Di antara gemuruh kereta dan debu kehidupan yang keras, Siman hanyalah seorang pemuda yang tak pernah dianggap.
Dihina. Ditolak. Dilupakan.
Hingga suatu senja, seorang nenek misterius meninggalkan sebuah warisan di tangannya—akik biru laut yang memancarkan cahaya tak biasa… dan mengubah segalanya.
Keberuntungan mulai datang tanpa diminta.
Pintu-pintu yang dulu tertutup kini terbuka.
Dunia yang pernah merendahkannya mulai berbalik memandang.
Namun semakin tinggi Siman melangkah, semakin besar pula harga yang harus dibayar.
Apakah semua ini benar-benar takdir?
Ataukah hanya ilusi dari kekuatan yang belum ia pahami?
Ketika masa lalu kembali menghantui, dan kepercayaan dirinya runtuh tanpa akik itu di tangannya, Siman dihadapkan pada satu pilihan:
Terus bergantung pada keajaiban… atau menjadi penakluk sejati atas hidupnya sendiri.
Sebuah kisah tentang luka, harapan, cinta, dan keberanian untuk bangkit.
SIMAN PEWARIS AKIK BIRU LAUT
Jejak takdir tidak pernah salah memilih pemiliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Bibit Pikiran Aneh
"Wah, Siman, kamu benar-benar hebat, Nak! Ini rezeki nomplok lho! Banyak sekali buku segini!" Ibu Marni, ibu Murni, yang dikenal sebagai sosok wanita tua baik hati dan cerdas, sampai terkaget-kaget saat melihat tumpukan buku di gerobak.
"Iya, Bu Marni. Kata Ibu tadi mereka memang mau membuang," Siman tersenyum malu-malu, rasanya sudah lama sekali dirinya tidak semenyenangkan ini. Ibu Marni mengelus kepala Siman pelan, tersenyum hangat, tatapan yang begitu tulus. Perlakuan ibu Marni padanya juga sangat tulus, dia sering kali bertanya tentangnya kepada Siman saat di masa Siman yang dulu.
"Tuh kan, Siman! Kan udah kubilang! Allah itu tahu mana yang niat tulus mau belajar! Sekarang... sekarang kamu nggak ada alasan lagi buat nggak semangat belajar, lho ya!" Murni berkata riang, mengambil beberapa buku, menatapnya penuh arti. Ada kebanggaan yang terlihat di mata Murni, membuat Siman ikut merasakan kebahagiaan seolah ia tidak sendirian.
Hati Siman diliputi kebahagiaan yang membuncah. Ia kini punya 'modal' tak ternilai untuk meraih mimpinya. Akik di jarinya terasa tenang, namun memberikan sensasi damai yang membuat Siman merasa begitu hidup.
Pulang dengan gerobak penuh buku, Siman memeluk erat satu per satu buku itu. "Murni, kamu... kamu janji ya akan bantu aku belajar nanti?" Siman bertanya dengan suara yang sedikit bergetar, memastikan sahabatnya tetap berada di sisinya.
"Tentu saja! Kita kan sahabat sehidup semati! Kamu harus janji lulus ujiannya, lho ya!" Murni berkata riang, mengacungkan ibu jarinya di depan wajah Siman. "Atau jangan-jangan... kamu pengen pacaran denganku lagi?"
"Heh, ada-ada saja kamu, Mur!" Siman tertawa canggung, mengusap leher belakangnya yang mendadak panas, "Kamu itu suka begitu!" Tangannya menarik pelan bahu Murni, menengahi candaan itu, meskipun dalam hati, ucapan Murni mengganggu fokus Siman dan menumbuhkan bibit pikiran yang aneh.
***
Deru mesin bor di bengkel “Roda Sakti” membahana, menyatu dengan bunyi palu yang menggedor, dan gelegar obrolan antar montir. Udara kental berbau oli dan besi berkarat menusuk hidung, terasa seperti aroma parfum sehari-hari Siman kini. Seminggu lebih telah berlalu sejak penemuan buku-buku usang itu, sejak Siman menanggapi ejekan Murni tentang dirinya dan Murni yang bercanda tentang mereka yang ingin berpacaran. Kini Siman sudah kembali menjadi Siman yang disibukkan oleh pekerjaan.
Jari Siman sibuk memindahkan beberapa ban motor bekas yang masih berlumuran lumpur kering. Keringat membasahi kaos kusamnya, tapi entah mengapa, kali ini terasa berbeda. Beban yang harus ia pikul terasa lebih ringan. Atau justru energi dari cincin akik biru laut itu? Sebuah sensasi hangat berdenyut konsisten di jari manis kirinya. Memberinya dorongan energi. Memberinya sebuah tenaga.
"Ayo, Man! Geser lagi ke sini ban-ban ini!" Suara Pak Jitomo menggema dari arah gudang belakang yang minim penerangan. Sosok sang Bos bengkel itu berlumuran oli, menunjukkan guratan kelelahan namun tatapan matanya tetap bersemangat. Di sekitarnya, tumpukan besi tua menggunung tak beraturan, sisa-sisa onderdil motor yang menunggu dibuang, siap mengubur siapapun yang tidak berhati-hati.
