NovelToon NovelToon
Sahabat Jadi Suamiku.

Sahabat Jadi Suamiku.

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: erinaCalistaAzahra

Raia dan Arlan adalah dua kutub yang tak terpisahkan sejak kecil. Tumbuh besar berdampingan, rahasia mereka tersimpan di bawah pohon mangga belakang rumah dan di dalam kotak bekal yang selalu mereka bagi. Bagi Raia, Arlan adalah pelindung sekaligus pengganggu nomor satu. Namun, bagi Arlan, Raia adalah satu-satunya alasan ia selalu ingin pulang.
Garis persahabatan mulai kabur saat kedewasaan menyapa. Ketakutan akan merusak kenyamanan membuat keduanya memilih bungkam, menyimpan perasaan masing-masing di balik candaan kasar dan perhatian kecil yang tersirat.
Puncaknya, sebuah perpisahan besar harus terjadi. Arlan memutuskan mengejar mimpi dan kariernya ke Jerman, meninggalkan Raia dengan sebuah kalung perak dan janji yang menggantung di bandara. Jarak sepuluh ribu kilometer dan perbedaan zona waktu menjadi ujian sesungguhnya. Di Jakarta, Raia harus belajar berdiri sendiri sambil menepis godaan pria lain yang menawarkan kepastian, sementara di Munich, Arlan berjuang keras demi masa depan y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bertamu ke rumah Arlan

Seminggu setelah memblokir kontak Arlan, Raia mencoba menata kembali hatinya yang berantakan. Namun, sore itu di sebuah supermarket, langkahnya terhenti. Di depan rak buah, ia melihat sosok wanita paruh baya yang sangat ia kenali. Ibu Arlan.

"Raia? Sayang, itu kamu?" tanya Ibu Arlan dengan binar mata yang hangat, langsung memeluk Raia erat.

Raia memaksakan senyum, meski dadanya sesak. "Iya, Tante. Apa kabar?"

"Tante baik, Ra. Tapi Arlan..." Ibu Arlan menghela napas panjang, wajahnya mendadak sendu. "Tante sedih, Ra. Arlan bilang di sana dia sudah punya pacar, orang sana. Katanya dia mungkin nggak akan pulang dalam waktu dekat, mau menetap di sana setelah lulus."

Raia tertegun. Jadi, rencana Arlan sudah sejauh itu? Bahkan tanpa pernah berdiskusi dengannya, orang yang dijanjikannya untuk "ditunggu"?

"Padahal Tante berharapnya Arlan sama kamu, Ra. Tante tahu gimana kamu perhatian banget sama dia, kirim paket terus buat dia," lanjut Ibu Arlan sambil mengusap lengan Raia. "Tante sempat marah sama dia di telepon kemarin.

Tante bilang, 'Lan, kamu nggak mikirin perasaan Raia?'"

Raia menunduk, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. "Arlan berhak bahagia sama pilihannya, Tante. Mungkin Raia cuma bagian dari masa lalunya di sini."

"Tapi dia jahat kalau nggak jujur sama kamu, Ra," suara Ibu Arlan bergetar karena kecewa pada putranya sendiri. "Dia titip salam buat kamu kemarin, tapi Tante nggak mau sampaikan. Tante bilang ke dia, kalau mau bicara, bicara sendiri ke Raia. Jangan jadi penakut."

Raia tersenyum getir. Ternyata benar, Arlan memang penakut. Dia lebih memilih menitipkan salam lewat ibunya daripada menghadapi kekecewaan Raia secara langsung. Pertemuan itu membuat Raia sadar: Arlan bukan hanya jauh secara jarak, tapi jiwanya sudah benar-benar asing.

"Tante, Raia boleh izin ke kamar Arlan," ucap Raia pelan.

" ia , silahkan raia. " kata ibu Arlan.

Melihat mata Ibu Arlan yang berkaca-kaca, Raia tidak tega. Dengan suara bergetar, Ibu Arlan memohon, "Ra, tolong ambilkan kotak kayu di bawah tempat tidur Arlan. Tante mau simpan barang-barangnya, tapi Tante nggak kuat lihat isinya sendirian."

