Berlatarkan masa kejayaan Kerajaan Panjalu (Singhasari) di wilayah Pasuruan, sebuah prasasti kuno yang ditemukan oleh Gadis nelayan, Mira, mengungkap rahasia pelabuhan perdagangan rempah-rempah yang hilang selama berabad-abad. Bersama dengan Jaka, seorang budak kerajaan yang ahli membaca naskah kuno, keduanya harus mengurai misteri di balik prasasti tersebut sebelum kekayaan dan sejarah kerajaan jatuh ke tangan yang salah. Di tengah ombak laut dan rahasia yang terpendam, apakah mereka berhasil menyelamatkan warisan leluhur?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristinawati Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35: "Gunung Es dan Rahasia Permata Udara"
Setelah beberapa hari perjalanan dari Laut Hindia, kru kapal Pelangi Bahari akhirnya mencapai pelabuhan terdekat dengan Himalaya. Mereka harus meninggalkan kapal dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan mobil jeep yang mereka sewakan dari penduduk lokal. Perjalanan darat tidak kalah sulitnya—jalan yang bergelombang dan udara yang semakin tipis membuat beberapa anggota kru merasa tidak nyaman. Lia bahkan harus menggunakan alat bantu pernapasan sementara, namun dia menolak untuk tinggal di belakang dan tetap bersikeras ikut dalam perjalanan.
Saat mereka semakin dekat dengan kaki gunung, mereka bertemu dengan sekelompok pendaki yang sedang bersiap untuk mendaki gunung tertinggi di daerah tersebut. Salah satu dari mereka, seorang lelaki tua dengan wajah penuh kedalaman bernama Guru Adi, mendekat dan bertanya tentang tujuan mereka datang ke daerah ini. Mira dan temannya memutuskan untuk memberitahu dia tentang kebenaran karena merasa bahwa lelaki tua tersebut bisa dipercaya—matanya yang tenang namun tajam menunjukkan bahwa dia bukanlah orang biasa.
Setelah mendengar cerita mereka, Guru Adi mengangguk dengan wajah yang serius. "Saya sudah tahu tentang keberadaan Permata Udara selama bertahun-tahun," katanya sambil menggosok jenggot putihnya yang panjang. "Suku lokal di sini menyebutnya sebagai 'Harta Karun Langit' dan percaya bahwa hanya mereka yang memiliki hati yang bersih dan tujuan yang benar yang bisa menemukannya. Saya bisa membantu kamu mendaki gunung dan menemukan jalur yang aman, tapi kamu harus siap menghadapi ujian yang jauh lebih sulit daripada yang kamu alami sebelumnya. Gunung ini tidak suka dengan mereka yang datang dengan niat yang salah."
Tanpa ragu, kru Pelangi Bahari menerima bantuan dari Guru Adi. Mereka mulai mendaki gunung pada pagi hari berikutnya, membawa perlengkapan yang cukup untuk beberapa hari di atas gunung es. Cuaca di atas gunung sangat ekstrem—angin yang sangat kencang dan suhu yang sangat rendah membuat perjalanan menjadi sangat menyakitkan. Jari-jari beberapa anggota kru hampir membeku meskipun mereka mengenakan sarung tangan tebal, dan udara yang tipis membuat setiap langkah terasa sangat berat. Selain itu, mereka merasa bahwa ada sesuatu yang mengikuti mereka dari balik awan es yang tebal—suara langkah berat yang tidak terdengar jelas namun bisa dirasakan melalui getaran di tanah es.
"Zoran sudah sampai di daerah ini," bisik Lyra sambil melihat ke belakang dengan wajah yang khawatir. "Saya bisa merasakan keberadaannya—energinya yang gelap sedang menguasai sebagian area di atas gunung ini. Dia mungkin telah menemukan jalur lain untuk mendaki dan sedang mengejar kita dari belakang."
Guru Adi mengangguk perlahan. "Saya juga merasakannya. Kita harus bergerak lebih cepat jika ingin sampai ke lembah sebelum dia. Mari kita istirahat sebentar di gua kecil di depan sana untuk menghangatkan badan dan mengumpulkan kekuatan."
Setelah beristirahat sebentar dan menghangatkan diri dengan teh hangat yang mereka bawa, mereka melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa jam lagi mendaki melalui jalan yang semakin terjal, mereka akhirnya mencapai sebuah lembah tertutup es yang sangat indah. Dinding-dinding lembah tersebut terbuat dari es yang bening seperti kristal, dan sinar matahari yang menerjang melalui awan membuat seluruh area terpancar cahaya pelangi yang memukau. Di tengah lembah tersebut, ada sebuah gua es yang memancarkan cahaya keemasan yang lembut, seolah-olah ada sumber cahaya di dalamnya.
Guru Adi menunjukkan ke arah gua tersebut dan berkata, "Permata Udara ada di dalam gua itu. Tapi sebelum kamu masuk, kamu harus tahu bahwa gua itu akan menguji kesatuan kamu sebagai sebuah tim. Tanpa kerja sama yang kuat, kamu tidak akan bisa mendapatkan permata tersebut. Setiap orang di tim kamu memiliki peran yang penting—jika salah satu dari kamu gagal, maka semua orang akan gagal."
Sebelum mereka bisa memasuki gua, suara tawa yang sinis terdengar dari atas bukit es di dekat mereka. Sosok Zoran beserta beberapa pengikutnya muncul menghalangi jalan mereka—pengikutnya adalah orang-orang yang telah diculik dan diberi energi gelap dari Kristal Keseimbangan, membuat mereka menjadi lebih kuat namun kehilangan kesadaran diri.
"Sekarang kamu tidak punya tempat untuk berlari lagi," kata Zoran dengan senyum sinis yang membuat kulit kepala merinding. "Serahkan Batu Laut dan biarkan saya mengambil Permata Udara. Jika kamu melakukannya, saya akan membiarkan kamu pergi dengan selamat—itu janji saya."
"Tidak mungkin!" teriak Juna sambil mengambil sikap bertempur, dengan Bara dan Toni berdiri di sisinya siap membantu. "Kita tidak akan menyerahkan apa-apa padamu. Kamu hanya akan menggunakan kekuatan tersebut untuk menyakiti orang banyak dan menguasai dunia! Kita tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Pertempuran segera terjadi di atas gunung es yang licin. Meskipun kru Pelangi Bahari bekerja sama dengan baik, mereka masih kalah dalam jumlah dan kekuatan dengan pasukan Zoran. Pengikut Zoran yang telah mendapatkan energi gelap bergerak dengan kecepatan yang luar biasa dan memiliki kekuatan yang jauh melampaui manusia biasa. Bara harus menggunakan semua keahliannya dalam teknik tempur untuk menghadapi dua pengikut sekaligus, sementara Toni menggunakan keahliannya dalam membuat alat improvisasi dari bahan sekitar untuk membuat perangkap sederhana.
Mira sendiri bertempur melawan Zoran secara langsung. Meskipun dia tidak memiliki kekuatan khusus seperti Lyra atau pengikut Zoran, dia menggunakan kecepatan dan kecerdikan untuk menghindari serangan Zoran. Namun seiring waktu, kekuatan Mira mulai menipis dan Zoran berhasil menyabet lengannya dengan cakar yang tajam. Saat Zoran hendak menyerang Mira yang sedang terluka dan tidak bisa menghindar lagi, Lyra menggunakan energi dari Batu Laut yang dia bawa untuk membentuk perisai pelindung besar dari es dan esensi air, memberikan kesempatan bagi mereka untuk melarikan diri ke dalam gua es.
"Kamu bisa lari sekarang, tapi kamu tidak akan bisa lari selamanya!" teriak Zoran sambil mencoba menghancurkan perisai pelindung. "Saya akan mendapatkan semua benda sakral dan menjadi penguasa dunia yang sebenarnya!"
Setelah masuk ke dalam gua, pintu gua secara otomatis tertutup oleh tembok es yang baru terbentuk dengan sendirinya, menghalangi akses Zoran dan pasukannya. Di dalam gua, mereka menemukan bahwa dinding-dindingnya dihiasi dengan gambar-gambar besar yang terukir pada es—gambar tentang bagaimana dunia atas dan bawah laut pernah hidup berdampingan dengan damai, saling membantu dan bertukar pengetahuan. Ada gambar tentang bagaimana manusia dan suku Aquarius bekerja sama untuk menanam pohon di darat dan menjaga kebersihan laut, bagaimana mereka berbagi makanan dan sumber daya, serta bagaimana mereka merayakan hari-hari penting bersama-sama.
"Begitulah dunia yang seharusnya ada," ujar Lyra dengan suara penuh harap sambil melihat gambar-gambar tersebut. "Ini adalah impian nenek moyang kita—hidup berdampingan tanpa perbedaan dan konflik."
Di tengah gua, ada sebuah panggung es yang tinggi dengan sebuah batu permata besar yang mengambang di atasnya—itu adalah Permata Udara yang mereka cari. Permata itu berwarna keemasan dengan kilau biru dan hijau di dalamnya, memancarkan energi yang terasa sangat lembut dan menyegarkan. Udara di sekitar permata terasa lebih segar dan hangat, membuat semua orang merasa kekuatan mereka mulai pulih.
Namun sebelum mereka bisa mendekati permata tersebut, suara yang tenang namun kuat terdengar dari dalam bayangan gua. "Sebelum kamu bisa mengambil Permata Udara, kamu harus melewati ujian terakhir kita," kata suara tersebut. Seorang wanita dengan wajah muda namun mata yang menunjukkan usia yang sangat tua muncul dari balik tiang es. Dia mengenakan gaun yang terbuat dari es dan salju yang bisa bergerak seperti kain biasa, dan di kepalanya ada mahkota dari kristal es yang memancarkan cahaya yang indah.
"Saya adalah Ratu Es Aisha, penjaga Permata Udara selama ribuan tahun," ujarnya dengan suara yang seperti dering lonceng es. "Saya telah menyaksikan bagaimana dunia berubah dari waktu ke waktu—bagaimana persahabatan antara manusia dan suku Aquarius berubah menjadi permusuhan karena kesalahpahaman dan hasrat akan kekuasaan. Sekarang kamu datang dengan tujuan untuk memperbaiki Kristal Keseimbangan dan menyelamatkan kedua dunia. Tapi apakah kamu benar-benar siap untuk tanggung jawab yang akan kamu terima?"
Mira mengangkat kepalanya dengan tegas. "Kita siap. Kita tahu bahwa tanggung jawabnya akan sangat berat, tapi kita juga tahu bahwa tidak ada orang lain yang bisa melakukan ini selain kita. Kita telah melihat betapa banyak kerusakan yang bisa terjadi jika kekuatan itu jatuh ke tangan yang salah, dan kita bersedia melakukan apa pun untuk mencegahnya."
Ratu Es Aisha mengangguk dengan senyum lembut. "Baiklah. Ujian terakhir kamu akan menguji seberapa kuat kamu bisa bekerja sama sebagai satu tim. Setiap dari kamu akan menghadapi tantangan yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahanmu sendiri, tapi kamu tidak akan bisa menyelesaikannya sendirian—kamu perlu bantuan satu sama lain."
Segera setelah kata-katanya selesai, lantai gua mulai berubah dan memisahkan mereka menjadi lima bagian yang berbeda, masing-masing dengan tantangan yang berbeda. Mira ditempatkan di dalam sebuah labirin es dengan jalan yang terus berubah, Juna harus menghadapi badai salju yang sangat kuat yang mencoba menghanyutkannya, Rina ditempatkan di depan dinding es yang penuh dengan teka-teki matematika dan ilmu alam, Lia harus memperbaiki sebuah mesin kuno yang mengontrol aliran energi di gua, dan Lyra harus menghadapi bayangan dari masa lalunya yang mengatakan bahwa dia telah mengecewakan sukunya dengan bekerja sama dengan manusia.
