seorang gadis muslimah Shafira Azzahra 25 tahun yang taat, tinggal dengan orang tuanya dan seorang adik laki yang masih SMA. Ayahnya seorang tukang bersih di rumah Dave dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Dave 30 tahun adalah CEO kaya raya, arogan dan antipati dengan wanita yang berhijab. Pertemuan mereka di perusahaan Dave yaitu Mahesa grup. Shafira adalah karyawan di perusahaan itu di divisi keuangan. Dave diminta untuk mencari istri tapi blm ada yang cocok. Orang tuanya selalu mendesak. Dave tidak terlalu paham agama nya meskipun dia adalah muslim. Karena jarang di ajarkan orng tuanya yang sibuk berbisnis. Dave datang di perusahaan itu untuk menggantikan ayahnya yang sdh ingin istirahat. Sebelumnya Dave memimpin perusahaan di luar negeri. Dave tidak suka melihat karyawannya yg berhijab. Menurut dia semua wanita sama hanya menyukai uang. Dia ingin Shafira menanggalkan hijabnya jika msh ingin bekerja di perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Malolo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Runtuhnya Keangkuhan
Pintu jati besar itu tertutup dengan debuman keras, menyisakan kesunyian yang mencekam di ruangan kerja Bu Sarah. Dave Mahesa berdiri mematung, menatap pintu yang baru saja dilewati Shafira. Kata-kata gadis itu masih terngiang, bergetar di udara seperti guntur yang menyambar di siang bolong.
“Saya tidak ingin bekerja di tempat di mana kebaikan dianggap sebagai ancaman.”
“Dave, duduk. Jangan pasang wajah seperti itu pada Mamamu,” suara Bu Sarah memecah keheningan. Ia kembali menyesap tehnya, seolah baru saja menyelesaikan transaksi bisnis kecil yang tidak berarti.
Dave perlahan menoleh. Matanya yang biasanya dingin kini menyala oleh kemarahan yang tertahan. “Apa Mama sadar apa yang baru saja Mama lakukan? Mama bukan hanya menghina Shafira. Mama menghina kejujuran yang selalu Ayah agung-agungkan di perusahaan ini.”
“Kejujuran?” Bu Sarah tertawa sinis. “Dave, bangunlah. Gadis itu hanya bermain peran. Dia tahu kau kaya, dia tahu kau lemah terhadap cerita-cerita kemiskinan. Dia menggunakan hijabnya untuk menjebak empatimu. Mama hanya mempercepat prosesnya agar kau tidak terjerumus lebih dalam.”
“Dia tidak butuh uang Mama!” bentak Dave, suaranya menggelegar hingga ke lorong luar.
“Aku melihatnya sendiri, Ma. Di tempat kumuh itu, dia memberikan segalanya yang dia punya untuk anak-anak yang bahkan tidak bisa mengeja namanya. Sementara kita? Kita duduk di atas kursi beludru ini sambil menghakimi orang yang bahkan tidak punya alas kaki.”
Dave menyambar kunci mobilnya di atas meja. Tanpa sepatah kata lagi, ia melangkah keluar. Ia tidak peduli dengan panggilan ibunya yang histeris. Ia tidak peduli dengan pandangan bingung para karyawan di lobi. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal: ia harus mencegah Shafira pergi. Bukan hanya karena perusahaan membutuhkannya, tapi karena ada sesuatu di dalam diri Dave yang merasa akan ikut mati jika gadis itu benar-benar menghilang dari hidupnya.
Di lantai divisi keuangan, suasana mendadak sunyi saat Shafira mengemasi barang-barangnya ke dalam kardus kecil. Tidak ada printer yang berbunyi, tidak ada suara ketikan keyboard. Rekan-rekannya menatap dengan mata berkaca-kaca. Selama tiga tahun, Shafira adalah jiwa dari ruangan itu. Dialah yang selalu mengingatkan waktu salat, dialah yang paling teliti menjaga uang perusahaan seolah itu adalah hartanya sendiri.
“Shaf, kamu beneran mau pergi?” Riana memegang tangan Shafira, air matanya tumpah.
Shafira tersenyum, meski bibirnya bergetar. “Kadang kita harus kehilangan sesuatu untuk menjaga sesuatu yang lebih besar, Ri. Doakan aku, ya.”
Tepat saat Shafira akan melangkah menuju lift, sosok Dave muncul. Napasnya tersengal, dasinya sedikit miring—pemandangan yang mustahil terlihat pada seorang Dave Mahesa yang perfeksionis.
“Shafira, berhenti!”
Langkah Shafira terhenti, namun ia tidak berbalik. “Surat pengunduran diri saya akan saya kirim melalui pos, Pak Dave. Saya rasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan.”
Dave berjalan mendekat, mengabaikan puluhan pasang mata yang menonton.
“Aku minta maaf. Atas nama ibuku, atas nama perusahaan... aku minta maaf.”
Shafira perlahan berbalik. Matanya merah, namun tetap teduh. “Maaf Bapak saya terima. Tapi harga diri ayah saya tidak bisa dibeli dengan kata maaf, apalagi dengan cek yang diletakkan di atas meja seperti sedekah yang dipaksakan. Saya tidak bisa bekerja untuk orang yang menganggap keberadaan keluarga saya sebagai noda bagi citra mereka.”
