NovelToon NovelToon
Vessel Of Eternity

Vessel Of Eternity

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Reinkarnasi / Cinta Terlarang / Iblis / Kutukan / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: amuntuyu

Kisah seorang The Constant, sang pengelana waktu yang hidup empat ratus tahun. Bertemu dengan seseorang dari kaum Aethern, dewa cahaya yang hidup dalam keabadian. Awalnya mereka berpikir bahwa pertemuan itu hanyalah kebetulan. Namun, dibalik pertemuan itu, sebuah benang sudah terikat sejak ratusan tahun yang lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 29

Udara di kamar tamu itu mendadak menjadi sangat tipis. Robert Klein berdiri di ambang pintu seperti perwujudan badai yang siap menghancurkan apa pun di jalannya. Matanya yang merah menatap pemandangan di depannya, ayahnya yang berlutut di depan seorang gadis muda yang tampak berantakan di atas ranjang dan logika manusianya yang sedang dihantam duka hebat segera menarik kesimpulan yang paling kotor.

"Apa yang sedang kau lakukan? Aku pikir aku akan menemukanmu hancur karena kepergian Ibu. Kau bahkan tidak ingat untuk meneleponku di saat Ibu sedang sekarat. Clara yang memberitahuku pagi tadi, saat Ibu sedang dikubur olehmu. Aku marah karena kau menanggungnya sendirian. Tapi..." suara Robert bergetar, rendah namun mengandung ledakan. "Kenyataannya kau malah sibuk dengan wanita lain? Apakah dia pemuas nafsu barumu?"

"Robert, jaga bicaramu!" Julian berdiri dengan cepat, wajahnya memucat karena ngeri sekaligus marah. "Kau tidak mengerti apa yang sedang terjadi!"

"Penglihatan ku mengerti lebih dari cukup!" raung Robert.

Tanpa peringatan, Robert menerjang. Sebagai anak pertama yang meski tanpa keabadian, serangan Robert sangat cepat dan brutal karena ukuran tubuhnya yang jauh lebih dewasa dari pada Julian. Robert juga merupakan seorang atlet bela diri sejak remajanya dulu. Tentu saja kekuatannya jauh lebih besar dan terlatih, apalagi posisinya sekarang ia sedang dikuasai emosi yang meluap-luap.

Robert melayangkan pukulan keras ke arah wajah Julian. Julian, yang energinya masih sangat lemah setelah menyembuhkan Kenzie, tidak sempat menghindar sepenuhnya.

BUGH!

Tubuh Julian terhempas menghantam lemari kayu tua hingga kacanya retak sedikit. Kenzie memekik, tangannya terjulur ingin membantu, namun Robert sudah kembali menyerang. Robert menarik kerah kemeja ayahnya, matanya berkilat penuh kebencian.

"Ibu mencintaimu selama empat puluh tahun! Dia mengabdikan seluruh hidupnya untuk pria yang tidak pernah menua dan kau membayarnya dengan ini?! Di rumah ini?! Di saat kuburannya bahkan belum kering?!"

"HENTIKAN, KAK! HENTIKAN!"

Clara muncul di ambang pintu, menjerit histeris. Anak kecil berusia delapan tahun itu berlari masuk dan mencoba menarik lengan Robert yang kekar, namun Robert tidak bergeming.

"Keluar, Clara! Ini urusan orang dewasa!" bentak Robert tanpa menoleh.

"TIDAK! KAU YANG TIDAK TAHU APA-APA!" Clara memukul-mukul punggung Robert dengan tangisan yang pecah. "Kak Kenzie yang menyelamatkan Ibu! Kalau bukan karena dia, Ibu akan mati dengan jeritan kesakitan dua malam lalu! Dia memberikan darahnya, dia hampir mati demi Ibu! Ayah sedang menjaganya karena Kak Kenzie tidak sadarkan diri selama dua hari!" Clara memeluk kaki Robert, berusaha menghentikan aksi pria itu.

Tangan Robert yang terkepal di udara mendadak membeku. Robert menoleh perlahan ke arah adiknya, lalu ke arah Kenzie yang masih terduduk di ranjang dengan sisa air mata di pipinya.

"Apa?" bisik Robert.

"Ibu memberikan surat untuknya." Clara menunjuk kertas yang masih digenggam Kenzie. "Ibu pergi dengan tenang karena Kak Kenzie. Ayah tidak berselingkuh, Kak. Ayah sedang mencoba mengembalikan nyawa orang yang sudah menolong kita!" jerit Clara. Anak itu bahkan sudah mengerti apa yang menjadi alasan Kakak sulungnya itu marah pada ayahnya.

Robert melepaskan cengkeramannya pada Julian. Julian merosot di lantai, menyeka darah di sudut bibirnya dengan punggung tangan. Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan itu. Robert menatap Kenzie dengan tatapan yang sulit diartikan, campuran antara sisa kemarahan, ketidakpercayaan dan harga diri yang terluka. Namun, tatapan itu tetap terasa seperti tatapan membunuh bagi siapa pun yang melihatnya.

"Keluar." ucap Robert pada Julian, suaranya kini dingin seperti es.

Robert berbalik tanpa menunggu jawaban. Julian menatap Kenzie sejenak, memberikan isyarat lewat mata bahwa semuanya akan baik-baik saja, sebelum akhirnya mengikuti putra sulungnya keluar. Pintu tertutup dengan dentuman yang berat, menyisakan Kenzie dan Clara dalam kesunyian yang mencekam.

"Kak Kenzie tidak apa-apa?" tanya Clara dengan wajah khawatir, mendekati Kenzie yang pucat dan duduk di sebelahnya.