Raia mengangguk pelan. Ia melangkah menaiki tangga rumah yang sangat akrab baginya, menuju kamar yang dulu sering menjadi tempat mereka belajar bersama.

Begitu pintu terbuka, bau parfum Arlan yang khas—campuran cedarwood dan jeruk—masih tertinggal di udara, seolah pemiliknya baru saja pergi lima menit yang lalu. Kamar itu rapi, dingin, dan sunyi. Raia mendekati tempat tidur, berlutut, dan menarik sebuah kotak kayu jati dari kolongnya.

Saat membukanya, jantung Raia serasa berhenti.

Di dalamnya bukan hanya buku atau koleksi kaset lama. Ada tumpukan tiket bioskop dari film-film yang mereka tonton berdua sejak SMP, bungkus cokelat yang pernah Raia berikan saat Arlan ujian, hingga sketsa wajah Raia yang digambar Arlan dengan pensil.

Namun, di tumpukan paling atas, ada sebuah surat yang belum sempat dikirim. Tanggalnya tertera satu minggu yang lalu—hari yang sama saat Arlan mengunggah foto gadis pirang itu.

Raia membukanya dengan tangan gemetar.

"Ra, maafkan aku. Hidup di sini sangat berat dan sepi. Aku pengecut karena memilih orang yang ada di depanku sekarang hanya supaya aku nggak merasa sendirian lagi. Aku tahu aku janji akan pulang, tapi kenyataannya aku nggak sekuat itu untuk menunggumu dari jauh. Jangan tunggu aku lagi, Ra. Kamu terlalu berharga untuk orang sepertiku."

Raia meremas surat itu. Rasa kecewanya memuncak menjadi amarah yang sunyi. Arlan tidak sedang jatuh cinta; dia hanya kesepian dan memilih jalan pintas, lalu membuang sepuluh tahun persahabatan mereka begitu saja demi kenyamanan sesaat di negeri orang.

Raia meletakkan kembali kotak itu. Ia keluar dari kamar tanpa membawa apa pun, bahkan tidak juga kenangan yang tersisa. Baginya, Arlan yang ia kenal sudah mati di kamar ini, dan yang ada di London hanyalah orang asing yang tidak ia kenali lagi.

Raia berdiri di tengah kamar itu, memandangi setiap sudut yang seolah mengejek kesetiaannya selama ini. Rasa kecewa itu tidak lagi meledak-ledak, melainkan mengendap menjadi rasa dingin yang membekukan hati.

Ia perlahan mendekati meja belajar Arlan. Di sana, masih ada foto mereka berdua dalam bingkai kayu kecil. Raia mengambil foto itu, menatap wajah Arlan yang tersenyum tulus—wajah yang dulu ia percayai sebagai tempat pulangnya.

"Sepuluh tahun, Lan," bisik Raia lirih. "Ternyata sepuluh tahun itu cuma waktu yang kamu butuhin buat nyari pengganti yang lebih dekat secara jarak."

Raia meletakkan kembali foto itu dengan posisi tertelungkup. Ia tidak membantingnya, tidak juga merusaknya. Ia hanya tidak ingin lagi melihat wajah pria yang memberinya harapan palsu sementara dirinya sendiri sedang menggandeng tangan orang lain di bawah langit London.

Saat melangkah keluar dan menutup pintu kamar Arlan, Raia merasa seolah sedang menutup satu bab panjang dalam hidupnya. Ia menuruni tangga dan mendapati Ibu Arlan masih duduk di ruang tamu dengan wajah cemas.

"Sudah ketemu kotaknya, Ra?" tanya Ibu Arlan lembut.

Raia menggeleng pelan, memberikan senyum paling tegar yang ia miliki. "Sudah, Tante. Tapi sepertinya barang-barang di sana sudah nggak ada gunanya lagi buat disimpan. Arlan sudah punya dunianya sendiri di sana, dan Raia harus punya dunia Raia sendiri di sini."

