Di malam ketika hujan mengguyur tanpa ampun, Raya diusir dari rumah yang dulu ia sebut surga. Suaminya menolak kehadirannya hanya karena ia tak mampu memenuhi harapan keluarga—seorang anak laki-laki. Dengan hati hancur dan tubuh gemetar, Raya berjalan tanpa tujuan hingga akhirnya tersungkur di trotoar. Di ambang putus asa, sebuah mobil berhenti di depannya. Pria asing bernama Arya menawarkan sesuatu yang terdengar tak masuk akal: sebuah pernikahan pura-pura sebagai solusi bagi masalah mereka masing-masing.
Arya membutuhkan seorang istri untuk meredam tekanan keluarganya, sementara Raya membutuhkan tempat berlindung dari dunia yang telah menolaknya. Tanpa cinta, tanpa janji manis, hanya sebuah kesepakatan dingin yang mengikat dua jiwa terluka. Namun di balik perjanjian tanpa perasaan itu, perlahan mereka mulai menemukan kehangatan yang tak direncanakan. Dari hubungan yang semula sekadar sandiwara, tumbuh benih perasaan yang menguji batas antara kewajiban dan cinta sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27
Beberapa jam kemudian, akhirnya Daffa datang. Tubuhnya tampak lelah, dasinya sudah longgar, rambutnya sedikit berantakan. Begitu melihatnya, Bu Rina langsung menghampiri dengan wajah kesal.
"Daffa! Kamu ke mana aja, hah? Laras tadi hampir kehilangan nyawa! Kamu ke mana?!" bentak Bu Rina dengan suara keras.
Daffa hanya diam, tak membalas. Matanya menatap lurus ke arah pintu ruang operasi, wajahnya muram.
"Daffa!" tegur Bu Rina sekali lagi.
Lestari mendekat, menepuk bahu kakaknya.
"Kak... kok diem aja? Lagi mikirin apa sih?" tanyanya penasaran.
Daffa akhirnya membuka suara, suaranya pelan tapi serius.
"Aku cuma mikir... harusnya Laras itu masih dua bulan lagi jadwal lahirnya. Kenapa sekarang udah lahiran? Cepet banget..." ucapnya, matanya sedikit menyipit, seolah sedang menghitung sesuatu dalam kepalanya.
Lestari ikut mengernyit. "Iya ya, itu juga yang aku pikirin... kok bisa sih? Padahal kemarin-kemarin sehat-sehat aja." gumamnya sambil melipat tangan.
Bu Rina mencoba menenangkan, meski wajahnya juga mulai gelisah. "Ah... mungkin karena tadi itu, Daffa... Laras kan pendarahan. Jadi ya... harus dilahirkan cepat. Dokter juga bilang begitu, kan? Udahlah jangan mikir aneh-aneh." katanya, berusaha meyakinkan.
Tapi Daffa tetap diam, bibirnya mengatup rapat. Ada sorot ragu di matanya.
Lestari mendecak pelan, ikut terduduk di kursi tunggu.
"Aneh juga ya, Kak... jangan-jangan... ah, sudahlah." ucapnya sambil tersenyum miring.
Daffa menoleh, tatapannya tajam.
"Jangan-jangan apa?" tanyanya curiga.
Lestari tersenyum kecil, menggeleng.
"Nggak... cuma kepikiran... ya... siapa tahu itu bukan anak Kakak?" katanya santai, seolah melempar bom.
Bu Rina langsung menoleh cepat ke arah Lestari.
"Lestari! Jangan ngomong sembarangan!" tegurnya kaget.
Tapi Daffa hanya terdiam. Ucapan Lestari bagai jarum yang menusuk pikirannya. Dia menatap pintu ruang operasi itu lama, dadanya terasa sesak, pikirannya mulai dipenuhi kecurigaan yang tak bisa dia cegah.
"Bukan anakku...?" bisiknya pelan, nyaris tak terdengar.
Di sudut hatinya, benih keraguan itu mulai tumbuh...
Bu Rina menepuk pelan lengan Daffa, mencoba menenangkan.
"Daffa, jangan pikir macam-macam dulu, Nak. Fokus aja sama Laras sama bayi kalian, ya? Oh iya Tadi itu aku lihat Raya... dia datang sama laki-laki. Mereka habis periksa kandungan kayaknya." ucap Bu Rina, berusaha mengalihkan perhatian.
Daffa menoleh pelan. "Raya?" tanyanya pelan.
