NovelToon NovelToon
SERABI LEMPIT

SERABI LEMPIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan seorang gadis cantik baru lulus dan sedang mencari kerja dan menemukan masalah karena orangtuanya berhutang dengan lintah darat namun ada bos muda yang membantunya namun bos itu jatuh hati kepadanya gadis cantik itu bernama Mira dan bos besar grup Nusantara itu Romano Kusuma dan ia menginginkan gadis cantik itu dan mengejaran dimulai ...... lanjutkan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 21

"Jadi, kau benar-benar tidak akan menjawab mereka?" Romano bertanya setelah keheningan yang cukup lama menyelimuti ruangan mercusuar. Suaranya rendah, hampir tenggelam oleh deru ombak di luar sana.

Mira masih menatap ke arah laut yang gelap, hanya sesekali tersapu oleh pendar cahaya lampu mercusuar yang berputar. "Jika aku menjawab, Romano, aku memberikan mereka harapan bahwa ada seseorang yang akan memandu mereka. Dan harapan seperti itu... adalah bentuk lain dari belenggu. Mereka akan selalu menunggu instruksi, menunggu validasi dari kita."

Romano mengangguk pelan, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu yang terasa dingin. "Tapi pesan tentang 'struktur purba' itu... itu masuk akal sekarang. Mengapa ayahku dan ibumu begitu terobsesi dengan koordinat Sektor Tujuh. Itu bukan sekadar lokasi strategis untuk distribusi air. Itu adalah pusat dari sesuatu yang jauh lebih tua dari Nusantara Group sendiri."

"Mungkin," jawab Mira, akhirnya berbalik menatap pria itu. "Tapi biarlah itu menjadi milik tanah. Biarlah warga di sana menemukannya dengan cara mereka sendiri. Jika air itu memang membangkitkan ingatan mereka, maka mereka akan tahu siapa mereka sebenarnya, tanpa perlu kita mendikte sejarahnya."

Mira melangkah mendekat, menyentuh tangan Romano yang masih memegang radio panggil yang kini sudah membisu. "Dulu kita hidup untuk masa depan yang kita rancang sendiri. Sekarang, biarlah masa depan itu datang tanpa rencana kita."

"Lalu, apa rencana kita besok?" Romano tersenyum tipis, mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang karena transmisi radio tadi.

Mira tampak berpikir sejenak, matanya berkilat jenaka. "Besok? Aku rasa atap pondok di bawah butuh sedikit perbaikan sebelum badai minggu depan. Dan... nelayan tadi bilang musim kepiting sudah dimulai. Kurasa itu jauh lebih mendesak daripada struktur purba di bawah tanah Jakarta."

Romano tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat lepas, sangat berbeda dengan tawa formal yang biasa ia keluarkan di ruang rapat korporat. Ia menarik Mira ke dalam pelukannya, merasakan kehangatan yang nyata di tengah udara pesisir yang asin.

"Kepiting dan atap bocor," gumam Romano. "Kedengarannya seperti misi paling berbahaya yang pernah kita jalani."

"Paling tidak," sahut Mira sambil menyandarkan kepalanya, "musuh kita kali ini tidak punya pengacara atau pasukan tentara bayaran."

Di kejauhan, lampu mercusuar terus berputar, menyapu permukaan air yang tak berujung—sebuah tanda bagi dunia bahwa mereka masih ada, namun juga sebuah janji bahwa mereka tidak akan lagi kembali untuk menguasainya.

Tawa Romano mereda, namun pelukannya tidak mengendur. Justru, kehangatan yang tadi terasa protektif kini berubah menjadi sesuatu yang lebih berat dan mendesak. Di ruangan melingkar yang hanya diterangi oleh ritme pendar lampu mercusuar, jarak di antara mereka seolah lenyap.

Mira bisa merasakan napas Romano yang hangat di ceruk lehernya, sebuah sensasi yang memicu getaran halus dari dasar tulang belakangnya. Tangan Romano yang tadinya diam di pinggangnya, kini bergerak perlahan, memetakan lekuk punggung Mira dengan tekanan yang menuntut.

"Misi paling berbahaya," bisik Romano lagi, suaranya kini lebih serak, bergetar rendah tepat di telinga Mira. "Dan aku tidak berniat menundanya sampai besok."

Mira mendongak, menatap mata Romano yang berkilat di bawah cahaya kuning redup. Tidak ada lagi bayang-bayang Sektor Tujuh di sana, tidak ada lagi kalkulasi dingin seorang CEO. Yang ada hanyalah rasa lapar yang sudah lama ditekan di bawah beban tanggung jawab dunia.

Mira menarik kerah kemeja Romano, membawa pria itu lebih dekat hingga dada mereka bersentuhan erat. "Laut di luar sana sangat berisik, Romano," ucap Mira dengan suara yang nyaris hilang, "tapi aku hanya ingin mendengar suaramu malam ini."