"Siap, Bos!" Siman menyahut, tangannya cekatan menggotong ban yang hampir seberat badannya. Ia sudah terbiasa. Selama dua minggu lebih ini, ia tak lagi jijik dengan bau oli, atau pun debu. Sebuah adaptasi luar biasa untuk Siman, yang dulunya enggan dengan debu-debu jalanan.
Matanya tak sengaja menangkap celah di antara tumpukan besi, beberapa diantaranya terlihat miring dan tak stabil. Bahu Siman sedikit menyenggol bagian samping salah satu tumpukan ban motor bekas yang hampir menabrak sisi balok tua. Balok-balok itu adalah bagian dari atap rumah-rumah yang telah lama runtuh. Ia menaruh tumpukan ban di tempat yang seharusnya, sambil sedikit melirik benda tua itu. Entah mengapa, ada perasaan tak nyaman menyelimutinya.
Braaak!
Suara keras mengagetkan Siman. Bukan dari tumpukan ban yang baru saja ia geser, melainkan dari tumpukan besi tua di sampingnya. Sisa rangka motor yang keropos, lempengan seng bekas, dan berbagai perkakas bengkel kuno, seolah ikut goyah dan siap runtuh. Akik di jarinya terasa seperti sengatan listrik. Sekuat itu denjutannya, seolah ia menyalurkan semacam kekuatan bagi Siman.
"Woy, Siman! Awas!" Salah satu kuli yang bernama Dedi berteriak, panik. Dedi langsung mengambil sebilah balok, menopang beberapa tumpukan di samping itu, menjaga keseimbangan. Tubuhnya bahkan sampai merapat.
Tiba-tiba, tanpa Siman sadari, sebuah bisikan melintas di benaknya, bukan kata-kata, melainkan semacam firasat kuat, sebuah urgensi untuk mundur. Persis seperti ada alarm bahaya yang tiba-tiba berbunyi kencang di otaknya.
Ia melompat mundur, spontan, dua langkah besar ke belakang. Tangannya yang terkepal rapat, bahkan mencengkeram akiknya. Sebuah aksi naluriah yang begitu cepat, nyaris tanpa pemikiran sadar. Akiknya memancarkan cahaya redup di kegelapan gudang, seolah melindungi.
Detik berikutnya, runtuhan itu benar-benar terjadi. Tumpukan besi tua yang tidak stabil tadi, yang terlihat lebih mirip gundukan kawat baja kusut daripada besi, jatuh dengan suara dentuman memekakkan telinga. Debu tebal seketika membumbung tinggi, mengaburkan pandangan, menyisakan bau anyir karat dan karat oli. Runtuhan itu mendarat persis di titik tempat Siman berdiri hanya beberapa saat sebelumnya. Suara ‘bukkkk’ seperti tulang patah bergema kuat. Sesuatu yang terasa lembek hancur menjadi debu.
"Ya, ampun!" Pak Jitomo tersentak kaget, melongok dari balik tumpukan ban. Matanya terbelalak melihat puing-puing berserakan. "Kamu... kamu nggak apa-apa, Siman?"
Dedi dan kuli lainnya, bernama Ujang, terdiam, terpaku menatap Siman yang masih berdiri mematung di samping. Ada sebuah boneka rusak berwarna pink yang terkoyak akibat runtuhan tadi. Boneka kecil. Ini adalah bukti. Ini adalah hal yang seharusnya berada di sana jika Siman masih berdiri di tempat itu. Dedi bersyukur dalam hatinya.
Jantung Siman berpacu kencang, memukul-mukul rusuknya dengan kuat. Tubuhnya gemetar, tapi ia tahu ini bukan karena ketakutan. Itu adalah sensasi luar biasa, efek dari kekuatan yang baru saja menyelamatkannya. Akik di jarinya kini terasa sejuk, seperti baru saja dilebur, berdenyut pelan seolah sedang beristirahat setelah bekerja keras. Cahaya redup di dalamnya terasa semakin nyata.
"Aku... aku nggak apa-apa, Bos," Siman tergagap, masih sulit mempercayai apa yang baru saja terjadi. Ia menyeka keringat dingin di dahinya. "Untung aku cepat gerak."
"Cepat gerak gimana? Ini persis di samping kakimu, Man!" Ujang menimpali, raut wajahnya masih menunjukkan keterkejutan. Ia tahu betul tumpukan besi tua itu sudah reyot, tetapi ia tidak pernah menyangka akan runtuh dengan sekejap. Dedi juga setuju. Ini benar-benar kejadian di luar nalar.
"Itu... cuma insting, mungkin." Siman tersenyum samar, mencoba terdengar sesantai mungkin, tapi di balik senyumnya ada segelintir pertanyaan. Bukankah terlalu aneh untuk sebatas insting? Bukankah ia seringkali disebut ‘telmi’ oleh Murni?
***
***