NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Diantara kontrak dan perasaan

Pagi itu turun dengan cahaya pucat yang menembus tirai kamar utama. Sakira terbangun lebih dulu, matanya terbuka perlahan menatap langit-langit kamar yang terasa terlalu luas untuk ia tempati sendirian. Rafael belum kembali semalaman. Tempat di sampingnya dingin, rapi, seolah tak pernah disentuh.

Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan dada yang terasa sesak tanpa alasan jelas. Padahal ini hanya pernikahan kontrak. Tidak lebih. Ia sudah menegaskan itu sejak awal. Lalu kenapa hatinya terasa kosong?

Sakira bangkit, berjalan menuju kamar mandi. Bayangannya di cermin tampak lebih lelah dari biasanya. Ada lingkaran tipis di bawah matanya, dan sorot yang tak bisa lagi ia sembunyikan—sorot seseorang yang mulai terlalu banyak berharap.

Sementara itu, di lantai tertinggi gedung perusahaan, Rafael berdiri di balik jendela kaca besar ruang kerjanya. Jasnya masih sama sejak semalam, dasinya sudah dilepas. Malam itu ia tidak pulang bukan karena pekerjaan semata, melainkan karena ia tak tahu bagaimana harus menatap Sakira setelah apa yang ia rasakan belakangan ini.

Kontrak itu jelas. Enam bulan. Tidak lebih. Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Namun sejak Sakira mulai hadir dalam setiap ruang hidupnya—dalam sarapan pagi, percakapan singkat, bahkan dalam keheningan—Rafael menyadari satu hal yang berbahaya.

Ia tidak lagi menganggapnya sekadar istri kontrak.

Ketukan pelan di pintu menyadarkannya. Asisten pribadinya masuk dengan raut hati-hati.

“Tuan Rafael, rapat dewan direksi dimajukan satu jam. Dan… ada kabar dari pihak keluarga besar Anda. Mereka ingin makan malam bersama akhir pekan ini.”

Rafael mengangguk singkat. “Atur saja.”

Namun pikirannya langsung melayang pada Sakira. Makan malam keluarga berarti pertanyaan. Tatapan. Penilaian. Dan ia belum yakin Sakira siap menghadapi itu—atau justru dirinya sendiri yang belum siap mengakui bahwa ia ingin Sakira benar-benar menjadi bagian dari hidupnya.

Di rumah, Sakira sedang menyiapkan sarapan ketika suara pintu terbuka terdengar. Ia menoleh refleks. Rafael berdiri di sana, wajahnya lelah namun tetap dingin seperti biasa.

“Kamu tidak pulang,” ucap Sakira pelan. Bukan tuduhan, lebih seperti pernyataan.

“Ada pekerjaan,” jawab Rafael singkat.

Keheningan jatuh di antara mereka. Biasanya mereka terbiasa dengan jarak emosional itu, tapi pagi ini terasa berbeda. Terlalu banyak hal yang tidak terucap.

“Aku akan ke studio hari ini,” kata Sakira akhirnya. “Ada wawancara kerja.”

Rafael menatapnya. “Kenapa baru bilang sekarang?”

“Karena aku tidak merasa perlu izin,” jawab Sakira jujur, meski suaranya sedikit bergetar.

Rafael terdiam. Ia tahu Sakira benar. Kontrak tidak memberinya hak untuk mengatur hidup perempuan itu. Namun perasaan cemburu yang samar tetap muncul tanpa diundang.

“Semoga berhasil,” katanya akhirnya.

Sakira tersenyum kecil. Senyum yang sopan. Terlalu sopan untuk seorang istri, bahkan istri kontrak.

Wawancara itu berjalan lancar. Sakira keluar dari gedung dengan perasaan campur aduk—lega, gugup, dan sedikit bangga pada dirinya sendiri. Ia ingin mandiri. Ia tidak ingin selamanya berada di bawah bayang-bayang Rafael.

Namun saat ponselnya bergetar dan nama Rafael muncul di layar, jantungnya tetap berdegup lebih cepat.

“Kita makan malam di luar malam ini,” suara Rafael terdengar tegas. “Ada yang perlu kita bicarakan.”

Sakira terdiam sejenak. “Tentang kontrak?”

“Bisa jadi,” jawab Rafael singkat.

Telepon terputus, meninggalkan Sakira dengan perasaan tidak nyaman. Ada firasat bahwa malam ini akan mengubah sesuatu.

Restoran itu sunyi dan elegan. Lampu-lampu temaram menciptakan suasana intim yang justru membuat Sakira semakin gelisah. Rafael duduk di seberangnya, menatapnya lama sebelum akhirnya bicara.

“Kontrak kita tinggal dua bulan lagi,” ucap Rafael tanpa basa-basi.

Sakira mengangguk. Ia sudah tahu itu akan datang.

“Aku ingin tahu,” lanjut Rafael, suaranya lebih rendah, “apa rencanamu setelah itu?”

Pertanyaan sederhana. Namun Sakira merasa seperti sedang ditelanjangi.

“Aku ingin hidup normal,” jawabnya jujur. “Bekerja. Mandiri. Tanpa pura-pura menjadi istri siapa pun.”

Rafael menghela napas pelan. “Dan jika aku meminta kontrak itu diperpanjang?”

Sakira menatapnya terkejut. “Atas dasar apa?”

Rafael terdiam lama. Untuk pertama kalinya, ia kesulitan menemukan kata-kata yang biasanya mudah ia ucapkan di ruang rapat.

“Atas dasar… kenyamanan,” katanya akhirnya. Sebuah kebohongan kecil yang bahkan ia sendiri tidak yakin.

Sakira tersenyum pahit. “Aku bukan perabot yang bisa disimpan karena nyaman, Rafael.”

Kalimat itu menghantamnya lebih keras dari apa pun.

“Aku tahu,” jawab Rafael pelan. “Itu sebabnya aku bertanya.”

Malam itu berakhir tanpa keputusan. Namun satu hal jelas bagi mereka berdua—hubungan ini tidak lagi sesederhana kontrak di atas kertas.

Saat Rafael mengantar Sakira pulang, hujan turun perlahan. Di depan rumah, sebelum Sakira turun dari mobil, Rafael menahannya.

“Sakira,” panggilnya.

“Iya?”

“Jika suatu hari aku mengatakan bahwa aku tidak ingin ini berakhir… apakah kamu akan mendengarkan?”

Sakira menatapnya lama. Ada harapan di mata Rafael. Harapan yang selama ini disembunyikan di balik sikap dinginnya.

“Aku akan mendengarkan,” jawab Sakira jujur. “Tapi aku tidak akan menjanjikan apa pun.”

Itu bukan penolakan. Tapi juga bukan penerimaan.

Rafael mengangguk. Itu sudah cukup untuk saat ini.

Di dalam hatinya, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa risiko terbesar bukanlah kehilangan reputasi atau kekuasaan—melainkan kehilangan Sakira sebelum sempat mengatakan yang sebenarnya.

Dan Sakira, malam itu, menangis dalam diam. Bukan karena sedih, melainkan karena ia akhirnya mengakui satu hal yang selama ini ia hindari.

Ia telah jatuh cinta pada pria yang seharusnya tidak ia cintai.

Hujan masih turun ketika Sakira menutup pintu kamar. Ia bersandar di baliknya, napasnya tersengal, seolah baru saja berlari jauh padahal langkahnya hanya dari ruang tamu ke kamar. Kalimat Rafael terus terngiang di kepalanya—aku tidak ingin ini berakhir.

Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Air mata kembali jatuh, kali ini lebih deras. Sakira membenci dirinya sendiri karena hatinya begitu mudah goyah. Sejak awal ia tahu, menikah dengan seorang CEO seperti Rafael bukan cerita dongeng. Ada kekuasaan, jarak sosial, dan dunia yang tak akan pernah benar-benar ia pahami.

Namun Rafael tidak lagi terasa seperti pria asing yang dingin. Ia adalah seseorang yang ia perhatikan tanpa sadar—cara ia diam saat berpikir, cara rahangnya mengeras saat marah, dan cara suaranya berubah pelan setiap kali berbicara serius dengannya.

“Ini salah,” bisik Sakira lirih. “Seharusnya aku tidak sejauh ini.”

Di sisi lain rumah, Rafael duduk sendirian di ruang kerja. Lampu meja menyala redup, memantulkan bayangan wajahnya di kaca jendela. Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun memimpin perusahaan, ia merasa kehilangan kendali—bukan atas bisnis, melainkan atas perasaannya sendiri.

Ia mengingat kembali tatapan Sakira di restoran. Tidak ada kepura-puraan. Tidak ada ambisi tersembunyi. Hanya kejujuran yang menampar egonya. Sakira tidak ingin diperpanjang dalam hidupnya seperti sebuah kontrak. Ia ingin dipilih, bukan dipertahankan karena nyaman.

Rafael mengusap wajahnya kasar. Ia terbiasa mengambil keputusan cepat dan tegas, namun kali ini ia ragu. Jika ia jujur, ia bisa kehilangan segalanya. Jika ia terus berbohong, ia akan kehilangan Sakira pelan-pelan.

Keesokan paginya, suasana rumah terasa berbeda. Tidak ada sapaan ringan seperti biasa. Tidak ada percakapan singkat di meja makan. Sakira bersiap lebih pagi, mengenakan pakaian sederhana namun rapi. Ketika Rafael turun, ia mendapati Sakira sudah berdiri di dekat pintu.

“Aku berangkat lebih dulu,” kata Sakira.

“Kamu tidak sarapan?” tanya Rafael refleks.

Sakira menggeleng. “Tidak lapar.”

Padahal kenyataannya, hatinya yang terlalu penuh membuat ia tak sanggup menelan apa pun. Ia melangkah pergi sebelum Rafael sempat mengatakan sesuatu lagi. Pintu tertutup, menyisakan keheningan yang menyesakkan.

Hari itu Rafael kehilangan fokus. Rapat demi rapat berjalan, namun pikirannya tertinggal di rumah—pada Sakira yang menjauh, pada jarak yang tiba-tiba terasa nyata. Ia sadar, waktu tidak berpihak padanya. Dua bulan terasa terlalu singkat untuk menjelaskan perasaan yang bahkan baru ia pahami.

Sementara Sakira duduk di bangku taman dekat studio tempat ia melamar kerja. Ponselnya bergetar—pesan singkat dari Rafael.

“Kita perlu bicara lagi. Bukan sebagai suami istri kontrak.”

Sakira menatap layar lama. Jarinya gemetar. Ia tahu, percakapan itu akan menentukan segalanya. Menghindar hanya akan membuat luka lebih dalam.

Ia membalas singkat.

“Baik. Tapi kali ini jujur.”

Rafael membaca pesan itu dengan dada berdebar. Untuk pertama kalinya, ia merasa takut—bukan pada kegagalan bisnis, melainkan pada kemungkinan bahwa kejujuran justru datang terlambat.

Dan di antara jarak, hujan, serta waktu yang terus berjalan, keduanya berdiri di persimpangan yang sama—antara mempertahankan batas kontrak, atau melangkah ke perasaan yang tak lagi bisa mereka kendalikan.

Bersambung..

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!