Raia pamit dengan sopan, meninggalkan rumah itu tanpa air mata. Di gerbang depan, ia menghirup udara sore sedalam mungkin. Kecewa ini adalah luka, tapi juga kompas yang menunjukkan bahwa ia tidak boleh lagi berjalan ke arah yang sama. Arlan mungkin memiliki London, tapi Raia kini memiliki dirinya sendiri kembali.

Langkah Raia tertahan di ambang pintu saat Ibu Arlan berdehem pelan. Wajah wanita paruh baya itu tampak ragu, namun rasa penasarannya tak terbendung.

"Ra," panggilnya lembut. "Tante beberapa kali lihat dari jendela... ada laki-laki yang sering antar kamu pulang kantor belakangan ini. Apa dia... teman baru kamu?"

Raia terdiam sejenak. Ia teringat pada sosok bagus, rekan sekantornya yang beberapa bulan terakhir ini dengan sabar menunggunya selesai lembur, tanpa pernah menuntut janji atau memberikan harapan palsu seperti yang dilakukan Arlan dari jauh.

"Iya, Tante. Namanya bagus," jawab Raia tenang. Tidak ada nada pamer, hanya kejujuran yang datar.

Ibu Arlan mengangguk pelan, ada gurat kesedihan sekaligus kelegaan di matanya. "Dia kelihatan baik. Lebih... ada di sini, ya? Enggak kayak Arlan yang jauh di sana tapi malah bikin kamu nunggu nggak pasti."

Raia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan rasa kecewa yang sudah mengering. "bagus , nggak pernah minta saya nunggu, Tante. Dia cuma selalu ada. Dan setelah sekian lama nunggu seseorang yang bahkan nggak tahu kapan pulangnya, rasanya kehadiran yang nyata itu jauh lebih berharga."

Kata-kata Raia telak menghujam udara di ruang tamu itu. Ibu Arlan hanya bisa terdiam, menyadari bahwa putranya telah kehilangan permata yang paling berharga hanya karena keegoisan jarak.

Raia berpamitan dengan sopan. Di luar pagar, mobil bagus sudah terparkir. Saat masuk ke dalam mobil, bagus menyerahkan sebotol air mineral dan bertanya singkat, "Capek ya hari ini?"

Raia menoleh ke arah jendela lantai dua—kamar Arlan. Ia menarik napas panjang. "Lumayan. Tapi sekarang udah jauh lebih ringan. Jalan yuk, bagus ?"

Mobil itu melaju, meninggalkan kenangan tentang Arlan yang terkunci rapat di dalam kamar dingin yang tak berpenghuni itu.

Raia tertegun di ambang pintu mobil yang sudah setengah terbuka. Ia menoleh ke arah Ibu Arlan yang berdiri di teras dengan raut wajah yang sangat memohon.

"Ra, tolong... jangan dulu pulang. Temani Tante masak makan malam ya? Tante masak masakan kesukaan kamu, cumi hitam dan perkedel jagung. Tante merasa sepi sekali sejak Arlan bilang nggak akan pulang dalam waktu dekat," suara Ibu Arlan bergetar.

Ada rasa iba yang beradu dengan kecewa di dada Raia. Ia melihat wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri itu tampak begitu rapuh.

Arlan tidak hanya meninggalkan Raia, tapi juga membiarkan ibunya kesepian di rumah besar ini.

Raia menghela napas, lalu menghampiri Gibran di mobil. "bagus, maaf ya, sepertinya aku harus bantu Tante dulu di dalam. Kamu pulang duluan saja, nggak apa-apa?"

bagus tersenyum maklum, matanya menenangkan. "Nggak apa-apa, Ra. Kabari aku ya kalau sudah selesai, nanti aku jemput lagi."

Raia kembali masuk ke dalam rumah. Di dapur, suasana terasa canggung namun hangat. Bau bawang yang ditumis mulai memenuhi ruangan. Saat mereka sedang memotong sayur, Ibu Arlan tiba-tiba meletakkan pisaunya dan menatap Raia lekat-lekat.

