NovelToon NovelToon
Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Kembali Bertemu Bukan Bersatu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Keluarga / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Cintamanis / Romansa
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Dulu, aku adalah gadis ceria yang percaya bahwa cinta adalah segalanya. Bertahun-tahun aku menemani setiap proses hidupnya, dari SMA hingga bangku kuliah. Namun, kesetiaanku dibalas dengan pemandangan yang menghancurkan jiwa di sebuah kost di Jogja. Tanpa sepatah kata, aku pergi membawa luka yang mengubah seluruh hidupku.

Tiga tahun berlalu. Aku bukan lagi gadis lembut yang mudah tersipu. Aku telah membangun tembok es yang tebal di hatiku, menjadi wanita karier yang dingin, kaku, dan menutup diri dari setiap laki-laki yang mencoba mendekat.

Namun, takdir seolah sedang bercanda. Di perusahaan tempatku sukses berkarier, ia kembali muncul sebagai rekan kerjaku. Sosok pria pengkhianat yang dulu sangat kucintai, kini harus berada di hadapanku setiap hari.

Saat kenangan pahit itu kembali menyeruak, dan rasa mual muncul setiap kali melihat wajahnya, seorang wanita dari masa lalu itu muncul kembali. Apakah pertemuan ini adalah kesempatan untuk sembuh, atau justru cara takdir untuk semakin m

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Tujuh hari telah berlalu sejak badai cuci darah pertama itu menghantam. Hari ini, aroma antiseptik rumah sakit akhirnya akan berganti dengan aroma rumah. Dokter memberikan izin bagi Arlan untuk pulang setelah parameter tubuhnya menunjukkan kestabilan yang cukup, meskipun jadwal cuci darah rutin dua kali seminggu kini menjadi kalender baru dalam hidup kami.

"Sudah siap, Lan?" tanyaku sambil merapikan kemeja katunnya yang kini terasa sedikit longgar di tubuhnya.

Arlan mengangguk. Meski wajahnya masih pucat, binar matanya sudah kembali. Ia menatap akses fistula di lengannya—jalur hidupnya yang baru—dengan tatapan yang lebih tenang. Ia tidak lagi melihatnya sebagai tanda kekalahan, melainkan sebagai alat pertahanan untuk tetap berada di sampingku.

"Terima kasih sudah sabar menunggu, Ran," bisiknya sambil menggenggam tanganku saat perawat mendorong kursi rodanya menuju lobi.

Di lobi rumah sakit, Bang Haris sudah menunggu dengan mobil yang telah dimodifikasi agar Arlan bisa bersandar dengan nyaman. Ibu dan Bapak Arlan mengikuti dari belakang, membawa tumpukan obat dan instruksi diet ketat yang menjadi "kitab suci" kami mulai sekarang.

Begitu sampai di apartemen, suasana terasa sangat berbeda. Bang Haris dan asistennya telah menyulap salah satu kamar menjadi area pemulihan yang sangat nyaman. Tidak ada tumpukan berkas kantor, hanya ada buku-buku sketsa baru, pemutar musik, dan jendela yang menyuguhkan pemandangan kota.

"Wah, ini lebih seperti hotel daripada tempat istirahat," canda Bapak Arlan mencoba mencairkan suasana.

Ibu Arlan segera menuju dapur, menyiapkan menu khusus rendah protein dan natrium sesuai instruksi ahli gizi. Kesibukan kecil ini membuat apartemenku yang dulu terasa dingin dan sepi, kini penuh dengan kehangatan sebuah keluarga besar.

Sore itu, setelah Arlan beristirahat, Bang Haris mengajakku bicara di balkon.

"Ran, operasional Arania Group tetap terkendali. Asisten Abang di Singapura lapor kalau semua proyek berjalan sesuai timeline. Kamu jangan kepikiran soal kantor dulu," ujar Bang Haris sambil menyesap kopinya. "Fokus saja buat jadwal kontrol Arlan. Abang sudah siapkan sopir khusus yang sudah dilatih untuk keadaan darurat."

"Makasih, Bang. Aku nggak tahu harus gimana kalau nggak ada Abang," ucapku tulus.

"Sama-sama. Tapi ingat, Ran... Arlan itu orangnya keras kepala soal tanggung jawab. Dia mungkin akan mulai minta berkas kantor minggu depan," Bang Haris terkekeh kecil.

Benar saja, malamnya saat aku membawakannya obat, aku mendapati Arlan sedang menatap layar tabletnya.

"Lan! Kan sudah janji, nggak ada kantor dulu!" protesku sambil merebut tablet itu.

Arlan tertawa, tawa yang terdengar jauh lebih sehat daripada seminggu lalu. "Aku cuma melihat desain distro Bapak yang baru, Sayang. Aku ingin menambah kategori pakaian untuk pasien pemulihan—yang nyaman tapi tetap keren. Aku terinspirasi dari baju rumah sakit yang membosankan itu."

Aku tertegun, lalu tersenyum. Semangatnya untuk berkarya ternyata tidak bisa dibunuh oleh penyakit apa pun. Aku duduk di sampingnya, menyandarkan kepalaku di bahunya.

"Oke, tapi hanya satu jam sehari. Dan itu pun harus seizinku," syaratku tegas.

Arlan mencium keningku. "Siap, Ibu Dirut."

Di tengah kesunyian malam Jakarta, aku menyadari bahwa cuci darah rutin mungkin menjadi tantangan baru kami. Tapi melihat Arlan kembali bersemangat dan keluarga yang saling mendukung, aku tahu bahwa Arania Group bukan lagi sekadar nama perusahaan, tapi simbol dari persatuan kami yang tidak akan goyah oleh badai medis sekalipun.

1
Ayudya
rania kalau kamu terus sendiri dan harus terpuruk dengan masa lalu ga bagus juga si menurut aku yga ada Mala kamu di anggap belum bisa menghilangkan bayangan masa lalu kamu🤣🤣🤣🤣
Ayudya
aku suka dengan karakter Rania tegas dan ga menye menye🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Dinar David Nayandra
si harga kok tau smpe datail gtu ya ada mata mata dia kayanya
Nur Atika Hendarto
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!