NovelToon NovelToon
Rian Sang Anomali Sihir

Rian Sang Anomali Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain
Popularitas:69
Nilai: 5
Nama Author: alghazalibms 19980223

Hidupku sedang berada di titik terendah. Menganggur selama enam bulan dan baru saja ditinggalkan tunanganku membuat masa depan terasa gelap. Namun sebuah pertemuan sederhana dengan penjual kopi di pinggir jalan malam itu sedikit mengubah cara pandangku tentang hidup. Aku pikir masalahku sudah cukup berat—sampai akhirnya sesuatu yang jauh lebih aneh dan mustahil terjadi. Ketika aku terbangun di tempat asing dan secara tak sengaja membangkitkan seorang wanita bangsawan dari kematian, hidupku yang biasa berubah menjadi awal dari perjalanan misterius di dunia yang sama sekali tidak kukenal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alghazalibms 19980223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Garis yang Terlampaui

Keputusan untuk menerima tawaran Maharani itu terpaksa. Aku tahu ini bukan kemerdekaan, hanya pertukaran satu jenis sangkar dengan yang sedikit lebih luas. Dan di balik kata-kata "adil" dan "kerja sama" itu, aku bisa merasakannya: kepercayaan Maharani padaku masih tipis, hampir transparan. Dia belum puas. Dia masih melihatku sebagai teka-teki yang berbahaya, sebuah alat yang belum tahu cara menggunakannya, jadi dia menyimpanku di tempat aman sambil mencoba mempelajari manualnya—manual yang tidak ada.

Esok harinya, dua pengawal yang tidak bicara banyak datang ke kamarku. "Waktunya pindah, Tuan Rian." Mereka membawaku dan Eveline menyusuri koridor baru, naik turun tangga spiral, hingga akhirnya sampai di sebuah sayap istana yang jelas lebih sepi. Udara terasa lebih dingin di sini.

Menara Utara. Dari luar jendela koridor, aku bisa melihatnya—menara batu tinggi dengan beberapa jendela kecil. Terisolasi, persis seperti yang dikatakan Maharani.

Pintu kayu besar menara itu terbuka. Di dalam, sebuah ruang penerimaan kecil yang bersih tapi sederhana menyambut. Dan berdiri di sana, berjejer, adalah lima wanita muda—para pelayan atau "maid" yang ditugaskan untuk melayaniku.

Dan mereka... cantik. Beragam. Satu berambut hitam lurus dengan mata tajam, satu pirang dengan wajah lembut, satu berambut cokelat keriting dengan bintik-bintik di hidung, dan dua lainnya dengan ciri khas ras campuran yang sulit kugambarkan. Pakaian mereka seragam, gaun hitam sederhana dengan apron putih, tapi itu tidak menyembunyikan kecantikan alami mereka.

Refleks bodohku bekerja sebelum otakku. "Wah, pelayannya cantik-cantik ya," keluar begitu saja, dengan nada kagum yang polos.

Seketika, seluruh suasana berubah.

Wajah-wajah cantik itu tidak tersipu atau tersenyum. Sebaliknya, mereka berkerut dengan kejijikan yang sangat nyata dan dalam. Mata yang tadinya mungkin penuh rasa ingin tahu atau ketakutan, kini dipenuhi dengan kebencian dan penghinaan.

Yang berambut hitam, yang tampaknya paling senior, melangkah maju. Bibirnya yang merah menyunggingkan senyum sinis yang dingin. "Jangan pernah berpikir untuk mendekati kami, Anomali," desisnya, seolah kata 'anomali' itu adalah kotoran. "Kami di sini hanya karena perintah Yang Mulia. Bukan untuk menjadi hiburan mata kotor seperti dirimu."

Yang pirang menambahkan, suaranya lebih tinggi penuh cemooh, "Iya. Lihat dirimu sendiri. Penuh bekas luka, bau seperti tanah dan asing. Dan kekuatanmu itu... menjijikkan. Membangkitkan orang mati? Itu tidak suci. Kamu adalah noda di istana yang suci ini."

Rambut cokelat keriting menyelesaikan dengan tatapan mengejek dari ujung kepala sampai ujung kakiku, "Kami melayani karena terpaksa. Tapi jangan harap akan ada senyuman atau pelayanan hangat dari kami. Kami lebih baik menyentuh bangkai di rumah sakit daripada terkena napasmu."

Sakit. Tapi anehnya, bukan sakit karena dicaci. Tapi karena kesia-siaan. Mereka bahkan tidak mengenalku. Mereka hanya mendengar cerita, melihatku sebagai monster, dan langsung memutuskan untuk membenciku dengan segenap jiwa wanita mereka yang terlatih dalam seni menyakiti dengan kata-kata.

