Di tengah beban hidup yang menghimpit, Xiao Han— pemuda 22 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga, berjuang mati-matian menghidupi ibunya yang lumpuh serta membiayai pendidikan adik perempuannya yang baru kelas 1 SMP. Gaji sebagai tukang antar surat tak pernah cukup untuk menutupi biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari.
Dengan putus asa namun tekad kuat, Xiao Han akhirnya membuka jasa panggilan pria, dan mempromosikannya secara diam-diam di media sosial. Awalnya hanya sebagai cara bertahan hidup, layanan ini perlahan membawanya masuk ke dunia yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: pertemuan-pertemuan rahasia, rahasia klien, dan batasan moral yang terus diuji.
Hingga suatu malam, satu panggilan khusus datang, sebuah pengalaman yang tak terduga, penuh risiko, dan emosi yang mengubah segalanya. Pertemuan itu bukan hanya mengguncang hidupnya saat ini, melainkan juga membuka pintu menuju masa depan yang akan mengubah kehidupannya secara drastis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon APRILAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
**Bab 19: Seperti Menantu di Sisi Kasur**
Operasi terapi sel punca dan stimulasi elektrik berjalan lancar dua minggu kemudian. Dokter Hendra bilang hasil awal sangat positif—saraf di segmen L3-L5 mulai menunjukkan respons, meski pemulihan penuh butuh waktu berbulan-bulan dengan terapi rutin. Ibu Xiao Han dipindahkan ke ruang rawat biasa, wajahnya sudah lebih cerah, dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dia bisa menggerakkan jari kaki sedikit tanpa bantuan.
Xiao Han hampir tidak pernah pulang. Dia tidur di kursi lipat di samping tempat tidur ibunya, bergantian dengan Xiao Mei yang masih sekolah pagi. Hua Ling’er datang setiap sore setelah pulang sekolah, membawa buah potong atau sup ayam buatan sendiri. Suasana kamar rawat VIP itu terasa hangat meski dinginnya AC rumah sakit.
Suatu sore, sekitar pukul 16.30, pintu kamar terbuka pelan. Lin Qing masuk dengan langkah hati-hati, membawa keranjang anyaman berisi buah-buahan segar dan termos sup kaldu tulang yang masih mengepul. Dia mengenakan baju kasual sederhana—kemeja linen putih dan celana palazzo krem—bukan blazer bisnis seperti biasanya. Rambutnya diikat ponytail rendah, tanpa make-up tebal, membuatnya terlihat lebih muda dan lembut.
Ibu Xiao Han langsung menoleh. Matanya melebar sedikit, lalu tersenyum tipis.
“Qing… kamu datang lagi.”
Lin Qing tersenyum balik, meletakkan keranjang di meja samping tempat tidur, lalu mendekat dan memegang tangan ibu dengan lembut.
“Iya, Bu. Tadi pagi meeting selesai cepat, jadi langsung ke sini. Sup kaldu tulang ini masih hangat, katanya bagus buat pemulihan jantung dan tulang. Saya masak sendiri tadi pagi.”
Ibu tertawa kecil, suara yang masih lemah tapi tulus.
“Kamu masak sendiri? Anak CEO segede Lin Group masak sup buat orang tua orang biasa… Ibu nggak nyangka.”
Lin Qing duduk di kursi samping tempat tidur, masih memegang tangan ibu.
“Bu, saya nggak segede itu kalau lagi di depan Ibu. Lagipula, ini sup sederhana. Resep dari pembantu rumah saya. Saya cuma ikut bantu potong sayur.”
Xiao Mei yang sedang mengerjakan PR di sudut kamar menoleh, matanya berbinar. “Kak Qing masak sendiri? Keren! Besok ajarin aku dong, Kak. Aku mau bikin buat Ibu.”
Lin Qing tertawa pelan. “Boleh banget, Mei. Besok aku bawa bahan-bahannya ke sini. Kita masak bareng.”
Ibu menatap Lin Qing lama, matanya berkaca-kaca.
