Nigista, seorang gadis cantik yang terlahir dengan kelebihan yang tak biasa, harus berjuang untuk bertahan hidup di tengah caci maki orang-orang sekitarnya. Dia hanya ingin hidup normal, seperti manusia lainnya, tapi takdir sepertinya tak berpihak padanya.
Nigista Kanaya Putri, nama yang indah, tapi ironisnya, di rumahnya dia lebih sering dipanggil "Si pembawa Sial" oleh ibunya sendiri. Setiap musibah yang menimpa keluarga selalu saja dia yang disalahkan.
Tapi, Nigista memiliki kemampuan unik - dia bisa mendengar bisikan-bisikan dari orang-orang yang butuh pertolongan, sebuah kelebihan yang membuatnya sering merasa terjebak. Di sekolah, dia menjadi target bully-an teman-temannya karena sering menjerit-jerit ketika bisikan itu datang, membuatnya dicap sebagai "gadis aneh"
Yok ikuti kisah Nigista
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Nya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nigista Dan Dunianya
"Tran ambilin gue kecap dong,"
"Sekalian saosnya tran."
"Betran, gue juga dong ambilin tisu.."
"Betran, tolong ambilin sendok dong."
"Eh, garpunya juga dong sekalian."
"Betr—"
"SEMUANYA DIAM!" pekik Betran semua mata tertuju padanya, ia menyengir. "Sorry, lanjutin aja makan kalian."
Betran kembali duduk, laki-laki itu juga merupakan teman baiknya Adara.
"Malu-maluin aja tran, mana teriaknya kayak cewek lagi." ujar Gibran di iringi kekehan
"Kalian nih yang buat gue kesel, kalian kan punya tangan kenapa harus nyuruh gue? makanan gue belum kemakan sama sekali loh."
"Kan kecapnya deket lo tadi," ucap Irsyad
Gibran mengangguk. "Iya, perhitungan banget."
"Mulai deh, bisa gak si kalian jangan ribut? Capek banget denger kalian yang ribut terus mending makan tempat lain aja deh kalian." ucap Anita namun suara tak terdengar oleh telinga ketiga laki-laki tersebut, ketiganya masih saja bertengkar.
"Ehm, makan gak ngajak-ngajak." semua menoleh pada sumber suara
"Raden!" ucap kelimanya secara bersamaan hanya Gista yang tak ikut bersuara, gadis itu fokus pada makanannya.
"Raden duduk, makanan lo udah kita pesani."
Jidat Raden mengerut, teman-temannya menyuruhnya duduk namun tidak ada kursi yang tersisa. Mata Gista tertuju pada gadis yang menempati kursinya.
"Duduk di mana? Semua kursi udah terisi." ucap Raden membuat semua tersadar
"Astaga lupa," Adara menepuk jidatnya. "Sorry den, gue lupa tempat lo biasa duduk ditempati oleh saudari gue." lanjutnya
Bisanya Raden duduk di tenga-tenga antara Adara dan Gibran namun kini tempat duduknya di tempati oleh Gista.
Mendengar hal itu membuat makan Gista terhenti, dia mengangkat kepalanya. Lagi-lagi sebuah ketidak sengajaan membuat manik mata kembarnya bertemu pada manik mata kembar Raden.
"LHO?!" ucap Raden serta Gista secara bersamaan, keduanya sama-sama terkejut.
"Loh, kalian udah saling kenal?" tanya Adara yang yang lainnya
Raden menganggukan kepalanya.
"Sejak kapan?" lagi-lagi mereka bertanya secara bersamaan
"Kompak amat lo pada," ucap Raden dengan kekehan
"Sejak kapan lo kenal Gista? dan lo, sta, kenapa gak cerita kalo udah punya kenalan di sekolah ini?" ucap Adara
"Kita kenal baru satu jam yang lalu." Raden yang berbicara
"Hah?!"
"Jadi gini ..." Raden menceritakan insiden yang ia alami ketika sedang berlatih bermain basket tadi pada teman-temannya. "Kalian inget gak cewek pemberani yang pernah gue ceritain pas itu?"
Semua mengangguk. "Yang bantuin lo pas di kepung geng motorkan?" ujar Betran
Raden mengangguk. "Gista orangnya."
Semua menatap Gista dengan tatapan kagum, Gibran serta Irsyad bertepuk tangan.
"Hebat banget, kata Raden lo jago banget belah dirinya."
"Gak juga, bisa sedikit-sedikit." ucap Gista dengan cengiran
"Eum.. Gue mau tanya," semua menatap Pipit yang baru saja bersuara. "Kok lo biasa ada di lapangan? Bukannya Raden latihan basketnya pas jam pelajaran ya? Di sekolah ini gak boleh sembarang keluar kelas loh."
"Iya juga ya, apalagi Gista 'kan anak baru." timpal Anita
Kini semua mata tertuju pada Gista, mereka menunggu jawaban Gista.
'Pasti Gista tadi dapat bisikan itu lagi..' batin Adara
"Kok lo bisa tau juga kalo ring basketnya akan roboh?" kini para laki-laki yang bertanya
"Itu se—"
Tettt...
Bell berbunyi menandakan jika waktu istirahat tlah usai, semua yang ada di kantin bergegas masuk kelas masing-masing.
"Aghk, makanan gue belum gue makan." pekik Gibran
"Makannya jangan ngurusin hidup orang mulu." ucap Betran sebelum berlalu, laki-laki itu sudah selesai menyantap makanannya.
"Jadi gimana gib? Lo mau makan dulu atau langsung kekelas." pertanyaan itu Irsyad sodorkan
"Pertanyaan tolol, ya kali gue makan nih makanan bisa-bisa gue yang di makan oleh mama gue."
__________
Di ruang tamu kedua saudari kembar tak identik itu sedang bersantai, setiap sore mereka memang bersantai di ruang tamu sambil menikmati cemilan sambil menonton drakor.
"Dar!"
"Hm?"
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo."
Mata Adara yang tadinya menatap televisi kini tertuju pada Gista. "Mau ngomong apa? Kayaknya serius banget."
Gista menarik napas dalam-dalam sebelum mulai menceritakan insiden yang ia alami pada Adara, dia mengalami kecelakaan dan kehilangan motornya.
"Hilang?" Adara kaget saat mendengar cerita dari Gista.
"Gue gak tau dar tiba-tiba pas gue bangun sudah ada di rumah sakit. Nah setelah gue kembali lagi ketempat gue kecelakaan itu dan motor itu gak ada lagi."
"APA!"
Mata Gista dan Adara melebar, keduanya menoleh ke arah sumber suara karena bukan mereka pemilik suara barusan. Bibir Gista terkatup rapat saat melihat siapa yang ada di hadapan mereka.
"Mama ..."