Di kota futuristik Astra City, manusia biasa dan mereka yang memiliki kekuatan super hidup berdampingan setelah munculnya fenomena langit merah misterius. Raka Mahendra, pemuda dengan energi kosmik yang tak terkendali, harus menghadapi takdirnya, menyelamatkan kota, dan mengungkap rahasia di balik kekuatannya. Bersama Kayla, pengendali gravitasi, dan Adrian, bayangan dari masa lalu, Raka akan menghadapi peperangan, pengkhianatan, dan takdir kosmik yang akan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DragonLucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 – Kayla dan Gravitasi
Langit Astra City masih berwarna merah pucat ketika Raka dan Kayla berdiri di atap gedung parkir yang setengah runtuh. Dari sini, mereka bisa melihat Menara Helios menjulang di kejauhan—tinggi, megah, dan terasa seperti simbol kebenaran… atau kebohongan.
Angin berhembus pelan.
Raka bersandar di dinding beton, diam sejak Helios pergi.
Kayla akhirnya memecah keheningan.
“Kau tidak harus pergi ke sana kalau kau belum siap.”
Raka tersenyum tipis tanpa menoleh.
“Kalau bukan sekarang, kapan? Seumur hidupku rasanya seperti potongan puzzle yang hilang. Aku lelah tidak tahu siapa diriku.”
Kayla berjalan mendekat.
“Dan kalau jawabannya menyakitkan?”
Raka menatapnya. Mata birunya yang redup kini hanya menyisakan cahaya tipis.
“Bukankah kita sudah terbiasa dengan rasa sakit?”
Kayla tertawa kecil, tapi getir.
“Tidak semua rasa sakit bisa kita kendalikan, Raka.”
Sunyi lagi.
Raka memperhatikan Kayla lebih lama dari biasanya. Rambut merahnya bergerak lembut tertiup angin. Tapi ada sesuatu yang berbeda—tatapannya lebih berat.
“Kau juga menyembunyikan sesuatu, ya?”
Kayla terdiam.
“Apa maksudmu?” tanyanya pelan.
“Tadi… saat aku hampir kehilangan kendali, gravitasi di sekitarku berubah. Bukan karena aku. Itu karena kau.”
Kayla memalingkan wajah.
“Aku hanya membantu.”
Raka menggeleng pelan.
“Tidak. Itu lebih dari sekadar membantu.”
Beberapa detik berlalu sebelum Kayla akhirnya berbicara.
“Aku tidak pernah cerita ini pada siapa pun,” katanya lirih. “Bahkan pada Helios.”
Raka berdiri tegak.
“Aku dengar.”
Kayla menutup mata sejenak, lalu membuka telapak tangannya. Udara di sekitarnya bergetar pelan. Sebuah batu kecil terangkat dari lantai… lalu hancur menjadi debu di udara.
“Aku tidak hanya mengendalikan gravitasi,” bisiknya. “Aku bisa meningkatkan atau menghapusnya sepenuhnya. Bahkan… pada level molekuler.”
Raka terdiam.
“Itu berarti…”
“Ya,” potong Kayla. “Aku bisa menghancurkan tubuh manusia dari dalam jika aku mau.”
Angin terasa lebih dingin.
Raka menatapnya lama.
“Sejak kapan?”
“Sejak Gerhana Abadi,” jawab Kayla. “Tapi kekuatan ini terus berkembang. Helios pikir aku hanya tipe gravitasi standar. Mereka tidak tahu… aku berkembang lebih cepat dari seharusnya.”
Raka berjalan mendekat.
“Kenapa kau tidak bilang padaku?”
Kayla tersenyum pahit.
“Karena aku takut.”
“Takut padaku?”
“Takut pada diriku sendiri,” jawabnya jujur. “Setiap kali aku menggunakan kekuatan ini… rasanya seperti ada jurang yang memanggil. Seolah aku bisa kehilangan kendali kapan saja.”
Raka menghembuskan napas panjang.
“Kita sama saja.”
Kayla menatapnya.
