NovelToon NovelToon
Boba

Boba

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Keluarga / Balas Dendam
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: Reza Ashari

Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Fitnah Kejam Pertama

Pagi itu, Kota Sagara terbangun dalam kegaduhan.

Judul-judul berita membanjiri lini masa media sosial, portal daring, hingga layar televisi di warung kopi dan halte bus. Nama Bima Wijaya kembali terpampang besar, kali ini dengan tuduhan yang jauh lebih keji.

TERBONGKAR! ANAK PEMILIK TOKO BOBA DIDUGA TERLIBAT JARINGAN NARKOBA

Foto Bima terpajang di samping gambar bungkusan putih buram dan tangan diborgol. Meski wajah di foto tidak sepenuhnya jelas, sudut pengambilan dan jaket yang dikenakannya sangat mirip.

Ratna menjatuhkan ponsel begitu membaca berita itu.

“Astaghfirullah…” bisiknya, tubuhnya gemetar.

Di kamar rumah sakit, Surya terbangun dengan napas memburu. Monitor jantungnya berbunyi cepat.

“Bima… apa yang mereka lakukan padamu…” lirihnya.

Bima sendiri mengetahui kabar itu dari teriakan warga sekitar rumah kontrakan mereka. Beberapa orang berkumpul di depan pagar, berbisik-bisik, menunjuk-nunjuk dengan wajah curiga.

“Katanya dia pengedar!”

“Pantas saja tokonya bangkrut.”

“Kasihan ibunya…”

Bima berdiri terpaku di ambang pintu. Hatinya seperti diremas.

Asha datang tergesa, wajahnya pucat.

“Mereka menaikkan levelnya,” katanya pelan. “Ini serangan besar.”

“Fitnah,” jawab Bima. “Tapi fitnah paling kejam.”

Tak sampai satu jam, dua mobil polisi berhenti di depan rumah. Beberapa petugas turun dengan wajah tegang.

“Bima Wijaya?” tanya salah satu dari mereka.

“Iya.”

“Anda diminta datang ke kantor untuk pemeriksaan.”

Ratna memegang lengan anaknya erat. “Bima tidak bersalah!”

Petugas itu menunduk sopan. “Kami hanya menjalankan prosedur, Bu.”

Bima mengangguk, menenangkan ibunya. “Tidak apa-apa, Bu. Aku akan kembali.”

Namun di dalam hatinya, ia tahu, tidak ada yang sederhana dalam permainan ini.

Di kantor polisi, Bima diinterogasi selama berjam-jam. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, sebagian bernada menuduh.

“Kenapa Anda berada di gang sempit malam itu?”

“Apa hubungan Anda dengan pria dalam foto ini?”

“Darimana asal uang di rekening Anda?”

Bima menjawab setenang mungkin, menjelaskan kronologi sebenarnya. Namun, setiap jawabannya seolah sudah memiliki bantahan yang disiapkan.

“Semua bukti mengarah pada Anda,” kata penyidik dingin.

“Bukti bisa direkayasa,” balas Bima tegas.

Di luar, Asha berjuang menghubungi semua kenalannya: pengacara, aktivis, jurnalis independen. Namun sebagian besar menolak terlibat.

“Maaf, ini terlalu berbahaya.”

“Saya tidak ingin berurusan dengan politik.”

“Nyawa kami taruhannya.”

Di ruang gelap sebuah gedung perkantoran, Aditya menatap layar televisi dengan senyum puas.

“Opini publik mulai berpihak,” katanya.

Rangga yang duduk di seberang tampak gelisah.

“Ini terlalu jauh,” gumamnya.

Aditya melirik tajam. “Kamu mau berhenti sekarang?”

Rangga terdiam.

“Kalau Bima runtuh, semua yang kamu takutkan akan ikut runtuh. Pilihannya hanya dua: kita, atau mereka.”

Rangga mengepalkan tangan.

“Lanjutkan.”

Sore hari, Bima akhirnya dibebaskan sementara karena kurangnya bukti langsung. Namun namanya sudah tercoreng.

Saat keluar dari kantor polisi, kilatan kamera menyambutnya. Pertanyaan-pertanyaan tajam menghujani.

“Benarkah Anda pengedar?”

“Apa ini balas dendam atas kebangkrutan toko?”

“Apakah keluarga Anda terlibat?”

Bima menunduk, menembus kerumunan tanpa sepatah kata.

Di rumah, Ratna memeluknya erat, menangis tersedu.

“Kenapa mereka sekejam ini…”

Bima mengusap punggung ibunya. “Karena kita hampir menemukan kebenaran.”

Malam itu, Asha datang membawa kabar buruk.

