Karline sengaja bersembunyi di balik masker dan jaket gembel demi ketenangan. Namun, sebuah insiden di kolam renang membongkar segalanya. Di balik penampilan kumuhnya, ternyata ada kecantikan luar biasa yang membuat seisi sekolah lupa cara bernapas.
Dean, sang kapten voli yang populer dan arogan, tidak tinggal diam. Sejak napas buatan itu diberikan, Dean mengklaim Karline sebagai miliknya. Kini, Karline harus menghadapi dunia yang memujanya, sekaligus menghadapi obsesi posesif sang kapten yang tidak sudi berbagi tatapan Karline dengan pria mana pun.
"Lepaskan maskermu. Mulai sekarang, kamu aman di bawah kuasaku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Pelukan di Ambang Balkon
POV Dean
Aku menyandarkan bahuku di pilar koridor lantai dua, mataku tak lepas dari pemandangan di bawah sana. Kantin sekolah siang ini tampak lebih sesak dari biasanya, dan pusat keramaian itu tetap sama, Karline Dharmajaya. Sejak dia melepas maskernya, dunia seolah berputar di sekelilingnya.
Aku melihatnya tertawa kecil, membalas sapaan siswa-siswa kelas sepuluh dengan ramah. Ada rasa panas yang menjalar di dadaku saat melihat seorang adik kelas pria dengan berani memberikan setangkai bunga plastik padanya. Karline menerimanya dengan senyum manis senyum yang dulu tidak pernah kulihat, senyum yang kini terasa sangat jauh untuk kugapai.
"Dia beneran jadi pusat gravitasi sekarang," gumam Raka di sampingku. Aku tidak menyahut. Tanganku mengepal kuat di saku celana.
Kerumunan itu semakin menjadi-jadi. Bukan hanya teman sekelasnya, tapi siswa dari berbagai angkatan mulai mengerumuninya seperti semut mengerumuni gula. Aku bisa melihat gurat kelelahan di mata lentik Karline. Dia memang ramah, tapi dia bukan orang yang suka privasinya diinvasi secara masif.
Benar saja, Karline tiba-tiba membisikkan sesuatu pada Sarah, lalu dia mulai berjalan cepat setengah berlari keluar dari kerumunan itu. Dia menuju tangga belakang, jalur yang biasanya sepi karena langsung menuju balkon lantai tiga yang jarang dilewati.
Tanpa pikir panjang, aku bergerak. Kakiku melangkah lebar, mendahului rute yang akan dia ambil.
Saat Karline baru saja menginjakkan kaki di area balkon yang sunyi, aku sudah berdiri di sana. Dia tersentak, nafasnya memburu karena berlari. Wajahnya yang cantik tampak memerah karena lelah dan terkejut.
"Kamu.."
Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, aku menarik lengannya dengan cepat. Aku tidak ingin dia lari lagi. Aku tidak ingin dia menghilang di balik tembok pelindung kelasnya yang menyebalkan itu. Dengan satu tarikan, aku membawanya ke sudut balkon yang tertutup bayangan pilar, dan sebelum dia sempat memprotes, aku mendaratkan pelukan erat di tubuhnya.
"Dean! Lepasin! Apa-apaan kamu!" Karline memberontak hebat. Tangannya memukul-mukul dadaku, namun aku justru mempererat pelukannya.
Aku menyembunyikan wajahku di ceruk lehernya, menghirup aroma parfumnya yang lembut, aroma yang selama ini menghantui mimpiku. Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang melawan dadaku.
"Sebentar saja, Karl. Tolong, sebentar saja," bisikku parau. Suaraku bergetar, meruntuhkan semua ego yang selama ini kupelihara.
"Kamu gila! Lepas! Aku benci kamu, Dean!" Karline terus meronta, suaranya tertahan karena dia juga tidak ingin menarik perhatian orang di bawah.
"Gue tahu lo benci gue. Gue tahu gue bajingan," ucapku pelan, tepat di telinganya. "Tapi melihat lo dikerumuni banyak orang tadi... melihat mereka bisa dengan mudah dapet senyum lo, sementara gue bahkan nggak bisa dapet maaf lo... itu sakit banget, Karl."
Karline berhenti memukul dadaku. Tubuhnya masih tegang, namun rontaan fisiknya perlahan mereda. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yang hangat di bahuku.
"Kamu egois," desis Karline, suaranya bergetar karena amarah. "Kamu memelukku bukan karena kamu menyesal, tapi karena kamu merasa kepemilikanmu terganggu. Aku bukan barangmu, Dean. Aku bukan trofi voli yang bisa kamu simpan di lemari pajangan."
Aku melonggarkan pelukanku sedikit, namun tanganku tetap berada di pinggangnya, menguncinya agar tetap menatapku. Matanya yang jernih kini basah oleh air mata amarah.
"Karl, gue beneran minta maaf soal Rio, soal Sarah, soal semuanya. Gue salah karena nggak pernah negur dia. Gue salah karena ikut-ikutan jadi manusia tanpa hati," aku menatapnya dalam, mencoba menunjukkan setiap tetes kejujuran yang tersisa di hatiku. "Gue nggak peduli lagi soal jabatan kapten atau reputasi. Gue cuma mau lo nggak natap gue seolah-olah gue ini sampah."
Karline tertawa hambar, air matanya hampir jatuh membasahi pipinya yang putih. "Kamu terlambat, Dean. Sangat terlambat. Kamu sudah menghancurkan kepercayaanku tepat saat kamu membuka maskerku secara paksa di belakang sekolah. Bagiku, kamu tetap pria yang sama."
Karline menyentak tanganku dengan kasar. Kali ini aku membiarkannya lepas. Dia mundur beberapa langkah, merapikan seragamnya dengan tangan yang gemetar.
"Jangan pernah sentuh aku lagi. Jangan pernah temui aku secara pribadi seperti ini," ancam Karline dengan suara yang dingin dan tajam. "Jika kamu melakukannya lagi, aku tidak akan segan-segan membuatmu dikeluarkan dari sekolah ini secara permanen. Aku punya cukup kekuasaan untuk itu, Deandra."
Karline berbalik dan berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Langkah kakinya yang tegas bergema di sepanjang balkon yang sunyi.
Aku tetap berdiri di sana, menatap tanganku yang masih terasa hangat karena kulitnya. Aku baru saja memeluk gadis yang paling membenciku di dunia ini. Alih-alih merasa lega, rasa sesak di dadaku justru semakin menjadi-jadi. Aku menyadari satu hal yang paling menyakitkan, pelukan itu tidak mendekatkan kami, melainkan justru memperjelas seberapa jauh Karline sudah pergi meninggalkanku di belakang.
Di bawah sana, tawa siswa-siswi masih terdengar riuh, namun bagiku, balkon ini terasa seperti tempat paling sunyi di seluruh jagat raya.