NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Kekacauan di Galuhwati

Debu jalanan Kerajaan Galuhwati terasa lebih menyesakkan daripada debu di Astagina.

Jika Astagina adalah kerajaan yang tertib namun penuh kemunafikan di balik jubah emas para pejabatnya, maka Galuhwati adalah gambaran nyata dari sebuah neraka yang sedang membara.

Sejak perang saudara pecah antara sang Raja Tua dengan adiknya yang ambisius, hukum seolah menguap begitu saja.

Di sepanjang jalan menuju ibu kota Galuhwati, Wira Wisanggeni dan Sekar Arum hanya melihat desa-desa yang hangus dan ladang-ladang yang telantar.

Wira berjalan dengan langkah gontai, caping bambunya kini sudah penuh dengan tambalan daun jati kering.

Di bahunya, Tongkat Pemutus Takdir tersampir dengan santai, mengayun mengikuti irama langkahnya. Meski keadaan di sekitarnya begitu menyedihkan, wajah Wira tetap menampakkan ekspresi konyolnya yang khas.

"Kak Sekar, kau dengar itu? Perutku sedang melakukan nyanyian tingkat tinggi. Rasanya dia sedang menuntut hak asasi untuk segera diisi ubi," keluh Wira sambil memegangi perutnya yang keroncongan.

Sekar Arum, yang kini mengenakan pakaian perjalanan pria untuk menyamarkan kecantikannya, hanya bisa menghela napas panjang.

"Wira, kita berada di zona perang. Mencari air bersih saja sulit, kau malah memikirkan ubi. Fokuslah, kita sudah memasuki wilayah yang dikuasai oleh faksi pemberontak pangeran muda." ucap Sekar dengan lemas.

"Justru karena perang, Kak, kita harus makan banyak. Kalau mati dalam keadaan lapar, nanti di alam sana aku tidak bisa pamer pada Guru kalau aku sudah jadi pendekar yang makmur," sahut Wira asal-asalan membuat Sekar hanya mampu menggelengkan kepalanya.

Langkah mereka terhenti di sebuah desa kecil yang tampak sedikit lebih hidup dibandingkan desa-desa sebelumnya.

Di tengah desa itu, terdapat sebuah kedai sederhana dengan papan kayu bertuliskan "Kedai Ubi Mak Itam".

Melihat itu, mata Wira seketika berbinar bagaikan menemukan tumpukan emas dewa.

"Lihat! Takdir memang tidak pernah meninggalkan perutku!" seru Wira sambil berlari kecil menuju kedai tersebut.

Sekar hanya bisa mengikuti dari belakang dengan tangan yang tetap waspada di gagang pedang pendeknya. Ia merasakan aura yang tidak enak di desa ini.

Banyak mata yang mengawasi dari balik jendela-jendela rumah yang tertutup rapat. Aura ketakutan dan kebencian bercampur menjadi satu, menciptakan hawa yang sangat berat bagi praktisi kanuragan sepertinya.

Di dalam kedai, hanya ada seorang wanita tua dengan rambut memutih yang sedang sibuk membolak-balik ubi di atas bara api. Selain itu, ada empat orang pria bertubuh kekar dengan pakaian kulit hitam yang sedang minum tuak di pojok ruangan.

Di dada mereka, tersemat lencana perak berbentuk taring serigala, lambang dari pasukan bayaran Serigala Padang Rumput yang terkenal kejam di wilayah Galuhwati.

"Mak Itam! Tolong ubi bakarnya lima... ah tidak, sepuluh biji yang paling besar! Dan air kelapa dua batok ya!" seru Wira sambil duduk di kursi kayu yang reyot.

Mak Itam menatap Wira dengan pandangan kasihan.

"Bocah, sebaiknya kau ambil dua ubi saja dan segera pergi. Tempat ini bukan untuk anak-anak sepertimu." ungkap Mak Itam dengan tulus.