"Ra, Tante minta maaf atas nama Arlan. Tante tahu surat di kotak itu pasti menyakiti kamu.

Tante nggak nyangka anak Tante bisa se-egois itu," ucapnya pelan.

Raia terdiam, tangannya terus mengiris cabai dengan mekanis. "Kecewa itu pasti ada, Tante.

Tapi Raia sadar, kita nggak bisa memaksa seseorang untuk tetap setia kalau hatinya sendiri sudah menyerah sama jarak."

Tepat saat itu, ponsel Ibu Arlan di atas meja dapur bergetar hebat. Sebuah panggilan video masuk. Nama yang tertera di layar membuat jantung Raia mencelos: "Arlan London".

Ibu Arlan menatap Raia, seolah meminta izin. Dengan tangan gemetar, beliau menggeser tombol hijau dan menyalakan pengeras suara.

"Halo, Ma? Mama lagi apa? Kok tumben lama angkatnya?" suara Arlan terdengar sangat jernih, latar belakangnya menunjukkan sebuah kafe yang estetik di London.

Ibu Arlan melirik Raia yang membeku di sampingnya. "Mama lagi masak, Lan. Sama Raia."

Hening seketika di seberang sana. Raia bisa mendengar deru napas Arlan yang tiba-tiba memburu melalui speaker ponsel itu.

Raia terdiam sejenak, menatap binar pengharapan di mata Ibu Arlan yang tampak begitu kesepian. Ada rasa tidak tega yang amat dalam, namun di sisi lain, dadanya terasa sesak setiap kali menghirup aroma rumah ini—rumah yang setiap sudutnya adalah monumen kenangan bersama Arlan.

Ia perlahan memegang tangan Ibu Arlan, meremasnya lembut dengan penuh rasa hormat.

"Tante... maafkan Raia," ucapnya dengan suara rendah namun tetap tegar. "Raia sangat ingin bantu Tante masak, tapi sepertinya sore ini Raia harus benar-benar pulang."

Ibu Arlan tampak sedikit terkejut, senyumnya perlahan memudar. "Oh, begitu ya, Ra? Sebentar saja nggak bisa? Tante sudah siapkan bahan-bahannya..."

Raia menggeleng pelan, memberikan senyum paling tulus yang ia bisa. "Bukannya Raia nggak mau, Tante. Tapi berada di sini, di dapur ini, hanya akan membuat Raia terus mengingat hal-hal yang seharusnya mulai Raia lupakan. Raia perlu waktu untuk menenangkan hati Raia sendiri."

Ia menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa kecewa yang kembali merayap. "Arlan sudah memilih jalannya di London, dan Raia rasa... Raia juga harus mulai berjalan di jalan Raia sendiri, tanpa harus menoleh ke belakang lagi. Kalau Raia terus di sini, Raia nggak akan pernah bisa melangkah maju."

Ibu Arlan tertegun, lalu matanya berkaca-kaca. Beliau menyadari bahwa luka yang diberikan putranya ternyata jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Beliau mengangguk perlahan, mengerti bahwa permintaan masaknya justru menjadi beban bagi jiwa Raia yang sedang berusaha sembuh.

"Tante mengerti, sayang. Maafin Tante ya sudah egois meminta kamu tinggal," ucap Ibu Arlan sambil memeluk Raia erat untuk terakhir kalinya sore itu.

Raia melepaskan pelukan itu, berpamitan dengan sopan, dan melangkah keluar menuju mobil Gibran yang masih setia menunggu di depan pagar. Kali ini, ia tidak menoleh lagi ke arah jendela kamar Arlan. Baginya, membantu memasak mungkin bisa mengobati kesepian Ibu Arlan, tapi itu akan membunuh kesembuhan hatinya sendiri.

Langkah Raia terhenti tepat di depan pintu mobil. Ia memejamkan mata sejenak, menghirup udara sore yang terasa berat, lalu berbalik menatap Ibu Arlan yang masih berdiri di teras dengan tatapan penuh selidik namun lembut.

