Nara Setianingrum, guru SMA berusia 25 tahun yang cantik, anggun, dan teguh berprinsip, menghadapi murid bermasalah bernama Karin Setiawan. Karin adalah adik dari Danu Setiawan, seorang CEO muda berusia 28 tahun yang berpengaruh di dunia bisnis. Karena dimanjakan, Karin tumbuh sombong, seenaknya, dan sering membuat kekacauan di sekolah bersama gengnya: bolos, membully, hingga berkelahi. Banyak guru tak sanggup menghadapi Karin, karena masalah selalu diselesaikan dengan uang atau campur tangan Danu yang dingin dan berkuasa. Namun, Nara berbeda—ia menolak kompromi dan sogokan. Merasa dipermalukan, Karin melapor pada kakaknya. Danu pun bersekongkol menjebak Nara agar malu, namun rencana itu justru terbongkar oleh orang tua Danu. Mereka memaksa Danu menikahi Nara. Dari pernikahan penuh intrik ini, lahirlah perjalanan emosional: keteguhan hati Nara, usaha Danu menemukan cinta sejati, dan akhirnya kesadaran Karin yang berbalik menyayangi kakak iparnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6: Kontrak Nara
Nara melangkah dengan tungkai yang terasa seringan kapas, namun hatinya seberat timah. Setiap langkah menjauhi pintu IGD terasa seperti pengkhianatan terhadap dirinya sendiri. Namun, bayangan wajah ayahnya yang membiru, berjuang menghirup oksigen yang tak kunjung sampai ke paru-parunya, adalah cambuk yang lebih menyakitkan daripada penghinaan mana pun.
Di depan lobi rumah sakit, sebuah mobil Mercedes Maybach hitam legam telah menunggu. Kaca filmnya begitu gelap, seolah-olah menyerap cahaya matahari pagi yang terik. Seorang pria berbadan tegap dengan setelan safari supir sekaligus pengawal Danu membukakan pintu belakang dengan gerakan robotik yang efisien.
Nara sempat ragu. Ia menatap pintu mobil yang terbuka itu seperti menatap mulut jurang.
"Masuk, Bu Nara. Waktu ayah Anda terus berjalan," suara bariton Danu terdengar dari dalam kabin, rendah dan penuh otoritas.
Nara masuk. Begitu pintu tertutup, suara bising rumah sakit raungan sirine ambulans, tangisan keluarga pasien, dan deru angin lenyap seketika. Kabin mobil itu kedap suara sempurna. Udara dingin dari AC menerpa wajahnya yang berkeringat, membawa aroma sandalwood dan kulit mahal yang sangat maskulin. Aroma itu adalah aroma kekuasaan.
Danu duduk di pojok kursi, kaki panjangnya menyilang dengan anggun. Di tangannya terdapat sebuah tablet tipis yang menampilkan grafik saham yang bergerak fluktuatif. Ia tidak langsung menoleh. Ia membiarkan Nara duduk dalam kecanggungan selama hampir satu menit penuh.
Keheningan itu adalah taktik. Danu ingin Nara merasakan betapa kecilnya dia di dalam dunianya.
Nara meremas tas kainnya di pangkuan. Ia merasa sangat kontras. Gamisnya yang sudah dicuci berkali-kali hingga warnanya sedikit memudar bersentuhan dengan jok kulit yang lembut. Ia adalah jelata yang tersesat di istana berjalan.
"Anda terlihat pucat, Nara," Danu akhirnya bersuara tanpa melepaskan pandangannya dari tablet. "Di mana perginya tatapan tajam yang Anda berikan di ruang Kepala Sekolah dua hari lalu? Di mana 'karang teguh' yang Anda banggakan itu?"
Nara menarik napas pendek, mencoba menstabilkan suaranya. "Saya di sini untuk ayah saya, Pak Danu. Mari kita tidak membuang waktu dengan basa-basi yang menyakitkan."
Danu meletakkan tabletnya. Ia berputar sedikit, menghadap Nara sepenuhnya. Jarak mereka hanya sekitar lima puluh sentimeter. Dalam jarak sedekat itu, Nara bisa melihat betapa sempurnanya pahatan wajah pria ini, namun juga betapa dingin matanya. Mata itu tidak memiliki empati; hanya ada kalkulasi.
"Basa-basi!" Danu terkekeh sinis. "Saya suka keberanian Anda yang masih tersisa sedikit itu. Tapi mari kita bicara fakta. Ayah Anda butuh cuci darah, obat-obatan paten, dan ruang perawatan intensif. Biayanya? Sekitar seratus juta untuk tahap awal jika Anda ingin fasilitas terbaik. Dan Anda? Anda bahkan tidak punya seribu rupiah untuk membeli harga diri Anda kembali dari tangan saya."
Nara memejamkan mata sejenak. Air mata yang ia tahan sejak subuh akhirnya luruh, membasahi pipinya.
"Apa yang Anda inginkan? Jika Anda ingin saya berlutut, saya akan melakukannya sekarang di sini. Jika Anda ingin saya berhenti mengajar selamanya, saya akan tanda tangani suratnya. Tolong... selamatkan ayah saya."
Danu meraih dagu Nara dengan jari telunjuk dan jempolnya, memaksa wanita itu untuk menatapnya. Sentuhan itu dingin, namun terasa membakar kulit Nara.
"Berlutut itu terlalu mudah," bisik Danu. Suaranya kini lebih lembut, namun jauh lebih berbahaya.
