Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Malam semakin larut.
Api unggun kini menyala stabil, cahayanya menari pelan di antara bayangan pepohonan. Di atas sana, bulan sabit bersinar terang, memberikan cahaya lembut yang menyelimuti hutan.
Kai duduk sendirian di atas batang kayu, sedikit menjauh dari keramaian. Tatapannya kosong, sesekali mengaduk api dengan ranting di tangannya.
Pikirannya melayang ke berbagai hal—kejadian tadi, ucapan Amane, dan… kemungkinan terburuk dari “pembicaraan berdua” itu.
“Maaf sudah membuat anda menunggu.”
Suara itu menariknya kembali ke dunia nyata.
Kai tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh.
Amane sudah berdiri tidak jauh di depannya.
Cahaya api unggun dan sinar bulan jatuh lembut di wajahnya, memperjelas garis halus ekspresinya. Rambutnya sedikit tertiup angin malam, dan untuk sesaat—
Kai hanya diam menatapnya.
‘Kalau dilihat lagi… dia beneran cantik banget ya…’
Pikiran itu muncul begitu saja, tanpa izin.
Dan justru itu yang membuatnya panik.
Amane yang menyadari tatapan itu sedikit memiringkan kepalanya.
“…Apa ada sesuatu di wajahku?”
Kai langsung tersentak. Ia buru-buru mengangkat satu tangan, melambai kecil dengan canggung.
“Ah—tidak! Bukan apa-apa!”
Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan.
‘Bodoh banget sih aku… ini bukan waktunya mikirin yang kayak gitu…’
Amane menarik napas pelan, seolah mengumpulkan keberanian sebelum melanjutkan.
“…Kalau begitu, izinkan saya untuk menuntaskan urusan ini.”
Kai sedikit mengernyit.
Ia tidak langsung mengerti maksud ucapan itu. “Menuntaskan urusan”… terdengar terlalu serius untuk sekadar percakapan biasa.
Namun Amane tidak memberinya waktu untuk bertanya.
Ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, ekspresinya berubah lebih tegas—seperti saat ia menjalankan perannya sebagai pemimpin.
“Mulai dari memanggil anda ‘si mesum’…” ucapnya pelan.
“Sikap arogan dan ucapan saya selama ini… yang mungkin telah membuat anda merasa tidak nyaman…”
Lalu, tanpa peringatan—
Amane menundukkan setengah tubuhnya.
“Saya sungguh minta maaf.”
“A-amane-san—!”
Kai langsung panik. Ia tidak menyangka arah pembicaraan akan berubah sejauh ini.
Amane perlahan mengangkat kembali tubuhnya. Tangannya menyibakkan rambutnya ke belakang, lalu untuk pertama kalinya malam itu—ia tersenyum.
Bukan senyum sinis.
Bukan senyum menahan emosi.
Melainkan… senyum yang tulus.
“…Saya tidak pernah menganggap anda orang jahat,” lanjutnya pelan. “Bahkan sejak awal.”
“Eh…”
Kai terdiam sesaat, jelas tidak siap menerima pernyataan itu.
“B-begitu ya…”
Amane berjalan beberapa langkah, lalu duduk di batang pohon tempat Kai sebelumnya duduk. Gerakannya lebih santai sekarang, tidak setegang biasanya.
“Biar begini… saya cukup yakin kemampuan saya dalam menilai orang lain lebih tajam dari kebanyakan,” katanya sambil menatap api unggun di kejauhan.
Ia melirik sekilas ke arah Kai.
“Dan lagi… Marina selalu terlihat sangat senang saat membicarakan anda.”
Angin malam kembali berhembus pelan.
Kali ini, Amane berbicara lebih panjang dari biasanya. Nada suaranya juga berubah—lebih terbuka, lebih jujur.
“Tapi ini tetap pendapat pribadi saya,” lanjutnya. “Sebagai pemimpin White Snow, saya tidak bisa hanya mengandalkan perasaan seperti itu.”
Ia menunduk sedikit, menatap tangannya sendiri.
“Menyelidiki anda lebih dalam… mencari tahu alasan anda mendekati Marina… itu adalah kewajiban saya.”
Suaranya tidak keras, tapi penuh keteguhan.
“Apapun hasilnya… dan tidak peduli apa yang orang lain pikirkan tentang saya…”
“Selama keamanan rekan-rekan saya terjamin… itu yang paling saya harapkan.”
Hening sejenak.
Api unggun berderak pelan.
Kai memperhatikan Amane beberapa detik, lalu berjalan mendekat dan ikut duduk di depannya.
‘…Begitu ya,’ pikirnya dalam hati.
‘Pantas saja dia bersikap keras selama ini…’
Ia tersenyum tipis.
“…Bagaimana ya, Amane-san,” ucapnya pelan. “Alasan kenapa rekan-rekanmu begitu menyukaimu…”
Ia menatap Amane, kali ini tanpa canggung.
“…rasanya aku jadi paham.”
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin