Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Matthias—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di The Spire Of Wisdom tanpa sedikit pun memberi kabar.
Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Matthias pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Matthias bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.
Matthias tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema di Lantai 50
Gedung SM Corp tampak tenang dari luar, namun di dalam ruang kerja CEO, atmosfernya terasa sangat berat. Matthias duduk bersandar di kursi kulitnya, memutar-mutar pulpen mahal di antara jemari panjangnya. Laporan keuangan yang biasanya ia lahap dalam hitungan menit, kini tergeletak tak tersentuh.
Pikirannya tertahan di lobi kampus tadi pagi. Ia masih bisa merasakan kehangatan dahi Sheena saat ia mengecupnya secara spontan.
"Sial," umpat Matthias lirih. Suaranya bergema di ruangan luas itu.
Ia menarik laci mejanya, mengambil sapu tangan biru dengan bordir bunga mawar diujungnya. Kain itu masih sangat cantik, terawat. Dan aromanya seolah masih menyimpan memori tentang gadis kecil itu di halte bus.
Selama ini, sapu tangan ini adalah kompas hidupnya. Alasan kenapa ia tidak pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke hatinya, termasuk Celine. Ia menunggu pemilik sapu tangan ini. Namun sekarang, realita menghantamnya dengan keras.
Ada seorang wanita yang hidup satu atap dengannya. Wanita yang sah secara hukum dan agama sebagai istrinya. Dan yang paling menjengkelkan, Matthias baru saja menyadari bahwa ia bisa merasa cemburu buta hanya karena melihat pria asing menyentuh ujung lengan baju wanita itu.
"Perasaan apa-apaan ini?" Gumamnya frustrasi. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut.
Bagi keluarga Smith. Pernikahan bukanlah kontrak bisnis yang bisa dibatalkan saat ia merasa bosan atau menemukan "opsi" yang lebih baik. Tapi, pernikahan adalah janji suci sekali seumur hidup. Jika ia sudah memilih untuk melangkah masuk, maka tidak ada jalan keluar.
Ia menatap sapu tangan itu lekat-lekat. Haruskah ia menyudahi pencarian ini? Haruskah ia berhenti mengejar bayang-bayang masa lalu yang bahkan mungkin tidak ingat padanya?
"Kau sudah menikah, Matthias. Berhentilah bersikap seperti remaja yang sedang mencari cinta monyet," maki Matthias pada bayangannya sendiri di kaca jendela besar.
Saking fokusnya menatap sapu tangan itu, dia menemukan sesuatu yang baru Ia sadari. Inisial, inisial SK4 tertulis menyatu dalam batang mawar itu. Ia teringat data diri Sheena yang ia baca semalam. Sheena Katrina. Inisialnya pun SK. Matthias sempat tertegun sesaat, namun ia segera menepis pemikiran konyol itu. Banyak orang memiliki inisial SK di dunia ini. Ia tidak ingin terjebak dalam kebetulan yang mungkin saja menyakitkan.
Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk. Rei masuk dengan membawa setumpuk dokumen baru.
"Tuan, jadwal Anda sore ini ada pertemuan dengan investor dari Singapura," lapor Rei. Ia sempat melirik ke arah tangan Matthias yang masih menggenggam sapu tangan itu. "Apakah... Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sedikit gelisah sejak kembali dari kampus tadi."
Matthias segera memasukkan sapu tangan itu kembali ke saku jasnya dengan gerakan cepat, kembali memasang topeng dinginnya. "Aku baik-baik saja. Siapkan mobilnya. Dan Rei..."
"Ya, Tuan?"
"Cari tahu siapa laki-laki bernama Martin yang sering berkeliaran di University of Makati. Aku ingin laporan lengkapnya di mejaku besok pagi. Jangan ada yang terlewat, sekecil apa pun itu," perintah Matthias dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Rei sedikit terkejut, namun ia segera membungkuk patuh. "Baik, Tuan."
Setelah Rei keluar, Matthias kembali terdiam. Ia menatap laci tempat ia menyimpan akta nikahnya. Ia sadar, ia mulai terobsesi. Bukan lagi pada sapu tangan itu, melainkan pada gadis mungil yang kini menyandang nama belakangnya.
Matthias memejamkan mata, mengusap wajahnya dengan kasar. "Maafkan aku," bisiknya entah pada siapa. "Tapi aku tidak bisa membiarkan siapa pun mengambil apa yang sudah menjadi milikku."
Malam ini, ia memutuskan untuk pulang lebih awal. Bukan untuk bekerja, tapi untuk melihat apakah "Babi Kecil"-nya sudah pulang dan sedang merapikan pulpen-pulpennya dengan teliti di atas meja belajar.