"Saya punya masalah yang lebih mendesak. Karin... adik saya yang Anda 'didik' itu, sekarang jatuh sakit. Dia depresi, tidak mau makan, dan terus mengigau karena merasa trauma setelah Anda permalukan di depan kelas. Dia merasa harga dirinya hancur."
Nara terbelalak. "Itu berlebihan, Pak Danu. Saya hanya—"
"Jangan membantah!" tekan Danu, cengkeramannya pada dagu Nara mengeras sesaat sebelum dilepaskan.
"Bagi Anda mungkin itu pendidikan. Bagi adik saya, itu adalah serangan mental. Sekarang, dokter bilang dia butuh pendampingan khusus dari orang yang memicu traumanya agar dia bisa sembuh. Dia ingin Anda berada di sana. Dia ingin Anda melihat betapa hancurnya dia karena ulah Anda."
Danu mengambil sebuah map dari laci tersembunyi di samping kursinya.
"Ini kontraknya. Anda akan tinggal di rumah saya sebagai 'pengasuh pribadi' dan guru privat Karin. Anda harus menuruti setiap permintaannya, tanpa bantahan, tanpa pengecualian. Anda akan menjadi pelayan mentalnya sampai dia merasa cukup. Sebagai imbalannya, semua biaya rumah sakit ayah Anda termasuk operasi transplantasi jika diperlukan akan saya tanggung sepenuhnya. Dan satu lagi, gaji Anda sebagai guru akan saya bayar sepuluh kali lipat setiap bulannya."
Nara menatap kertas di depannya. Ini bukan sekadar kontrak kerja. Ini adalah surat penyerahan diri. Menjadi "pengasuh" Karin di rumah Danu berarti ia masuk ke sarang serigala yang telah ia sakiti.
"Mengapa saya?" tanya Nara parau. "Anda bisa menyewa psikiater terbaik di dunia."
"Karena Karin menginginkan Anda," jawab Danu pendek. "Dan apa pun yang Karin inginkan, dia akan mendapatkannya. Termasuk menghancurkan orang yang sudah berani mengusiknya."
"Bagaimana jika saya menolak?" Nara bertanya, meski ia sudah tahu jawabannya.
Danu mengangkat bahu dengan acuh tak acuh.
"Supir saya akan membukakan pintu, Anda keluar, dan Anda bisa kembali ke IGD untuk melihat ayah Anda perlahan-lahan kehilangan napasnya karena ketiadaan biaya. Pilihan ada di tangan Anda, Bu Guru yang bijak."
Nara menatap ke luar jendela. Ia melihat seorang perawat berlari membawa tabung oksigen. Pikirannya melayang pada ayahnya. Pria yang selalu membelanya saat ia kecil, pria yang selalu bangga menyebutnya "Ibu Guru". Ia tidak bisa membiarkan pria itu mati hanya karena keegoisannya mempertahankan harga diri.
Dengan tangan gemetar, Nara mengambil pulpen emas yang disodorkan Danu.
"Saya akan melakukannya," bisik Nara. "Tapi tolong... bayar administrasinya sekarang. Detik ini juga."
Danu menyeringai puas. Ia menekan sebuah tombol di interkom mobil.
"Andra, kirim deposit dua ratus juta ke RS Pelita Harapan untuk pasien bernama Rahardi. Pindahkan ke ruang VVIP dan mulai tindakan cuci darah sekarang juga."
Nara melihat Danu melakukan itu dengan sekali perintah, seolah-olah nyawa ayahnya hanya seharga camilan sore bagi pria ini. Nara menorehkan tanda tangannya di atas materai. Air matanya jatuh tepat di samping namanya, membasahi kertas itu hingga tintanya sedikit melebar.
"Selesai," ucap Danu. Ia mengambil kembali map itu.
"Mulai sore ini, Anda adalah milik keluarga Setiawan. Jemputan akan datang ke rumah Anda jam empat sore. Jangan bawa banyak barang. Di rumah saya, Anda akan memakai apa yang saya instruksikan."
Pengawal Danu membukakan pintu. Nara keluar dengan perasaan seperti raga tanpa jiwa. Ia melihat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari ibunya.
“Nara! Alhamdulillah, dokter baru saja bilang administrasi sudah lunas dan Bapak langsung dibawa ke ruang tindakan. Kamu dapat uang dari mana, Nduk? Gusti Allah memang mboten sare (Allah tidak tidur).”
Nara meremas ponselnya. Ibu... Allah memang tidak tidur, tapi kali ini Nara yang harus berjalan dalam kegelapan, batinnya perih.
Di dalam mobil, Danu menatap sosok Nara yang berjalan menjauh. Ia mengambil ponselnya dan menelepon Karin.
"Karin? Mangsamu sudah masuk perangkap. Dia akan datang sore ini. Lakukan apa pun yang kamu mau untuk membalas dendammu, tapi ingat... jangan sampai dia mati sebelum aku benar-benar bosan melihatnya memohon."
Karin di seberang telepon tertawa riang. "Tenang saja, Kak. Aku sudah menyiapkan 'sambutan' yang sangat meriah buat Bu Guru tercinta ku."
Danu menutup telepon. Ia menyandarkan punggungnya, menatap tanda tangan Nara di kertas kontrak. Ada kepuasan yang tak biasa di hatinya, sesuatu yang lebih dari sekadar memenangkan negosiasi bisnis. Ia ingin melihat sejauh mana "karang" itu bisa bertahan sebelum akhirnya hancur berkeping-keping di bawah kakinya.