Area 21 +
Rasa kecewa tak bisa terbendung lagi bagi kedua orang tua Alana kala mengetahui dirinya tengah hamil di luar nikah.
"Katakan sama papi, siapa laki laki itu. Kalau kamu tidak ingin memberitahu. Papi akan cari tahu sendiri. Dan kamu tentu tahu bagaimana dengan mudahnya papi mencari. Papi hanya ingin kamu jujur saat ini." Tekan papi Wibowo menatap putrinya yang menangis tersendu sendu. Alana meragu.
~~~~~~~
Alana tak menyangka karena rasa cinta yang begitu sangat dalam membawa nya kejurang yang salah.
Dia harus mengandung tanpa seorang suami di sisinya. Alana memutuskan pergi meninggalkan tanah air tanpa memberitahu anak yang di kandung nya pada ayah biologis.
Alana juga berusaha untuk membuang rasa cinta nya, pada pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Pada sepuluh tahun kemudian, Alana memutuskan untuk kembali ke tanah air dengan status yang berbeda.
Bukan single mom.
Tapi sebagai seorang istri dan memiliki seorang putra.
Alana menikah dengan pilihan orang tua nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hee_Sty47, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14
***
Rayan masuk ke dalam kamar milik Alana. Pria itu menutup pintu secara perlahan. Karena takut membangunkan Alana yang sudah terlelap.
Rayan meletakkan jas dan dasinya di sofa, dan langsung menjatuhkan tubuhnya di badan sofa. Pria itu memijit keningnya yang terasa berdenyut.
Sengaja dia masuk ke kamar pukul satu dini hari. Tak ingin melihat Alana yang galau usai pertemuan dengan Bian tadi.
Rayan memejamkan kedua matanya, hingga terlelap di sana dengan kondisi tubuh duduk menyandar.
Alana terbangun, dia menoleh ke samping di mana tak ada Rayan di sana. Dengan cepat dia bangun dari posisi semula yang berbaring kini sudah duduk. Wanita itu mengucek kedua matanya sesaat.
Alana tertegun melihat Rayan yang terlelap di sofa. m
Ia menyibak selimut nya dan lekas turun dari atas kasur. Telapak kaki terasa dingin kala menampakkan kaki nya di lantai marmer.
Wanita itu berdiri usai mengenakan sendal berbulu miliknya di sana . Segera Alana menghampiri Rayan.
Ia menatap wajah sang suami yang terlelap damai itu. Deru nafas yang teratur serta dengkuran halus menandakan pria itu lelap dalam tidurnya.
"Mas." Alana menyentuh lengan Rayan dengan lembut agar sang suami tak begitu terkejut dengan aksinya saat ini.
Rayan melenguh dengan kelopak mata yang perlahan terbuka.
"Alana." Kata Rayan dengan suara serak khas bangun tidur . Pria itu meregangkan otot otot yang terasa kaku dan keram.
"Kenapa tidur di sini sih mas." Kata Alana membuat Gavin langsung menoleh ke samping di mana Alana duduk di sampingnya.
"Ketiduran." Katanya jujur . Rayan menatap jam di dinding sudah menunjukan pukul 3 dini hari. Itu tandanya dia sudah tertidur kurang lebih dua jam.
Alana menghela nafas pelan. "Mas ganti baju dulu, baru tidur kembali." Titah Alana, lantas ia berdiri dari duduk nya. Sebelum pergi tangan Rayan segera meraih tangan Alana. Hingga wanita itu menoleh, sambil menatap tangannya yang di tahan oleh Rayan.
"Kenapa mas? Butuh sesuatu? "
"Kamu mau kemana?" Tanya nya mendongak, menatap Alana.
"Mau ambil baju ganti mas." Rayan berdiri dari duduknya. Namun pria itu tak melepaskan tangan Alana. "Kenapa mas?" Tanya Alana gugup bukan main. Bahkan satu tanganya meremat ujung piyaman tidurnya.
Rayan tak menjawab namun ia mengikis jarak di antara mereka. Tangan pria itu bahkan menyentuh rahang Alana.
Tubuh Alana tiba tiba menegang . Wanita itu tak sanggup menatap Rayan, untuk itu ia hanya menunduk dengan perasaan yang gemuruh.