Awalnya aku ingin marah. Tapi lalu sebuah ide gila muncul. Jika mereka sudah membenciku tanpa alasan, jika mereka melihatku sebagai monster yang menjijikkan... kenapa tidak bermain peran itu? Ini mungkin justru hiburan kecil di tengah kesepian menara ini. Dan yang lebih penting, ini akan membuat mereka menjauhiku, yang artinya lebih sedikit masalah.

Aku menghela napas dramatis, lalu membuat ekspresi pura-pura terluka yang berubah menjadi senyuman tipis yang agak menyeramkan—setidaknya, itulah yang kuharapkan.

"Kata-kata kalian..." aku mulai, suara dibuat rendah dan bergetar pura-pura. "Sakit. Tapi tahukah kalian? Itu tidak ada apa-apanya dibanding rasa sakitku dulu." Aku menatap mereka satu per satu, mencoba terlihat kosong dan mengancam. "Di duniaku, aku dihina, direndahkan, sampai tidak ada lagi air mata yang keluar. Dan lihatlah sekarang... aku punya kekuatan yang bahkan para dewa takuti."

Aku melangkah mendekat sedikit. Mereka mundur serempak, wajah pucat tapi masih penuh kebencian.

"Dan tentang membangkitkan orang mati..." aku teruskan, suara sekarang jadi berbisik mengerikan. "Kalian pikir itu menjijikkan? Bagaimana jika kubangkitkan salah satu dari kalian nanti, setelah kalian mati tua dan jelek? Aku bisa mengembalikan kalian muda dan cantik seperti sekarang... tapi tanpa jiwa. Hanya boneka yang patuh. Bayangkan, boneka cantik yang bisa kuperintah melakukan... apa saja."

Aku sengaja memberi jeda, membiarkan imajinasi mereka yang sudah dipenuhi ketakutan bekerja. "Mungkin jadi boneka seks yang sempurna, ya? Patuh, tidak pernah mengeluh, tidak pernah memandangku dengan jijik seperti sekarang..."

Efeknya langsung. Kejijikan itu meledak menjadi kemarahan dan ketakutan yang hampir histeris.

"KAU MONSTER TIDAK BERMANUSIAWI!" teriak si rambut hitam, wajahnya merah padam.

"Lebih baik aku mati daripada disentuh oleh kekuatan kotormu!" jerit yang pirang, matanya berkaca-kaca sekarang—campuran marah dan takut.

"Kau bukan hanya anomali, kau adalah setan! Iblis paling rendah!" tambah yang lain, suaranya bergetar.

Mereka memandangku sekarang dengan kebencian yang begitu murni dan dalam, seolah aku adalah inkarnasi dari segala kejahatan. Tatapan jijik mereka seperti bisa membakar kulit.

Dan di tengah segala cacian itu... aku justru merasa lega. Dan entah kenapa, sebuah tawa pendek dan getir meledak dari mulutku. "Hah... haha... bagus. Pertahankan kebencian kalian itu. Itu akan membuat segalanya lebih mudah."

Aku tidak menunggu respon mereka lagi. Aku berbalik, meninggalkan mereka yang masih gemetar dan berbisik-bisik penuh kebencian, dan berjalan menuju tangga spiral yang menuju ke kamar pribadiku di lantai atas menara. Eveline mengikutiku dengan langkah tenang.

Dari belakang, masih kudengar bisikan terakhir yang penuh racun: "Semoga dia tersiksa di menara ini sendiri..." "Semoga Yang Mulia segera menyingkirkannya..."

Aku memasuki kamar baruku—lebih kecil dari kamar tamu sebelumnya, tapi masih layak. Ada tempat tidur, meja, dan perapian. Jendela kecil menghadap ke taman tertutup di bawah dan tembok istana yang jauh.

Aku duduk di tepi tempat tidur. Bermain peran sebagai monster tadi melelahkan. Tapi setidaknya, sekarang para pelayan itu akan benar-benar menjauhiku. Tidak akan ada upaya meracuni makanan karena takut? Mungkin. Tidak akan ada pengkhianatan dari dalam karena mereka terlalu takut dan benci untuk mendekat. Itu bagus.

Tapi di balik itu, ada rasa kesepian yang lebih dalam yang menggerogoti. Di pulau, meski sulit, ada Ratri yang memahami, ada orang-orang yang belajar mempercayaiku. Di sini? Aku hanya punya Eveline, dan sekelompok wanita yang membenciku sampai ke tulang sumsum.