"Tante cuma mau tahu jujur dari hati kamu, Ra. Apa masih ada tempat buat Arlan kalau nanti—seandainya—dia sadar dan pulang?" tanya Ibu Arlan, suaranya nyaris berbisik.

Raia terdiam. Ia menatap aspal di bawah kakinya, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada amarah di matanya, hanya ada sisa-sisa kecewa yang telah mengering dan berubah menjadi ketegasan.

"Tante," panggil Raia tenang. "Perasaan Raia ke Arlan itu dulu seperti rumah. Raia jaga setiap sudutnya, Raia hiasi dengan kesabaran, dan Raia tunggu penghuninya pulang selama bertahun-tahun."

Ia menjeda sejenak, melirik Gibran yang menatapnya dari dalam mobil dengan sorot mata mendukung.

"Tapi sekarang, rumah itu sudah rubuh, Tante. Arlan sendiri yang merubuhkannya dari London.

Bukan karena dia punya orang lain, tapi karena dia membiarkan Raia kedinginan sendirian di sini tanpa kepastian. Raia nggak bisa membangun lagi rumah yang pondasinya sudah dihancurkan oleh pemiliknya sendiri."

Ibu Arlan tertunduk, bahunya merosot lesu. Beliau tahu jawaban itu adalah akhir dari harapannya menjodohkan mereka.

"Jadi... sudah nggak ada lagi, Ra?"

"Rasa sayang sebagai sahabat mungkin masih ada di suatu tempat, Tante. Tapi rasa cinta yang membuat Raia mau menunggu? Itu sudah habis.

Raia lebih menghargai diri Raia sendiri sekarang daripada mengharapkan seseorang yang hanya datang saat dia butuh teman bicara."

Raia memberikan senyum terakhir—senyum pamit yang paling tulus. Ia masuk ke mobil Gibran, menutup pintunya, dan tidak lagi melihat ke arah kaca spion. Mobil itu bergerak menjauh, meninggalkan rumah penuh kenangan itu di belakang.

Mendengar pertanyaan itu, Raia terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu tersenyum tipis—bukan senyum sedih, melainkan senyum penuh ketegasan yang selama ini ia simpan.

"Tante," panggil Raia lembut namun mantap.

"Sepertinya ada yang salah paham selama ini. Raia sayang sama Arlan, sangat sayang... tapi hanya sebatas sahabat. Sama seperti Raia sayang ke kakak atau adik sendiri."

Ibu Arlan tampak tertegun, matanya membulat kecil. "Tapi Ra, perhatian kamu selama ini... paket-paket yang kamu kirim ke London, waktu yang kamu luangkan buat telepon dia tiap malam..."

Raia menggeleng pelan, memotong dengan halus. "Itu bentuk loyalitas seorang sahabat, Tante. Raia nggak mau Arlan merasa sendirian di negeri orang. Tapi kalau Tante tanya soal perasaan cinta... jujur, di hati Raia nggak pernah ada debaran itu untuk Arlan. Sejak dulu, Arlan adalah tempat cerita, bukan tujuan akhir cinta Raia."

Raia menjeda, melirik bagus yang masih setia menunggu di mobil. "Mungkin itu juga alasan kenapa Raia nggak merasa hancur saat tahu dia punya pacar di sana. Raia cuma kecewa karena dia nggak jujur, dia nggak anggap persahabatan kita cukup kuat untuk sekadar berbagi cerita tentang kebahagiaannya di sana. Dia malah menghilang dan bikin Tante khawatir."

Ibu Arlan terdiam seribu bahasa. Selama ini beliau mengira Raia adalah gadis malang yang patah hati, padahal Raia adalah sahabat yang justru merasa dikhianati kepercayaannya.

"Jadi, Tante nggak perlu merasa bersalah atau kasihan sama Raia," lanjut Raia lagi. "Raia pulang dulu ya, Tante. Gibran sudah nunggu. Dia... orang yang belakangan ini bikin Raia sadar kalau perhatian itu harusnya dua arah, bukan cuma dari satu sisi."

