiba berhenti nggak? Atau Mila pengen ada di tempat lain terus tiba-tiba nyampe?" tanya Kaelan dengan nada polos.

Mira tertawa kecil. "Tuan Muda ini bicara apa? Mana mungkin bisa begitu. Saya hanya pelayan biasa, bukan penyihir hebat seperti Anda."

"Tapi Mila hebat kok. Nanti Kaelan ajarin main mana ya?"

Mira hanya menganggap itu candaan anak kecil. "Tentu, Tuan Muda. Saya akan sangat senang."

Kau tidak tahu, Mira. Dalam enam bulan, aku akan membuatmu menjadi penyihir yang bisa memindahkan satu pasukan hanya dengan jentikan jari, janji Kaelan dalam hati.

Sore harinya, Kaelan diizinkan mengunjungi area latihan kadet untuk melihat perkembangan Nox. Dari kejauhan, ia melihat Nox sedang dihajar habis-habisan oleh dua anak bangsawan lain yang jauh lebih besar.

"Budak kotor! Beraninya kau masuk ke sini!" teriak salah satu anak sambil menendang perut Nox.

Nox tidak membalas. Ia mengingat perintah Kaelan semalam: Jangan tunjukkan kekuatanmu kecuali aku yang memerintah. Ia hanya meringkuk, melindungi organ vitalnya, namun matanya tetap tajam menatap lawan-lawannya.

Kaelan berdiri di balik tembok, memperhatikan dari kejauhan. Ksatria Gorn yang menjaganya bertanya, "Tuan Muda, apa perlu saya hentikan mereka?"

"Tidak usah, Gorn. Biarkan saja. Serigala harus digigit anjing dulu agar tahu bagaimana cara merobek leher," jawab Kaelan dengan suara dingin yang membuat Gorn merinding.

Gorn menelan ludah. Ia mulai merasa bahwa tuan muda yang ia jaga ini bukanlah seorang bocah berusia tiga tahun, melainkan entitas tua yang sangat mengerikan yang terjebak dalam tubuh kecil.

Begitu para anak bangsawan itu pergi, Kaelan mendekati Nox yang berdarah di sudut lapangan.

Nox mendongak, wajahnya lebam, tapi saat melihat Kaelan, ia langsung mencoba bangkit untuk bersujud. Kaelan menahannya.

"Cukup. Kau sudah melakukannya dengan baik," ucap Kaelan. Ia memberikan sebotol kecil ramuan pemulih yang ia curi dari kamar obat ibunya tadi siang. "Minum ini. Dan ingat, setiap tendangan yang kau terima hari ini adalah hutang yang akan kau tagih dengan nyawa mereka suatu hari nanti."

Nox meminum ramuan itu, merasakan lukanya menutup dengan cepat. "Terima kasih, Tuan."

"Malam ini, datanglah ke kamarku lewat pintu rahasia di bawah tangga menara. Aku akan mengajarimu dasar dari Sword Soul. Kau tidak butuh teknik sampah mereka. Kau akan belajar teknik pembunuh dewa."

Mata merah Nox berkilat penuh semangat. "Saya akan datang, Tuan."

Malam itu, di dalam kamarnya yang gelap, Kaelan membuka buku kuno itu kembali. Ia menemukan sebuah bab tersembunyi yang hanya bisa dibaca dengan mengalirkan mana ke halamannya.

Judul bab itu adalah: "Pembentukan Nox Astra: Struktur Organisasi Bayangan".

Kaelan tersenyum. Fondasi sudah diletakkan. Ksatria terkuat (Nox) dan Penyihir terhebat (Mira) sudah berada di sisinya. Kini, ia hanya perlu menunggu waktu untuk memicu konflik yang akan menghancurkan dominasi Valdoria dan Drakmor.

Namun, di tengah kesunyian malam, sebuah peringatan muncul di kepalanya. Bakat EX miliknya merasakan adanya hawa asing yang mendekati mansion.

Bukan ksatria... bukan penyihir biasa... ini adalah pembunuh bayaran dari Guild Dark Hand, analisis Kaelan.

Targetnya? Sepertinya bukan aku. Tapi... Ayah.

Kaelan menutup bukunya. "Sepertinya aku harus melakukan 'pencucian darah' di mansion ini lebih awal dari rencana."

1
Apin Zen
tmat
Kaisar Absolute
🅑🅐🅖🅤🅢
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!