“Pak Arman dipindahkan. Jejaknya hilang.”

Bima memejamkan mata. Ancaman dalam amplop cokelat itu kini terasa semakin nyata.

“Kalau aku mundur, mereka akan berhenti?” tanya Bima lirih.

Asha menatapnya lama. “Tidak. Justru mereka akan menghabisimu.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

Bima bangkit, berjalan ke jendela, memandangi langit malam yang gelap. Dalam kegelapan itu, ia melihat bayangan masa depan yang penuh luka.

Namun, di balik rasa takut, tumbuh keberanian baru.

“Aku tidak akan mundur,” katanya tegas. “Aku akan lawan mereka dengan cara mereka sendiri dengan bukti, strategi, dan kesabaran.”

Asha mengangguk. “Kita butuh sekutu.”

“Siapa?”

“Seorang hakim. Jujur. Idealistis. Tapi terisolasi.”

Nama itu terdengar seperti secercah cahaya di ujung lorong gelap.

Di rumah sakit, Surya terbangun di tengah malam. Ia menatap langit-langit, air mata mengalir pelan.

“Maafkan Ayah, Bima…” bisiknya. “Kalau saja Ayah tidak terlalu jujur…”

Di sudut kota, Rangga duduk sendirian di mobilnya, menatap tangan yang gemetar.

“Ini bukan yang aku inginkan…” gumamnya.

Namun roda sudah berputar.

Dan roda itu akan terus melaju, menggiling siapa pun yang berdiri di jalannya.

Malam itu, Bima menulis satu kalimat besar di dinding kamarnya:

Kebenaran tidak mati. Ia hanya menunggu waktu.

Kalimat itu menjadi pengingat.

Bahwa di tengah fitnah paling kejam, satu-satunya cara bertahan adalah tetap berdiri.

Dan bagi Bima, berdiri berarti siap menghadapi badai berikutnya, badai yang jauh lebih menghancurkan.

Malam itu, hujan turun rintik-rintik, membasahi atap seng toko manisan keluarga mereka. Bima berdiri di depan etalase, memandangi pantulan wajahnya sendiri di kaca yang sedikit berembun. Matanya tampak lelah, namun ada kilat tekad yang tak bisa disembunyikan. Fitnah pertama yang menyerang toko mereka memang berhasil dipatahkan, tapi bisikan-bisikan kotor itu telah membuka pintu bagi serangan yang lebih kejam.

Ia merasakan kegelisahan merambat di dadanya. Di sudut ruangan, ayahnya sedang menghitung sisa stok bahan baku, sementara ibunya merapikan toples permen warna-warni dengan gerakan mekanis. Tak ada kata-kata yang terucap, namun keheningan itu terasa berat, seolah menyimpan ribuan kecemasan.

Keesokan harinya, badai itu benar-benar datang.

Seorang petugas dari dinas kesehatan mendatangi toko mereka dengan wajah kaku. Ia membawa selembar surat pemeriksaan mendadak. Beberapa pelanggan yang sedang berbelanja langsung terdiam. Bisikan kecil mulai terdengar, menjelma menjadi gumaman yang merayap cepat.

“Pemeriksaan apa ini, Pak?” tanya Bima, berusaha tenang.

“Ada laporan bahwa produk di toko ini menggunakan bahan berbahaya,” jawab petugas itu singkat. Nada suaranya netral, namun kata-kata itu menghantam seperti palu godam.

Ayah Bima terhenti di tengah langkahnya. Wajahnya memucat. “Itu tidak benar,” katanya, tegas namun bergetar. “Kami selalu menggunakan bahan alami. Resep kami diwariskan turun-temurun.”

Petugas itu mengangguk tanpa ekspresi. “Kami hanya menjalankan prosedur. Mohon kerja samanya.”

Pemeriksaan berlangsung hampir dua jam. Setiap sudut toko diperiksa, setiap toples dibuka, setiap adonan dicicipi dan dicatat. Para pelanggan yang semula ramai satu per satu pergi, meninggalkan kesan waswas. Di luar, beberapa orang berdiri menonton, membicarakan hal itu dengan nada setengah berbisik, setengah bersemangat, seolah menikmati drama yang tersaji di depan mata.

Saat petugas akhirnya pergi, toko terasa kosong dan dingin. Tidak ada hasil resmi yang langsung diumumkan, namun rumor sudah terlanjur menyebar.

Dalam hitungan hari, penjualan anjlok drastis.

Toko-toko saingan, terutama milik Raka, mendadak ramai. Diskon besar-besaran dan promosi mencolok terpampang di mana-mana. Bima tak perlu bertanya lebih jauh untuk mengetahui siapa dalang di balik laporan palsu itu.

