NovelToon NovelToon
00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

00:00: 12 Menit Menuju Hatimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

Sepuluh tahun bersahabat, satu menit untuk jatuh cinta, dan dua belas menit untuk mempertaruhkan segalanya.

Tepat pukul 23:48 di malam pergantian tahun, Arka memiliki satu misi gila: Menyatakan cinta pada Lala, sahabat masa kecilnya, sebelum kembang api pertama meledak. Namun, semesta seolah sedang bercanda. Mulai dari sinyal yang timbul tenggelam, serangan video call grup keluarga yang heboh, hingga baterai ponsel yang tersisa 1%.

Di tengah riuhnya Jakarta, setiap detik adalah pertaruhan. Apakah pesan "Aku suka kamu" akan sampai sebelum jam berubah menjadi 00:00? Ataukah Arka harus menahan rindu dan penyesalan satu tahun lagi?

"Ikuti perjalanan chat paling mendebarkan dalam 12 menit terakhir tahun ini!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Pesan Receh Paman Harris

Bab 17: Pesan Receh Paman Harris

Transisi dari Bab 16 ke Bab 17 terjadi dalam fraksi detik yang brutal. Meskipun jempolku nyaris melakukan kesalahan fatal dengan menekan ikon panggilan video hijau (sebuah tragedi yang baru akan memuncak di Bab 18), antarmuka WhatsApp memberikan jeda visual sementara. Panggilan video itu masih dalam status calling, namun di sela-sela transisi layar tersebut, sebuah notifikasi baru menyelinap masuk.

Itu adalah pesan dari Paman Harris.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan bagaimana sebuah jendela pop-up kecil muncul, membawa serta sebuah aset grafis yang sangat kontras dengan estetika malam di Bundaran HI.

Paman Harris baru saja mengirimkan sebuah stiker. Bukan sembarang stiker, melainkan sebuah mahakarya "receh" yang sering menjadi penghuni tetap grup WhatsApp keluarga Indonesia.

Stiker itu menampilkan seekor kucing kartun dengan mata yang terlalu besar, memakai topi kerucut berkilau emas, memegang terompet yang mengeluarkan partikel glitter digital statis. Di atas kepala kucing itu, terdapat teks dengan font Curlz MT berwarna gradasi pelangi: "MET TAHUN BARU 2026! SEMOGA MAKIN CIHUY!"

Analisis kognitifku terhenti sejenak. Otakku, yang sedang dalam kondisi tegangan tinggi untuk memproses pengakuan cinta seumur hidup, dipaksa untuk mengalokasikan sumber daya komputasi demi membedah stiker norak ini.

Ada disonansi emosional yang luar biasa di sini.

* Di duniaku: Aku sedang berada di bibir jurang eksistensial. Detak jantungku berada pada frekuensi 110 BPM, telapak tanganku memproduksi keringat dingin (Bab 7), dan setiap milidetik di menit 23:49 terasa seperti pengadilan takdir.

* Di dunia Paman Harris: Semesta adalah tentang kucing kartun dan kata "Cihuy".

Kontras ini menciptakan sebuah kekosongan makna yang mencekik. Aku menatap piksel-piksel stiker itu. Aku bisa melihat kompresi gambar yang buruk pada tepi telinga kucing tersebut—sebuah artefak digital dari proses pengiriman ulang (forward) yang telah dilakukan entah berapa kali.

Stiker ini adalah residu budaya digital, sebuah simbol kebahagiaan generik yang tidak membutuhkan kedalaman, tidak membutuhkan keberanian, dan tentu saja tidak membutuhkan risiko penolakan.

"Cihuy," gumamku dalam hati. Kata itu terasa seperti pasir di tenggorokanku yang kering.

Secara mikroskopis, aku memperhatikan pendaran cahaya dari stiker pelangi itu di permukaan kacamataku. Warna-warni norak itu seolah mengejek intensitas perasaanku. Paman Harris, yang mungkin saat ini sedang duduk santai sambil mengunyah kacang goreng di teras rumahnya di Medan, tidak tahu bahwa stikernya baru saja mendarat seperti bom molotov di tengah laboratorium emosional yang sedang ksusun dengan sangat hati-hati.

Kehadiran stiker ini merusak mood narasi internal yang telah kubangun sejak Bab 1. Bagaimana mungkin aku bisa mengetik kata "Cinta" atau "Sayang" (Bab 4) dengan serius, sementara di bilah notifikasi atas masih menggantung bayangan kucing bertopi kerucut yang sedang meniup terompet digital?

Aku merasakan gelombang iritasi yang bersifat neurokimia. Kadar kortisol dalam darahku meningkat. Iritasi ini bukan hanya karena gangguan visual, tapi karena "kegembiraan paksa" yang dibawa oleh pesan tersebut. Paman Harris mewakili dunia yang menganggap malam tahun baru adalah perayaan kolektif yang seragam, sementara bagiku, malam ini adalah perjuangan individualistik yang sangat privat.

