Bagi Liana, mencintai Justin dimulai dari sebuah sore di lobi kampus. Hanya karena melihat Justin bermain basket di bawah hujan, Liana nekat mengejar pria dingin itu hingga mereka bersatu di tengah lapangan basket yang basah.
Namun, janji itu hancur saat Justin memutusnya secara sepihak di hari kelulusan Justin dan menghilang tanpa jejak.
Tiga tahun kemudian.
Liana terkejut saat harus berhadapan dengan CEO baru di kantor tempatnya melamar kerja. Justin kembali, namun ia kini asing, dingin, dan terjebak dalam pusaran perjodohan.
Meski waktu berlalu, Liana menyadari: "There was something about you that I can't forget." Hidupnya tetap terjebak pada melodi yang sama Lagu kesukaannya "About You" milik The 1975. Karena baginya, ini masih tentang Justin di setiap detiknya.
Apakah takdir memberi mereka kesempatan kedua, ataukah hujan kali ini benar-benar menghapus jejak mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Panah Kecemburuan
Sore itu, udara di Universitas Cakrawala terasa lebih berat dari biasanya. Meski matahari bersinar cerah, atmosfer di sekitar lapangan basket terbuka seolah diselimuti mendung tipis. Kabar burung tentang Justin yang mengantar Liana pulang telah menyebar seperti api yang ditiup angin kencang, merayap ke setiap sudut kantin hingga ruang-ruang organisasi.
Liana melangkah menuju lapangan dengan kepala tertunduk. Ia merasa setiap mata yang berpapasan dengannya seolah sedang menghakimi. Ada yang menatapnya dengan rasa ingin tahu, namun tak sedikit mahasiswi senior yang memberikan tatapan sinis. Di dalam tas olahraganya, jaket abu-abu milik Justin sudah tercuci bersih dan terlipat rapi, menunggu saat yang tepat untuk dikembalikan.
"Li, abaikan aja muka-muka singa itu," bisik Dhea sambil merangkul bahu sahabatnya. "Mereka cuma iri karena nggak pernah ngerasain duduk di jok depan mobil Kak Justin."
Liana tersenyum kecut. "Gue cuma nggak mau Kak Justin keganggu, Dhe. Dia kan kapten, reputasinya penting."
Di pinggir lapangan, Justin sudah berdiri tegak dengan peluit di lehernya. Ia tampak sedang berdiskusi serius dengan Raka. Wajahnya sedingin es, seolah foto yang menghebohkan kampus itu tidak pernah ada. Namun, Raka tahu benar bahwa Justin sedang dalam mode "siap meledak" jika ada yang berani memancing keributannya.
Latihan pemanasan dimulai. Para maba berlari mengelilingi lapangan. Liana berusaha fokus, memacu kakinya mengikuti irama napasnya. Namun, konsentrasinya buyar saat ia melihat rombongan mahasiswi dari UKM Tari berjalan anggun menuju pinggir lapangan. Di barisan paling depan, Alena berdiri dengan dagu terangkat, mengenakan pakaian latihan tari yang ketat dan modis.
Bukannya pergi ke ruang latihan tari, Alena justru berhenti tepat di bangku penonton yang berada di sisi lapangan basket. Ia duduk di sana bersama teman-temannya, melipat kaki, dan menatap tajam ke arah barisan maba—khususnya ke arah Liana.
"Wah, ada tamu agung nih," celetuk Raka pelan pada Justin. "Tumben Alena latihan di pinggir lapangan basket. Biasanya kan alergi keringat."
Justin hanya melirik sekilas tanpa minat. "Biarkan aja. Fokus ke latihan."
Setelah pemanasan selesai, Justin membagi maba menjadi beberapa kelompok untuk latihan shooting. Liana mendapat giliran di ring yang paling dekat dengan tempat Alena duduk. Setiap kali Liana gagal memasukkan bola, terdengar tawa kecil yang meremehkan dari arah Alena.
"Yah, gitu doang? Katanya anak emas Kapten, kok masukin bola aja nggak bisa?" sindir Alena cukup keras hingga beberapa orang menoleh.
Liana menggigit bibir bawahnya. Ia mencoba mengabaikan suara itu dan kembali mengambil bola. Tangannya sedikit gemetar. Fokus, Liana. Jangan dengerin, batinnya.
Namun, Alena tampaknya belum puas. Saat Justin sedang mengoreksi gerakan maba di ujung lapangan lain, Alena berdiri dan berjalan mendekati garis lapangan, tepat saat Liana sedang mengambil bola yang memantul keluar.
"Heh, Maba," panggil Alena dengan nada merendah.
Liana berhenti dan menoleh ragu. "Iya, Kak?"
Alena menatap Liana dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina. "Lo itu punya kaca nggak di rumah? Jangan kepedean cuma karena Justin kasihan liat lo kehujanan. Justin itu orangnya nggak enakan, dia bakal nolongin kucing kejepit sekalipun. Jadi jangan mikir lo itu spesial."
Liana terdiam. Kata-kata Alena terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya. "Saya nggak pernah mikir begitu, Kak. Kak Justin cuma nolongin saya sebagai juniornya."
"Halah, nggak usah akting polos!" Alena mendekat, suaranya merendah namun penuh penekanan. "Asal lo tau, gue dan Justin udah kenal lama. Jangan harap lo bisa masuk ke dunianya cuma modal muka melas. Jauhi Justin, atau lo bakal nyesel di kampus ini."
Dhea yang melihat sahabatnya dipojokkan langsung berlari mendekat. "Eh, Kak! Maaf ya, ini jam latihan basket, bukan jam drama tari. Kalau mau labrak-labrakan mending nanti aja!"
Alena melotot ke arah Dhea. "Lo siapa? Berani-beraninya ngomong gitu sama senior?"
Keributan kecil itu mulai menarik perhatian anggota tim lain. Raka menyenggol lengan Justin. "Tin, liat tuh. Alena mulai cari gara-gara sama Liana."
Justin menoleh. Matanya menyipit saat melihat Alena berdiri terlalu dekat dengan Liana yang tampak tertekan. Tanpa berkata-kata, Justin melangkah lebar menuju mereka. Suara sepatunya yang berdecit di lapangan semen membuat suasana mendadak sunyi.
"Ada apa ini?" tanya Justin dingin. Suaranya rendah namun penuh otoritas.
Alena langsung mengubah ekspresinya menjadi manis dalam sekejap. "Eh, Justin. Nggak ada apa-apa kok. Aku cuma lagi kasih 'saran' dikit buat maba kamu ini biar latihannya bener."
Justin tidak menatap Alena. Matanya tertuju pada Liana yang menunduk, lalu beralih ke bola yang dipegang gadis itu. "Saran apa yang harus dikasih sama orang yang bahkan nggak pernah pegang bola basket seumur hidupnya?"
Alena tersentak. Sindiran Justin telak menghantamnya. "Aku cuma mau bantu, Justin..."
"Alena," potong Justin, suaranya semakin dalam. "Gue kapten di sini. Urusan teknik dan mental maba gue, itu tanggung jawab gue. Bukan tanggung jawab UKM Tari. Kalau lo nggak punya urusan penting, silakan kembali ke ruang latihan lo."
Wajah Alena memerah karena malu. Di depan banyak orang, Justin baru saja mengusirnya secara halus—namun sangat tegas. "Justin! Kamu bela dia? Kamu denger kan gosip yang beredar? Dia itu cuma manfaatin kamu!"
Justin maju satu langkah, membuat Alena refleks mundur. "Siapa pun yang gue anter pulang, itu urusan pribadi gue. Dan siapa pun yang ganggu jalannya latihan gue, itu musuh gue. Paham?"
Alena menghentakkan kakinya kesal. Dengan wajah menahan tangis karena malu, ia berbalik dan pergi meninggalkan lapangan bersama teman-temannya yang juga tampak kikuk.
Keheningan menyelimuti lapangan selama beberapa saat. Semua maba terpaku melihat keberanian Justin membela Liana secara terang-terangan di depan umum. Raka hanya bersiul pelan di kejauhan, tahu bahwa ini adalah pernyataan sikap dari seorang Justin Adhinata.
Justin menarik napas panjang, lalu menatap Liana yang masih mematung. "Liana."
Liana mendongak pelan. "Iya, Kak?"
"Ambil bolanya. Lanjut latihan. Jangan biarin omongan orang yang nggak penting ngerusak fokus lo," ucap Justin. Nadanya kembali profesional, namun ada secercah kelembutan yang hanya bisa dirasakan oleh Liana.
"Baik, Kak. Terima kasih," bisik Liana tulus.
Justin mengangguk singkat, lalu meniup peluitnya dengan keras. "SEMUANYA! KEMBALI KE POSISI! LATIHAN LAY-UP SEKARANG!"
Liana kembali berlari menuju ring. Hatinya yang tadi sempat menciut, kini perlahan kembali mengembang. Ia tahu, pembelaan Justin barusan mungkin akan membuat gosip semakin kencang, tapi ia juga sadar satu hal: Justin tidak peduli pada apa yang dipikirkan orang lain selama ia merasa melakukan hal yang benar.
Di ujung lapangan, Justin memperhatikan Liana yang kembali bersemangat. Ia tahu tindakannya barusan akan membawa konsekuensi panjang, terutama dari pihak Alena yang terkenal nekat. Namun, melihat binar di mata Liana yang kembali muncul, Justin merasa keputusannya tidak salah.
Malam itu, di bawah lampu lapangan yang mulai menyala, Liana menyadari bahwa memiliki Justin di sisinya berarti ia harus siap menghadapi badai. Dan melihat cara Justin berdiri melindunginya tadi, Liana merasa ia sanggup melewati badai apa pun.