"Kenapa begitu, Mak? Apa ubinya ada racunnya? Wah, kalau ada racunnya malah bagus, bisa buat latihan kekebalan perutku," jawab Wira sambil nyengir, tidak mempedulikan tatapan tajam dari keempat pria di pojok kedai.

Salah satu dari pria itu, yang memiliki luka parut di sepanjang pipi kirinya, berdiri dan berjalan mendekati meja Wira lalu menggebrak meja dengan keras hingga gelas kayu milik Wira terjatuh.

"Oi, Bocah Ingusan! Kau tidak lihat kami sedang minum di sini? Suaramu itu berisik sekali, seperti burung yang terjepit pintu!" bentak pria itu.

Wira mendongak, menatap pria itu dengan wajah polos yang sangat menyebalkan. "Waduh, Paman... maaf ya. Aku tidak tahu kalau suara merduku mengganggu waktu minum Paman. Tapi, Paman tahu tidak? Burung yang terjepit itu biasanya karena pintunya terlalu sempit, sama seperti otak Paman yang sepertinya sempit karena terlalu banyak minum." jawab Wira dengan sindiran tajam.

Kedai itu seketika menjadi sunyi senyap. Mak Itam menjatuhkan penjepit ubinya, sementara Sekar Arum sudah bersiap menarik pedangnya.

Keempat pria Serigala Padang Rumput itu terbelalak tak percaya. Di wilayah ini, bahkan prajurit kerajaan pun berpikir dua kali untuk menyinggung mereka.

"Kau... kau tahu siapa kami?!" geram pria berluka parut itu, tangannya meraih kapak besar yang tersampir di pinggangnya.

"Hmm, biarku tebak," Wira meletakkan jari telunjuknya di dagu, berlagak berpikir keras. "Dari baunya yang mirip kotoran kuda, dan lencana taring itu... apakah Paman adalah anggota perkumpulan 'Anjing Kurap'? Maaf kalau salah menebak ya!" ejek Wira tanpa kenal takut dan ceroboh.

"Mati kau, Bocah!"

Pria itu mengayunkan kapak besarnya ke arah kepala Wira. Gerakannya cukup cepat untuk ukuran manusia biasa, setidaknya ia berada di puncak Ranah Perunggu. Namun bagi Wira, gerakan itu terasa seperti siput yang sedang berjalan di atas lumpur.

Wira tidak bangkit dari kursinya. Ia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan membuat kapak itu menghantam meja kayu hingga terbelah menjadi dua, tepat di tempat kepala Wira berada sedetik yang lalu.

"Wah, Paman! Meja ini kan milik Mak Itam, kenapa dihancurkan? Mak, tolong masukkan harga meja ini ke tagihan Paman ini ya!" seru Wira sambil melompat mundur dengan gerakan jenaka.

Tiga rekan pria itu kini ikut berdiri dan mengepung Wira dan Sekar. Mereka mencabut pedang dan gada berduri masing-masing.

Aura mereka cukup menekan bagi orang awam, namun Wira justru mulai melakukan gerakan pemanasan seperti orang mau senam pagi.

"Kak Sekar, bagian yang tiga itu untuk Kakak ya? Aku mau mengurus Paman yang merusak meja ini, dia berhutang ubi padaku karena membuatku kaget," ucap Wira sambil memegang Tongkat Pemutus Takdirnya.

"Cukup bermain-mainnya, Wira. Selesaikan dengan cepat!" sahut Sekar. Ia bergerak seperti kilat biru.

Sepasang pedang pendeknya berdenting, menangkis gada dan pedang lawan. Sekar telah mencapai Ranah Perak menengah, sehingga menghadapi tiga praktisi Ranah Perunggu bukanlah masalah besar baginya.

Sementara itu, pria berluka parut kembali menyerang Wira.

"Jurus Serigala Mencabik!" teriaknya.