“Qing… terima kasih ya. Dari awal Ibu sakit jantung, kamu yang urus semuanya. Biaya rumah sakit, obat, operasi, bahkan kamar VIP ini… Ibu tahu kamu bosnya Han, tapi kamu lebih dari bos. Kamu seperti… menantu Ibu.”
Kata itu keluar begitu saja, lembut tapi jelas. Ruangan seketika hening sesaat.
Lin Qing terdiam. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak. Dia menunduk sebentar, menyembunyikan mata yang mulai berkaca-kaca, lalu mengangkat kepala lagi dengan senyum tipis.
“Bu… jangan bilang gitu. Saya cuma bantu karena Han kerja sama saya. Tapi kalau Ibu bilang seperti menantu… saya senang sekali. Ibu sudah seperti ibu saya sendiri.”
Ibu menggenggam tangan Lin Qing lebih erat.
“Han anak baik, Qing. Dia keras kepala, tapi hatinya lembut. Kalau kamu memang sayang sama dia… jangan sakitin dia ya. Dia sudah terlalu banyak berkorban.”
Lin Qing mengangguk pelan, suaranya hampir berbisik.
“Saya janji, Bu. Saya nggak akan sakitin Han. Dia… penting buat saya.”
Saat itu Xiao Han masuk ke kamar, membawa dua gelas kopi dari kantin. Dia berhenti di ambang pintu, melihat pemandangan itu: ibunya memegang tangan Lin Qing, Xiao Mei tersenyum lebar, dan Lin Qing yang terlihat lebih lembut dari yang pernah dia lihat sebelumnya.
“Qing… kamu sudah di sini?”
Lin Qing menoleh, tersenyum kecil.
“Iya. Lagi ngobrol sama Ibu. Supnya masih hangat, Han. Minum dulu.”
Xiao Han mendekat, meletakkan kopi di meja, lalu duduk di sisi lain tempat tidur. Matanya bertemu mata Lin Qing—ada sesuatu yang tak terucapkan di sana: rasa syukur, kelegaan, dan mungkin sedikit rasa bersalah dari kedua belah pihak.
Ibu menatap anaknya, lalu ke Lin Qing, lalu kembali ke anaknya.
“Han… kamu beruntung punya bos seperti Qing. Dan Ibu beruntung punya menantu… eh, maksud Ibu, punya orang baik seperti dia.”
Lin Qing tertawa kecil, pipinya sedikit merona.
“Bu… kalau Ibu terus bilang gitu, saya malu.”
Xiao Han hanya tersenyum tipis, tapi dadanya terasa penuh. Untuk pertama kalinya, dunia Lin Qing dan dunia keluarganya bertemu bukan dalam ketegangan, tapi dalam kehangatan yang sederhana.
Malam itu, setelah Xiao Mei dan Hua Ling’er pulang, Lin Qing masih tinggal. Dia membantu Xiao Han mengatur bantal ibunya, memeriksa infus, dan duduk di samping sampai ibu tertidur.
Saat keluar kamar, di koridor rumah sakit yang sepi, Lin Qing berhenti dan menatap Xiao Han.
“Han… Ibu baik sekali. Aku senang bisa bantu.”
Xiao Han mengangguk pelan.
“Terima kasih, Qing. Bukan cuma uangnya… tapi kamu datang terus. Ibu… senang banget sama kamu.”
Lin Qing tersenyum tipis, tapi matanya berkaca-kaca.
“Aku juga senang. Mungkin… ini pertama kalinya aku merasa seperti bagian dari keluarga sungguhan.”
Mereka berdiri diam di koridor, angin AC bertiup pelan. Tidak ada pelukan, tidak ada ciuman. Hanya dua orang yang, untuk sesaat, merasa berada di tempat yang benar—meski dunia mereka masih sangat berbeda.
**Tamat Bab 19**
Mau lanjut ke bab berikutnya? Mungkin fokus ke pemulihan ibu yang semakin membaik (ada momen lucu atau emosional), atau Hua Ling’er mulai merasa cemburu/bertanya lebih dalam soal Lin Qing, atau Lin Qing mulai menunjukkan perasaan yang lebih dari “mitra kerja”? Atau ada revisi di bab ini?