Hidup di istana sebagai "Anomali" ternyata lebih menyendiri daripada hidup sebagai pengungsi di pulau terpencil. Dan untuk sementara, sepertinya itulah takdirku: dibenci, ditakuti, dan disimpan di menara tinggi, sambil menunggu secercah informasi tentang jalan pulang yang mungkin tidak pernah datang.

 Malam di menara itu sunyi. Terlalu sunyi. Hanya suara angin yang menyelinap melalui celah-celah batu tua dan desis kayu di perapian yang nyaris padam. Aku sedang duduk di meja, mencoba memikirkan apa yang bisa kulakukan di sini selain menunggu, ketika ketukan kasar di pintu bawah memecah kesunyian.

"Hey! Anomali! Makanan!" Suara perempuan, kasar dan tidak sabar. Salah satu maid yang tadi.

Aku menghela napas, turun melalui tangga spiral yang gelap. Di ruang penerimaan kecil, tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah nampan tertutup kain diletakkan di atas meja kayu panjang. Mereka bahkan tidak mau menunggu untuk menyerahkannya langsung.

Aku duduk, menunggu. Mungkin mereka akan membawakan alat makan atau sesuatu. Tapi beberapa menit berlalu, hanya ada keheningan. Akhirnya, aku mendengar langkah kecil, pelan, dan ragu-ragu dari balik pintu menuju dapur kecil di sayap menara.

Pintu itu terbuka perlahan. Yang muncul bukan maid cantik yang penuh kebencian tadi, melainkan seorang gadis kecil. Dia mungkin baru berusia dua belas atau tiga belas tahun, dengan rambut cokelat kusut yang dikepang sederhana, wajahnya bulat dengan bintik-bintik, dan mata cokelat besar yang dipenuhi ketakutan. Dia memegang sebuah kendi air dan seperangkat alat makan sederhana dengan tangan yang jelas-jelas gemetar.

Dia mendekat dengan langkah kecil, matanya tidak berani menatapku langsung, tertuju ke lantai. Dengan gemetar, dia meletakkan kendi dan alat makan di dekat nampanku, lalu berbalik cepat untuk pergi.

"Tunggu," ucapku, suara kuusahakan sesantai mungkin.

Dia membeku, seperti rusa yang ketakutan.

"Kenapa kamu yang mengantarkan? Yang lain tidak ada?"

Gadis itu mengangguk cepat, masih tidak menatap. Suaranya kecil, nyaris seperti bisikan. "M-mereka... tidak mau, Tuan. Kata mereka... lebih baik mati daripada dekat-dekat dengan... dengan Tuan." Dia tercekat, seolah baru menyadari kata-katanya bisa menyinggung.

"Karena omonganku tadi siang?" tanyaku, mencoba bersikap netral.

Dia mengangguk lagi, kali ini sedikit berani melirik ke arahku sebelum cepat-cepat menunduk. "Mereka bilang... Tuan adalah monster haus darah. Bisa membaca pikiran. Bisa mengutuk orang hanya dengan tatapan. Dan... dan bahwa Tuan ingin... ingin menjadikan mereka boneka s-seks tanpa jiwa kalau mereka mati." Kata terakhir itu nyaris tidak terdengar, dipenuhi rasa malu dan ngeri.

Aku mengangguk pelan. Jadi gossip-nya sudah menyebar dan jadi lebih dramatis. Bagus. Tapi melihat gadis kecil ini yang jelas ketakutan setengah mati, hatiku sedikit tersentuh. Dia terlalu muda untuk dibebani kebencian buta seperti itu.

"Duduklah," ucapku, menunjuk kursi di seberang meja. "Ayo makan bersama. Aku tidak bisa menghabisi semuanya sendirian."

Mata gadis itu membelalak, penuh ketakutan yang baru. "T-tidak bisa, Tuan! Aku... aku cuma pelayan rendahan! Dan... dan mereka bilang, kalau makan bersama Tuan, aku bisa kena kutukan, atau... atau Tuan akan memasukkan roh jahat ke makananku!"

Aku mengeluarkan tawa kecil yang kusengaja agar terdengar tidak mengancam. "Kutukan? Roh jahat? Lihat," aku mengambil sepotong roti dari nampan, menggigitnya, dan mengunyah. "Aman, kan? Aku cuma orang lapar seperti yang lain." Aku menunjuk Eveline yang berdiri diam di sudut. "Dan itu Eveline. Dia juga makhluk hidup—semacam—tapi dia tidak pernah mengutuk siapa pun. Cuma patuh."

Gadis itu melirik Eveline, ketakutannya sedikit berkurang digantikan oleh rasa ingin tahu anak kecil. Tapi dia masih ragu.