Raia menyalami Ibu Arlan untuk terakhir kalinya sore itu. Ia berjalan menuju mobil dengan langkah yang jauh lebih ringan. Beban "harapan" dari keluarga Arlan yang selama ini menghimpitnya kini telah lepas.

Di dalam mobil, bagus bertanya singkat, "Semua oke, Ra?"

"Sangat oke," jawab Raia mantap. "Ayo jalan, aku lapar."

Mobil itu melesat membelah senja, meninggalkan bayang-bayang Arlan yang kini benar-benar hanya menjadi bagian dari masa lalu yang usai.

bagus memutar kemudi perlahan, menjauh dari area perumahan itu. Ia sempat melirik spion, melihat sosok Ibu Arlan yang masih berdiri mematung di teras. Suasana di dalam mobil hening sejenak, hanya terdengar suara pendingin udara yang halus.

bagus berdehem pelan, lalu bertanya tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan di depan.

"Ra," panggilnya tenang. "Kenapa tadi kamu bilang ke Tante kalau kamu nggak punya perasaan sama Arlan? Padahal aku tahu, selama ini kamu yang paling rajin kirim paket dan nunggu kabar dari London sampai begadang."

Raia menyandarkan kepalanya di kursi mobil, menatap lampu-lampu jalan yang mulai menyala satu per satu. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung sedikit rasa getir sekaligus kelegaan.

"Kenapa? Kamu nggak percaya?" tanya Raia balik.

bagus mengangkat bahu. "Bukan nggak percaya. Aku cuma lihat perjuangan kamu setahun ini.

Rasanya aneh kalau tiba-tiba kamu bilang itu cuma 'sebatas sahabat' di depan Ibunya."

Raia menghela napas panjang. "Karena itu satu-satunya cara buat aku lepas dari beban harapan orang tuanya, bagus. Dan mungkin...

cara buat aku membohongi rasa sakitku sendiri."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. "Tapi setelah aku pikir lagi, kalau aku bilang ke Tante aku patah hati, Tante bakal makin benci Arlan.

Aku nggak mau itu terjadi. Dan jujur, melihat Arlan yang pengecut itu, rasa cintaku mendadak hilang digantikan rasa kecewa yang luar biasa. Saat rasa hormatku ke dia hilang, rasa cintaku juga ikut mati."

Raia menoleh ke arah Gibran, menatap profil samping wajah pria yang selalu ada di dunia nyatanya itu.

"Aku lebih milih dianggap nggak punya perasaan daripada dianggap sebagai perempuan malang yang nunggu laki-laki yang bahkan nggak berani bilang putus secara langsung. Aku punya harga diri, bagus."

bagus terdiam, lalu tangan kirinya meraih jemari Raia dan meremasnya pelan di atas persneling.

"Pilihan yang berani, Ra. Sekarang, fokus ke yang ada di depan mata aja, ya?"

Raia mengangguk mantap. "Iya. Ke depan. Jangan liat spion lagi."

1
Tamirah Spd
Kenapa Arlan menyalahkan Raia dgn laki laki lain selama diluar negeri gak ada komunikasi dgn alasan sibuk kuliah.Tiba tiba jadi atasan dan tiba tiba dia bantu kesembuhan Ayah Raia dan Pendidikan, dimana alur cerita nya Thor....????
Heni Ratna
Hubungan Raia dan Bagus,apa kabar?semakin penasaran dengan konfliknya
Tamirah Spd
Cerita nya masih datar belummm ada konflik lanjut Thor.
Tamirah Spd
Sahabat tapi mesra lanjut Thor belum tahu alur cerita nya masih mukadimah.
Ganendra Dimitri
kok q jadi tambah bingung ma ceritanya thor
Heni Ratna: anda tidak sendirian,,,sy jg demikian lini masa nya yg agak bias,,,tapi tetap penasaran dengan kelanjutan konfliknya
total 3 replies
Alfina Rosa
Seperti.a cerita.a bagus, aku terusin baca.a ea thour...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!