Kenzie menggelengkan kepalanya lemah. "Tidak apa-apa. Kau baik-baik saja?"

Clara mengangguk pelan, membuang napas panjang. Kemudian mulai menyenderkan kepalanya pada pangkuan Kenzie, sementara tangan Kenzie mengelus dahi anak itu yang muncul keringat dingin.

Sebenarnya Kenzie masih syok dengan kedatangan Robert yang tiba-tiba serta amarah pria itu yang sampai melakukan tindakan kekerasan kepada Julian. Tapi ia tidak boleh menunjukkan itu di depan Clara, melihatnya yang mungkin juga sedang ketakutan.

...•••...

Di sisi lain, dua hari telah berlalu sejak malam festival yang berakhir dengan darah dan kepanikan itu. Bagi SMA Arcandale, absennya tiga siswa populer belakangan ini secara bersamaan mulai memicu desas-desus di koridor sekolah. Namun, bagi Hallen, dua hari ini terasa seperti siksaan abadi yang melambat, menggerogoti kewarasannya setahap demi setahap.

Malam itu, Hallen berdiri di mulut gang yang sama, tempat saat ia menjemput Kenzie di malam festival. Cahaya lampu jalan yang berkedip-kedip seolah mengejeknya. Hallen menatap ke dalam kegelapan gang yang menuju deretan apartemen tua, namun ia tidak tahu di pintu mana Kenzie tinggal. Hallen baru menyadari betapa sedikit yang ia ketahui tentang gadis itu. Kenzie selalu menjaga jarak, selalu membangun tembok dan malam itu, Hallen merasa dialah yang menyebabkan tembok itu runtuh dan melukai Kenzie secara fisik dan mungkin mental.

"Sialan." umpat Hallen pelan, meninju dinding bata di sampingnya.

Buku jarinya perih, tapi rasa bersalah di dadanya jauh lebih menyakitkan. Bayangan saat lengan Kenzie tersayat besi pagar itu terus terputar di kepalanya seperti film horor yang rusak.

Hallen ingat pendaran aneh pada darah Kenzie, sesuatu yang ia coba rasionalkan sebagai pantulan lampu lampion, namun hatinya tahu ada yang tidak beres. Darah itu terlalu banyak dan luka itu terlalu dalam. Namun, Kenzie sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit atau panik sama sekali, seperti manusia normal pada umumnya ketika mendapatkan tragedi yang melukai dirinya.

Kenapa kau menyelamatkanku, Kenzie? Seharusnya aku yang terluka, bukan kau, batinnya pahit.

Hallen sudah mencoba menghubungi ponsel Kenzie berkali-kali, namun hanya suara operator yang menyambutnya. Ia bahkan mencari tahu tentang Julian, informasi yang ia dengar adalah adanya duka di keluarga Julian. Kematian Elena Klein, ibunya, yang orang-orang tahu menjadi alasan pria itu tidak masuk sekolah. Alasan masuk akal bagi mereka para aliansi sekolah.

Namun, yang membuat Hallen makin gelisah adalah fakta bahwa Julian menghilang di saat bersamaan dengan insiden yang menimpa Kenzie.

Apakah Kenzie sedang bersama pria dingin itu? Pikiran itu membakar ego Hallen, namun rasa khawatirnya jauh lebih besar daripada kecemburuannya. Hallen takut luka Kenzie terinfeksi. Ia lebih takut Kenzie membencinya karena insiden memalukan di mana ia hampir menciumnya secara paksa sebelum kecelakaan itu terjadi.

Di sekolah, kursi di sebelah dan belakang Hallen terasa sangat hampa. Bukan hanya kursi Kenzie, tapi juga kursi Lyana.

Lyana yang biasanya selalu ada untuk memberikan saran atau sekadar menyemangati dengan senyuman misteriusnya, ikut menghilang tanpa kabar selama dua hari ini. Hallen mencoba menghubungi Lyana, berharap gadis itu tahu sesuatu karena Lyana tampaknya selalu tahu segalanya, namun hasilnya nihil.

Ketidakhadiran Lyana secara bersamaan dengan Kenzie dan Julian mulai membangun pola yang mengerikan di kepala Hallen. Ia teringat pria bertudung yang menabraknya. Gerakannya terlalu presisi untuk sebuah ketidaksengajaan. Dan Lyana ada di sana tak lama setelah kejadian.

"Apa yang sebenarnya terjadi di kota ini?" gumam Hallen pada kesunyian gang.

Hallen merasa seperti bidak catur yang baru saja menyadari bahwa papan permainannya sedang dibakar. Ia merasa kecil dan tidak berdaya. Hallen adalah kapten basket, idola sekolah, tapi di hadapan misteri yang menyelimuti Kenzie dan Julian, ia merasa seperti anak kecil yang tersesat di hutan belantara.

Hallen tidak beranjak. Ini adalah malam kedua ia berdiri di sini, menunggu hingga larut malam, berharap sosok ramping dengan tatapan dingin itu akan muncul dari kegelapan gang.

Hallen bahkan membawa sebuah kotak kecil di saku jaketnya, obat pembersih luka dan perban terbaik yang bisa ia beli. Ia tahu itu mungkin tidak berguna bagi Kenzie yang misterius, tapi itu adalah cara satu-satunya bagi Hallen untuk merasa ia masih berguna.

"Kenzie, tolong... beri aku tanda kalau kau baik-baik saja." bisik Hallen, menatap jendela-jendela apartemen yang menyala di kejauhan.

...•••...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!