Jatmika adalah seorang genius di bidang mekanika dan kimia yang tewas dalam kecelakaan pesawat. Namun, maut bukan akhir baginya. Ia terbangun di tahun 1853, masa di mana Nusantara sedang dicekik oleh sistem Cultuurstelsel (Tanam Paksa) yang kejam. Hidup sebagai anak nelayan miskin di pesisir Kendal, Jatmika menyaksikan sendiri bagaimana rakyat mati kelaparan sementara gudang-gudang Belanda penuh dengan rempah dan emas. Berbekal ingatan masa depan, Jatmika memulai "perang" yang berbeda. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan logistik dan ilmu pengetahuan.
Dapatkah Jatmika membawa Nusantara melompati satu abad perkembangan teknologi untuk merdeka lebih awal? Ataukah ilmu pengetahuan yang ia bawa justru menjadi kutukan yang memicu kehancuran lebih besar bagi rakyat yang ingin ia selamatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Pelepasan Magnetik
Ufuk timur di Laut Jawa tidak lagi berwarna biru tenang, melainkan dipenuhi oleh kepulan asap hitam dari cerobong-cerobong raksasa. Tiga kapal perang kelas Frigate milik Inggris, satu kapal penjelajah Perancis, dan sisa-sisa armada Belanda telah membentuk formasi bulan sabit di lepas pantai Kendal. Mereka adalah simbol kekuatan absolut yang telah membagi dunia selama ratusan tahun.
Di menara pengawas, Jatmika tidak lagi mengenakan lurik petani. Ia memakai jubah teknisi yang ia rancang sendiri, penuh dengan kantong berisi alat ukur. Di hadapannya, sebuah struktur besi raksasa setinggi dua puluh meter berdiri kokoh di atas pondasi beton bertulang. Ini adalah Pelontar Elektromagnetik (Prototype Railgun).
"Raden, kapasitor dari tumpukan sel volta sudah mencapai kapasitas penuh!" teriak Yusuf dari ruang generator bawah tanah. "Tapi ini akan menyedot seluruh listrik di kota. Rumah sakit dan pabrik akan gelap total."
"Lakukan," jawab Jatmika tanpa ragu. "Jika kita kalah hari ini, tidak akan ada lagi rumah sakit atau pabrik untuk siapa pun."
Prinsip kerja senjata Jatmika adalah Gaya Lorentz. Ia menggunakan dua rel tembaga sejajar yang dialiri arus searah (DC) sangat tinggi dari PLTA. Sebuah proyektil baja yang diletakkan di antara kedua rel tersebut akan bertindak sebagai penghantar, menciptakan sirkuit tertutup. Interaksi antara arus listrik dan medan magnet yang dihasilkan akan melontarkan proyektil tersebut dengan kecepatan yang melampaui kecepatan suara, tanpa membutuhkan satu butir pun bubuk mesiu.
Di geladak kapal utama Inggris, HMS Sovereign, Kolonel Thorne berdiri bersama Laksamana Sir Edward. Mereka mengamati kota melalui teleskop.
"Mereka punya lampu listrik, Sir Edward. Tapi mereka tidak punya pertahanan pantai yang terlihat," ujar Thorne dengan nada curiga. "Jatmika selalu menyembunyikan senjatanya di tempat yang paling tidak terduga."
"Omong kosong, Thorne," balas Laksamana Edward sambil mengibaskan tangannya. "Kita punya meriam 68 pon. Kita akan meratakan dermaga itu dalam sepuluh menit."
Tepat saat Laksamana Edward hendak memberikan perintah tembak, suara mendengung rendah mulai terdengar dari arah tebing Kendal. Suara itu semakin lama semakin tinggi, menyerupai ribuan lebah yang mengamuk.
"Sekarang!" perintah Jatmika.
Ia menarik tuas sakelar utama yang terbuat dari perak murni. Seketika, kilatan cahaya biru terang menyambar di antara rel raksasa tersebut. Sebuah proyektil baja berbentuk silinder meluncur dengan ledakan sonik yang memecah kaca-kaca jendela di sekitar menara.
