“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Benny, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
“Mengaku atau kami robek mulutmu!” Dua orang pria kekar tengah mengintimidasi Ria di dalam gang kosnya.
“Kami memang sempat berbincang saat itu seperti yang kalian lihat di CCTV, tapi demi apapun saya tidak tahu di mana Bu Syafira sekarang karena dia tak memberitahuku sama sekali. Lihat saja di ponselku, nomorku bahkan sudah diblokir olehnya.” Dengan ketakutan Ria menunjukkan pesan singkat terakhirnya terhadap Syafira yang hanya centang 1 di hari perpisahan kala itu.
Bukti yang Ria tunjukkan itu membuat kedua anak buah Putra terdiam lalu melemparkan wajah mantan pengasuh kembar itu ke tembok, sebelum akhirnya mereka berlalu pergi.
Sementara itu, kembar yang sampai saat ini belum dapat kembali bersekolah, hanya bisa bermain di dalam rumah Bu Tatik.
"Kamu pengen makan coklat dari om itu gak?" Khanza melirik ke arah Khayra, mengingat lusa adalah hari Rabu.
Khayra mengangguk lesu.
“Ini rumah Bunda dulu waktu kakek dan nenek masih ada. Kalian bisa bermain di halaman belakang dan pekarangan depan. Nyaman bukan? Udara di sini juga lebih sejuk dari pada di Jakarta,” ucap Syafira sembari menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya.
Saling berpandangan, kembar hanya diam.
Menghela nafas panjanganya, Syafira sangat tahu perasaan anak-anaknya kini yang masih tak nyaman berada di rumah tersebut. Ia pun berjanji pada kembar mereka akan segera kembali sekolah setelah urusan berkasnya selesai. Ia meyakinkan kedua anaknya itu bahwa di sekolah baru nanti mereka akan bertemu dengan teman-teman yang lebih seru dan menyenangkan.
“Tapi Khayra lebih suka di Jakarta, Bunda,” sahut Khayra memelas.
“Kenapa sih, Bunda, kita harus pindah ke sini?” timpal Khanza.
Memandangi anak-anaknya dengan iba, Syafira kebingungan mencari jawaban. Dalam hatinya merasa bersalah tak bisa memberikan kebahagiaan pada anak-anaknya. Sungguh ia pun tak menyangka akan mengalami nasib demikian.
“Khayra, Khanza, sabar, ya. Pasti nanti kalian akan betah tinggal di sini. Suatu saat kalian bisa kembali ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi seperti Bunda dulu. Sekarang, kita di sini dulu, ya,” tutur Syafira lembut.
Percakapan antara ibu dan kedua anaknya itu terdengar oleh Bu Tatik yang sedang bersiap akan berangkat bekerja. Mengusap lembut lengan kanan Syafira, ia menguatkannya. “Yang sabar, ya.”
***
Menelan salivanya kasar, Khale berdiri mematung di depan rumah tempat ia menemui Syafira terakhir kalinya. Baru saja ia bisa menemukan anak-anaknya, kini sudah harus kehilangan jejak mereka lagi. Ia bak putus harapan.
Sesak.
Sekian detik ia termenung memikirkan sesuatu.
“Bukankah waktu itu Syafira bilang dia memilih bersama Putra, lalu kenapa Putra malah mencarinya?” batinnya.
Semakin kalut, ia dibuat kecewa karena harus mencari mantan istrinya itu lagi yang kini tengah membawa kedua anaknya.
“Apa sebenarnya yang sedang kamu rencanakan, Syaf. Sebegitu tidak bisa memaafkan aku, sampai-sampai kamu menjauhkan kembar dari ayahnya sendiri,” lanjutnya dalam hati berlalu pergi menuju mobilnya.
Sementara itu, di rumah produksi milik orangtua Darma, Bu Tatik sedikit bercerita tentang kehidupan Syafira yang ia tahu setelah semalam berbincang dengan bunda kembar itu.
