NovelToon NovelToon
Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Takdir Abadi: Dua Jiwa, Satu Jalan Pedang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Epik Petualangan
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bodattt

Seorang murid sekte luar yang dianggap tidak berguna karena memiliki "Akar Spiritual Terkutuk" tanpa sengaja membangkitkan jiwa seorang jenius dari era kuno yang terperangkap dalam artefak misterius. Bersama, mereka merintis teknik kultivasi kuno yang membutuhkan perpaduan dua elemen yang saling bertentangan, menuntut mereka untuk menyatukan kekuatan dan hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Rawa Kematian dan Ambang Batas Kegilaan

​Dua hari perjalanan menembus jantung Pegunungan Ratusan Iblis menguji batas ketahanan fisik dan mental. Cahaya matahari nyaris tak pernah menyentuh tanah, terhalang oleh kanopi raksasa dan kabut ungu yang mengambang setinggi lutut.

​Li Jian dan Xiao Ling kini berdiri di tepi Rawa Ratapan, sebuah ekosistem mematikan yang menjadi batas alami menuju pusat pegunungan. Lumpur di sini berwarna hitam pekat dan terus meletupkan gelembung gas berbau busuk.

​"Rawa ini hidup, Li Jian," Xiao Ling berbisik, menyerahkan selembar daun merah berbulu kepadanya. "Kunyah Daun Jantung Api ini. Kabut ungu itu bukan sekadar racun, melainkan Miasma Pemakan Jiwa. Ia akan menggali penyesalan terbesarmu dan memutarnya berulang-ulang hingga kau gila dan menenggelamkan dirimu sendiri ke dalam lumpur."

​Li Jian menerima daun itu dan mengunyahnya. Rasa pedas yang menyengat menyebar di lidahnya, namun sensasi itu dengan cepat diredam oleh hawa dingin dari Dantian-nya.

​"Ilusi fana tingkat rendah," dengus Yueyin dari dalam ruang kesadarannya. "Seni Bintang Pemakan Langit membuat pikiranmu sedingin gletser. Emosi fana tidak akan mudah menggoyahkanmu, tapi tetaplah waspada. Monster yang hidup di tempat seperti ini biasanya memiliki kulit yang tebal dan kelicikan iblis."

​Keduanya mulai melangkah masuk, berpijak pada akar-akar bakau raksasa yang melintang di atas lumpur hisap. Suasana sangat hening, hanya terdengar suara decak lumpur dan napas mereka sendiri.

​Namun, setelah satu jam berjalan, kabut ungu di sekitar mereka menebal drastis. Jarak pandang menyusut hingga kurang dari dua meter.

​Tiba-tiba, Li Jian mendengar sebuah suara. Sangat pelan, namun cukup untuk menghentikan langkahnya.

​"Jian'er... sakit sekali... kenapa kau biarkan mereka memukulimu? Kenapa kau begitu lemah?"

​Itu suara ibunya. Suara yang telah terkubur bertahun-tahun di relung hatinya. Di balik kabut, bayangan seorang wanita pucat yang terbatuk darah mulai terbentuk, menatap Li Jian dengan tatapan penuh kekecewaan. Di belakang wanita itu, muncul wajah-wajah murid Sekte Pedang Awan yang tertawa mengejek, wajah Zhao Tian, dan wajah Han Lin yang berlumur darah.

​"Kau monster, Li Jian. Tanganmu berlumuran darah yang tak akan pernah bisa dibersihkan..." bisikan-bisikan itu tumpang tindih, mencoba menembus pertahanan mentalnya.

​Xiao Ling yang berada beberapa langkah di depan menyadari Li Jian berhenti. "Li Jian! Jangan dengarkan! Itu hanya ilusi miasma!" teriaknya, namun suaranya terdengar teredam oleh kabut.

​Li Jian menundukkan wajahnya. Poni rambutnya menutupi matanya yang kini perlahan berubah menjadi perak menyala.

​"Lemah?" gumam Li Jian. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap bayangan ilusi ibunya dan para musuhnya dengan tatapan kosong yang membekukan. "Jika aku masih lemah, aku akan menangis melihat ilusi murahan ini. Tapi sekarang... aku adalah badai yang akan membekukan penyesalan itu sendiri."

​Li Jian tidak repot-repot menggunakan Gerhana. Ia hanya menghentakkan kakinya ke akar bakau.

​"Domain Es Cermin Bintang!"

​Gelombang cairan Qi perak meledak dari tubuhnya. Suhu rawa yang lembap dan pengap seketika anjlok. Kabut ungu di sekelilingnya membeku menjadi kristal-kristal es beracun yang berjatuhan ke atas lumpur. Ilusi-ilusi itu hancur berkeping-keping.

​Namun, tepat saat ilusi itu hancur, bahaya yang sesungguhnya menampakkan diri.

​Miasma itu bukan sekadar halusinasi alam; itu adalah umpan memancing dari predator Tingkat Tujuh.

​BYUUR!

​Lumpur hitam meledak hanya beberapa inci dari tempat Xiao Ling berdiri. Seekor Buaya Tulang Baja raksasa sepanjang lima belas meter melompat keluar. Tubuhnya tidak tertutup sisik, melainkan lempengan tulang sekeras besi yang membusuk. Rahangnya yang dipenuhi gigi bergerigi menganga lebar, siap menelan Xiao Ling bulat-bulat.

​Gadis itu terbelalak, busurnya bahkan belum sempat terangkat. Monster Tingkat Tujuh ini setara dengan kultivator Tingkat Delapan awal! Kecepatannya di dalam rawa tidak masuk akal.

​TRANGGG!

​Suara benturan logam yang memekakkan telinga menggema.

​Li Jian telah melesat menggunakan Langkah Bintang Jatuh, memposisikan dirinya tepat di depan Xiao Ling. Gerhana telah ditarik dari punggungnya dan digunakan sebagai perisai, menahan rahang raksasa buaya tersebut yang menutup dengan kekuatan puluhan ribu kati.

​Li Jian tergelincir mundur dua langkah di atas akar bakau, otot lengannya menegang ekstrem, namun ia berhasil menghentikan gigitan mematikan itu.

​Monster itu menggeram marah, mencoba menekan lebih kuat.

​"Kau berani menguji kekuatan fisik denganku?" desis Li Jian.

​Pedang Gerhana mulai berdengung keras. Urat-urat biru pada bilah tumpulnya menyala terang, merespons amarah tuannya dan Sword Intent yang semakin tajam.

​Li Jian tidak menolak tekanan rahang buaya itu; sebaliknya, ia memutar Gerhana secara vertikal, memaksa rahang monster itu terbuka lebih lebar. Dengan tangan kirinya yang bebas, Li Jian mengumpulkan cairan Qi perak hingga membentuk lapisan es absolut setebal batu karang di kepalan tangannya.

​Ia menarik napas panjang, lalu menghantamkan tinju kirinya tepat ke bawah dagu sang Buaya Tulang Baja dengan kekuatan penuh.

​KRAAAAK!

​Suara retakan tulang terdengar mengerikan. Kekuatan hantaman Li Jian membuat kepala monster seberat puluhan ton itu terangkat ke udara. Tidak berhenti di situ, Li Jian memutar tubuhnya dan mengayunkan Gerhana dengan kedua tangan dari atas ke bawah.

​BLAAAAR!

​Pedang hitam tumpul itu menghantam lempengan tulang di atas kepala buaya. Benturan itu tidak memotong, melainkan meremukkan tengkorak monster itu hingga hancur ke dalam. Energi Yin esktrem meledak, membekukan otak dan aliran darah buaya tersebut dalam sekejap mata.

​Bangkai raksasa itu jatuh kembali ke dalam lumpur dengan suara berdebum keras, memercikkan lumpur beku ke segala arah. Seekor monster Tingkat Tujuh mati hanya dalam dua serangan brutal!

​Xiao Ling jatuh terduduk, napasnya memburu. Ia menatap pemuda berjubah putih kotor di depannya seolah melihat dewa perang yang turun dari langit.

​Li Jian menyeka cipratan lumpur dari wajahnya, lalu mengibaskan Gerhana dan menyarungkannya kembali. Ia menoleh ke depan, ke arah kabut yang kini telah menipis akibat gelombang kejut pertarungannya.

​"Kita sudah sampai," ucap Li Jian datar.

​Di ujung rawa, pemandangan yang mencekam namun luar biasa megah membentang. Sebuah ngarai raksasa yang membelah gunung hitam. Di sepanjang ngarai itu, tertancap jutaan pedang patah dan berkarat yang memancarkan aura kematian dan kesedihan yang sangat pekat.

​Di ujung ngarai, berdiri sebuah gerbang batu hitam raksasa setinggi ratusan meter, dihiasi ukiran rantai dan tengkorak yang tak terhitung jumlahnya.

​Itulah Gerbang Makam Pedang Terlarang. Tempat peristirahatan pusaka-pusaka kuno yang menolak mati.

​"Aura yang luar biasa kotor dan liar," bisik Yueyin, nadanya berubah serius. "Tapi di dalam sana... aku bisa merasakan denyut sebuah inti elemen Yin yang sangat kuno. Jika kita bisa mendapatkannya, jiwaku akan pulih hingga sepuluh persen, dan kau bisa langsung menembus ke tahap Bina Pondasi."

​Li Jian menatap gerbang raksasa itu. "Maka kita akan masuk, dan menjarah segalanya."

1
alex kawun
kecewa berat deh
novel silat dari author yg kereen kapan nyambung nya
ayo ... semangat doong thor
Dian Pravita Sari
dlegek cerita gak tamat lagi pengarang nya binatang gak tanggung jawab
alex kawun
elok nya di certain dong suasana dan kesibukan sekte yg di tinggal kan mc nya
alex kawun
kagum dgn susunan bahasa dan kata2 dari author sangat rinci dan teratur , nampak kelas nya bukan kaleng2
semangat & lanjuuuut thor
Night Watcher
sayang banget zhao dibunuh..
pinginnya dihancurin pusat meridiannya kyk suruhannya biar jd sampah selama hidupnya
Eko
bantaaaaaaiiiii
Eko
mantap Thor
Night Watcher
sbg sesama murid, kok zhao tian bisa berkuasa memerintah yg lain thor? apa penyebabnya?
nanya bukan protes loo.. 🤭🙏
Eko
hahahaha...hanya mengantarkan nyawa
Eko
trik sampah licik
Eko
ayoooo lebih kuat lagi
Eko
mantap Thor
Eko
bantaaaaaaiiiii lah
Eko
ayoooo bantaaaaaaiiiii
Eko
alur cerita yang bagus dan menarik
Night Watcher
nyoba ngintib..
Lekat Wahyudi
👍👍👍
Udin Alex
lanjut thor
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!