BOOOM-CRACK!
Proyektil itu tidak terlihat oleh mata telanjang. Dalam sekejap, ia menghantam bagian lambung HMS Sovereign tepat di bawah garis air. Karena kecepatannya yang luar biasa, proyektil itu tidak meledak, melainkan menembus baja kapal seolah-olah itu adalah kertas basah, menembus ruang mesin, dan keluar dari sisi lain kapal sebelum tenggelam ke laut.
"Lapor! Kebocoran besar di ruang uap!" teriak awak kapal Inggris. "Kita tidak melihat apa yang menembak kita! Tidak ada asap, tidak ada api!"
Laksamana Edward jatuh terduduk. Kapal kebanggaan Inggris itu mulai miring dengan cepat. Kapal Perancis di sampingnya mencoba berputar untuk menembak, namun Jatmika sudah menyiapkan tembakan kedua.
"Suro! Geser sudut elevasi lima derajat ke kiri!" perintah Jatmika sambil memutar roda gigi kuningan besar.
Tembakan kedua meluncur. Kali ini menghantam menara komando kapal penjelajah Perancis, menghancurkan pusat kendali mereka secara total. Armada gabungan itu seketika dilanda kepanikan massal. Mereka terbiasa berperang melawan musuh yang menggunakan taktik yang sama dengan mereka. Mereka tidak siap menghadapi senjata yang tidak menggunakan api dan tidak memberikan peringatan visual.
"Mundur! Mundur dari jangkauan tebing!" perintah Thorne, suaranya gemetar. "Ini bukan sains biasa... ini adalah kiamat mekanis!"
Di kota Kendal, seluruh lampu padam saat kapasitor dikosongkan untuk tembakan ketiga. Namun, rakyat yang berdiri di jalanan bersorak gembira. Mereka melihat kapal-kapal raksasa yang tadinya tampak mengancam kini saling bertabrakan dalam kepanikan untuk menjauh dari pantai.
Jatmika terduduk di lantai menara, napasnya tersengal. Tangannya gemetar karena beban adrenalin yang luar biasa. Ia menatap rel tembaga yang kini membara merah karena panas gesekan dan arus listrik yang masif.
"Kita berhasil menahan mereka," bisik Suro sambil memeluk bahu Jatmika.
"Hanya untuk sementara, Suro," jawab Jatmika. "Rel ini sudah meleleh. Kita tidak bisa menembakkannya lagi tanpa perbaikan selama seminggu. Dan Inggris tidak akan tinggal diam setelah kapal kebanggaan mereka dilubangi oleh 'penduduk pribumi'."
Jatmika berdiri, menatap laut yang kini dipenuhi puing-puing kapal Inggris. Ia menyadari satu hal yang pahit: teknologi yang ia bawa telah mempercepat sejarah terlalu cepat. Ia telah menciptakan ketakutan global yang akan menyatukan seluruh Eropa untuk menghancurkan Kendal.
"Yusuf," panggil Jatmika. "Kirim pesan telegraf ke seluruh jaringan kita di Jawa. Beritahu mereka, raksasa laut bisa dikalahkan. Tapi katakan juga pada mereka... siapkan diri untuk perang darat yang paling lama dan berdarah dalam sejarah manusia."
Malam itu, di tengah kegelapan kota yang kehabisan daya, Jatmika mulai merancang sesuatu yang lebih mengerikan untuk melindungi rakyatnya: Sistem Deteksi Gelombang Suara (Sonar Primitif) untuk mendeteksi pergerakan kapal di bawah kabut, dan Senapan Mesin Pertama yang akan ia pasang di setiap gerbang kota.
Dunia telah berubah. Kendal bukan lagi sebuah kota, melainkan sebuah laboratorium perang yang akan menentukan nasib benua Asia di bawah kepemimpinan seorang anak masa depan yang terjebak di masa lalu.