“Kasihan dia, waktu kecil hidupnya pas-pasan, saat merantau ditinggal pergi kedua orangtuanya untuk selamanya. Sudah sukses, dikira hidupnya akan bahagia setelah dinikahi pengusaha ibukota, ternyata hidupnya kembali malang, diselingkuhi hingga harus menghidupi kedua anaknya seorang diri. Tidak tega Bude mendengarnya,” cerita Bu Tatik trenyuh.
Dengan tatapan kosong, Darma yang mendengar cerita budenya hanya bisa diam.
“Anak-anaknya juga terlihat tidak nyaman di sini, sampai pagi tadi Bude lihat mereka hanya diam seperti tertekan dengan keadaan. Kasihan mereka kena imbasnya, ya Allah,” lanjut Bu Tatik.
Masih terdiam, kini Darma menunduk. Melamun sesaat, seakan otaknya sedang memutar memori belasan tahun lalu. “Andai dulu…ah sudah lah.” Ia tak melanjutkan kalimatnya.
"Lalu, apa Syafira bercerita soal alasan kepindahannya di sini, Bude?" tanya Darma lebih lanjut.
Menggeleng, Bu Tatik tak tahu jawabannya karena Syafira tak bercerita sejauh itu.
"Mungkin ia sedang butuh waktu untuk menata hidupnya lagi, kalau masih di Jakarta, sepertinya tidak bisa. Lagi pula biaya hidup di Jakarta 'kan mahal, belum biaya sekolah kedua anaknya," duga Bu Tatik.
***
“Dasar wanita pembohong! Beraninya kamu membohongi kami! Sudah tak bisa lagi kamu mengelak, semua bukti sudah jelas. Pihak sekolah mengatakan kamu yang mengurus kepindahan anak-anak itu. Itu artinya, kamu tahu di mana mereka berada sekarang!” Anak buah Putra kembali mendatangi Ria yang meski kini sudah tak lagi tinggal di kosnya.
Entah dari mana mereka tahu tempat tinggal Ria yang sementara ini menginap di kos temannya setelah lokasi kosnya diketahui anak buah Putra. Seolah sudah handal mengikuti orang, mereka dengan mudah kembali membawa Ria ke dalam jalanan sempit ibukota. Dicengkeramnya mulut mantan pengasuh kembar itu dan memaksanya mengatakan di mana keberadaan Syafira dan anak-anaknya.
“Lagaknya berakting seolah kalian sudah tidak ada komunikasi! Jago juga kamu bersilat lidah. Beraninya kamu menantang kami!” sahut pria berbadan tegap lainnya.
“Am…pun.” Suara Ria terdengar lirih menahan kesakitan.
"Masih tidak mau menjawab?" Cengkeraman itu semakin kuat.
Kini Ria berada di persimpangan jalan yang sulit. Jika ia jujur, tentu nasib Syafira dan kembar taruhannya. Tapi, bila ia yang tak jujur, nyawanya sendiri bayarannya.
Bruk!
Sebuah pukulan benda keras dari belakang mengenai punggung kedua anak buah Putra yang tengah mengintimidasi, membuat mereka terjatuh.
Masih dalam keadaan oleng, sebuah pukulan kembali didaratkan ke perut dan muka hingga membuat mereka berdua tak berdaya.
“Masuk mobil!” titah lirih salah seorang yang memukul anak buah Putra pada Ria.
Tanpa banyak pikir, Ria bergegas masuk ke dalam mobil hitam di ujung jalan yang entah siapa pemiliknya. Ia bahkan tak berpikir bahwa bisa saja Putra yang menunggunya di sana. Yang ada di otaknya saat itu hanyalah lari dari sana.
Terengah-engah ia masuk ke dalam mobil dengan pintu belakang kemudi yang terbuka.
“Pak Khale,” sebut Ria tertegun.
“Aku bisa menjamin keselamatanmu saat ini dan nanti. Katakan di mana Syafira dan anak-anakku sekarang, atau aku turunkan kamu di sini biar dihabisi oleh mereka,” tutur dingin Khale dengan pandangan lurus ke depan.
...****************...
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh