Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Dinding-Dinding Kemandirian
Pagi pertama di apartemen studio daerah Tebet itu terasa sangat berbeda bagi Hana. Tidak ada suara teriakan Aris yang menuntut kopi panas, tidak ada denting piring yang sengaja dikeraskan oleh ibu mertuanya sebagai kode agar Hana segera ke dapur. Yang ada hanyalah suara deru kereta komuter di kejauhan dan sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden tipis yang baru ia pasang semalam.
Hana meregangkan tubuhnya di atas kasur lipat sederhana yang ia beli dari toko furnitur terdekat. Punggungnya sedikit pegal, namun mentalnya terasa seringan kapas. Ia bangkit, menyeduh kopi instan, dan berdiri di balkon sempitnya. Sambil menyesap kopi yang uapnya menari-nari di udara pagi, Hana menatap kesibukan Jakarta di bawah sana. Ia merasa seperti semut kecil di tengah belantara beton, namun untuk pertama kalinya, ia adalah semut yang memiliki arah tujuan sendiri.
Namun, kedamaian itu terusik saat ia menyalakan ponselnya. Layarnya segera dibanjiri oleh notifikasi dari grup WhatsApp keluarga besar Aris. Selama lima tahun, Hana selalu berusaha menjadi menantu teladan di grup itu, selalu menyahut dengan sopan dan mengirimkan ucapan selamat di setiap hari besar. Kini, grup itu telah berubah menjadi medan penghakiman bagi dirinya.
“Hana, apa benar kamu menggugat cerai Aris? Tega sekali kamu, Nak. Ingat, pernikahan itu ibadah, bukan permainan,” tulis bibi Aris dari Bandung.
Pesan lain menyusul dari sepupu Aris: “Ibu sampai masuk rumah sakit, Hana. Apa kamu tidak punya hati nurani sedikit pun? Aris itu suami yang baik, dia kerja keras buat kamu. Jangan egois hanya karena sekarang kamu sudah punya posisi tinggi di kantor.”
Hana membaca pesan-pesan itu dengan napas yang teratur. Dulu, kata-kata seperti "egois", "tidak punya hati", atau "istri durhaka" akan membuatnya menangis tersedu-sedu dan merasa menjadi manusia paling berdosa di dunia. Namun sekarang, ia melihat kata-kata itu sebagai bentuk manipulasi kolektif. Mereka tidak membela Aris karena Aris benar; mereka membela Aris karena mereka tidak ingin reputasi keluarga besar tercoreng oleh kata "cerai".
Hana tidak membalas. Ia menekan tombol "Keluar dari Grup" dan menghapus seluruh riwayat percakapan tersebut. Satu ikatan lagi terputus, dan Hana merasa lebih ringan.
Di kantor, Hana menunjukkan performa yang semakin tajam. Ia baru saja menyelesaikan analisis risiko untuk sebuah investasi properti besar di Surabaya. Adrian, yang memantau perkembangan Hana dari jauh, masuk ke bilik kerjanya menjelang makan siang.
"Baskara memberi tahu saya bahwa surat pemanggilan sidang pertama sudah keluar," ujar Adrian pelan. "Dua minggu lagi. Kamu siap?"
Hana mendongak dari layar monitornya. "Saya siap, Adrian. Saya ingin ini cepat selesai. Semakin lama ini berlarut, semakin banyak celah bagi Aris untuk melakukan drama."
Adrian mengangguk. "Bagus. Tapi ada satu hal lagi. Aris datang ke lobi bawah lagi pagi ini. Dia tidak berteriak seperti kemarin, tapi dia mencoba menghubungi bagian HRD. Dia bilang kamu membawa lari aset keluarga dan dia ingin melaporkanmu atas dasar pelanggaran kode etik karyawan."
Hana menghela napas panjang, meletakkan pulpennya. "Dia benar-benar tidak punya rasa malu. Aset keluarga mana yang dia maksud? Tabungan yang dia kuras sendiri?"
"Jangan khawatir," potong Adrian dengan nada yang menenangkan namun tegas. "Saya sudah berbicara dengan tim HRD. Saya menjelaskan posisi hukummu melalui Baskara. Perusahaan tidak akan ikut campur dalam urusan domestik karyawan selama tidak ada bukti tindak pidana yang nyata. Dan dalam hal ini, Aris tidak punya bukti apa pun."
"Terima kasih, Adrian. Saya merasa berutang budi padamu berkali-kali," ucap Hana tulus.
"Jangan anggap itu utang. Anggap itu investasi pada rekan kerja yang berharga," balas Adrian sebelum berbalik menuju ruangannya.
