Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Ruangan Mawar Putih
Medan perang akhirnya benar-benar sunyi.
Suara pedang yang sebelumnya bertabrakan kini telah menghilang. Api yang sempat membakar sebagian hutan perlahan meredup, hanya menyisakan bara merah yang menyala redup di antara tanah yang dipenuhi darah.
Tubuh para prajurit dari kedua bangsa tergeletak di berbagai sudut medan perang.
Vampir Dan manusia serigala
Namun tidak ada lagi pertempuran.
Pasukan manusia serigala telah mundur jauh ke dalam hutan setelah kekalahan Raja mereka di tangan Raja Vampir.
Malam yang dipenuhi kemarahan itu akhirnya berakhir dengan kesunyian yang menyesakkan.
Di tengah medan perang itu, Herry masih berdiri dengan tubuh Ratu Elena dalam pelukannya.
Ia memegang tubuh ratunya dengan sangat hati-hati, seolah sedikit saja gerakan bisa melukai wanita yang selama ini sangat dihormatinya.
Gaun putih Elena kini ternoda darah yang mulai mengering Rambut hitamnya yang panjang dan bergelombang jatuh lembut di bahunya Wajahnya terlihat damai, Tenang.
Seolah ia hanya tertidur setelah hari yang panjang.
Namun, Herry tahu kenyataannya jauh lebih menyakitkan.
Ia menundukkan kepalanya dengan penuh hormat.
“Maafkan kami, Ratu…” bisiknya pelan.
Angin malam berhembus perlahan melewati medan perang yang kini dipenuhi bau darah dan tanah basah.
Beberapa prajurit vampir berdiri tidak jauh dari sana. Mereka tidak berkata apa-apa Mereka hanya menundukkan kepala Tidak ada kemenangan yang terasa malam ini karena, bagi mereka, kehilangan Ratu Elena jauh lebih menyakitkan daripada kemenangan perang.
Tak lama kemudian langkah kaki terdengar mendekat.
Herry langsung berlutut ia tahu siapa yang datang bahkan tanpa harus melihat.
Raja Vampir Edward.
Sang raja berjalan perlahan menuju mereka.
Jubah hitamnya berkibar lembut tertiup angin malam Aura dingin yang keluar dari tubuhnya masih terasa sangat kuat setelah pertarungan mengerikan yang baru saja terjadi.
Para prajurit vampir di sekitar mereka langsung menundukkan kepala lebih dalam.
Tidak ada satu pun yang berani menatap langsung ke arah rajanya.
Edward berhenti tepat di depan Herry.
Matanya langsung tertuju pada tubuh Elena.
Untuk beberapa saat ia tidak berkata apa-apa.
Kesunyian yang berat menyelimuti mereka semua.
Hanya suara angin yang terdengar di antara pepohonan.
“Herry.”
Akhirnya suara Edward terdengar.
Rendah Namun sangat jelas.
“Serahkan dia padaku.”
Herry mengangkat kepalanya sedikit.
Dengan sangat hati-hati ia mengulurkan tubuh Elena kembali kepada rajanya.
Edward menerima tubuh istrinya dengan lembut.
Tangannya menopang kepala Elena dengan sangat hati-hati, seolah Elena masih bisa merasakan sentuhan itu Tatapan Edward tidak pernah lepas dari wajah wanita yang paling ia cintai.
Angin malam kembali berhembus.
Beberapa helai rambut Elena bergerak lembut tertiup angin.
Para prajurit vampir yang menyaksikan pemandangan itu menundukkan kepala mereka semakin dalam Tidak ada yang berani bersuara Karena,mereka tahu betapa besar cinta sang raja kepada ratunya.
Akhirnya Edward berbicara lagi.
“Kita pulang.”
Hanya dua kata Namun suara itu terdengar sangat berat.
Herry menundukkan kepalanya.
“Baik, Yang Mulia.”
Para prajurit vampir segera membuka jalan ketika sang raja berjalan melewati mereka sambil membawa tubuh Elena.
Tidak ada yang berani menghalangi.
Tidak ada yang berani berbicara.
Perjalanan menuju istana dimulai dalam kesunyian.
Langit malam dipenuhi awan tipis yang bergerak perlahan menutupi bulan.
Hutan gelap di sekitar mereka terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Langkah para prajurit vampir terdengar pelan di atas tanah yang masih basah oleh darah dan hujan malam beberapa dari mereka sesekali menoleh ke arah Rajanya.
Edward berjalan di depan.
Tubuh Elena masih berada dalam pelukannya.
Ia tidak menyerahkan tubuh itu kepada siapa pun Seolah ia tidak ingin melepaskannya lagi.