“Aku akan memperbaikinya,” bisik Dave, suaranya parau. “Jangan pergi. Ayahku... Ayahku akan sangat kecewa jika tahu kau pergi karena urusan ini.”
“Pak Devan adalah orang baik. Dan karena kebaikannya pulalah, saya memilih pergi agar tidak menjadi penyebab keributan di antara kalian,” ujar Shafira final. Ia masuk ke dalam lift yang terbuka. Sebelum pintu tertutup, ia menatap Dave untuk terakhir kalinya. “Tuan Dave, harta bisa membangun gedung tinggi, tapi hanya iman yang bisa membangun kedamaian. Saya harap Bapak menemukannya suatu hari nanti.”
Ting. Pintu lift tertutup. Dave memukul dinding lift dengan kepalan tangannya. Ia merasa seperti pecundang di tengah istananya sendiri.
Sore itu, Shafira pulang dengan beban yang amat berat. Bagaimana ia harus mengatakannya pada Pak Rahman? Ayahnya sangat mencintai pekerjaannya di kediaman Mahesa. Jika Shafira berhenti dengan cara seperti ini, posisi ayahnya pun terancam.
Saat sampai di rumah, ia melihat ayahnya sedang duduk di teras, membersihkan sepatu bot karetnya yang penuh lumpur. Wajah tua itu nampak sangat lelah, namun senyumnya mengembang saat melihat putrinya.
“Sudah pulang, Nduk? Kok bawa kardus?” tanya Pak Rahman heran.
Shafira berlutut di depan ayahnya, meletakkan kepalanya di pangkuan pria tua itu. Pertahanannya runtuh. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
“Ayah... Shafira berhenti kerja,” bisiknya di sela tangis.
Tangan Pak Rahman yang kasar dan penuh kapalan mengelus lembut jilbab putrinya. Tidak ada nada terkejut, tidak ada kemarahan. Hanya ketenangan seorang ayah yang sudah kenyang makan asam garam kehidupan.
“Apa karena Tuan Muda? Atau karena Ibu Sarah?” tanya Pak Rahman pelan.
Shafira mendongak, terkejut. “Ayah tahu?”
Pak Rahman menghela napas panjang. “Tadi siang, saat Ayah sedang memangkas rumput di dekat jendela ruang kerja, Ayah mendengar semuanya, Shafira. Suara Ibu Sarah sangat keras. Ayah ingin masuk, tapi Ayah tahu itu bukan tempat Ayah.”
“Maafkan Shafira, Yah. Gara-gara Shafira, mungkin besok Ayah juga akan dilarang masuk ke rumah itu,” ujar Shafira penuh penyesalan.
Pak Rahman terkekeh kecil, sebuah tawa yang sarat akan keikhlasan. “Nduk, dengar Ayah. Ayah jadi tukang kebun bukan supaya kamu bisa dihina. Ayah bekerja supaya kamu punya ilmu untuk menjaga kehormatanmu. Jika hari ini kamu keluar karena menjaga iman dan harga diri keluarga, maka Ayah adalah orang paling bangga di dunia ini. Soal rezeki? Allah tidak pernah menitipkan kunci rezeki kita di kantong baju Ibu Sarah atau Tuan Dave. Allah yang pegang kuncinya.”
Mendengar itu, hati Shafira terasa sejuk. Ia memeluk ayahnya erat-erat. Di rumah sederhana itu, di bawah lampu bohlam yang redup, mereka menemukan kekayaan yang tidak akan pernah bisa dipahami oleh orang-orang seperti Dave Mahesa.
Malam harinya, Dave Mahesa tidak pulang ke rumahnya. Ia mengemudikan mobilnya tanpa tujuan, hingga tanpa sadar ia kembali ke depan gang menuju "Rumah Belajar Cahaya Iman". Ia mematikan mesin mobil dan duduk di sana dalam kegelapan.
Ia melihat ke arah bangunan tua itu. Sunyi. Namun di kepalanya, ia masih bisa melihat Shafira yang sedang tertawa bersama anak-anak. Ia teringat kata-kata Shafira: “Di sini, uang tidak punya kuasa.”
Tiba-tiba, ponselnya berdering. Nama ayahnya, Pak Devan, muncul di layar.
“Halo, Yah?”
“Dave,” suara Pak Devan terdengar berat dan penuh wibawa, namun ada nada kekecewaan di sana. “Aku baru saja mendengar apa yang terjadi dari ibumu. Dia bangga karena berhasil mengusir 'benalu', begitu katanya.”
Dave terdiam, menunggu kemarahan ayahnya.
“Besok pagi,” lanjut Pak Devan, “kau bawa kembali Shafira ke perusahaan. Jika tidak, aku sendiri yang akan turun tangan. Dan Dave... jika kau kehilangan gadis itu, kau bukan hanya kehilangan karyawan terbaik. Kau kehilangan satu-satunya kesempatanmu untuk belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.”
Telepon ditutup. Dave menyandarkan kepalanya di kemudi. Di kegelapan malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Dave Mahesa merasakan setitik air mata jatuh di pipinya. Ia merindukan sesuatu yang ia sendiri tidak tahu apa, dan ia merasa Shafira adalah satu-satunya jawaban.
.