Jempolku bergetar hebat. Aku ingin menghapus notifikasi itu, namun rasa takutku akan salah tekan kembali menghantui. Aku memperhatikan bagaimana stiker itu memakan ruang memori di ponselku. Ia mengunduh diri secara otomatis—sebuah paket data berukuran beberapa puluh kilobita yang kini menempati ruang di cache WhatsApp-ku, berdampingan dengan draf pesan "L" yang belum sempat kulanjutkan.

"Kenapa, Ka? Kamu senyum-senyum sendiri?"

Lala bertanya. Aku tersentak. Apakah otot zygomaticus di wajahku bergerak secara involunter karena melihat kekonyolan stiker itu? Ataukah Lala salah mengartikan keteganganku sebagai sebuah senyuman?

"Enggak, ini... Paman Harris kirim stiker kucing," jawabku pendek. Aku mencoba menjaga nada suaraku agar tetap objektif, namun ada getaran skeptis yang tidak bisa kusembunyikan.

"Oh, lucu dong?" Lala mencoba mengintip.

Secara refleks, aku memiringkan ponselku (Bab 8). Aku tidak ingin Lala melihat stiker itu. Bukan karena stikernya rahasia, tapi karena aku tidak ingin atmosfer di antara kami terkontaminasi oleh "Cihuy". Aku ingin hubungan kami tetap berada pada frekuensi yang serius, dalam, dan mikroskopis—bukan pada level receh grup keluarga.

Analisis logisku mulai memetakan risiko baru: Distraksi Empati. Jika aku tertawa melihat stiker itu, ketegangan yang dibutuhkan untuk mengirim pesan pengakuan akan mengendur. Aku butuh ketegangan itu. Aku butuh kecemasan ini sebagai bahan bakar untuk melintasi garis finish.

Kegembiraan receh dari Paman Harris adalah musuh bagi ambisi emosionalku.

Aku menatap kembali ke layar. Notifikasi stiker itu perlahan menghilang, digantikan oleh baris teks baru dari grup yang sama.

Sepupu Rina: "Hahaha, Paman bisa aja. Arka mana nih? Belum muncul?"

Nama "Arka" disebutkan. Sekarang, bukan hanya mataku yang diserang, tapi identitasku sedang dipanggil ke dalam panggung yang tidak kuinginkan. Mereka menungguku. Mereka ingin aku menjadi bagian dari "Cihuy" itu. Mereka ingin aku memberikan jempol virtual atau stiker balasan yang sama noraknya.

Aku merasakan beban mental itu bertumpuk. Setiap pesan receh yang masuk adalah satu beban tambahan di ransel yang sedang kubawa mendaki gunung pengakuan. Aku harus mengabaikan mereka. Aku harus memblokir ekspektasi keluarga besar Mansyur dari radar kesadaranku.

Namun, secara mikroskopis, aku melihat sebuah detail yang mengerikan di layar. Tepat di bawah notifikasi teks Rina, ada ikon kecil yang berputar. Ponselku sedang memproses sesuatu yang lebih berat.

Paman Harris tidak berhenti di stiker. Dia sedang mengunggah sesuatu yang lain. Sebuah video pendek berdurasi sepuluh detik dengan resolusi rendah yang biasanya berisi kembang api stok lama dengan latar musik dangdut koplo atau lagu religi yang di-remix.

"Jangan sekarang, Paman. Tolong," bisikku dalam hati.

Aku memperhatikan bagaimana indikator progres pengunduhan bergerak perlahan. Setiap persen yang bertambah adalah detik yang terbuang dari menit 23:49. Aku terjebak melihat bar progres itu, seolah-olah takdirku bergantung pada seberapa cepat video receh itu terunduh.

Inilah tragedi manusia digital: kita bisa kehilangan momen terbesar dalam hidup kita hanya karena kita terlalu sibuk memperhatikan progres pengunduhan hal-hal yang tidak kita butuhkan.

Aku memutuskan untuk tidak memedulikan video itu. Aku memalingkan fokus kembali ke kolom input chat Lala. Huruf 'L' masih di sana. Kursor masih berkedip (Bab 10). Namun, bayangan kucing bertopi kerucut itu masih tersisa di retinaku sebagai afterimage.

Aku harus segera mengetik huruf kedua. 'A'.

Namun, sebelum jempolku mendarat, getaran panjang kembali terjadi. Bukan getaran pesan teks. Bukan getaran stiker.

Ini adalah getaran panggilan video yang sesungguhnya. Layar chat Lala menghilang sepenuhnya. Wajah Paman Harris yang sedang memegang jagung bakar tiba-tiba memenuhi seluruh layar 6,7 inci ponselku.

Panggilan video massal dimulai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!