Tangannya bergerak seperti kuku binatang buas, dialiri tenaga dalam yang cukup tajam. Wira hanya tersenyum tipis. Ia memutar tongkat kayu lusuhnya satu kali, lalu menyodokkan ujung tongkatnya ke arah perut pria itu.

Duk!

Hanya sebuah sodokan ringan, namun pria bertubuh besar itu terlempar ke luar kedai, menabrak pagar bambu hingga hancur.

Ia memuntahkan darah segar dan langsung pingsan dengan mata mendelik. Rekan-rekannya yang melihat pemimpin mereka dikalahkan hanya dengan satu sodokan kayu butut langsung ciut nyalinya.

Sekar dengan mudah melumpuhkan mereka, membuat mereka mengerang kesakitan di lantai kedai.

Wira berjalan mendekati Mak Itam yang masih terpaku. "Jadi, Mak... ubi bakarnya bisa ku ambil sekarang? Aku sudah lapar sekali." keluh Wira dengan wajah yang memelas.

Mak Itam dengan tangan gemetar memberikan bungkusan ubi kepada Wira. "Nak... kau bukan orang biasa. Tapi hati-hatilah, kelompok Serigala Padang Rumput itu memiliki pimpinan seorang praktisi Ranah Perak puncak. Dan mereka bekerja untuk utusan dari Kerajaan Astagina yang berada di markas pemberontak di atas bukit sana."

Wira yang sedang mengunyah ubi panas itu terhenti sejenak.

"Utusan dari Astagina? Apakah dia membawa lencana burung elang dengan mata merah, Mak?" tanya Wira, siapa tahu Mak Itam ini tahu dengan apa yang ia tanyakan.

Dan benar saja, Mak Itam mengangguk pelan. "Benar. Dia disebut sebagai Tuan Kalingga Kecil, putra dari seorang Adipati agung di Astagina."

Mata Wira berkilat tajam.

"Mahesa? Apakah dia sudah sampai di sini juga?" batinnya.

Jika Mahesa ada di sini, itu berarti Adipati Kalingga sedang menanamkan pengaruhnya di Galuhwati untuk memperkuat faksi pemberontak, sebuah langkah politik yang berdarah untuk memperluas kekuasaan Astagina.

Wira menelan ubinya, lalu menatap ke arah bukit yang diselimuti kabut gelap di kejauhan. "Kak Sekar, sepertinya rencana makan siang tenang kita batal. Kita punya tamu yang harus dikunjungi."

"Kau gila, Wira? Itu adalah markas utama faksi pemberontak. Ada ribuan prajurit di sana!" protes Sekar.

"Ribuan prajurit berarti ribuan ubi bakar, Kak! Lagipula, aku punya urusan yang belum selesai dengan Panglima sombong itu. Dia belum membayar ganti rugi atas debu yang dia buat di panggung kompetisi kemarin," ucap Wira sambil kembali ke gaya konyolnya.

"Mak Itam, ini untuk membayar ubi dan sisanya untuk memperbaiki kerusakan barusan." ucap Wira sembari memberikan empat keping perak, yang mana itu sangat banyak sekali.

Mak Itam yang melihat itu pun langsung menerimanya dengan tangan gemetar, dan tak henti-hentinya berterimakasih.

"Terimakasih pendekar muda, terimakasih" ucap Mak Itam.

Saat mereka hendak melangkah keluar dari desa, tiba-tiba langit di atas Galuhwati berubah menjadi merah darah.

Gumpalan awan hitam berputar-putar membentuk pusaran raksasa tepat di atas bukit tempat markas pemberontak berada.

Suara raungan yang bukan berasal dari manusia maupun hewan menggema di udara, membuat seluruh penduduk desa jatuh berlutut sambil menutup telinga mereka yang berdarah.

Wira menghentikan langkahnya. Ia merasakan getaran hebat pada Tongkat Pemutus Takdir di tangannya.