Lestari ikut menimpali dengan senyum miring.
"Iya, Kak. Miris banget aku liat Kakak. Nikah sama perempuan-perempuan kayak mereka." Ia tertawa kecil, getir. "Dan lucunya... dua-duanya juga nggak ada yang ngandung anak Kakak."
sambungnya, menusuk.
Bu Rina langsung membentak Lestari, wajahnya kesal.
"Lestari! Jangan ngomong sembarangan kamu!"bentaknya keras.
Tapi Lestari hanya mengangkat alis, tetap tersenyum sinis.
"Apa Mama yakin? Kalau si Raya sih jelas bukan. Tapi kalau Laras... ya, semoga aja bener itu anak Kak Daffa. Apalagi anaknya cowok, kan katanya pewaris keluarga Hartawan." ucapnya santai, tapi penuh sindiran.
Daffa mendesah pelan, kembali menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup. Pikirannya semakin kacau.
Bu Rina mengusap dadanya, gelisah. "Iya, pasti... ini pasti anak Daffa. Laras nggak mungkin macem-macem..." katanya, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Tiba-tiba, terdengar bunyi 'klik'... lampu di atas pintu ruang operasi mati.
Mereka semua serempak berdiri, menatap pintu dengan campuran cemas dan harap.
Pintu perlahan terbuka. Seorang dokter keluar, melepas maskernya.
"Keluarga Bu Laras?" tanyanya.
"Iya, Dok... kami keluarganya!" jawab Bu Rina cepat, langkahnya maju mendekat.
Dokter mengangguk pelan. "Operasi caesar berjalan lancar. Bayi lahir dalam keadaan sehat. Laki-laki. Beratnya 2,3 kilogram. Tapi... kami perlu observasi lebih lanjut di ruang inkubator karena berat bayi dibawah normal," jelasnya tenang.
Bu Rina menghela napas lega. "Syukurlah... anaknya selamat..." bisiknya sambil menatap Daffa.
Daffa hanya diam, masih menatap dokter dengan tatapan kosong.
Lestari tersenyum kecil. "Anak laki-laki, Kak... pewaris, tuh..." katanya sambil menepuk pelan pundak Daffa, nadanya setengah mengejek.
Daffa tetap diam. Hatinya bimbang. Matanya menatap kosong ke lorong rumah sakit... seolah bertanya pada dirinya sendiri... benar kah?
Pintu ruang operasi perlahan terbuka. Bu Rina dan Lestari langsung berdiri, menghampiri dengan langkah cepat. Seorang dokter perempuan keluar sambil membuka masker dan tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah.
"Dok, bagaimana kondisi anak dan menantu saya?" tanya Bu Rina dengan suara parau menahan gugup.
Dokter mengangguk pelan.
"Semua berjalan lancar, Bu. Ibu Laras selamat, dan bayinya juga. Saat ini bayinya sedang dibersihkan. Sebentar lagi akan dibawa ke sini."
"Alhamdulillah... terima kasih, Dok." Bu Rina menatap ke langit-langit sejenak, air mata haru menggenang di pelupuk matanya.
Namun di sudut lorong, Daffa berdiri diam.
Tubuhnya kaku, wajahnya tampak bingung dan tidak sepenuhnya lega. Ada sesuatu yang mengganggunya.
Setelah dokter hendak melangkah pergi, Daffa buru-buru menyusul.
"Dokter... tunggu sebentar. Saya Daffa suami Laras."
Dokter menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Ada yang ingin Anda tanyakan, Pak Daffa?"
Daffa menatap mata sang dokter dalam-dalam.
Ragu sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan nada hati-hati,
"Saya hanya... bingung. Setahu saya, berdasarkan pemeriksaan terakhir di dokter kandungan, Laras masih masuk bulan ketujuh. Harusnya... masih dua bulan lagi sampai waktunya melahirkan."
Dokter mengerutkan dahi.
"Oh, begitu? Tapi dari hasil pemeriksaan kami, kehamilannya sudah cukup bulan, Pak. Ini memang persalinan cukup waktu."
Daffa terlihat makin bingung.
"Tapi... bagaimana bisa? Ada catatan dari dokter sebelumnya yang menyebutkan HPL-nya masih dua bulan lagi. Tapi sekarang...?"
Dokter menghela napas dan mencoba menjelaskan.
"Tanggal perkiraan lahir memang tidak selalu akurat, Pak. Bisa maju atau mundur beberapa minggu tergantung banyak faktor. Yang pasti, kondisi fisik janin yang kami lihat menunjukkan bahwa kehamilan ini sudah cukup usia. Hanya saja... memang berat badannya sedikit di bawah rata-rata, hanya 2,3 kilogram."
Daffa tampak mencerna penjelasan itu. Namun raut wajahnya tetap tidak berubah masih ada keraguan yang menggelayut.
"Berarti... ini bukan termasuk kelahiran prematur?"
"Bukan, Pak. Bayinya cukup bulan. Tapi kemungkinan selama hamil, ibu Laras mengalami gangguan nutrisi atau stres, sehingga memengaruhi berat bayi."
Daffa mengangguk pelan.
"Baik... terima kasih, Dok."
Dokter lalu berpamitan dan kembali ke ruangannya.
Daffa masih berdiri di tempat, memandangi lantai seolah pikirannya sedang sibuk menelaah satu per satu kejadian. Matanya menerawang jauh. Ada ketidaktenangan yang merambat pelan ke dalam dadanya.
Di sisi lain, Bu Rina dan Lestari masih menunggu dengan penuh harap di depan ruang operasi.
"Kak Daffa ngomong apa tadi, Ma?" tanya Lestari penasaran.
"Entahlah. Kelihatannya dia masih syok aja, mungkin karena bayinya lahir lebih cepat dari dugaan," sahut Bu Rina.
"Hmm," Lestari mengangguk, tapi wajahnya menunjukkan bahwa ia menangkap keganjilan yang sama.
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka kembali. Seorang suster keluar sambil menggendong bayi mungil berselimut biru muda.
"Ini bayi Bu Laras. Selamat ya, Bu," ujar sang suster sambil tersenyum.
Bu Rina buru-buru menghampiri.
"Ya Allah... kecil banget ya," ucapnya haru saat menatap cucu pertamanya.
"Iya, Bu. Beratnya hanya 2,3 kilogram. Tapi alhamdulillah sehat dan stabil. Kami akan observasi beberapa hari di ruang bayi," jelas sang suster.
"Alhamdulillah," sahut Bu Rina dengan suara parau.
Daffa melangkah mendekat, menatap bayi mungil itu tanpa sepatah kata. Hatinya berkecamuk, sulit dijelaskan. Ada cinta yang menguar... tapi juga ada tanda tanya yang terus berputar di benaknya.
Benarkah ini anaknya?
Mobil melaju tenang di jalan yang mulai sepi. Di dalamnya, suasana hening. Hanya suara lembut radio yang menemani perjalanan mereka. Raya duduk bersandar di kursi depan samping Arya, menatap ke luar jendela. Kedua tangannya mengelus perutnya perlahan, seolah mencari ketenangan dari dalam dirinya sendiri.
Arya melirik sekilas, melihat wajah perempuan di sebelahnya itu diliputi kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan, meski tak mengucap sepatah kata pun.
"Kamu kenapa diam terus dari tadi?" tanya Arya dengan nada tenang, tapi penuh perhatian.
Raya menggeleng pelan. "Nggak apa-apa."
"Kalau nggak apa-apa kenapa mukanya kayak awan mau hujan?" Arya menggoda, berusaha mencairkan suasana.
Raya tersenyum tipis, lalu kembali menunduk.
"Aku cuma kepikiran aja... soal tadi."
Arya mengangguk pelan. Dia tahu maksudnya. Pertemuan singkat dengan Lestari dan Bu Rina memang meninggalkan bekas. Kalimat tajam yang sempat terlontar mungkin hanya sebentar, tapi jelas menusuk hati siapa pun yang mendengarnya.
"Lupakan aja mereka, Ra." Arya menggenggam tangan Raya yang diletakkan di atas pahanya.
"Mereka nggak tahu apa-apa tentang kamu. Tentang kita. Tentang apa yang sudah kamu lalui."
Raya menatap ke arah jendela, matanya mulai berkaca. Namun belum sempat air mata itu jatuh, mobil perlahan menepi.
"Lho, kita mau ke mana?" tanya Raya, bingung ketika Arya memarkirkan mobil di depan sebuah toko bayi.
Arya tersenyum kecil. "Kamu butuh hiburan. Yuk turun."
"Arya... buat apa? Semua perlengkapan bayi di kamar udah lengkap. Bapak dan Ibu udah siapin semuanya."
Arya menoleh, menatapnya serius namun lembut.
"Iya, itu semua pilihan mereka. Tapi... masa nggak boleh Papa-nya juga milih sesuatu buat anaknya?"
Ucapan sederhana itu membuat Raya terdiam.
Hatinya terasa hangat. Sejak kapan terakhir kali ada seseorang yang menunjukkan perhatian tulus seperti ini?
Raya akhirnya tersenyum pelan, lalu membuka pintu.
"Baiklah... tapi aku nggak janji nggak khilaf belanja."
"Khilaf bareng, nggak apa-apa." Arya terkekeh.
Mereka melangkah masuk ke dalam toko.
Cahaya hangat dan aroma khas barang bayi langsung menyambut mereka. Rak-rak tertata rapi, penuh warna pastel yang menenangkan mata.
Arya langsung mendekati rak pakaian bayi dan mengambil sebuah jumpsuit berwarna biru muda.
"Lucu banget yang ini ya? Lihat nih, ada telinga kelinci di tudungnya."
Raya tersenyum geli. "Arya, anak kita perempuan."
"Hah? Serius? Tapi kok aku ngerasa aura-aura laki-laki?"
"Aura dari mana coba?" Raya tertawa kecil, pipinya mulai merona.
"Oke, oke," Arya mengangkat tangan seperti menyerah. Lalu ia berjalan ke rak lain dan mengambil sebuah dress kecil berwarna peach.
"Nah, yang ini cocok, ya?"
"Cocok banget," jawab Raya sambil mengelus-elus kainnya. "Lembut banget..."
Mereka berdua terus menyusuri toko. Setiap kali Arya memilih sesuatu, dia akan menanyakan pendapat Raya. Beberapa kali mereka berdebat kecil karena selera mereka berbeda.
"Yang ini bagus," kata Arya sambil menunjuk stroller berwarna hitam elegan.
"Hitam? Nggak banget. Anak cewek, Arya. Masa stollernya kayak bodyguard?" Raya menatapnya geli.
"Eh, justru itu. Elegan. Gaya. Modern."
"Yang pink ini lebih manis," Raya menunjuk satu yang lain.
"Pink terlalu pasaran. Kita harus beda," Arya bersikeras.
"Yaudah, beli dua-duanya. Biar kamu pamer yang hitam, aku dorong yang pink."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang ringan tapi hangat, membuat orang di sekitar ikut tersenyum melihatnya.
Setelah hampir satu jam memilih ini-itu, Arya membayar semuanya tanpa membiarkan Raya membuka dompetnya.
"Jangan protes. Ini urusan Papa," katanya santai.
Di dalam mobil, Raya memandang tas-tas belanja di belakang. Ia menarik napas pelan, kemudian menoleh pada Arya yang sedang menstarter mobil.
"Arya..."
"Hmm?"
"Makasih ya..."
Arya menoleh, menatap matanya. "Buat apa?"
"Buat semua ini. Perhatian kamu. Kesabaran kamu. Dan... karena kamu tetap di sini."
Arya tersenyum. "Karena kamu layak diperlakukan seperti ini, Ra. Kamu nggak sendiri lagi. Sekarang, ada aku. Ada kita."
Raya menahan air matanya. Kali ini bukan karena sedih... tapi karena haru.
Hatinya mulai membuka sedikit demi sedikit untuk cinta yang baru.
Dan mungkin, untuk hidup yang lebih baik dari luka yang dulu.
Membayar semuanya tanpa membiarkan Raya membuka dompetnya.
"Jangan protes. Ini urusan Papa," katanya santai.
Di dalam mobil, Raya memandang tas-tas belanja di belakang. Ia menarik napas pelan, kemudian menoleh pada Arya yang sedang menstarter mobil.
"Arya..."
"Hmm?"
"Makasih ya..."
Arya menoleh, menatap matanya. "Buat apa?"
"Buat semua ini. Perhatian kamu. Kesabaran kamu. Dan... karena kamu tetap di sini."
Arya tersenyum. "Karena kamu layak diperlakukan seperti ini, Ra. Kamu nggak sendiri lagi. Sekarang, ada aku. Ada kita."
Raya menahan air matanya. Kali ini bukan karena sedih... tapi karena haru.
Hatinya mulai membuka sedikit demi sedikit untuk cinta yang baru.
Dan mungkin, untuk hidup yang lebih baik dari luka yang dulu.