Ibu jari dan telunjuk menyentuh dagu Alana dan menggerakan ke atas agar sang istri dapat menatap nya.
Dengan wajah memerah Alana mau tak mau menatap sang suami, membalas tatapan itu.
Mata Alana yang sembab nampak jelas terlihat. "Kamu masih menangisinya Alana?" Tanya Rayan tepat netra keduanya saling bertubruk. "Sebesar itukah cinta mu untuk nya. Bahkan dia sudah sangat bahagia dengan wanita yang di cintai nya." Sambung Rayan.
Tenggorokan Alana tercekat. Dengan susah payah dia menelan ludahnya guna membasahi tenggorokan nya. Pertanyaan Rayan begitu sulit untuk ia jawab. Benar dia menangis sebelum tidur mengingat pertemuannya dengan Bian tadi. Hati nya kembali hancur. Alana akui dia wanita terbodoh di dunia ini.
Alana hendak menunduk kembali karena tak sanggup menatap sang suami, namun Rayan menahannya. "Saya mengerti arti diam mu." Jemari tangan Ratan menyentuh sudut mata Alana "Jangan menangisi nya lagi Alana, percuma." Alana merasa tertampar dengan ucapan Rayan barusan. Apalagi pria itu menekan kata 'percuma' di akhir perkataanya.
Pandangan Rayan mengarah pada ranum sang istri.
Alana yang melihat itu mengepalkan tangan nya. "Seperti nya saya ingin egois kali ini." Usai mengatakan itu Rayan langsung menyatukan bibir nya pada ranum sang istri. Menyesap nya kembali , merasakan ranum yang selalu ia tahan untuk tidak melakukannya. Ada amarah tertahan di cumbuan Rayan .
Karena pria itu menyesap nya cukup berutal. Tangannya sudah merengkuh tengkuk Alana. Memperdalam c!uman yang sama sekali tak terbalaskan itu.
Sementara Alana yang mendapat serangan itu tentu syok. Apalagi permainan Rayan yang terkesan kasar namun dia tak bisa melakukan apa pun. Bahkan untuk berontak saja tubuhnya tak melakukan itu.
Alana memukul dada Rayan lantaran ia membutuhkan pasokan oksigen. Pria itu dengan berat hati melepas kan cumbu4n nya.
Rayan menyatukan keningnya dengan kening Alana sesaat. Nafas nya tersengal sengal.
Rayan melengos begitu saja usai mengusap bibir Alana yang sedikit bengkak akibat permainannya, menghapus jejak salivanya.
Alana masih mematung di tempat. Suara pintu kamar mandi tertutup membuat wanita itu langsung menyentuh dada nya yang berdetak melebihi ritme nya.
Sementara di dalam kamar mandi, tangan Rayan bergerak menyugarkan rambutnya. Pria itu menatap wajahnya dari pantulan kaca wastafel . Ibu jarinya bergerak mengusap bibirnya, mengingat aksi nya barusan.
Tubuhnya panas , dia memutuskan mandi air dingin.
Beberapa saat kemudian,
Rayan keluar dari kamar mandi, terlihat Alana yang sudah berbaring kembali di atas kasur dengan tubuh yang terbungkus selimut.
Rayan memilih ke walk in closet. Senyum di bibir pria itu tersemat kala melihat piyama tidur yang di siapkan oleh sang istri.
Dengan segera dia mengenakan pakaiannya.
Rayan naik ke atas ranjang usai menyibak selimut . Tubuh nya langsung mendempet pada tubuh Alana yang posisinya saat ini memunggunginya. Dengan tangannya yang langsung memeluk tubuh Alanai.
Rayan tersenyum tipis , dia tahu Alana belum tidur. Terbukti tubuh wanita itu tegang saat ini. Dia sudah bertekad untuk memulai hubungan ini. Berusaha agar Alana membalas cintanya.
Lagi Rayan sukses membuat Alana syok kembali . Sungguh malam ini Rayan membuat Alana tak dapat berkata kata. Entahlah, Alana bingung dengan perubahan Rayan saat ini.
"Selamat tidur , Alana." Bisik Rayan , pria itu segera memejamkan kedua mata nya untuk melanjutkan tidurnya.
