Lucky Caleb adalah definisi kesempurnaan di Berlin—seorang penyanyi dan aktor papan atas dengan kekayaan melimpah dan popularitas yang menggila.
Namun, di balik kemewahan hidupnya, Lucky adalah pria yang terjebak di masa lalu. Kesuksesan lagu-lagu hitsnya sebenarnya merupakan rahasia yang ia simpan bersama Renata Brox, kekasih masa SMA yang juga merupakan penulis lirik di balik jeniusnya musik Lucky.
Tiga tahun lalu, saat mereka berusia 19 tahun, Renata memilih mundur. Muak dengan tekanan industri dan merasa tidak lagi menjadi prioritas di tengah kesibukan Lucky yang egois, Renata menghilang dan memulai hidup baru sebagai mahasiswi hukum yang cerdas di London.
Di tengah kesepian dan kegagalannya untuk move on, Lucky hanya memiliki Freya, asisten pribadinya yang setia. Freya adalah satu-satunya orang yang mampu menghadapi sisi dingin dan manja Lucky, sosok yang mengatur seluruh hidup sang bintang dan menjadi jangkar di tengah badai ketenaran.
Selamat Bacaaaa 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#30
Keputusan itu tidak datang dengan mudah. Oxford telah menjadi tempat persembunyian yang aman, sebuah rahim yang melindungi Alistair dan Freya dari badai dunia selama lima tahun.
Namun, setelah pengakuan William Montgomery di ruang tamu yang dingin itu, sebuah babak baru harus dibuka. Freya memutuskan untuk kembali ke Los Angeles, California—bukan sebagai asisten yang melarikan diri, melainkan sebagai seorang Montgomery yang utuh, membawa serta keluarga kecilnya ke bawah sinar matahari West Coast yang abadi.
Kepulangan mereka ke Los Angeles mengguncang kalangan elit Beverly Hills. Namun, berbeda dengan lima tahun lalu, kali ini Freya berdiri tegak di samping Lucky. Mereka menempati sebuah vila modern yang menghadap ke Samudra Pasifik, tempat di mana deburan ombak menjadi melodi baru bagi hidup mereka.
Bagi Lucky, Los Angeles bukan lagi panggung untuk mengejar kontrak rekaman atau popularitas. Ia telah benar-benar meninggalkan gemerlap panggung musik. Kini, dunianya berputar di sekitar Alistair. Ia merasa memiliki hutang waktu yang sangat besar, ribuan hari yang hilang saat ia tidak ada untuk melihat Alistair belajar merangkak atau mengucapkan kata pertama.
Pagi itu, di bawah langit California yang biru cerah, Lucky sudah bersiap di depan kemudi mobil SUV hitamnya. Alistair duduk di kursi belakang, mengenakan seragam taman kanak-kanak internasional yang baru saja ia masuki minggu ini.
"Siap untuk petualangan hari ini, Al?" tanya Lucky, melirik melalui spion tengah dengan senyum yang tak pernah luntur.
"Siap, Dada! Hari ini ada kelas melukis!" jawab Alistair dengan semangat, tangannya memegang tas ransel bergambar mobil balap.
Lucky mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju sekolah. Rutinitas ini adalah ritual sucinya. Ia menolak menggunakan sopir pribadi, meskipun ayahnya atau keluarga Montgomery menawarkan fasilitas itu berkali-kali.
Baginya, momen di dalam mobil, mendengarkan cerita Alistair tentang teman-temannya atau menyanyikan lagu anak-anak bersama adalah kemewahan yang tidak bisa dibeli dengan royalti lagu mana pun.
Sesampainya di gerbang sekolah, Lucky turun dari mobil. Ia tidak lagi memakai kacamata hitam besar atau topi untuk bersembunyi. Ia berjalan memutari mobil, membuka pintu untuk Alistair, dan menggendong tasnya.
Beberapa orang tua murid lainnya—yang sebagian besar adalah produser film atau pebisnis besar—sempat mencuri pandang, mengenali wajah sang megabintang yang kini tampak begitu membumi.
Lucky berjongkok untuk menyejajarkan tingginya dengan Alistair, merapikan kerah seragam putranya. "Dada akan menjemputmu tepat waktu, oke? Jangan lupa habiskan bekalmu."
Alistair memeluk leher Lucky dengan erat. "Dada jangan telat ya!"
"Dada janji," bisik Lucky, mengecup kening Alistair dengan penuh pemujaan.
Dari balkon kantor pusat Montgomery Group di pusat kota Los Angeles, Freya berdiri memandangi kesibukan jalanan di bawahnya melalui dinding kaca yang menjulang. Ia baru saja menyelesaikan rapat direksi yang melelahkan.
