NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Sisa Rendang di Ujung Meja

Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen di ruang makan itu terdengar seperti lonceng kematian bagi harga diri Hana. Di balik sekat dapur yang pengap, Hana berdiri mematung, meremas kain lap yang sudah basah oleh keringat dan air cucian piring. Napasnya pendek-pendek, mencoba menahan sesak yang merayap di dadanya setiap kali mendengar tawa melengking Ibu Salma di ruang sebelah.

Hari ini adalah hari raya. Seharusnya, ini adalah momen kebahagiaan. Namun bagi Hana, hari raya hanyalah hari di mana jam kerjanya bertambah dua kali lipat, dan volume hinaan yang ia terima meningkat tiga kali lipat.

"Aris, tambah lagi rendangnya, Nak. Ini bagian yang paling empuk, Ibu sengaja pilihkan untukmu," suara Ibu Salma terdengar begitu manis, tipe suara yang hanya dikeluarkan untuk anak laki-laki kesayangannya, namun akan berubah menjadi duri tajam saat berbicara pada Hana.

"Terima kasih, Bu. Masakan Ibu memang tidak ada tandingannya," sahut Aris.

Hana memejamkan mata. Masakan Ibu? Hana ingin tertawa, atau mungkin berteriak. Sejak pukul tiga pagi, dialah yang berjibaku dengan bumbu, menghaluskan cabai sampai tangannya panas terbakar, dan berdiri di depan tungku selama berjam-jam sampai kakinya bengkak. Ibu Salma hanya masuk ke dapur saat masakan sudah matang, mencicipi sesendok, lalu memindahkan semuanya ke piring saji seolah-olah itu adalah mahakaryanya sendiri.

"Hana! Keluar kamu!" teriakan itu memutus lamunan Hana.

Hana segera merapikan daster kusamnya yang terkena cipratan santan dan berjalan menunduk menuju ruang makan. Di sana, Aris, Ibu Salma, dan Maya—adik iparnya yang baru saja lulus kuliah namun masih enggan mencari kerja—duduk melingkari meja yang penuh dengan kemewahan makanan.

"Iya, Bu?"

Ibu Salma menunjuk sebuah piring yang hanya menyisakan kuah lemak berwarna cokelat pekat dan sepotong kecil daging yang hancur. "Ini sisanya. Cepat makan, lalu cuci semua piring kotor itu. Jangan sampai ada lemak yang tertinggal, saya benci piring yang licin. Oh, dan ingat, jangan berani-berani menyentuh rendang yang di dalam panci besar, itu untuk tamu nanti sore."

Hana menatap piring sisa itu. Hanya ada sisa kunyahan dan tulang. Hatinya mencelos. Ia adalah istri sah dari pria yang duduk di sana, namun di rumah ini, kastanya lebih rendah dari pembantu yang dibayar.

"Mas Aris..." Hana menatap suaminya, mencari sedikit saja pembelaan atau setidaknya tatapan iba.

Aris tidak mendongak. Ia sibuk mengunyah paruh terakhir daging di piringnya. "Sudahlah, Han. Makan saja yang ada. Ibu kan benar, kita harus hemat untuk tamu. Jangan terlalu sensitif, malu dilihat Maya."

Maya terkekeh sambil memainkan ponsel mahalnya—ponsel yang dibeli menggunakan uang tabungan darurat yang Hana sisihkan dari uang belanja, namun dipaksa Aris untuk diberikan kepada adiknya sebagai "hadiah kelulusan".

"Iya, Mbak Hana. Jangan baperan. Di rumah ini kan yang penting Ibu senang. Mbak harusnya bersyukur bisa makan masakan enak begini meskipun cuma sisa," ucap Maya tanpa dosa.

Hana merasakan sesuatu yang panas naik ke matanya. Bukan air mata sedih, tapi amarah yang sudah lama ia timbun di dasar sanubari. Ia mengambil piring sisa itu dengan tangan bergetar. Ia tidak membawanya ke meja makan, melainkan membawanya kembali ke dapur.

Di depan tempat cuci piring, Hana menatap piring itu. Ia tidak memakannya. Ia menuangkan seluruh sisa makanan itu ke tempat sampah. Suara jatuhnya sisa daging itu ke kantong plastik terdengar seperti pernyataan perang dalam kepalanya.

Cukup, bisik Hana pada dirinya sendiri.

Sore harinya, rumah mulai ramai oleh tamu-tengah kerabat jauh Aris. Hana kembali menjadi bayangan. Ia keluar masuk membawa nampan berisi teh dan kue-kue kering. Tubuhnya lelah, namun pikirannya bekerja sangat cepat.

Saat ia sedang di dapur untuk mengisi ulang teko, ia mendengar percakapan di ruang tengah yang membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.

"Wah, Jeng Salma, hebat ya Aris sekarang. Kabarnya baru saja dapat bonus besar dari kantor?" tanya salah seorang tamu.

"Alhamdulillah, Jeng. Rezeki anak berbakti. Uangnya langsung dipakai Aris untuk renovasi teras depan dan beli keramik baru yang paling mahal. Aris itu memang luar biasa, tidak pernah lupa pada Ibunya," jawab Ibu Salma dengan nada sombong yang kental.

Hana terpaku. Bonus besar?

Minggu lalu, saat Hana meminta uang untuk membayar tunggakan SPP sekolah anak mereka, Aris membentaknya. Aris bilang kantornya sedang sulit, bonus ditiadakan, dan Hana harus "lebih pintar mengatur uang" agar tidak terus-menerus menagih. Bahkan, Aris sempat menuduh Hana menyembunyikan uang untuk keluarganya sendiri di desa.