Sementara Alana merasa tubuhnya berdesir hebat, perutnya seakan terguncang di dalam sana. Bisikan lembut Rayan benar benar membuat perasaan nya tak menentu saat ini. Dia mengigit bibir nya menetralisirkan perasaanya, sambil kedua tangan meremat ujung selimut. Dia merasa susah untuk memejamkan mata nya.
***
Alana menggeliat kecil, tubuhnya merasa tertindih sesuatu. Namun wanita itu engan membuka kedua matanya . Dia sibuk mendusel di hadapannya saat ini, sangat nyaman.
Namun sesaat kemudian, alam sadarnya mulai merespon. Kedua matanya terbuka lebar kala mendengar suara detak jantung yang ia yakini bukan miliknya. Mata nya melotot kala menyadari dirinya memeluk Rayan dengan posesif . Dengan posisi di dada bidang pria itu.
Wanita itu lantas mendongak untuk melihat Rayan, untuk memeriksa pria itu bangun atau masih tidur . Dan sialnya Rayan sudah bangun, bahkan pria itu melempar senyumannya. Kedua mata Alans langsung mengerjap lucu.
Rayan membasahi bibinya, dia terkekeh kecil melihat tampang Alana saat ini. Terlihat sangat menggemaskan.
"Morning istriku."
Istriku. Wajah Alana kian merona. Dia langsung menunduk dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Rayan. Membuat pria itu mendesis, posisi mereka saat ini begitu !ntim.
Sepertinya Alana tak menyadari aksinya. Rayan merengkuh tubuh Alana dan memeluknya, bahkan mengecup pucuk kepala sang istri dengan penuh sayang.
Tentu saja aksi Rayan membuat Alana menahan nafas. Suaminya dari semalam memberikan kejutan yang luar biasa mempengaruhi respon tubuh nya.
"Mas." Panggil Alana dengan suara bergetar lantaran kelewat gugup.
"Heum." Sahut Rayan bergumam sambil mengusap surai Alana
Alana mengigit bibir nya. "Mau pipis." Bohong Alana. Tentu saja akalan nya untuk kabur.
Hatinya bergetar.
Rayan tergelak lantas mengendurkan pelukannya . Wajah Alana masih bersemu, ia memberanikan untuk melihat wajah Rayan. Pria itu tersenyum dengan memperlihatkan gigi rapinya. Lesung pipi nya nampak menggoda untuk Alana sentuh.
Spontan jari telunjuk nya nemplok di pipi yang berlubang itu. Rayan masih mempertahankan senyumannya. Sedikit bahagia dengan respon Alana yang tak menolak dengan sentuhan nya.
"Tampan." Satu kata yang mampu membuat Rayan bersemu. Pria itu salah tingkah sendiri. Namun mati matian dia mempertahankan dirinya agar tidak membuat dirinya malu sendiri. Sungguh pujian Alana saat ini tak pernah Rayan prediksi.
Alana mengigit bibir nya kala menyadari aksinya. Wanita itu malu bukan main saat ini. Bahkan dia terdiam dengan posisi nya saat ini, bak patung.
Suara ketukan pintu menyelamatkan kedua manusia yang sama sama canggung. Alana dengan cepat meloloskan dirinya dari sang suami.
Wanita itu bahkan turun dari atas kasur dengan terburu buru. Melangkah ke arah pintu kamar dengan mengibaskan wajah nya yang memanas .
Rayan menghela nafas, pria itu memilih turun dari kasur dan memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri lebih dulu.
Cklek!
"Mom, maaf Kevin ganggu." Ucap Kevin langsung kala pintu terbuka
Alana berdehem singkat, is menggeleng kepala. "Nggak ganggu, kenapa sayang?"
"Seragam Kevin di rumah, sama perlengkapan buku Kevin"
"Oh, astaga." Alana menepuk jidat nya sendiri.
"Ada di mobil daddy , sebentar mommy ambilkan ya." Kevin mengangguk. Alana memang sudah menyiapkan sebelum mereka berangat ke acara, agar Kevin langsung berangkat ke sekolah dari kediaman sang papi.
Dia hari ini jadwal mengajar di siang hari . Untuk itu hanya keperluan Kevin yang Alana siapkan. Rayan , tentu pakaian sang suami sudah ada di kamar nya, jadi tak perlu membawa perlengkapan suaminya itu. "Kamu sudah mandi?"
"Sudah mom."