Tongkat itu memancarkan cahaya biru redup yang berdenyut selaras dengan raungan dari langit tersebut.

"Ini... ini bukan lagi urusan kerajaan," bisik Wira, wajahnya berubah sangat serius. "Energi ini... sama dengan yang pernah Guru ceritakan. Pintu Alam Iblis mulai terbuka."

Tanpa diduga, dari dalam tanah di tengah desa, tangan-tangan busuk yang hanya menyisakan tulang dan daging menghitam mulai merayap keluar.

Mayat-mayat hidup dengan mata menyala merah muncul dari balik bayang-bayang rumah warga. Jeritan kematian mulai memenuhi udara saat mayat-mayat itu menyerang siapa saja yang ada di depan mereka.

Sekar Arum mencabut pedangnya dengan wajah pucat. "Wira... apa yang terjadi?! Kenapa orang-orang mati ini bangkit?"

Wira menggenggam tongkatnya erat-erat. "Seseorang telah melakukan pengorbanan darah masal di bukit itu. Mereka menggunakan konflik manusia untuk memancing kekuatan dari dimensi bawah. Takdir semesta benar-benar sudah kacau!" jawab Wira menurut apa yang ia tahu.

Wira melompat ke atas atap kedai Mak Itam, matanya menatap tajam ke arah bukit. Di sana, ia melihat sosok bayangan raksasa bersayap yang perlahan terbentuk dari gumpalan awan hitam.

Di bawah bayangan itu, berdiri seorang pemuda dengan zirah emas yang kini telah berubah warna menjadi hitam legam, dia adalah Mahesa.

Namun, Mahesa yang sekarang tidak lagi memancarkan aura manusia, melainkan aura kegelapan yang sangat pekat.

"Ternyata kau benar-benar ingin menjadi dewa dengan cara yang salah, Mahesa," gumam Wira.

Tiba-tiba, sebuah ledakan energi hitam meluncur dari arah bukit, menghantam tepat ke pusat desa.

Wira segera memutar tongkatnya untuk menciptakan perisai energi biru, melindungi Sekar dan kedai Mak Itam.

Namun, ledakan itu hanyalah awal. Dari balik kabut hitam di jalan desa, muncul sosok yang sangat familiar bagi Wira.

Sesosok pria dengan wajah yang separuh membusuk, mengenakan seragam prajurit Astagina tujuh tahun lalu, berjalan perlahan ke arah Wira. Di tangannya, ia memegang sebuah kepala manusia yang masih meneteskan darah.

"Wira... bergabunglah... bersama... kami..." suara mayat itu terdengar seperti gesekan batu makam.

Wira terpaku. Ia mengenali wajah mayat itu. Itu adalah salah satu prajurit yang ia lihat saat pembantaian orang tuanya dulu, prajurit yang seharusnya sudah ia lupakan.

Mengapa mayat dari masa lalunya bisa berada di sini, di kerajaan yang berbeda, dan dalam keadaan seperti ini?

Apakah ini hanya kebetulan, ataukah ada seseorang yang sengaja menarik benang-benang masa lalu Wira untuk menjeratnya ke dalam jurang kegelapan?

Wira mengangkat tongkatnya, cahaya biru di matanya kini bercampur dengan api kemarahan.

"Kak Sekar, bersiaplah. Sepertinya Galuhwati bukan tempat untuk berpetualang, tapi tempat di mana kita harus bertaruh nyawa melawan hantu-hantu masa lalu ini, Hihhh." ucap Wira serius namun dengan akhir kata yang membuat Sekar menghela nafas.

Di tengah kepungan mayat hidup serta langit yang memerah, Wira menyadari sesuatu yang mengerikan yaitu, Tongkat Pemutus Takdir di tangannya kini mulai merespons energi gelap tersebut, seolah-olah kayu suci itu memiliki keterikatan rahasia dengan kegelapan yang sedang bangkit.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!