“Kau bukan satu-satunya yang merasa seperti bom berjalan, Raka.”
Raka tersenyum kecil.
“Kalau begitu… kita dua bom berjalan.”
Kayla tertawa kecil kali ini, lebih tulus.
“Bodoh.”
Beberapa detik mereka hanya berdiri dalam diam.
Lalu Raka berkata pelan,
“Kenapa kau tetap di sisiku?”
Kayla terdiam.
“Padahal kau tahu aku eksperimen. Kau tahu aku mungkin bukan manusia biasa. Kau tahu Helios dan Eclipse akan mengejarku.”
Kayla menatapnya lurus.
“Karena aku tidak melihat eksperimen.”
Raka membeku.
“Aku melihat Raka. Anak bodoh yang selalu membeli dua roti di kantin karena takut aku tidak kebagian.”
Raka mengalihkan pandangan, sedikit malu.
“Kau masih mengingat itu?”
“Tentu saja,” jawab Kayla lembut. “Aku melihat seseorang yang memilih melindungi orang lain bahkan saat dia sendiri ketakutan.”
Sunyi.
Raka menelan ludah.
“Kalau suatu hari aku benar-benar kehilangan kendali?”
Kayla melangkah lebih dekat.
“Kalau itu terjadi…”
Ia mengangkat tangannya. Gravitasi di sekitar Raka berubah pelan, menahannya tanpa menyakiti.
“Aku akan menghentikanmu.”
Raka menatapnya kaget.
“Dan kalau aku tidak bisa?”
Kayla tersenyum tipis, ada kesedihan di sana.
“Kalau aku tidak bisa… maka aku akan jatuh bersamamu.”
Jantung Raka berdetak lebih cepat.
“Kau gila.”
“Mungkin,” jawab Kayla pelan. “Tapi aku tidak akan membiarkanmu sendirian.”
Tiba-tiba—
BOOOM!
Ledakan terdengar dari arah barat kota.
Raka dan Kayla menoleh bersamaan.
Asap hitam membumbung tinggi.
Energi merah menyala di tengahnya.
Raka mengerutkan kening.
“Itu bukan Astra liar biasa…”
Kayla merasakan getaran di udara.
“Itu lebih padat. Lebih berat.”
Bayangan muncul di belakang mereka.
Adrian.
“Eclipse bergerak lebih cepat dari Helios.”
Raka menatapnya tajam.
“Apa maksudmu?”
Adrian menyilangkan tangan.
“Pemimpin kami tidak suka jika Helios menemukanmu lebih dulu. Mereka mengirim penjemputan.”
“Penjemputan?” ulang Kayla sinis.
“Versi mereka dari undangan,” jawab Adrian dingin.
Ledakan kedua terdengar.
Raka mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan jadi pion siapa pun.”
Adrian tersenyum tipis.
“Bagus. Karena pion biasanya mati duluan.”
Kayla mengangkat tubuhnya sedikit, gravitasi mulai berputar di sekitarnya.
“Kita ke sana.”
Raka menatapnya.
“Kau yakin?”
Kayla tersenyum.
“Bukankah kita dua bom berjalan?”
Raka tertawa kecil.
Energi biru menyala di tubuhnya.
“Baiklah. Tapi kali ini… kita bertarung bersama.”
Adrian menghilang dalam bayangan.
“Aku akan mengawasi. Jangan mati sebelum waktunya, Alpha Prime.”
Raka mendengus.
“Berhenti panggil aku itu.”
Mereka melompat dari atap bersamaan—Raka dengan ledakan plasma biru, Kayla melayang anggun dengan medan gravitasi.
Di bawah sana, api merah membakar jalanan.
Dan di tengah kobaran itu…
Seseorang berdiri.
Mata merah menyala.
Tersenyum.
Pertarungan berikutnya bukan sekadar tentang kekuatan.
Tapi tentang pilihan.
Dan bagi Raka serta Kayla, malam itu akan menjadi ujian sejati apakah mereka benar-benar sekutu… atau hanya dua kekuatan yang suatu hari akan saling menghancurkan.