Jari-jari Romano menyusup ke rambut Mira, menariknya lembut ke belakang untuk membuka akses sepenuhnya pada leher dan bahunya. Ciuman pertama Romano mendarat di sana—panas, basah, dan penuh dengan kepemilikan yang sudah lama tertunda. Mira mengerang pelan, tangannya meremas kain kemeja Romano, mencari pegangan saat lututnya terasa lemas.

Di tengah kesunyian pesisir yang terisolasi, di puncak menara yang menjadi saksi bisu pelarian mereka, segala bentuk pertahanan terakhir runtuh. Tidak ada lagi rahasia korporat, tidak ada lagi kode etik, hanya ada dua tubuh yang saling merindukan dalam cara yang paling primitif dan jujur.

Romano mengangkat Mira dengan mudah, mendudukkannya di atas meja kayu tua di samping teleskop kuningan. Peta-peta tua dan botol surat tersingkir, memberikan ruang bagi mereka untuk benar-benar bersatu. Cahaya mercusuar yang berputar menyapu ruangan setiap beberapa detik, memperlihatkan sekilas kulit yang bersentuhan sebelum kembali menenggelamkan mereka dalam bayang-bayang yang intim.

Malam itu, mereka tidak lagi menulis sejarah tentang kekuasaan. Di atas tebing karang yang dihantam ombak, mereka menulis ulang arti kepemilikan melalui sentuhan, napas yang memburu, dan gairah yang akhirnya menemukan tempat untuk meledak tanpa perlu takut pada dunia yang mengawasi.

Lampu mercusuar terus berputar, namun bagi Mira dan Romano, pusat semesta malam itu hanyalah ruang sempit di puncak menara tersebut.

Napas Mira masih memburu, tersenggal di antara sisa-sisa adrenalin dan kehangatan yang perlahan mengendap. Ia menyandarkan keningnya di bahu Romano yang lembap oleh keringat, mendengarkan detak jantung pria itu yang perlahan mulai kembali ke ritme normalnya. Cahaya kuning mercusuar menyapu ruangan itu lagi, menyingkap sekilas kulit mereka yang masih bersentuhan sebelum kegelapan kembali menelan mereka.

"Kau tahu," bisik Romano, jemarinya masih membelai garis punggung Mira dengan gerakan malas yang posesif, "semua kemewahan di Jakarta tidak ada yang bisa menandingi keheningan ini."

Mira tertawa kecil, suara serak yang terdengar begitu puas. Ia menarik diri sedikit untuk menatap wajah Romano dalam kegelapan yang remang. "Maksudmu, kau tidak merindu kasur sutra dan pendingin ruangan yang sempurna?"

"Aku merindukanmu yang seperti ini," jawab Romano jujur, tangannya berpindah untuk menangkup pipi Mira. "Tanpa baju zirah korporat, tanpa rencana cadangan. Hanya kau."

Mira meraih tangan Romano, mengecup telapak tangannya yang kasar karena pekerjaan fisik beberapa bulan terakhir. "Dulu, setiap kali kita bersentuhan, aku selalu merasa ada mata yang mengawasi. Satelit, penyadap, atau sekadar ketakutan akan kelemahan kita sendiri. Di sini... aku merasa benar-benar telanjang, dan itu tidak menakutkan lagi."

Romano menarik Mira kembali ke dalam pelukannya, menyelimuti tubuh wanita itu dengan kemejanya yang sudah tak beraturan. "Mungkin itu sebabnya ibumu ingin kita di sini. Bukan untuk menjaga laut, tapi untuk belajar bahwa kita tidak perlu menjaga apa pun lagi."

Mereka terdiam sejenak, hanya ada suara deru ombak di bawah tebing yang menjadi musik latar alami. Radio panggil di sudut ruangan masih membisu, sebuah kotak hitam yang kini terasa tidak relevan. Dunia mungkin sedang berubah di Sektor Tujuh, rahasia purba mungkin sedang bangkit, tapi di puncak menara ini, waktu seolah berhenti.

"Besok," kata Mira pelan, matanya mulai terasa berat oleh kantuk yang paling damai yang pernah ia rasakan, "kita benar-benar harus memperbaiki atap itu."

Romano mengecup puncak kepala Mira, senyumnya tersembunyi di balik kegelapan. "Besok. Setelah kita melihat matahari terbit dari sini. Untuk pertama kalinya, kita tidak perlu bangun untuk menaklukkan dunia, Mira. Kita hanya perlu bangun untuk hidup di dalamnya."

Lampu mercusuar terus berputar, ritme yang tetap dan tenang, menjaga mereka dalam lingkaran cahaya yang tidak akan pernah padam oleh intrik manusia mana pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!