NovelToon NovelToon
Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Kyara, Bangkitnya Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ama Apr

Punya rumah tangga bahagia adalah dambaan setiap orang. Apalagi bagi seorang wanita. Suami dan mertua yang baik adalah anugerah yang tak ternilai harganya.

Seperti itulah harapan Kyara Nawasena. Menikah dengan lelaki yang ia cintai dan mencintainya ternyata tidak menjamin rumah tangganya berjalan mulus.

"Mas, tidakkah kau punya sedikit pun rasa iba kepadaku? Aku ini istrimu, bukan seorang babu!"

"Kalau kau sudah tak mau menuruti semua perintahku, lebih baik kau keluar dari rumah ini! Aku capek dan muak setiap pulang kerja harus mendengar ocehanmu! Kau itu adalah istri yang menyusahkan dan pembangkang!" Doni menghardik Kyara seraya melemparkan bantal ke wajah istrinya.

Kyara tersenyum getir, "Jika aku istri pembangkang, berarti kau adalah suami yang tidak bertanggung jawab!"

"Kyaraaa!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Pintu kamar terbuka perlahan. Doni masuk sambil menutup pintu di belakangnya. Ia menatap Kyara beberapa saat sebelum akhirnya berjalan mendekat.

Kyara melirik sekilas dari cermin rias di depannya. "Bagaimana, Mas, apakah Mama setuju aku berhenti bantu-bantu di rumah makan?" tanyanya datar.

Doni tidak langsung menjawab. Ia justru duduk di tepi ranjang, sedikit berhadapan dengan Kyara. Wajahnya tampak lebih serius dari tadi sebelum ia menemui ibunya. "Mama setuju, Kya," jawabnya pelan.

Kyara menghentikan gerakan sisirnya. "Serius, Mas?"

"Serius, Kya. Kalau kamu nggak percaya. Silakan tanyakan sendiri ke Mama."

Kyara menjawab pelan. "Aku percaya."

Hening menyelimuti sejenak. Doni tiba-tiba menghela napas panjang, lalu menatap istrinya dengan ekspresi yang seolah penuh penyesalan. "Kya, kita baikan ya?" Kalimat itu membuat Kyara terdiam. Ia perlahan menoleh menatap Doni. "Maafkan aku ... karena hampir lima tahun ini nggak pernah ngasih kamu nafkah lagi," lanjut Doni dengan suara lirih. "Aku sadar aku banyak salah sama kamu." Kyara hanya menatapnya tanpa berkata apa-apa. Doni melanjutkan, suaranya dibuat serendah mungkin. "Aku terlalu egois. Aku juga terlalu nurut sama Mama. Aku nggak pernah benar-benar memikirkan perasaan kamu." Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatap Kyara. "Tapi sekarang aku mau berubah, Kya. Aku janji akan jadi suami yang jauh lebih baik buat kamu."

Suasana kamar mendadak terasa sangat sunyi.

Hanya suara dersik angin dari luar yang terdengar bergemuruh.

Kyara menatap wajah Doni cukup lama. Jika percakapan ini terjadi beberapa tahun lalu, mungkin hatinya sudah luluh sejak kalimat pertama. Namun sekarang ... perasaannya tidak lagi sama. Di dalam hatinya justru muncul rasa dingin yang sulit dijelaskan. "Sepuluh tahun aku berumah tangga denganmu," batinnya. "Hanya tiga tahun kamu menjadi suami yang baik dan bertanggung jawab. Begitu pun keluargamu hanya baik di awal. Setelah itu, kamu mulai mengabaikanku dan Mamamu ... mulai memperlakukan aku seperti pembantu. Semua penderitaanku pun di mulai. Kamu memberikan nafkah semaunya. Dan lima tahun terakhir ini, nafkah itu pun menghilang. Keluargamu makin semena-mena ke aku. Hingga hampir setiap hari Mamamu memarahi dan menghinaku, seolah aku tidak punya harga diri. Dan kamu ... selama ini hanya diam. Bahkan ikut menyudutkanku." Kyara menarik napas pelan. Mengakhiri luapan batinnya yang menyakitkan.

Ia menundukkan pandangan sejenak, seolah sedang menahan perasaan. Padahal sebenarnya ia sedang menata ekspresinya. Ketika akhirnya ia mengangkat wajah, sorot matanya terlihat lebih lembut. "Kalau kamu memang mau berubah ..." ucap Kyara perlahan. "Aku juga nggak mau terus bertengkar."

Doni langsung menatapnya penuh harap. "Jadi ... kamu mau memaafkanku?"

Kyara mengangguk pelan. "Iya."

Wajah Doni langsung berubah cerah. Ia terlihat sangat lega. "Terima kasih, Kya. Aku janji mulai sekarang semuanya akan berbeda." Tanpa ragu, ia meraih tangan Kyara.

