NovelToon NovelToon
Milik Sang Kapten

Milik Sang Kapten

Status: tamat
Genre:Fantasi / Menyembunyikan Identitas / Romansa / Tamat
Popularitas:134.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Dulu ia bersembunyi di balik masker karena dihina, kini ia berdiri di puncak dunia karena luka."

​Karline Dharmawijaya memulai segalanya sebagai gadis SMA yang pemalu dan selalu menyembunyikan wajah di balik masker. Ia menjadi sasaran empuk keangkuhan Dean, cowok populer yang menghinanya sebagai "kasta terendah" sebelum akhirnya terobsesi saat melihat kecantikan asli Karline.
​Namun, cinta masa SMA itu hanyalah racun yang berujung pengkhianatan pahit.
​Kini, Karline bukan lagi gadis lemah itu. Ia melarikan diri ke Paris, bertransformasi menjadi calon chef profesional yang dingin dan tak tersentuh. Di Le Cordon Bleu, ia harus bertarung melawan sabotase rekan kampus dan ujian mematikan dari koki legendaris untuk membersihkan nama besar ayahnya. Di saat ia hampir mencapai mimpinya, Dean kembali muncul dengan sejuta penyesalan di tengah hidupnya yang mulai hancur.

​Akankah Karline kembali pada luka lamanya, atau terus melangkah menuju masa depan yang jauh lebih bersinar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 Pelukan di Ambang Balkon

POV Dean

​Aku menyandarkan bahuku di pilar koridor lantai dua, mataku tak lepas dari pemandangan di bawah sana. Kantin sekolah siang ini tampak lebih sesak dari biasanya, dan pusat keramaian itu tetap sama, Karline Dharmajaya. Sejak dia melepas maskernya, dunia seolah berputar di sekelilingnya.

​Aku melihatnya tertawa kecil, membalas sapaan siswa-siswa kelas sepuluh dengan ramah. Ada rasa panas yang menjalar di dadaku saat melihat seorang adik kelas pria dengan berani memberikan setangkai bunga plastik padanya. Karline menerimanya dengan senyum manis senyum yang dulu tidak pernah kulihat, senyum yang kini terasa sangat jauh untuk kugapai.

​"Dia beneran jadi pusat gravitasi sekarang," gumam Raka di sampingku. Aku tidak menyahut. Tanganku mengepal kuat di saku celana.

​Kerumunan itu semakin menjadi-jadi. Bukan hanya teman sekelasnya, tapi siswa dari berbagai angkatan mulai mengerumuninya seperti semut mengerumuni gula. Aku bisa melihat gurat kelelahan di mata lentik Karline. Dia memang ramah, tapi dia bukan orang yang suka privasinya diinvasi secara masif.

​Benar saja, Karline tiba-tiba membisikkan sesuatu pada Sarah, lalu dia mulai berjalan cepat setengah berlari keluar dari kerumunan itu. Dia menuju tangga belakang, jalur yang biasanya sepi karena langsung menuju balkon lantai tiga yang jarang dilewati.

​Tanpa pikir panjang, aku bergerak. Kakiku melangkah lebar, mendahului rute yang akan dia ambil.

​Saat Karline baru saja menginjakkan kaki di area balkon yang sunyi, aku sudah berdiri di sana. Dia tersentak, nafasnya memburu karena berlari. Wajahnya yang cantik tampak memerah karena lelah dan terkejut.

​"Kamu.."

​Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku menarik lengannya dengan cepat. Aku tidak ingin dia lari lagi. Aku tidak ingin dia menghilang di balik tembok pelindung kelasnya yang menyebalkan itu. Dengan satu tarikan, aku membawanya ke sudut balkon yang tertutup bayangan pilar, dan sebelum dia sempat memprotes, aku mendaratkan pelukan erat di tubuhnya.

​"Dean! Lepasin! Apa-apaan kamu!" Karline memberontak hebat. Tangannya memukul-mukul dadaku, namun aku justru mempererat pelukannya.

​Aku menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma parfumnya yang lembut, aroma yang selama ini menghantui mimpiku. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang melawan dadaku.

​"Sebentar saja, Karl. Tolong, sebentar saja," bisikku parau. Suaraku bergetar, meruntuhkan semua ego yang selama ini kupelihara.

​"Kamu gila! Lepas! Aku benci kamu, Dean!" Karline terus meronta, suaranya tertahan karena dia juga tidak ingin menarik perhatian orang di bawah.

​"Gue tahu lo benci gue. Gue tahu gue bajingan," ucapku pelan, tepat di telinganya. "Tapi melihat lo dikerumuni banyak orang tadi... melihat mereka bisa dengan mudah dapet senyum lo, sementara gue bahkan nggak bisa dapet maaf lo... itu sakit banget, Karl."

​Karline berhenti memukul dadaku. Tubuhnya masih tegang, namun rontaan fisiknya perlahan mereda. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat di bahuku.