Meskipun mereka terpisah, mereka bisa merasakan keberadaan satu sama lain dan mulai bekerja sama dengan cara yang tidak terlihat. Mira berkomunikasi dengan Juna melalui getaran di tanah es untuk memberitahu dia arah keluar dari badai, sementara Juna menggunakan kekuatannya untuk membuat jalan bagi Mira di labirin. Rina bekerja sama dengan Lia untuk menyelesaikan teka-teki dan memperbaiki mesin sekaligus—Rina memberikan pengetahuan ilmiah yang dibutuhkan, sedangkan Lia menggunakan keahliannya dalam teknologi untuk menjalankan mesin tersebut. Lyra, yang awalnya hampir menyerah pada bayangan masa lalunya, merasakan dukungan dari semua teman-temannya dan menyadari bahwa bekerja sama dengan manusia bukanlah sebuah kesalahan, melainkan langkah yang benar untuk membawa perdamaian.
Setelah semua tantangan diselesaikan dengan kerja sama yang luar biasa, bagian-bagian lantai gua kembali menyatu dan mereka bisa berkumpul kembali di depan Permata Udara. Pintu pelindung di sekitar permata terbuka dan Permata Udara perlahan turun dan mendarat di tangan Mira. Saat itu terjadi, informasi tentang lokasi benda sakral terakhir—Bunga Api yang tumbuh di gurun Sahara—muncul dengan jelas di benak semua orang, beserta petunjuk tentang bagaimana cara mengakses tempat itu yang sangat tersembunyi.
"Sekarang kamu telah mendapatkan Permata Udara, kamu harus segera pergi ke gurun Sahara," kata Ratu Es Aisha. "Zoran tidak akan tinggal diam—dia sudah pasti mencari cara untuk menghancurkan tembok es yang melindungi gua ini. Saya akan membantu memperkuat pertahanan gua sebisa mungkin untuk memberikan kamu waktu lebih banyak, tapi kamu harus bergerak cepat. Bunga Api adalah benda sakral yang paling sulit untuk ditemukan dan paling berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah."
Guru Adi kemudian datang dengan membawa perlengkapan tambahan yang dia sediakan sebelumnya. "Saya akan menemani kamu sampai ke perbatasan gurun," katanya. "Saya memiliki teman di sana yang bisa membantu kamu menemukan jalur yang aman melewati gurun yang berbahaya."
Setelah mengucapkan terima kasih yang dalam kepada Ratu Es Aisha, mereka segera meninggalkan gua melalui jalur lain yang ditunjukkan oleh Guru Adi. Saat mereka keluar dari gua, mereka melihat bahwa tembok es yang melindungi pintu utama sudah mulai retak karena serangan Zoran. Mereka bergegas turun dari gunung dengan kecepatan maksimum, menggunakan semua kekuatan yang mereka miliki untuk sampai ke tempat yang aman sebelum Zoran berhasil keluar dari gua dan mengejar mereka lagi.
Di jalan turun, Mira merasa bahwa Permata Udara yang dia pegang mulai memberikan kekuatan tambahan—energinya yang bersih membantu mereka untuk bernapas lebih mudah meskipun mereka masih berada di ketinggian yang tinggi, dan juga membantu untuk menghangatkan tubuh mereka dari dinginnya suhu gunung. Lyra juga merasa bahwa hubungan dia dengan Batu Laut dan Permata Udara semakin kuat, seolah-olah ketiganya sudah mulai bekerja sama untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan terakhir.
"Sekarang hanya tinggal satu benda sakral lagi," ujar Mira dengan suara yang penuh semangat sambil melihat ke arah ufuk jauh di mana gurun Sahara berada. "Setelah kita mendapatkan Bunga Api, kita bisa kembali ke piramida Aquarius dan memperbaiki Kristal Keseimbangan. Kita akan menghentikan Zoran dan membawa perdamaian kembali ke kedua dunia!"
Kru kapal Pelangi Bahari mengangguk dengan keyakinan yang tinggi, siap menghadapi tantangan terakhir yang mungkin akan menjadi yang paling sulit dalam perjalanan mereka...
Apakah kamu ingin kita langsung melanjutkan ke Episode 36 tentang perjalanan ke gurun Sahara dan pencarian Bunga Api?