"Aku tidak akan memaksamu," tambahku, suara lebih lembut. "Tapi suatu hari nanti, kamu akan mengerti sendiri. Bahwa apa yang mereka katakan tentangku... tidak semuanya benar. Bahwa terkadang, monster itu hanya ada di dalam kepala orang yang takut."

Aku mulai makan dengan tenang, memberinya ruang. Gadis itu tetap berdiri di sana, seperti patung yang bingung, memandangiku makan seolah-olah menyaksikan suatu keajaiban aneh—keajaiban bahwa "monster" itu bisa makan roti dan sup dengan cara yang sangat biasa.

Setelah beberapa saat, dengan keberanian yang mungkin datang dari rasa lapar atau penasaran, dia perlahan mendekat, bukan duduk, tetapi berdiri di ujung meja. "N-nama aku Lina, Tuan," bisiknya tiba-tiba.

"Rian," balasku sambil menelan. "Senang bertemu, Lina."

Dia diam lagi, lalu tiba-tiba bertanya, polosnya khas anak kecil, "B-benarkah Tuan bisa membangkitkan orang mati? Seperti... seperti dia?" Dia menunjuk Eveline.

"Aku bisa," jawabku jujur. "Tapi aku tidak suka melakukannya."

"Kenapa?"

"Karena... itu seperti mengambil sesuatu yang bukan hakmu. Kematian itu seharusnya akhir. Mengganggunya... terasa salah."

Lina memandangku, dan untuk pertama kalinya, ketakutan di matanya bercampur dengan kebingungan yang tulus. "Tapi... tapi mereka bilang Tuan jahat dan suka melakukan hal itu."

"Aku tahu," aku menghela napas. "Dan mungkin lebih baik mereka terus berpikir begitu."

Aku tidak menjelaskan lebih lanjut. Biarlah waktu yang menunjukkan. Lina akhirnya pergi setelah aku selesai makan, masih dengan langkah hati-hati, tapi mungkin dengan satu atau dua pertanyaan lebih sedikit di kepalanya daripada hanya kebencian buta.

Malam itu, sambil memandang api di perapian, aku berpikir. Di menara yang terisolasi ini, dikelilingi kebencian dan ketakutan, mungkin justru dari seorang gadis kecil polos seperti Lina-lah aku bisa mendapatkan sedikit interaksi manusia yang normal—atau setidaknya, tidak beracun. Dan itu adalah kenyamanan kecil yang tak terduga di tengah segala kekacauan yang menyelimuti keberadaanku di istana ini.

 Pagi di Menara Utara terasa berbeda. Biasanya, meski penuh kebencian, ada aktivitas—suara langkah kaki para maid yang sengaja dibuat keras, suara mereka berbisik-bisik penuh cemooh dari balik pintu dapur, atau setidaknya suara Lina kecil yang gemetar mengantarkan sarapan.

Hari ini, sunyi.

Aku bangun lebih lambat dari biasa karena tak ada yang membangunkan. Saat turun ke ruang penerimaan, tak ada nampan makanan. Tak ada siapa-siapa. Hanya Eveline yang berdiam di sudut, matanya biru pucat menatapku.

“Mereka benar-benar mogok, ya?” gumamku pada Eveline, yang tentu saja tak menjawab. “Atau mungkin Maharani memanggil mereka untuk sesuatu?”

Aku memutuskan untuk tak terlalu dipusingkan. Mungkin ini bagus. Tak ada yang mengganggu. Aku keluar ke taman tertutup di dalam kompleks menara, area kecil berpagar tinggi yang menjadi satu-satunya tempatku ‘bebas’. Matahari pagi hangat menyentuh kulit. Aku duduk di bangku batu, menutup mata, berusaha menikmati ketenangan yang langka ini. Eveline berdiri beberapa langkah di belakangku, diam seperti patung penjaga.

Waktu berlalu. Semakin siang, semakin aneh rasa di hati. Bukan cuma sepi. Tapi… kosong. Seperti ada yang hilang. Biasanya, setidaknya aku bisa mendengar suara mereka membersihkan di lantai bawah, atau melihat bayangan mereka lewat jendela dapur. Hari ini, benar-benar tak ada.

“Eveline,” panggilku, tetap dengan mata terpejam. “Kau dengar sesuatu?”

“Tidak, Tuanku. Hanya angin dan burung,” jawabnya datar.

Aku menghela napas. Mungkin aku terlalu paranoid. Mereka memang membenciku. Mungkin mereka sengaja menghilang agar tak harus berurusan denganku. Atau mungkin ada rapat staf istana. Ya, pasti begitu.