Hana meletakkan teko dengan tangan yang sangat dingin. Ia berjalan menuju kamar mereka, sebuah ruangan kecil di sudut rumah yang lebih mirip gudang karena penuh dengan kardus-kardus barang milik Maya.

Ia membuka laci lemari Aris yang terkunci. Ia tahu di mana Aris menyembunyikan kunci cadangannya—di bawah lipatan sajadah yang jarang sekali Aris sentuh. Dengan tangan gemetar, Hana membuka laci itu. Di sana, ia menemukan sebuah amplop cokelat.

Ia membukanya. Segepok uang pecahan seratus ribu rupiah. Ada catatan kecil di sana dari bagian keuangan kantor Aris: Bonus Performa Tahunan - Aris Putranto.

Jumlahnya tiga puluh juta rupiah.

Hana terduduk di tepi ranjang. Air mata yang sejak pagi ia tahan, akhirnya luruh tanpa suara. Bukan karena ia miskin, tapi karena ia menyadari bahwa selama lima tahun ini, ia tidak sedang membangun rumah tangga. Ia sedang diperbudak oleh seorang pria yang menganggapnya tidak lebih penting daripada keramik teras rumah ibunya.

Ia teringat saat anaknya menangis minggu lalu karena malu ditagih SPP di depan kelas. Saat itu, Aris hanya berkata, "Biarkan saja, biar dia belajar hidup susah."

"Kamu jahat, Aris... kamu benar-benar jahat," bisik Hana.

Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Aris berdiri di sana, wajahnya berubah merah padam saat melihat Hana memegang amplop cokelat tersebut.

"Siapa yang suruh kamu buka laci itu?!" bentak Aris. Ia melangkah cepat dan merebut amplop itu dari tangan Hana.

Hana berdiri, menatap Aris dengan mata yang merah namun tajam. "Uang apa itu, Mas? Bonus performa? Tiga puluh juta?"

"Itu bukan urusanmu! Itu uangku, hasil kerja kerasku!"

"Bukan urusanku? Aku istrimu, Aris! Anak kita hampir dikeluarkan dari sekolah karena kamu bilang tidak punya uang, tapi kamu sanggup beli keramik mahal untuk Ibu?" suara Hana meninggi, pertama kalinya dalam lima tahun.

"Jaga bicaramu! Ibu sudah membesarkanku sendirian, wajar kalau aku membalas budinya!" Aris balik berteriak. "Kamu itu cuma istri, bisa dicari lagi. Tapi Ibu cuma satu!"

Plak!

Tamparan itu tidak mendarat di pipi Aris, melainkan di hati Hana. Kalimat itu—kalimat klasik yang sering digunakan laki-laki manipulatif untuk membungkam istrinya—akhirnya keluar dari mulut Aris.

"Jadi aku cuma barang yang bisa dicari lagi?" suara Hana mendadak tenang, sebuah ketenangan yang menakutkan. "Kalau begitu, silakan cari lagi sekarang, Aris. Karena hari ini, aku selesai menjadi sabar."

Aris tertawa mengejek. "Mau pergi ke mana kamu? Kamu tidak punya uang, tidak punya kerjaan. Orang tuamu di desa juga cuma petani miskin. Kamu mau kasih makan apa anakmu? Rumput?"

Hana tidak menjawab. Ia berjalan menuju lemari, mengambil sebuah tas kain besar, dan mulai memasukkan baju-bajunya dan baju anaknya dengan gerakan yang sangat cepat, hampir mekanis.

"Hana! Jangan berlagak drama! Kamu tidak akan berani keluar dari rumah ini!" Aris terus berteriak, namun Hana seolah mendadak tuli.

Hana menarik napas panjang. Ia mengambil perhiasan satu-satunya yang ia miliki—sebuah kalung emas tipis peninggalan almarhum ibunya yang selama ini ia sembunyikan agar tidak dipinjam oleh Maya.

Ia berjalan keluar kamar, melewati Ibu Salma dan Maya yang menatapnya dengan bingung di ruang tengah yang masih ramai tamu.

"Hana! Mau ke mana kamu bawa tas begitu?! Belum cuci piring sudah mau keluyuran!" teriak Ibu Salma di depan para tamu.

Hana berhenti tepat di depan Ibu Salma. Ia menatap wanita tua itu, lalu beralih ke tamu-tamu yang kini terdiam menonton.

"Ibu ingin rendang yang empuk, kan?" tanya Hana datar. "Silakan masak sendiri mulai besok. Dan keramik baru Ibu... saya harap keramik itu bisa menemani Ibu saat tidak ada lagi orang yang mau mencuci kaki Ibu dengan tulus."

Hana melangkah keluar pintu, menggendong anaknya yang terbangun karena keributan itu. Di bawah langit senja yang mulai menggelap, Hana tidak merasa takut. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia merasa udara yang ia hirup tidak lagi berbau apek dapur Ibu Salma. Ia menghirup bau kebebasan.

Malam itu, di sebuah emperan toko yang sudah tutup, Hana memeluk anaknya erat. Ia hanya punya uang lima puluh ribu di saku dan sebuah kalung emas tipis. Tapi di dalam kepalanya, sebuah rencana mulai tersusun. Ia adalah seorang akuntan terbaik di angkatannya dulu, sebelum Aris memaksanya berhenti kerja.

"Kita akan baik-baik saja, Nak," bisik Hana. "Mama tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak kita lagi."

Inilah babak baru. Babak di mana kesabaran bukan lagi senjatanya, melainkan kecerdasan dan dendam yang dingin.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!