Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan Pertama
Ruang kerja itu terasa lebih sempit dari biasanya.
Padahal luasnya sama langit-langit tinggi, jendela kaca membentang dari lantai hingga ke atas, dan meja besar yang selalu terlihat seperti simbol kendali Arsen atas segalanya. Namun kini, ada sesuatu yang berubah.
Tatapan Arsen.
Ia masih berdiri di depan Alina, satu tangan masuk ke saku celana, tangan lainnya bertumpu di meja. Wajahnya tetap tenang, tapi matanya menelusuri Alina dengan ketelitian yang berbeda.
“Altera,” ulangnya pelan. “Kau pernah dengar nama itu sebelumnya?”
Nada suaranya terdengar santai. Terlalu santai.
Alina tahu itu bukan pertanyaan biasa.
Ia menahan detak jantungnya agar tetap stabil. “Kelompok finansial besar. Siapa yang tidak tahu?”
“Tidak banyak yang tahu detailnya,” balas Arsen. “Mereka jarang muncul di publik.”
Alina mengangkat bahu tipis. “Berita ekonomi cukup sering membahasnya.”
Keheningan tipis mengisi ruang di antara mereka.
Arsen melangkah mendekat. Jaraknya kini hanya beberapa langkah. Wajahnya cukup dekat untuk membuat Alina bisa melihat garis halus di sudut matanya bekas dari malam-malam panjang bekerja.
“Kau terlihat terkejut tadi,” ucapnya pelan.
“Aku hanya tidak menyangka investor sebesar itu terlibat dalam proyekmu.”
“Kau tahu ini proyekku?”
Alina hampir tersenyum.
Ia memang tahu. Bahkan lebih dari yang Arsen kira. Tapi tentu saja, ia tidak bisa mengatakannya.
“Semua orang tahu kau memimpin proyek luar negeri keluarga Wijaya,” jawabnya ringan.
Arsen menatapnya beberapa detik lebih lama sebelum akhirnya mundur.
“Jika Altera benar-benar menarik diri, dampaknya tidak kecil,” katanya lebih pada dirinya sendiri.
Alina memalingkan wajah sedikit ke arah jendela. Kota terbentang luas di bawah sana—gedung-gedung tinggi, lalu lintas padat, kehidupan yang bergerak tanpa tahu permainan besar yang sedang berlangsung di atas mereka.
Ia tahu alasan penarikan dana itu.
Bukan sabotase.
Bukan serangan.
Itu hanya… ujian.
Ujian kecil yang diperintahkan oleh dewan internal Altera untuk mengukur reaksi Arsen Wijaya terhadap tekanan.
Masalahnya, Arsen tidak tahu itu.
Dan ia tidak boleh tahu.
Sore itu, berita tentang penarikan dana Altera sudah mulai beredar di kalangan internal perusahaan.
Beberapa karyawan terlihat gelisah. Bisik-bisik mulai terdengar di lorong-lorong kantor.
Alina duduk di sofa ruang kerja Arsen, membaca laporan yang tidak sengaja tertinggal di meja kecil. Angka-angka itu jelas menunjukkan ketergantungan besar proyek tersebut pada investasi Altera.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
Seorang wanita masuk dengan langkah cepat dan percaya diri.
Livia.
Gaun merahnya diganti dengan setelan bisnis yang ketat dan elegan. Rambutnya diikat tinggi, memperlihatkan wajah cantiknya yang tegas.
Ia berhenti ketika melihat Alina.
“Oh,” katanya dengan senyum tipis. “Aku tidak tahu istri barumu sekarang ikut bekerja.”
Alina menutup laporan dengan tenang. “Aku hanya menemani.”
“Menemani?” Livia terkekeh kecil. “Di lantai direksi?”
Arsen muncul dari ruang rapat kecil di dalam kantor, ekspresinya langsung mengeras ketika melihat Livia.
“Ada perlu apa?” tanyanya datar.
Livia berjalan mendekat, seolah tempat itu miliknya juga. “Aku dengar tentang Altera. Ayahku punya beberapa koneksi yang mungkin bisa membantu.”
Arsen tidak langsung menjawab.
“Ayahmu?” ulangnya.
“Ya. Jika kau mau, kami bisa menggantikan sebagian investasi yang ditarik.”
Alina memahami maksudnya.
Ini bukan sekadar bantuan.
Ini tawaran aliansi.
Dan mungkin… posisi.
Tatapan Livia melirik ke arah Alina sekilas, cukup untuk menunjukkan bahwa tawaran itu juga berarti sesuatu yang lain.
Arsen menatap Livia lama.
“Kita akan membicarakannya secara profesional,” katanya akhirnya. “Dengan tim keuangan.”
“Baik,” jawab Livia, tapi senyumnya sedikit memudar.
Ia berbalik, lalu berhenti di dekat Alina.
“Kau beruntung,” bisiknya pelan. “Tapi keberuntungan biasanya tidak bertahan lama di dunia ini.”
Alina menatapnya lurus. “Aku tidak percaya pada keberuntungan.”
Livia mengangkat alis, lalu pergi.
Pintu tertutup.
Hening kembali turun.
Arsen menghela napas pelan. “Jangan pedulikan dia.”
“Aku tidak peduli,” jawab Alina jujur.
Arsen memandangnya sekilas. “Dia bukan ancaman untukmu.”
Alina menahan senyum kecil.
Ancaman?
Jika Arsen tahu siapa yang sebenarnya berdiri di belakang Altera, mungkin ia akan mengubah definisi ancaman itu.
Malamnya, rumah utama Wijaya terasa lebih tegang dari biasanya.
Berita tentang masalah proyek luar negeri sudah sampai ke telinga keluarga besar.
Di ruang keluarga, ibu Arsen duduk dengan wajah serius.
“Kudengar proyek Singapura bermasalah,” katanya tanpa basa-basi begitu Arsen dan Alina masuk.
“Masih dalam penanganan,” jawab Arsen singkat.
“Masalah ini muncul tepat setelah pernikahanmu,” lanjut wanita itu pelan. “Kebetulan yang menarik.”
Alina merasakan sindiran itu jelas diarahkan padanya.
Arsen mengeraskan rahangnya. “Itu tidak ada hubungannya.”
“Benarkah?” Mata ibu Arsen beralih pada Alina. “Sejak kau masuk ke keluarga ini, masalah datang satu per satu.”
Alina berdiri dengan tenang. “Jika saya penyebabnya, saya juga yang akan menyelesaikannya.”
Ucapan itu membuat ruangan hening.
Ibu Arsen tertawa kecil, tanpa humor. “Kepercayaan dirimu tinggi sekali.”
“Karena saya tidak masuk ke sini untuk menjadi beban,” jawab Alina.
Arsen menoleh padanya. Ada sesuatu dalam tatapannya campuran heran dan… kagum?
“Cukup,” katanya tegas. “Masalah bisnis tidak perlu dibawa ke meja makan.”
Ia menarik tangan Alina ringan, mengajaknya pergi dari ruangan itu.
Sentuhan itu singkat, tapi cukup untuk membuat ibu Arsen terdiam.
Di dalam kamar, suasana terasa lebih sunyi.
Arsen berdiri di dekat jendela, memandangi taman yang gelap.
“Kenapa kau mengatakan itu tadi?” tanyanya tanpa berbalik.
“Apa?”
“Bahwa kau yang akan menyelesaikan masalahnya.”
Alina melepas antingnya, meletakkannya di meja rias. “Aku tidak suka dianggap pembawa sial.”
Arsen akhirnya menoleh.
“Ini bukan permainan kecil, Alina.”
“Aku tahu.”
“Kau tidak tahu.” Nada suaranya sedikit meninggi, tapi bukan marah—lebih pada frustrasi. “Proyek itu bernilai triliunan. Jika gagal, reputasi keluarga ini bisa runtuh.”
Alina menatapnya lurus. “Dan jika berhasil?”
Arsen terdiam.
Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya.
“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya pelan.
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Untuk sesaat, Alina merasa waktu benar-benar berhenti.
Ia bisa saja mengatakan yang sebenarnya.
Bisa saja mengakhiri permainan ini sekarang.
Tapi belum waktunya.
“Aku istrimu,” jawabnya lembut.
Arsen menatapnya lama. Sangat lama.
Seolah mencoba membaca sesuatu yang lebih dalam.
Ponsel Alina bergetar di meja.
Nama yang muncul membuat napasnya tertahan sepersekian detik.
Altera – Internal.
Arsen melihat perubahan kecil itu.
“Angkat,” katanya pelan.
Alina mengambil ponselnya, menekan tombol jawab tanpa mengaktifkan pengeras suara.
“Ya?”
Suara pria tua terdengar dari seberang. “Nona, keputusan dewan sudah final. Kami akan menunda investasi sampai ada sinyal dari Anda.”
Alina melirik Arsen yang masih menatapnya.
“Baik,” jawabnya singkat. “Tunggu instruksi saya.”
Ia memutus panggilan.
Arsen masih berdiri di sana, jarak di antara mereka hanya setengah langkah.
“Itu siapa?” tanyanya pelan.
Alina menatapnya.
Di luar, angin malam berembus pelan, menggoyangkan dedaunan taman.
“Rekan lama,” jawabnya.
Arsen tidak terlihat puas dengan jawaban itu.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ada sesuatu yang berubah di matanya.
Bukan lagi sekadar kecurigaan.
Tapi ketertarikan.
Dan sedikit… kewaspadaan.
Retakan pertama sudah muncul.
Dan Alina tahu, cepat atau lambat, kebenaran akan memaksa semuanya terbuka.
(BERSAMBUNG)