NovelToon NovelToon
PASHAM

PASHAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Epik Petualangan
Popularitas:717
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.

Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.

Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.

Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.

Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Macan Kumbang

Pagi itu Tio melanjutkan perjalanan ke bawah. Setelah sarapan pisang mentah dan berterima kasih pada pohon beringin yang telah melindunginya semalam, ia merasa sedikit lebih kuat. Tidak banyak—masih lemas, masih sakit, masih kurus kerempeng—tapi cukup untuk terus bergerak.

Medan mulai berubah. Lereng yang ia lalui semakin landai, pepohonan semakin rapat, semak-semak semakin tinggi. Tanda-tanda bahwa ia semakin turun, semakin mendekati kaki gunung. Atau setidaknya, itulah harapannya.

Tongkat bambu menancap di tanah setiap langkah. Kaki kanan diseret, tidak bisa diinjak. Kaki kiri melompat-lompat kecil, menopang seluruh beban. Irama ini sudah menjadi kebiasaan. Tubuhnya beradaptasi dengan cara yang menyakitkan, tapi efektif.

Sekitar dua jam berjalan, Tio memasuki area yang lebih terbuka—sebuah padang ilalang kecil di tengah hutan. Rumput-rumput tinggi bergoyang ditiup angin, menciptakan ombak hijau yang menenangkan. Di seberang padang, hutan kembali rapat.

Dan di tepi hutan itu, Tio melihatnya.

Macan kumbang.

Hitam pekat, besar, dengan otot-otot yang tampak jelas di bawah kulit mengilap. Ia berdiri di sana, di pinggir padang ilalang, menatap lurus ke arah Tio. Matanya kuning keemasan, bersinar di bawah sinar matahari. Ekornya bergerak-gerak perlahan, seperti pendulum yang menghitung detik-detik sebelum sesuatu terjadi.

Tio membeku.

Jantungnya berhenti sejenak, lalu berdetak kencang, sangat kencang, seperti ingin melompat keluar dari dada. Keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya, meski udara pagi masih sejuk. Tangannya gemetar memegang tongkat bambu—senjata satu-satunya yang ia miliki, yang tidak akan berarti apa-apa melawan kucing besar seukuran itu.

Macan kumbang. Di sini. Di depan gue.

Tio tahu tentang macan kumbang. Ia membaca di suatu tempat bahwa mereka adalah subspesies macan tutul yang melaninnya berlebih, membuat mereka hitam total.

Mereka predator puncak, pemburu ulung, bisa memanjat pohon, bisa berenang, bisa melakukan segalanya. Dan di alam liar, mereka tidak takut pada manusia—setidaknya, tidak seperti hewan lain yang cenderung menghindar.

Dan Tio, dalam kondisinya sekarang—kurus, terluka, lemah, pincang—adalah mangsa yang sempurna. Mudah ditangkap, mudah ditaklukkan.

Ini akhirnya, pikirnya. Bukan karena lapar, bukan karena infeksi, bukan karena bayangan-bayangan itu. Tapi karena dimakan macan.

---

Tanpa berpikir panjang, Tio mulai mundur perlahan. Satu langkah ke belakang, tongkat menancap, kaki kanan diseret. Satu langkah lagi. Matanya tidak lepas dari macan itu. Ia mencari pohon besar di sekitarnya—sesuatu yang bisa ia panjat, sesuatu yang bisa melindunginya.

Di belakangnya, sekitar 20 meter, ada pohon besar dengan cabang-cabang rendah. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk memanjat jika ia bisa mencapai cabang pertama.

Tio terus mundur, perlahan, sangat perlahan. Macan itu tidak bergerak. Hanya menatapnya dengan mata kuning itu, ekornya masih bergerak-gerak.

Apa yang ia pikirkan? Apa yang ia rencanakan? Tio tidak tahu. Yang ia tahu, ia harus mencapai pohon itu.

Lima belas meter lagi. Sepuluh. Lima.

