NovelToon NovelToon
Setelah Titik,Ada Temu

Setelah Titik,Ada Temu

Status: tamat
Genre:Romantis / Nikahmuda / Romansa Fantasi / CEO / Dark Romance / Mantan / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Bagi Azzalia Caesarea, mencintai Regas Adhitama adalah sebuah keberanian sekaligus kesalahan. Regas adalah sang "Pangeran Teknik" yang sempurna, sementara Lia hanyalah mahasiswi Sastra pemegang beasiswa yang hidup sebatang kara.

Saat restu orang tua Regas menjadi dinding tinggi yang tak mungkin dipanjat, Lia memilih mundur. Ia meletakkan tanda titik pada kisah mereka, menolak lamaran Regas, dan pergi mengejar mimpinya ke luar negeri demi harga diri yang sempat diinjak-injak.

Tahun-tahun berlalu, Lia kembali sebagai sosok wanita yang baru dan sukses. Namun, semesta memang senang bercanda. Di sekolah internasional tempatnya mengajar, ia kembali dipertemukan dengan mata tegas itu. Regas berdiri di sana, tetap mempesona, namun dengan satu kejutan yang menyesakkan napas: seorang putri kecil yang memanggilnya "Papa".

Siapkah Lia membuka kembali buku lama yang sudah ia tutup rapat?Dan rahasia apa yang sebenarnya disimpan Regas selama bertahun-tahun kepergian Lia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG: Tanda Titik yang Terhapus

Perpustakaan pusat universitas selalu memiliki aroma yang sama: campuran kertas lama, debu yang menari di bawah sinar matahari, dan keheningan yang menenangkan. Di sanalah, lima tahun lalu, Azzalia Caesarea meletakkan sebuah tanda titik. Bukan karena ia ingin ceritanya berakhir, tapi karena ia sadar bahwa beberapa buku memang tidak ditakdirkan untuk memiliki sekuel.

"Kenapa harus pergi, Lia? Aku bisa bicara lagi dengan orang tuaku," suara berat Regas Adhitama kala itu masih terngiang jelas, bergetar menahan perih di antara rak-rak buku sastra yang tinggi.

Lia hanya menggeleng pelan. "Beasiswa ini adalah mimpiku, Regas. Dan restu orang tuamu... adalah realita yang tidak bisa kukejar. Mari berhenti di sini. Sebelum kita saling menghancurkan."

Malam itu, Lia pergi. Ia membawa kopernya menuju negeri orang, membawa luka yang ia bungkus rapi dengan ambisi. Ia mengira, dengan jarak ribuan kilometer dan gelar sarjana terbaik di tangan, nama Regas sudah terhapus dari daftar pustaka hidupnya.

Lima Tahun Kemudian.

Lia merapikan blazer kremnya, melangkah menyusuri koridor SD Internasional tempatnya mengajar selama sebulan terakhir. Suasana sekolah yang riuh dengan suara anak-anak biasanya adalah musik bagi telinganya. Namun, langkahnya mendadak kaku. Paru-parunya seolah lupa cara bernapas.

Di ujung koridor, di depan ruang pendaftaran, berdiri seorang pria.

Sosok itu masih memiliki bahu tegap yang sama. Wajah tegasnya kini terlihat lebih matang, namun sorot matanya tetap tajam—sorot mata yang dulu selalu mencuri pandang ke arahnya di kantin sastra.

"Azzalia?" suara itu rendah, memanggil namanya dengan nada yang sama seperti lima tahun lalu.

Lia terpaku. Namun, bukan kehadiran pria itu yang membuatnya mati kutu. Melainkan tangan kecil yang berada di dalam genggaman pria itu. Seorang gadis kecil dengan mata bulat yang cerdas, mengenakan seragam sekolah yang sama dengan murid-murid Lia, menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu.

"Papa, ini Ibu Guru yang baru?" tanya gadis kecil itu polos.