Perjalanan menuju istana tidak memakan waktu lama bagi bangsa vampir Akhirnya menara tinggi kastil vampir mulai terlihat di kejauhan.
Istana vampir berdiri megah di tengah hutan gelap.
Menara-menara tinggi menjulang ke langit malam.
Dinding batu hitamnya tampak kokoh dan anggun di bawah cahaya bulan yang redup.
Ketika mereka mendekati gerbang utama, para penjaga istana segera membuka pintu besar itu.
Begitu mereka melihat sang raja datang, seluruh penjaga langsung berlutut.
Namun ketika mata mereka melihat tubuh Elena dalam pelukan Edward…
Beberapa dari mereka terkejut Ada yang menutup mulut mereka dengan tangan.
Ada yang menundukkan kepala dengan mata berkaca-kaca.
Berita kematian sang ratu mulai menyebar cepat ke seluruh istana.
Para pelayan keluar dari lorong-lorong istana.
Namun begitu mereka melihat pemandangan itu, tidak ada yang berani bersuara.
Kesedihan menyelimuti seluruh kastil.
Edward tidak memedulikan semua itu.
Langkahnya terus berjalan menuju bagian terdalam istana.
Lorong-lorong panjang kastil dilewati tanpa sepatah kata pun.
Akhirnya mereka sampai di sebuah pintu besar yang sangat dikenal oleh seluruh penghuni istana.
Pintu itu dihiasi ukiran bunga mawar yang sangat indah.
Ruangan Mawar Putih.
Tempat favorit Ratu Elena semasa hidupnya.
Tidak ada satu pun penghuni istana yang tidak mengetahui betapa Elena mencintai ruangan itu, Di sanalah ia sering menghabiskan waktunya. Membaca buku ,Menulis,Atau sekadar menikmati cahaya bulan yang masuk melalui jendela tinggi.
Ketika pintu ruangan itu dibuka, aroma lembut bunga mawar langsung memenuhi udara.
Ratusan bunga mawar putih tumbuh di taman kecil di tengah ruangan itu.
Cahaya bulan masuk melalui jendela besar, menyinari kelopak bunga yang tampak seperti perak.
Edward berjalan masuk perlahan.
Ia mendekati sebuah ranjang putih di tengah ruangan Dengan sangat hati-hati ia meletakkan tubuh Elena di atasnya Rambut Elena dirapikan dengan lembut Gaunnya diperbaiki.
Seolah ia hanya sedang beristirahat setelah hari yang panjang.
Edward berdiri di samping ranjang itu.
Matanya tidak pernah lepas dari wajah Elena.
“Herry.”
Pelayan setianya segera berlutut.
“Ya, Yang Mulia.”
Edward mengangkat tangannya perlahan.
Aura sihir gelap mulai memenuhi udara di dalam ruangan.
Simbol-simbol kuno perlahan muncul di udara seperti bayangan cahaya yang bergerak.
“Mulai malam ini…” kata Edward.
“Tidak seorang pun boleh memasuki ruangan ini.”
Herry menundukkan kepalanya.
“Aku mengerti, Yang Mulia.”
Simbol-simbol sihir itu semakin banyak.
Mereka bergerak mengelilingi seluruh ruangan.
Pintu,Dinding,Lantai. Seluruh Ruangan Mawar Putih kini dilindungi oleh kekuatan Raja Vampir.
“Siapa pun yang mencoba masuk tanpa izinku…” lanjut Edward dengan suara dingin.
“Akan dihancurkan.”
Setelah mantra selesai, simbol-simbol sihir perlahan menghilang Namun perlindungan itu tetap ada Tidak terlihat Namun , sangat kuat.
Ruangan itu kini menjadi tempat yang terlarang bagi siapa pun.
Edward kembali menatap Elena.
Di tangannya masih tergenggam kalung berlian hijau berantai emas putih milik sang ratu.
Berlian itu memantulkan cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
Untuk beberapa saat Edward hanya berdiri di sana Tanpa bergerak Tanpa berkata apa-apa Akhirnya ia berbisik sangat pelan.
“Aku akan menunggumu.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Seratus tahun…”
“Lima ratus tahun…”
“Bahkan seribu tahun…”
Ia menggenggam kalung itu semakin erat.
“Sampai aku menemukanmu lagi.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Kelopak mawar putih jatuh perlahan ke lantai.
Dan di tengah Ruangan Mawar Putih, Raja Vampir Edward akhirnya membuat keputusan yang akan mengubah takdir dunia malam.
Ia akan tidur.
Dan menunggu