Tio meraih cabang pertama pohon itu. Dengan sisa tenaga yang ada, ia menarik tubuhnya ke atas. Kaki kanan menjerit kesakitan, tapi ia abaikan. Sekali tarikan, dua kali, tiga kali—akhirnya ia berhasil duduk di cabang pertama, sekitar dua meter dari tanah.

Ia mendongak ke arah macan.

Macan itu masih di tempatnya. Tidak bergerak. Tidak mengejar. Hanya menatap.

Tio duduk di cabang pohon itu, bersandar di batang utama, mengatur napas. Jantungnya masih berdebar kencang, tapi setidaknya ia sedikit lebih aman. Macan kumbang bisa memanjat pohon, tapi biasanya mereka tidak akan mengejar mangsa yang sudah di atas—terlalu banyak energi, terlalu berisiko cedera.

Atau setidaknya, itulah yang ia harapkan.

---

Satu jam berlalu. Tio tetap di cabang pohon itu, tidak berani turun. Macan itu masih di tempatnya. Masih menatap. Tapi ada yang aneh.

Macan itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyerang. Tidak menggeram, tidak menunjukkan gigi, tidak mengendap-endap mendekat. Ia hanya berdiri di sana, sesekali mengalihkan pandangan ke arah lain, lalu kembali menatap Tio.

Seperti... menunggu.

Seperti menyuruh Tio untuk melakukan sesuatu.

Tio mengerutkan kening. Apa yang ia mau?

Setengah jam lagi berlalu. Macan itu mulai bergerak—bukan ke arah Tio, tapi ke samping, perlahan, sepanjang pinggir padang ilalang. Beberapa langkah, lalu berhenti. Menoleh ke arah Tio. Beberapa langkah lagi, berhenti. Menoleh lagi.

Seperti memberi isyarat. Seperti berkata, Ikuti aku.

Tio bingung. Ini macan sungguhan? Atau ini salah satu dari mereka—makhluk-makhluk yang selama ini mengikutinya, yang muncul dalam berbagai bentuk? Mungkin ini hanya ilusi lain, jebakan lain.

Tapi sesuatu dalam dirinya berkata lain. Matanya. Mata macan itu berbeda. Tidak seperti mata bayangan-bayangan hitam yang merah dan kosong. Mata ini kuning, hidup, nyata. Ini macan sungguhan.

Tapi kenapa ia tidak menyerang? Kenapa ia seperti menyuruhku ikut?

---

Tio mengambil keputusan yang mungkin bodoh. Tapi di dalam hutan ini, dengan segala hal aneh yang telah ia alami, ia mulai percaya bahwa tidak ada yang kebetulan. Mungkin macan ini adalah penolong. Mungkin ia dikirim untuk membawanya ke suatu tempat.

Perlahan, Tio turun dari pohon. Kaki kanan meringis kesakitan saat menyentuh tanah, tapi ia tahan. Ia berdiri, memegang tongkat erat-erat, siap jika macan itu tiba-tiba menyerang.

Macan itu menatapnya sebentar, lalu berbalik dan mulai berjalan. Perlahan. Sekali-sekali menoleh, memastikan Tio mengikutinya.

Tio mengikuti.

---

Mereka berjalan melewati padang ilalang, lalu masuk ke hutan yang lebih rapat. Macan itu memilih jalur yang relatif mudah—menghindari semak-semak rapat, menghindari tebing curam. Sesekali ia berhenti, menunggu Tio yang tertatih-tatih di belakangnya.

Tio terus mengikuti. Rasa sakit di kakinya luar biasa, tapi ia paksakan. Ada perasaan aneh bahwa ini penting, bahwa ia harus mengikuti makhluk ini.

Sore mulai turun. Matahari bergerak ke barat, cahayanya berubah jingga. Tio lelah, sangat lelah, tapi ia tidak berani berhenti. Macan itu masih di depan, sesekali menoleh.

Akhirnya, ketika matahari hampir tenggelam, macan itu berhenti di sebuah pohon besar. Ia duduk di bawah pohon itu, menatap Tio sekali lagi, lalu berbaring, meletakkan kepalanya di atas kaki depan, seperti anjing yang sedang beristirahat.

Tio mengerti. Ini tempat untuk bermalam.

Ia mendekati pohon itu—pohon lain yang besar, dengan akar-akar menjulur. Tidak sebesar beringin semalam, tapi cukup untuk berlindung. Tio duduk di bawah pohon, bersandar di batang, matanya tidak lepas dari macan itu.

Macan itu masih di sana, sekitar 10 meter dari Tio. Berbaring, tenang, sesekali menguap memperlihatkan taringnya yang panjang.

Tio tidak berani tidur. Bagaimana bisa ia tidur di dekat predator? Tapi tubuhnya terlalu lelah. Matanya berat. Ia berjuang melawan kantuk, tapi perlahan, perlahan...

---

Malam tiba.

Tio terbangun beberapa jam kemudian. Tubuhnya menggigil kedinginan. Ia melihat ke arah macan itu—sudah tidak ada. Hanya rumput yang sedikit tertekan bekas tubuhnya.

Macan itu pergi.

Tio duduk, memandangi kegelapan. Dari kejauhan, suara-suara malam mulai terdengar. Monyet menjerit. Tawa melengking. Geraman aneh. Dan bayangan-bayangan hitam mulai muncul di antara pepohonan, berkumpul, mengelilingi tempatnya.

Tapi mereka tidak mendekat. Seperti ada batas tak terlihat yang tidak bisa mereka lewati. Mungkin bekas macan itu masih terasa. Mungkin baunya masih mengusir mereka.

Tio bersandar lagi di pohon, memeluk ransel. Malam ketujuh. Malam tanpa macan, tapi masih dengan bayangan. Ia lelah, sangat lelah. Tapi ia masih hidup.

Di sela-sela suara malam, ia mendengar sesuatu. Samar, dari kejauhan. Suara yang berbeda—bukan teriakan monyet, bukan tawa melengking.

Suara ayam berkokok? Tidak, tidak mungkin. Terlalu jauh. Tapi...

Tio menajamkan telinga. Suara itu hilang, tertelan suara-suara lain. Mungkin hanya halusinasi. Mungkin harapan yang membentuk suara.

Tapi untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ada secercah harapan di hatinya. Suara ayam berarti desa. Desa berarti manusia. Manusia berarti pertolongan.

Besok, pikirnya. Besok aku harus terus ke bawah. Aku harus menemukan desa itu.

Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Di sekelilingnya, bayangan-bayangan masih setia mengawasi. Tapi malam ini, Tio tidak terlalu takut. Mungkin karena macan itu memberinya keberanian. Mungkin karena harapan mulai tumbuh..

1
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
lanjuut/Determined//Determined/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
By the way, Thor, di deskripsi ceritanya kenapa pas paragraf keempat dan seterusnya nama MC-nya jadi Arya, ya? Atau ada dua MC?/Hey/
Bp. Juenk: 🤭 iya nih Kk typo dr tokoh di novel pf yg lain. thanks koreksi nya kakak
total 1 replies
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
mulai creepy... /Skull/
tׁׁׅׅhׁׁׅׅ֮֮ɑׁׅᥣׁׅ֪ɑׁׅׅ
apa yang kamu tabur, itu yang kamu tuai
한스Hans
Thor paragraf nya bisa di buat agak pendek GK 🤦 kepanjangan 🤦 , udah mampir Thor... mampir ya ke Switch-On 😄🤦
Bp. Juenk: siap. thanks supportnya 🙏
total 1 replies
Halwah 4g
mantap kaaaaa...karya baru lagi..sekrg dengan tema horor mengangkat tema pendakian...💪💪💪 semngat ka
Bp. Juenk: terimakasih Kaka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!