Di kehidupan sebelumnya, Jiang Chen adalah Kaisar Alkemis terhebat di Alam Dewa, mampu menciptakan pil legendaris yang bisa menghidupkan orang mati dan memberikan keabadian. Namun, karena terlalu percaya, ia dikhianati oleh murid kesayangannya sendiri yang bersekongkol dengan istrinya. Mereka meracuninya, merebut "Kuali Primordial Semesta" miliknya—artefak ilahi tertinggi—dan membunuhnya tepat saat ia akan mencapai terobosan ke Alam Penguasa Surgawi.
Namun, Kuali Primordial Semesta yang legendaris itu memiliki kesadarannya sendiri. Alih-alih membiarkan jiwa Jiang Chen lenyap, Kuali itu membawa serpihan jiwanya melintasi ruang dan waktu, bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang pemuda bernama sama di dunia fana rendahan, ribuan tahun kemudian.
Ironisnya, tubuh barunya ini adalah "sampah" terkenal di klannya, dengan meridian yang hancur dan bakat kultivasi nol. Kini, dengan ingatan dan pengetahuan seorang Kaisar Alkemis, Jiang Chen memulai perjalanannya kembali ke puncak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Tamu Tak Diundang
Malam berlalu dalam keheningan yang pekat. Jiang Chen duduk tak bergerak, seluruh kesadarannya terfokus pada tugas monumental di dalam tubuhnya. Di bawah kendali jiwanya yang setingkat Kaisar, energi primordial dari Kuali bekerja seperti jutaan seniman mikroskopis, dengan sabar menenun kembali benang-benang meridiannya yang compang-camping.
Proses ini menyakitkan luar biasa. Setiap kali seutas energi primordial menyentuh meridian yang rusak, rasanya seperti ditusuk jarum panas. Pemuda Jiang Chen yang asli pasti sudah pingsan ribuan kali. Tapi bagi Jiang Chen sang Kaisar, rasa sakit ini hanyalah pengingat. Pengingat akan pengkhianatan, dan pengingat akan jalan panjang yang harus ia tempuh.
Saat fajar pertama menyingsing di ufuk timur, Jiang Chen perlahan membuka matanya.
Sebuah napas panjang dan keruh ia hembuskan. Anehnya, napas itu membawa serta bau busuk yang samar, seolah kotoran dari dalam tubuhnya ikut terbuang keluar. Rasa sakit yang melumpuhkan kemarin kini telah banyak berkurang, digantikan oleh rasa gatal yang samar di sepanjang jalur meridiannya—tanda bahwa jaringan baru sedang terbentuk.
Bahkan indranya terasa lebih tajam. Ia bisa mendengar bisikan daun yang jatuh di halaman luar, dan mencium aroma embun pagi yang segar.
Ini adalah hasil dari kerja keras semalam suntuk. Meskipun hanya sebagian kecil dari meridian utamanya yang baru tersambung, itu sudah cukup untuk memungkinkan sedikit Qi (energi spiritual) mengalir. Ini adalah langkah pertama. Langkah dari nol ke satu.
Pandangannya kemudian jatuh pada mangkuk di meja samping tempat tidur. Bubur ginseng yang dibawa Qing'er sudah dingin. Ia mengambil sepotong ginseng dari dalamnya. Ginseng itu kecil dan layu, jelas merupakan bahan obat kelas terendah. Di kehidupan sebelumnya, benda ini bahkan tidak layak untuk menjadi pakan ternak spiritualnya.
"Ginseng Darah berusia sepuluh tahun... penuh dengan kotoran dan energinya tidak murni," Jiang Chen menggelengkan kepalanya. "Tapi untuk saat ini, ini lebih dari cukup."
Ia tidak memakannya. Sebaliknya, ia memejamkan mata dan menggenggam ginseng itu di telapak tangannya. Sekali lagi, ia mengaktifkan Kuali Primordial Semesta.
Weng!
Cahaya keemasan yang hanya terlihat olehnya menyelimuti ginseng di tangannya. Ginseng yang layu itu mulai bergetar. Asap hitam berbau busuk mulai keluar darinya, menguap ke udara. Ini adalah kotoran dan energi liar di dalam ramuan yang sedang dimurnikan oleh Kuali.
Beberapa detik kemudian, proses itu selesai. Ginseng di tangannya kini telah berubah. Ukurannya menyusut sepertiga, tetapi warnanya berubah menjadi merah cerah seperti darah segar, dan memancarkan aroma obat yang kaya dan murni.
Jika ada seorang alkemis di sini, mereka akan pingsan karena kaget. Dalam sekejap, Jiang Chen telah mengubah ginseng sepuluh tahun kelas rendah menjadi Ginseng Darah seratus tahun kelas atas! Ini adalah teknik yang menentang surga!
Tanpa ragu, Jiang Chen memasukkan ginseng yang telah dimurnikan itu ke dalam mulutnya. Begitu ginseng itu masuk, ia langsung meleleh menjadi aliran energi hangat yang murni dan kuat, mengalir deras ke seluruh tubuhnya, mempercepat proses penyembuhan meridiannya dengan kecepatan sepuluh kali lipat.
"Efeknya lumayan," gumam Jiang Chen puas.
BRAKK!
Tiba-tiba, pintu kamarnya ditendang hingga terbuka.
Seorang pemuda jangkung dengan pakaian mewah masuk dengan angkuh. Wajahnya membawa ekspresi mengejek yang jelas. Di belakangnya, dua orang pelayan mengikuti sambil tertawa sinis.
Ini adalah Jiang Wei, sepupu Jiang Chen. Sejak Jiang Chen dicap sebagai sampah, Jiang Wei adalah orang yang paling sering menindasnya.
"Oh, lihat siapa ini? Sampah keluarga kita ternyata belum mati," cibir Jiang Wei, matanya menatap Jiang Chen yang sedang duduk di tempat tidur dengan jijik. "Kudengar kau dipermalukan oleh Hong Mengyao dan dipukuli seperti anjing kemarin. Benar-benar memalukan nama keluarga Jiang!"
Di masa lalu, Jiang Chen yang asli pasti akan gemetar karena marah dan balas berteriak, yang hanya akan membuat Jiang Wei semakin senang untuk menindasnya.
Tapi Jiang Chen yang sekarang hanya menatapnya dengan tenang. Tatapannya begitu dalam dan acuh tak acuh, seolah sedang menatap seekor semut yang berisik.
Jiang Wei merasa sedikit tidak nyaman di bawah tatapan itu. Ia berdeham dan melanjutkan, "Ayahku bilang, karena kau sudah menjadi sampah yang tidak berguna, tidak pantas bagimu untuk menempati halaman terbaik di kediaman cabang ini. Mulai hari ini, halaman ini milikku. Kau, pergilah ke gudang kayu bakar di belakang."
Ini adalah perampokan terang-terangan. Halaman ini adalah satu-satunya warisan yang ditinggalkan ibu Jiang Chen.
"Sudah selesai bicara?" tanya Jiang Chen, suaranya datar, tanpa emosi sedikit pun.
"Apa katamu?" Jiang Wei terkejut dengan reaksinya. "Beraninya kau bicara padaku seperti itu? Apa pukulan kemarin belum cukup untukmu?"
Jiang Chen perlahan turun dari tempat tidur. Gerakannya lambat, tetapi stabil. Tidak ada tanda-tanda seseorang yang terluka parah. Ia berjalan mendekat, langkah demi langkah.
Entah kenapa, setiap langkah Jiang Chen membuat hati Jiang Wei berdebar kencang. Aura yang dipancarkan Jiang Chen saat ini benar-benar berbeda. Dingin, agung, dan menekan. Seolah bukan sampah yang sedang berjalan ke arahnya, melainkan seekor naga kuno yang baru saja terbangun.
"Kau..." Jiang Wei tanpa sadar mundur selangkah. "Apa yang mau kau lakukan?"
Jiang Chen berhenti tepat di depannya. "Aku akan memberimu tiga detik untuk keluar dari kamarku dan memperbaiki pintu ini. Jika tidak..."
"Jika tidak, apa?!" Jiang Wei berteriak, mencoba menutupi rasa takutnya dengan kemarahan. "Kau sampah, berani mengancamku?! Aku berada di tingkat tiga Alam Pengumpul Qi! Aku bisa membunuhmu dengan satu jari!"
Jiang Chen tersenyum. Itu adalah senyuman yang tidak mencapai matanya.
"Satu."
"Kau mencari mati!" Jiang Wei mengumpulkan energi Qi di tangannya, siap memukul.
"Dua."
Aura Jiang Chen menjadi semakin menakutkan. Tekanan tak terlihat membuat Jiang Wei sulit bernapas. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Bagaimana mungkin? Bagaimana sampah ini bisa memiliki aura yang begitu mengerikan?
"...Tiga."
Saat kata terakhir diucapkan, Jiang Chen tidak melakukan apa-apa. Ia hanya menatap lurus ke mata Jiang Wei.
Namun, bagi Jiang Wei, tatapan itu lebih menakutkan daripada pedang mana pun. Di dalam tatapan itu, ia seperti melihat lautan darah dan gunung mayat, kehancuran bintang-bintang, dan kematian para dewa. Itu adalah tatapan seorang penguasa absolut yang memandang rendah semua kehidupan.
Gedebuk!
Kaki Jiang Wei lemas. Ia jatuh terduduk di lantai, wajahnya pucat pasi, tubuhnya gemetar tak terkendali. Kedua pelayan di belakangnya bahkan lebih buruk, mereka sudah pingsan karena ketakutan.
"Enyah," kata Jiang Chen, suaranya dingin seperti es.
Tanpa berpikir dua kali, Jiang Wei merangkak dan berlari keluar ruangan dengan panik, seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.
Jiang Chen bahkan tidak meliriknya lagi. Itu hanya gangguan kecil. Ia kembali ke tempat tidurnya dan duduk bersila.
Dia tidak menggunakan kekuatan fisik. Dia hanya melepaskan sebagian kecil dari Niat Kaisar (Emperor's Intent) miliknya. Itu adalah tekanan spiritual yang diasah selama jutaan tahun membantai musuh dan memerintah alam semesta. Bagi seorang bocah fana seperti Jiang Wei, itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan mentalnya.
"Terlalu lemah," bisik Jiang Chen pada dirinya sendiri. "Aku harus menjadi lebih kuat, secepat mungkin. Kota Awan Bambu ini... hanyalah titik awal."
Matanya terpejam lagi, melanjutkan kultivasinya. Di luar, matahari mulai naik lebih tinggi.