"Ya sudah sebentar mommy ambilkan seragam kamu." Kevin mengangguk, lantas pamit pada Alana untuk kembali masuk ke kamarnya.
Alana menutup pintu , ia melangkah masuk. Suara gemericik air di dalam kamar mandi terdengar samar. Alana tahu suaminya sedang mandi. Dia lantas mencari kunci mobil pria itu. Di atas nakas ia tak menemukan nya. Kembali ia mengarah ke arah keranjang kotor di mana jas Rayan berada di sana.
Nihil
Kunci mobil sang suami tak ada di sana, Alana memutuskan melangkah ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Tok.... Tok.... Tok....
"Mass." Panggil Alana
Sementara Ratan yang berada di dalam kamar mandi tersentak mendengar panggilan Alana.
"Ya." Sahutnya. Lantas membasuh wajahnya yang terdapat busa sabun. Dengan tubuh yang belum terbilas sempurna Rayan menyambar handuk yang bersih lantas melilit kan di pinggangnya. Dengan cepat ia melangkah ke arah pintu, takut Alana memerlukan sesuatu yang mendesak.
Cklek!
Alana mengerjap melihat tampilan sang suami, rambut basah yang masih ada busa sampo. Lalu tubuh yang basah karena teteskan air dari rambut suaminya.
Alana meringis. "Maaf mas. " Kata nya tak enak sudah menganggu mandi Ratan . Alana hanya takut Kevin terlambat jika dia tak mengambil baju putranya itu sekarang.
"Ada apa?" Tanya nya terlihat cemas.
"Itu mm. " Haish Alana mengumpat dirinya yang tiba tiba gugup. Gimana tak gugup penampilan tubuh sang suami membuatnya gagal fokus. Menarik nafas dalam dalam lantas Alana kembali bicara.
Sementara Rayan masih setia menunggu istrinya bicara.
"Kunci mobil mas dimana ? Aku mau ambil seragam Kevin. Aku sudah cari mas, tapi nggak ketemu."
"Sepertinya ketinggalan di kamar Ajril. Sebentar saya mandi dulu."
"Biar aku aja yang ambil mas. Mas lanjut aja." Usai mengatakan seperti itu Alana melengos, nggak sanggup dia lama lama menatap tubuh sempurna sang suaki.
Rayan melongo di tempat, pria itu lantas masuk guna kembali membersihkan dirinya. Tidak mungkin dia menyusul Alans dengan tampilannya seperti ini.
***
Kedatangan Alana membuat Dio dan Bobi yang sedang membahas agenda menoleh pada anak atasan sekaligus istri dari rekannya.
"Maaf ganggu kak." Kata Alana dengan sopan, mengingat mereka semua pria dewasa di atas nya.
"Iya , ada yang bisa saya bantu nona ?" Tanya Dio sedikit gugup. Lantaran kecantikan Alana begitu terpancar meski tanpa riasan. Wajah natural bangun tidur terlihat jelas, apalagi terbukti dari piyama yang di kenakan Alana.
Wanita itu terlihat sangat muda di usianya yang sudah masuk tiga puluh tahun.
"Mm.. Kak Ajril ada? saya mau mengambil kunci mobil mas Ray yang ketinggalan di kamarnya." Terang Alana langsung.
Suara derap langkah membuat mereka menoleh termasuk Alana. Dahi Ajril berkerut melihat istri sahabatnya berada di tempat mereka.
"Bang nona Alana mau ambil kunci mobil bang Rayan. Katanya tertinggal di kamar lo." Kata Bobi. Ajril yang memang sudah melangkah mendekat langsung memberikan kunci pada Alana. Kebetulan pria itu memang melihat kunci Rayan sebelum keluar dari kamar.
"Makasih kak." Ajril mengangguk. Alana lantas pamit pada ketiganya .
Selepas kepergian Alana, Dio buka suara.
"Gila istri nya bang Rayan benar benar cantik. Nggak bosenin untuk di pandang." Celetuk nya. Ajril mendengus .
"Jaga pandangan lo, kalau nggak mau mata elu di colok Rayan ." Sarkas nya membuat Dio tak berkutik. Rayan paling di segani. Tak ada yang berani melawan pria itu.
Pantas aja lo cepat jatuh cinta Ray, gue nggak munafik istri lo emang cantik dan masih krinyis. Batin Ajril