​"Kamu egois," desis Karline, suaranya bergetar karena amarah. "Kamu memelukku bukan karena kamu menyesal, tapi karena kamu merasa kepemilikanmu terganggu. Aku bukan barangmu, Dean. Aku bukan trofi voli yang bisa kamu simpan di lemari pajangan."

​Aku melonggarkan pelukanku sedikit, namun tanganku tetap berada di pinggangnya, menguncinya agar tetap menatapku. Matanya yang jernih kini basah oleh air mata amarah.

​"Karl, gue beneran minta maaf soal Rio, soal Sarah, soal semuanya. Gue salah karena nggak pernah negur dia. Gue salah karena ikut-ikutan jadi manusia tanpa hati," aku menatapnya dalam, mencoba menunjukkan setiap tetes kejujuran yang tersisa di hatiku. "Gue nggak peduli lagi soal jabatan kapten atau reputasi. Gue cuma mau lo nggak natap gue seolah-olah gue ini sampah."

​Karline tertawa hambar, air matanya hampir jatuh membasahi pipinya yang putih. "Kamu terlambat, Dean. Sangat terlambat. Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku tepat saat kamu membuka maskerku secara paksa di belakang sekolah. Bagiku, kamu tetap pria yang sama."

​Karline menyentak tanganku dengan kasar. Kali ini aku membiarkannya lepas. Dia mundur beberapa langkah, merapikan seragamnya dengan tangan yang gemetar.

​"Jangan pernah sentuh aku lagi. Jangan pernah temui aku secara pribadi seperti ini," ancam Karline dengan suara yang dingin dan tajam. "Jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini secara permanen. Aku punya cukup kekuasaan untuk itu, Deandra."

​Karline berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang tegas bergema di sepanjang balkon yang sunyi.

​Aku tetap berdiri di sana, menatap tanganku yang masih terasa hangat karena kulitnya. Aku baru saja memeluk gadis yang paling membenciku di dunia ini. Alih-alih merasa lega, rasa sesak di dadaku justru semakin menjadi-jadi. Aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan, pelukan itu tidak mendekatkan kami, melainkan justru memperjelas seberapa jauh Karline sudah pergi meninggalkanku di belakang.

​Di bawah sana, tawa siswa-siswi masih terdengar riuh, namun bagiku, balkon ini terasa seperti tempat paling sunyi di seluruh jagat raya.

1
Zakia Ulfa
paling males udah konfliknya begini,ujungnya mau mau aja balikan sama dean lagi😡
Zakia Ulfa
udah fokus aja pada hidup masing masing karl,kamu berhak bahagia.g papa dingin ,tapi pastikan kamu tetep bahagia .
Sunny Kwok
ih jl cerita nya jd kok serem sih
Ariany Sudjana
sungguh beruntung karline memiliki suami yang bijak seperti David
Ariany Sudjana
kamu beruntung Dean punya sahabat sebaik karline dan David
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Raka and Teressa
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Raka dan Teresa 😄🙏
Ariany Sudjana
welcome back to jakarta Teresa 😄🙏
Ariany Sudjana
asli part ini 🤣🤣😂😂
brawijaya Viloid
ceritanya bagus dan menarik author kesayangan
brawijaya Viloid
mantap thorr😎
brawijaya Viloid
aku udh ktinggln bnyk cerita
Lucyana H
setuju kak Andhika .hukum aja mereka,biar kapok....jd ikut kesel
Lucyana H
Rio..Arlan sm Clarissa harus di hukum thor,keluarin dari sekolah,kasian karline,
Ariany Sudjana
semoga hubungan Raka dan Teresa semakin membaik
Ariany Sudjana
kamu bodoh Raka, kamu dulu ga tegas, percaya penuh dengan omongan si pelacur murahan itu, sampai kamu kehilangan Teresa
Sunny Kwok
Ceritanya bagus
Ra H Fadillah: Terima kasih sudah memberi ⭐⭐⭐⭐⭐! Dukungan kalian membuat saya semakin semangat untuk terus menulis. Semoga cerita ini bisa menghibur dan berkesan untuk kalian. 💕
total 1 replies
Ariany Sudjana
ah ga seru jadinya, Teresa dan Raka jadinya bersaing karena bergabung dalam firma hukum yang saling bersaing
Ariany Sudjana
bodoh kamu Raka, kamu pengacara hebat, tapi dengan bodohnya kamu percaya dengan omongan si pelacur murahan itu, dan mengakibatkan Teresa sakit hati
Ariany Sudjana
Amara Amara kamu ini istrinya konglomerat, tapi bodohnya kebangetan, dan kamu percaya begitu saja dengan pelacur murahan kesayangan kamu itu ? bodoh kamu, kamu kan punya anak buah, kenapa kamu bukannya cari kebenarannya dulu, sebelum menelan mentah-mentah omongan si pelacur murahan itu?
Ra H Fadillah: sabar y kak 😉
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!