Upaya bunuh diri Onad Nevalion berakhir dengan kegagalan. Alih-alih menemukan kematian, ia justru dibangkitkan oleh Dewa Kegelapan dan dikirim ke Solmara, sebuah dunia asing yang hancur oleh konflik antar entitas ilahi.
Onad terpilih sebagai wakil sang dewa untuk menghadapi Dewa Iblis di dunia Solmara. Dewa Kegelapan tidak dapat turun langsung karena campur tangannya akan melanggar hukum keseimbangan antar dunia.
Satu-satunya hal yang diinginkan Onad hanyalah menghilang dari kesialan hidupnya di dunia. Namun, mengapa kesialan itu justru mengejarnya hingga ke dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pendekatan Pertama Cinta Pertama
Sepulang dari kantor dan setelah makan malam, yang tentu saja bukan cuma mi instan seperti di manga Jepang, karena dia bisa memasak, Onad kembali teringat momen saat tangannya menyentuh tangan Yasmine.
Entah kenapa, ingatan itu terus berputar di kepalanya. Lagi dan lagi. Onad itu pria perjaka yang seumur hidupnya tak pernah punya pacar, teman perempuan, atau sentuhan fisik dengan wanita mana pun.
Terlebih lagi, selama ini ia terlalu terbiasa mengidolakan perempuan fiksi. Pasangan ideal bagi orang sepertinya hanya ada di dalam novel.
Setelah terlalu lama memikirkannya, ia akhirnya tertidur.
Keesokan paginya, ia bangun dan kembali menjalani siklus hidup karyawan kantoran yang itu-itu saja.
Rutinitas itu berlanjut selama beberapa minggu. Di sela-sela itu, ia mulai terbiasa menyapa Yasmine dengan selamat pagi dan sapaan ringan.
Ia merasa sudah cukup akrab dengannya. Yasmine selalu membalas sapaan, kadang disertai senyum lembut yang entah kenapa bisa membuat harinya terasa lebih cerah.
Onad tidak menyadari bahwa keramahan itu bagian dari pekerjaannya sebagai pelayan.
Namun dengan kebodohan yang ia miliki, ia merasa seakan-akan hanya dirinya lah yang mendapat perlakuan istimewa.
Beberapa hari kemudian, Onad kembali berdiri di antrean yang sama untuk kopi paginya. Namun kali ini ada yang berbeda dalam dirinya. Untuk pertama kalinya, ia ingin mendekati seorang perempuan.
Dalam hati ia berkata, “Paling parah dia nolak gue, kan? Atau gue cuma malu di depan beberapa orang di sini. Duh, kenapa sesusah ini sih?”
Dalam urusan seperti ini, Onad benar-benar pemula. Ia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.
Sepuluh menit setelah ia mendapat kopinya, giliran kerja Yasmine selesai. Onad menghampirinya.
“Hey, Yasmine. Lo ada waktu bentar?”
“Ada. Kenapa?”
“Oh, enggak apa-apa. Gue cuma mau tanya, lo malam ini kosong nggak?”
Yasmine menatapnya dengan mata sedikit membesar.
“Dan gue anggap lo punya rencana yang tergantung sama jawaban gue?”
Onad terkejut.
Apa dia ketahuan?
Ia mengumpulkan keberanian. “Iya. Gue mau ngajak lo makan malam.”
Suaranya terdengar tenang dan mantap, seakan itu hal biasa baginya. Padahal di dalam hati ia panik setengah mati.
Namun di luar dugaan, Yasmine langsung menjawab, “Jam delapan malam. Jemput gue di Central City Park. Rumah gue deket situ. Kasih nomor lo, nanti gue kirim alamatnya.”
Onad terpaku. Wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Padahal ia sudah siap ditolak mentah-mentah, tapi ternyata tidak.
“Eh … lo enggak bercanda, kan? Gue kira lo bakal nolak.”
Yasmine tersenyum jahil. “Sebenernya gue udah nunggu lo ngajak gue duluan. Kalau lo kelamaan, ya gue yang bakal ngajak.”
Apa ini mimpi?
Tidak ada yang sedang mengerjainya, kan?
“Serius? Lo nungguin gue?” tanya Onad.
“Tentu aja. Dari semua pelanggan tetap di sini, cuma lo yang tiap pagi natap gue kayak anak anjing. Jangan kira gue enggak sadar sama senyum lo tiap habis nyapa gue. Cewek juga punya insting, tahu. Kelihatan banget. Lo suka sama gue. Jadi gue pikir, kenapa enggak gue kasih kesempatan?” kata Yasmine sambil menyunggingkan senyum miring.
Onad benar-benar kalah telak.
Kenapa justru si cewek yang mengucapkan kalimat seperti itu dan terlihat memegang kendali?
Bukankah seharusnya itu perannya?
Untuk pertama kalinya, Onad mempertanyakan harga dirinya sebagai laki-laki.
“Oke.” Hanya itu yang bisa ia ucapkan.
Begitu Yasmine selesai memasukkan nomornya ke HPnya, Onad langsung kabur dari sana secepat kilat.
Onad masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia mencubit dirinya beberapa kali, bahkan menampar pipinya dua kali untuk memastikan ini bukan mimpi. Setelah itu, ia mulai menyiapkan diri secara mental untuk kencan pertamanya.
Ia tahu ia tidak boleh setengah-setengah. Dalam urusan kencan, kesan pertama sangat menentukan.
Di luar dugaan, kencan itu berjalan lancar.
Onad tidak pelit usaha. Ia memesan meja di restoran yang bagus, mengajak Yasmine ke kebun binatang sebelum makan malam, dan menghabiskan waktu dengan berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.
Dari sana ia tahu bahwa Yasmine berasal dari keluarga kurang mampu. Ia bekerja di kedai kopi untuk membiayai kebutuhannya sendiri sekaligus mengikuti kelas akting. Saat ini ia tinggal di apartemen bersama beberapa teman kuliahnya.
Yasmine tiga tahun lebih muda darinya. Ia hidup mandiri, sama seperti Onad yang juga membiayai dirinya sendiri. Hal itu membuat Onad semakin menghargainya.
Bagi sebagian pria, perempuan yang mandiri dan pekerja keras jauh lebih bisa diandalkan daripada gadis manja yang hanya sibuk memamerkan hidup di media sosial.
Setelah kencan itu, hubungan mereka berkembang selama beberapa minggu berikutnya.
Namun suatu hari, Yasmine tiba-tiba menghilang. Ia tidak mengangkat telepon dari Onad, dan teman-teman serumahnya pun tidak tahu ke mana ia pergi.
Onad yang sudah terlanjur terpikat merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.
Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tahun terakhir, ia merasakan kehilangan dan ketidakberdayaan.
“Apa gue beneran segitunya sama dia? Kenapa gue tiba-tiba ngerasa kosong banget?”
Ia tidak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya mengganggunya.
Jelas sekali.
Ia sudah jatuh cinta.