Namun, yang paling menyakitkan bukanlah turunnya omzet, melainkan perubahan sikap orang-orang sekitar. Tetangga yang dulu ramah kini lebih banyak menghindar. Beberapa pelanggan setia mulai ragu untuk kembali. Nama baik yang dibangun puluhan tahun seolah runtuh dalam sekejap.

Suatu sore, Bima duduk di bangku kayu di belakang toko, menatap langit yang berwarna kelabu. Angin membawa aroma hujan dan debu jalanan. Ia mengepalkan tangan, merasakan amarah dan ketidakberdayaan bercampur di dadanya.

“Apa kita harus menyerah saja?” gumamnya lirih.

Ibunya yang baru datang membawa dua cangkir teh hangat menoleh. Ia duduk di samping Bima, menaruh satu cangkir di tangannya. “Menyerah bukan pilihan,” katanya pelan, namun penuh keyakinan. “Kita hanya perlu cara yang lebih bijak untuk melawan.”

Malam itu, keluarga kecil itu berkumpul di ruang tengah. Lampu kuning temaram menerangi wajah-wajah yang letih, namun penuh tekad. Ayah Bima membuka pembicaraan dengan suara berat.

“Kita tidak bisa melawan fitnah dengan fitnah. Tapi kita bisa melawan kebohongan dengan kebenaran.”

Mereka mulai menyusun rencana. Bima mengusulkan untuk membuka dapur produksi mereka kepada publik, mengundang warga sekitar melihat langsung proses pembuatan manisan. Transparansi, pikirnya, adalah senjata terbaik untuk melawan kecurigaan.

Selain itu, mereka akan memanfaatkan media sosial yang selama ini jarang disentuh. Bima, yang cukup akrab dengan dunia digital, mulai membuat akun resmi toko. Ia mengunggah foto-foto proses produksi, bahan-bahan alami yang digunakan, serta cerita sejarah toko mereka. Perlahan, unggahan itu mulai mendapat perhatian.

Namun, Raka tidak tinggal diam.

Beberapa hari kemudian, sebuah video anonim beredar di grup-grup pesan warga. Video itu menampilkan potongan gambar dapur kotor dan bahan-bahan yang tampak mencurigakan, disertai narasi bahwa itu adalah dapur toko manisan keluarga Bima. Meski kualitasnya buram dan tak jelas, banyak orang langsung mempercayainya.

Bima hampir kehilangan kesabaran. Ia merasa seperti berlari di atas pasir hisap—semakin berusaha bangkit, semakin dalam ia tenggelam.

“Apa pun yang kita lakukan, mereka selalu punya cara untuk menjatuhkan,” katanya frustrasi.

Ayahnya menepuk bahunya. “Justru di situlah ujian kita. Jika kita berhenti sekarang, semua yang mereka lakukan akan menang.”

Bima terdiam. Dalam hatinya, ada ketakutan besar: bagaimana jika semua ini berakhir dengan kehancuran total? Bagaimana jika toko yang menjadi simbol perjuangan keluarganya lenyap selamanya?

Namun, di balik ketakutan itu, tumbuh tekad baru.

Ia mulai mendatangi satu per satu pelanggan lama, menjelaskan situasi yang sebenarnya. Ia berbicara dari hati ke hati, tanpa drama, tanpa keluhan berlebihan. Beberapa orang tetap ragu, tetapi tak sedikit yang kembali percaya.

Suatu pagi, seorang pelanggan lama bernama Pak Hadi datang membawa kabar. “Bima, aku dengar dari kenalan di kantor dinas. Laporan tentang toko kalian itu tidak terbukti. Hasil uji lab menunjukkan semua produk aman.”

Bima nyaris tak percaya. Dadanya terasa lapang untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu tertekan.

Meski belum diumumkan secara resmi, kabar itu mulai menyebar. Perlahan, pelanggan kembali berdatangan. Tidak seramai dulu, namun cukup untuk menyalakan kembali harapan.

Di kejauhan, Bima tahu Raka belum menyerah. Bisikan politik, kepentingan pribadi, dan ambisi kekuasaan masih berputar di balik layar, menunggu celah untuk menyerang lagi.

Namun kini, Bima telah belajar satu hal: badai boleh datang silih berganti, tapi selama ia dan keluarganya tetap berdiri, toko kecil itu akan terus bertahan.

Dan di tengah hujan yang kembali turun, Bima menatap papan nama toko mereka dengan senyum tipis. Ia tahu, perjuangan masih panjang. Tapi ia juga tahu, setiap langkah yang diambil dengan kejujuran akan selalu menemukan jalannya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!