Dunia Lia seolah berputar. Titik yang ia torehkan dengan susah payah bertahun-tahun lalu, tiba-tiba memudar, berganti menjadi sebuah koma yang panjang dan membingungkan.

Ternyata, takdir tidak pernah benar-benar menutup bukunya. Ia hanya sedang menyiapkan bab baru yang jauh lebih rumit dari sebelumnya.

"Azzalia?"

Suara itu sekali lagi mengudara, kali ini lebih jelas, membawa getaran yang membuat dinding pertahanan yang Lia bangun selama lima tahun di luar negeri retak seketika. Regas melangkah maju satu tindak, membuat jarak di antara mereka terkikis. Aroma parfum maskulin yang bercampur dengan sisa wangi hujan—aroma yang sangat Regas—menyerbu indra penciuman Lia.

Lia mengerjapkan mata, berusaha mengusir bayangan masa lalu yang mendadak tumpang tindih dengan realita. Di hadapannya bukan lagi mahasiswa teknik dengan jaket himpunan yang berantakan, melainkan pria dewasa dengan kemeja rapi dan jam tangan mewah yang melingkar di pergelangan tangannya.

"Regas..." Lia akhirnya mampu bersuara, meski nyaris berupa bisikan. "Apa yang kamu lakukan di sini?"

Regas terdiam sejenak, matanya menelusuri wajah Lia seolah sedang memastikan bahwa wanita di depannya bukanlah halusinasi. Sebelum ia menjawab, gadis kecil di sampingnya menarik-narik ujung kemeja Regas, menuntut perhatian.

"Papa, Ibu Guru ini cantik ya? Seperti yang di foto—"

"Ghea," potong Regas cepat, suaranya mengandung nada peringatan yang halus namun penuh kasih. Ia kembali menatap Lia, ada kilat luka dan kerinduan yang berusaha ia sembunyikan di balik ketegasannya. "Aku sedang mendaftarkan putriku, Ghea. Dia akan masuk ke kelas Sastra dan Seni."

Jantung Lia mencelos. Putrinya. Kata itu menghantamnya lebih keras daripada kenyataan bahwa Regas sudah menikah. Ghea memiliki hidung yang mungil dan binar mata yang persis seperti Regas, namun ada sesuatu dalam senyumnya yang membuat Lia merasa sangat familiar sekaligus asing.

"Oh... begitu," Lia berusaha memaksakan senyum profesional sebagai seorang guru, meski tangannya di balik blazer bergetar hebat. "Selamat datang di sekolah kami, Ghea. Saya... saya Ibu Lia."

Ghea tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi kecilnya yang rapi. "Halo, Bu Lia! Papa bilang aku akan suka belajar di sini karena gurunya pintar bercerita."

Lia melirik Regas. Pria itu tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun. Di koridor yang bising itu, waktu seolah membeku bagi mereka berdua. Semua kenangan tentang kantin sastra, perdebatan tentang beasiswa, hingga penolakan pahit dari orang tua Regas mendadak berputar kembali seperti film usang.

"Ternyata dunia memang sempit, Azzalia," gumam Regas, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang getir. "Atau mungkin, titik yang kamu buat dulu memang tidak cukup tebal untuk mengakhiri semuanya."

Lia terdiam, tidak mampu membalas. Ia menyadari satu hal: pelariannya selama lima tahun ternyata hanya membawanya kembali ke titik awal. Ke hadapan pria yang pernah menjadi dunianya, dan kini membawa dunia kecil baru yang tidak pernah Lia duga.

Prolog itu berakhir di sana, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di antara dua orang yang pernah saling mencintai, dipisahkan oleh ambisi, dan kini dipersatukan kembali oleh takdir yang bernama "pertemuan kembali".

1
Niken Dwi Handayani
Ghea bukan anaknya Regas ya? kalau 5 tahun terpisah, anak nya belum masuk SD. Mungkin anak kakak nya
Chelviana Poethree
👍👍👍
Chelviana Poethree
mampir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!