Sore harinya, saat Hana sedang mengemasi barangnya untuk pulang, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ia kenal. Namun, cara penulisannya sangat ia kenali. Itu adalah ibu mertuanya, menggunakan ponsel salah satu pembantu di rumah mereka.
“Hana, Ibu sudah pulang dari rumah sakit. Ibu tidak mau makan kalau kamu tidak datang ke rumah sekarang. Aris sedang hancur, Hana. Dia minum-minum terus. Kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan pernikahan ini. Ibu mohon, datanglah sekali saja. Kita bicara sebagai sesama wanita.”
Hana menatap layar ponselnya cukup lama. "Bicara sebagai sesama wanita," gumamnya sinis. Selama lima tahun, ibu mertuanya tidak pernah memposisikannya sebagai sesama wanita, melainkan sebagai pelayan yang harus selalu siap sedia bagi putra kesayangannya.
Hana memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi. Ia menelepon nomor tersebut.
"Halo?" suara lemah ibu mertuanya terdengar di ujung sana.
"Ini Hana, Bu," ujar Hana dengan suara yang datar dan profesional.
"Hana! Syukurlah kamu telepon. Kamu di mana, Nak? Pulanglah, Aris sangat menyesal..."
"Bu, dengarkan saya baik-baik," Hana memotong dengan sopan namun sangat tegas. "Saya tidak akan pulang. Keputusan saya untuk cerai sudah final dan sudah didaftarkan di pengadilan. Jika Ibu ingin Aris berhenti minum-minum, berhentilah memanjakannya dan biarkan dia belajar menghadapi konsekuensi dari perbuatannya sendiri."
"Kamu... kamu jadi keras kepala begini sejak kerja di sana, ya!" suara ibu mertuanya mendadak berubah menjadi tajam, topeng kelemahlembutannya lepas. "Kamu itu wanita! Tanpa Aris, kamu itu janda! Kamu tahu betapa hinanya sebutan itu di lingkungan kita?"
"Saya lebih memilih menjadi janda yang terhormat dan mandiri, daripada menjadi istri yang sabar tapi jiwanya mati setiap hari karena dihina oleh suami dan mertuanya sendiri," jawab Hana dengan tenang. "Tolong jangan hubungi saya lagi melalui nomor mana pun. Jika ada hal mendesak tentang urusan hukum, hubungi Bapak Baskara, pengacara saya. Selamat sore, Bu."
Hana mematikan telepon. Ia merasa ada getaran aneh di tangannya—bukan karena takut, tapi karena ia baru saja melakukan sesuatu yang selama ini hanya berani ia lakukan dalam mimpi: melawan tanpa berteriak.
Malam itu, Hana memutuskan untuk merayakan kebebasannya dengan cara yang sederhana. Ia pergi ke supermarket, membeli beberapa bahan makanan segar, dan memasak untuk dirinya sendiri di apartemen barunya. Ia membuat pasta dengan saus tomat sederhana.
Saat ia sedang makan, pintu apartemennya diketuk. Hana sempat waswas. Apakah Aris berhasil melacak tempat ini? Ia mengintip melalui lubang intip pintu.
Ternyata itu adalah petugas pengantar barang. Sebuah buket bunga lili putih yang cantik dan sebuah kotak kecil berisi lampu tidur bermodel minimalis. Ada sebuah kartu kecil terselip di sana.
“Untuk rumah barumu. Cahaya kecil agar malammu tidak terlalu gelap. - A.”
Hana tersenyum. Lilies adalah bunga favoritnya, sesuatu yang bahkan Aris tidak pernah ingat selama lima tahun pernikahan mereka. Ia meletakkan lampu tidur itu di nakas kecil di samping kasur lipatnya. Cahayanya hangat, memberikan rasa nyaman yang tulus ke seluruh ruangan.
Hana duduk di lantai, memandangi lampu itu. Ia tahu, perjalanan hukumnya akan sangat berat. Aris pasti akan mempersulit proses mediasi, akan menuntut harta yang bukan haknya, dan mungkin akan melakukan fitnah lebih kejam lagi. Namun, malam ini, di dalam studio kecil berukuran dua puluh empat meter persegi ini, Hana merasa ia telah memenangkan pertempuran terbesar dalam hidupnya: pertempuran melawan rasa takutnya sendiri.
Ia mengambil buku agendanya, menuliskan satu kalimat di halaman pertama: "Hari pertama menjadi Hana yang utuh."
Ia menutup buku itu, mematikan lampu besar, dan membiarkan cahaya kecil pemberian Adrian menemaninya tertidur. Di luar sana, Jakarta masih bising, tapi di dalam hatinya, badai telah mereda.