Namun, kelelahan itu seolah hilang saat ponselnya bergetar, menampilkan sebuah foto yang dikirim oleh pengawal rahasia yang ia tempatkan untuk memantau dari jauh atas permintaan ayahnya.
Foto itu memperlihatkan Lucky yang sedang melambaikan tangan pada Alistair di depan gerbang sekolah. Lucky tampak tertawa, wajahnya begitu cerah di bawah sinar matahari pagi.
Freya tersenyum, matanya berkaca-kaca karena rasa bangga yang luar biasa. Ia mengingat Lucky yang dulu—pria yang hanya peduli pada jadwal tur dan popularitas. Kini, pria itu adalah sandaran hidupnya. Ia bangga pada suaminya yang rela melepaskan ego besarnya sebagai bintang dunia hanya untuk menjadi seorang ayah yang selalu ada.
"Kau melihat apa, Frey?" suara Fank terdengar dari balik pintu kantor.
Freya menoleh, menunjukkan layar ponselnya pada kakaknya. "Aku melihat pria paling hebat di dunia, Kak. Dia melakukan tugasnya lebih baik daripada siapapun yang kukenal."
Fank mendekat, ikut tersenyum melihat foto itu. "Dia benar-benar berubah. William bahkan mulai sering memujinya di depan kolega bisnisnya. Katanya, Lucky punya disiplin seorang pengusaha otomotif tapi punya hati seorang ayah."
"Dia menghabiskan setiap hari hanya untuk memastikan Alistair tidak merasa kehilangan sosok ayah seperti yang aku rasakan dulu saat Daddy sibuk," bisik Freya.
"Setiap pagi dia mengantar, setiap sore dia menjemput. Dia bahkan belajar memasak pasta favorit Alistair."
Sore harinya, Lucky sudah berdiri di depan gerbang sekolah sepuluh menit sebelum bel berbunyi. Ia bersandar di kap mobilnya, tangannya memegang sebuah bola sepak baru yang ia beli dalam perjalanan tadi.
Saat pintu sekolah terbuka dan Alistair berlari keluar sambil meneriakkan namanya, Lucky merasa dunianya lengkap. Ia menangkap tubuh kecil itu, mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara, dan memutar tubuh Alistair hingga bocah itu tertawa terbahak-bahak.
"Bagaimana sekolahnya, jagoan?"
"Seru! Aku melukis Dada, Mommy, dan aku!" Alistair menunjukkan selembar kertas dengan coretan warna-warni yang menggambarkan tiga sosok bergandengan tangan.
Lucky terdiam sejenak, memandangi lukisan sederhana itu. Di matanya, itu adalah karya seni yang jauh lebih berharga daripada semua piringan emas yang pernah ia terima.
Dalam perjalanan pulang, mereka melewati pesisir Santa Monica. Lucky memutuskan untuk menepikan mobilnya sejenak. Mereka turun ke pasir pantai yang hangat. Lucky duduk di atas pasir, membiarkan Alistair berlari mengejar ombak kecil.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan mewah berhenti di bahu jalan. Freya turun dari sana, masih mengenakan pakaian kerjanya yang elegan. Ia melepas sepatu hak tingginya, menjinjingnya di tangan, dan berjalan di atas pasir menuju dua pria tercintanya.
"Mommy!" Alistair berlari memeluk kaki Freya yang basah terkena air laut.
Freya tertawa, merengkuh Alistair ke dalam pelukannya sebelum duduk di samping Lucky. Lucky melingkarkan lengannya di bahu Freya, menariknya mendekat.
"Terima kasih sudah menjemputnya setiap hari, Luck," ucap Freya lembut, menyandarkan kepalanya di bahu Lucky. "Aku tahu kau pasti lelah mengurus bisnis otomotifmu dan Alistair sekaligus."
Lucky mencium pelipis Freya. "Ini bukan lelah, sayang. Ini hidup yang seharusnya aku jalani sejak dulu. Berlin dan panggung-panggung itu hanyalah persiapan untuk momen ini. Aku tidak pernah merasa sesukses ini sebelumnya."
Di bawah matahari terbenam California yang berwarna jingga keemasan, mereka bertiga duduk bersama di tepi samudra. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi pelarian, dan tidak ada lagi ketakutan akan masa lalu.
Lucky Caleb telah menemukan panggung terakhirnya: sebuah keluarga yang utuh di bawah matahari yang tidak pernah tenggelam bagi cinta mereka.
🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
smngt Thor ceritanya bgus bgt