Tapi naluri kotaku yang terlatih membaca pola mulai berdetak. Ini terlalu sunyi. Bahkan untuk sebuah pemboikotan.

Aku berdiri. “Ayo kita periksa.”

Kami memeriksa setiap ruang di menara. Dapur kecil—kosong, tapi ada sisa persiapan makanan yang terhenti mendadak: sayuran setengah potong, panci berisi air yang nyaris mendidih kini dingin. Ruang penyimpanan—kosong. Kamar-kamar maid di lantai bawah—kosong, tempat tidur rapi seperti tak pernah disentuh. Bahkan kamar mandi kecil untuk staf—kosong.

“Mereka pergi semua,” ucapku, suara jadi rendah. “Tapi… kenapa?”

Lina kecil. Kemarin malam dia masih ada. Dia bahkan memberanikan diri bicara. Apakah dia ikut pergi? Atau…

Tiba-tiba, angin pagi membawa sesuatu. Aroma yang samar, tapi menusuk naluri primitifku. Bau besi. Bau logam yang tajam dan manis sekaligus.

Darah.

Jantungku berdebar kencang. “Eveline. Mode waspada.”

Mata Eveline langsung berpendar biru terang, tubuhnya masuk ke posisi siaga. Aku mengikuti bau itu, pelan-pelan, seperti berburu. Bau itu berasal dari pintu kecil di ujung koridor lantai bawah—pintu yang selalu terkunci, yang kuduga adalah gudang peralatan kebun.

Pintu itu… terbuka sedikit.

Dengan hati yang berdebar kencang, kudorong perlahan. Pintu berderit.

Gudang itu gelap, jendela kecil tertutup. Tapi seberkas sinar matahari menembus celah, menyinari lantai batu.

Dan di sana.

Potongan-potongan.

Bukan mayat utuh. Tapi bagian-bagian tubuh manusia yang terpotong rapi, ditata seperti barang dagangan di pasar daging. Kaki, tangan, torso… dan di ujung, kepala.

Kepala itu menghadap ke pintu. Mata terbuka lebar, kosong, masih menyisakan bekas ketakutan yang membeku. Rambut cokelat kusut yang kemarin masih dikepang. Wajah bulat dengan bintik-bintik. Lina.

Dunia berhenti. Napasku tersangkut di tenggorokan. Dingin yang bukan dari udara merambat dari ujung kaki ke ubun-ubun. Aku berdiri membeku, mata tak bisa lepas dari pemandangan mengerikan itu. Pikiranku kosong putih, lalu dipenuhi oleh suara berisik yang tak karuan—teriakan, sumpah, ratapan—tapi semua teredam, seperti dari balik kaca tebal.

Eveline bergerak maju, menghalangi pandanganku sebagian, tubuhnya tegang siap menyerang apa pun yang muncul. Tapi tak ada apa-apa. Hanya kematian yang sunyi dan terpotong-potong.

Lambat laun, rasa mual yang mendalam naik dari perut. Tapi lebih dari itu, ada sesuatu yang lebih dingin, lebih gelap, yang menggantikan rasa horror awal. Sebuah penerimaan yang pahit. Jadi begini. Mereka tak cuma membenci. Mereka mau menghancurkan. Dan mereka memulai dari yang paling lemah, yang sedikit saja menunjukkan kelembutan padaku.

Lina kecil, yang kemarin masih gemetar membawakan alat makan, yang matanya masih penuh pertanyaan polos tentang benar tidaknya aku monster.

Sekarang dia hanya potongan daging dan tulang.

Aku menutup mata, menarik napas dalam-dalam. Emosi harus dikubur. Sekarang bukan waktunya untuk marah atau sedih. Sekarang waktunya untuk bertindak. Dan untuk bertindak… aku harus melangkahi garis yang selama ini kujaga.

“Tutup pintu, Eveline,” suaraku terdengar datar, bahkan di telingaku sendiri. “Jaga jangan sampai ada yang masuk.”

Eveline mematuhi. Aku mendekati potongan-potongan tubuh Lina. Aku berlutut di lantai batu yang dingin, di antara genangan darah yang sudah mulai mengering dan berbau.

Ini kedua kalinya. Dengan Gwyneth, aku melakukannya karena terpaksa, karena ancaman. Kali ini… kali ini karena sesuatu yang lain. Karena rasa bersalah? Karena keinginan untuk mengoreksi sebuah ketidakadilan yang keji? Atau sekadar karena aku tak tahan melihat seseorang yang polos dan tak bersalah berakhir seperti ini?

Aku tak tahu. Yang kutahu, aku tak bisa membiarkannya seperti ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!