Kyara tidak menolak. Ia membiarkan tangan itu digenggam. Bahkan bibirnya membentuk senyum tipis. Namun Doni tidak menyadari sesuatu. Senyum itu tidak pernah benar-benar sampai ke mata Kyara. Karena jauh di dalam hatinya, perempuan itu sudah tidak percaya lagi. "Kalau kamu bisa berpura-pura baik ... aku juga bisa, Doni," batin Kyara. Ia menatap wajah suaminya yang kini tampak begitu tulus.

Padahal Kyara tahu, di balik sikap lembut itu pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan. Namun Kyara tidak peduli lagi. Batinnya kembali berbisik. "Lima tahun aku hidup tanpa uang sepeser pun darimu. Sekarang ... kalau kamu ingin berubah dan mulai memberiku nafkah lagi ..." Perempuan itu menundukkan wajahnya agar Doni tidak melihat kilatan dingin di matanya. "Aku akan menabung. Sedikit demi sedikit. Untuk masa depanku."

Doni masih terus berbicara tentang rencana-rencana indah. Tentang memperbaiki rumah tangga mereka. Tentang hidup baru sebagai pasangan suami istri yang lebih baik.

Kyara hanya mengangguk sesekali, seolah benar-benar mulai luluh. Padahal sebenarnya ... di dalam hatinya, ia sudah mulai menyusun rencana lain. Rencana untuk pergi dari rumah tiga lantai ini. Pergi dari Doni. Dan juga dari Hesti dan Dini untuk selamanya.

"Sekali lagi, makasih ya, Sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu."

"Iya." Kyara menjawab singkat. Kata "sayang" yang baru diucapkan Doni membuat ia jijik.

Doni pun beranjak dan segera berjalan ke kamar mandi.

Setelah suaminya menghilang di balik pintu kamar mandi, Kyara pun beranjak dari depan meja rias. Ia merapikan tempat tidur. Menata bantal, lalu naik ke atas ranjang dan merebah. "Semoga rencanaku ini berhasil." Kyara baru saja menarik selimut hingga menutupi pahanya ketika tiba-tiba Doni meraih tubuhnya. "Mas ..." Ia sedikit terhenyak, karena tak mendengar langkah suaminya keluar dari kamar mandi. Mungkin karena ia terlalu fokus pada pikirannya.

Doni memeluknya dari belakang, erat, seolah takut Kyara menjauh lagi. Dagunya bertumpu di bahu sang istri. "Kya ..." bisiknya pelan di dekat telinga Kyara.

Kyara sedikit menegang, tetapi ia tidak langsung melepaskan pelukan itu.

"Kita sudah lama nggak melakukan hubungan suami istri," lanjut Doni dengan suara rendah. "Aku kangen kamu." Belum sempat Kyara menjawab, Doni tiba-tiba menundukkan wajahnya dan mencium leher Kyara. Napas hangat pria itu menyapu kulitnya.

Kyara refleks memiringkan tubuhnya, sedikit menghindar. "Mas," katanya pelan.

Doni berhenti sejenak. "Kenapa?"

Kyara menoleh setengah badan, wajahnya tampak agak canggung. "Maaf ... tapi aku sedang datang bulan."

Kalimat itu membuat Doni langsung berhenti. Ia menarik wajahnya, lalu menatap Kyara dengan ekspresi kecewa. "Yah ..." keluhnya. "Padahal punyaku udah bangun."

Kyara menunduk sedikit."Maaf ya. Baru saja darahnya keluar," ujarnya jujur. Ia memang tidak berdusta. Beberapa menit sebelum Doni masuk kamar, ia baru menyadarinya di kamar mandi.

Doni mendesah pelan. "Hm ... ya udah deh. Nggak apa-apa," katanya akhirnya. Ia menggaruk tengkuknya, lalu bangkit dari ranjang. "Aku mau keluar sebentar. Mau beli rokok," katanya sambil berdiri. Lalu dengan nada setengah bercanda ia menambahkan, "Sekalian menidurkan si otong."

Kyara hanya menatapnya sekilas, lalu mengangguk kecil. "Iya, Mas."

Doni berjalan ke lemari, mengambil jaketnya. Setelah itu ia meraih dompet dan kunci mobil di atas meja kecil dekat tempat tidur.

Kyara memperhatikannya tanpa banyak bicara.

Beberapa detik kemudian Doni sudah berjalan ke arah pintu.

Pintu kamar terbuka. Tanpa berkata apa-apa lagi, Doni keluar dari kamar mereka di lantai dua rumah besar milik Hesti itu.

Pintu kembali tertutup. Suasana kamar langsung sunyi. Kyara menghela napas panjang. Tubuhnya yang tadi tegang perlahan mengendur. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran ranjang. Tangannya tanpa sadar menyentuh lehernya yang tadi dicium Doni. Rasa tidak nyaman masih tersisa. Bukan karena sentuhan itu ... melainkan karena ia tahu semua ini hanyalah bagian dari permainan Doni.

Kyara menatap pintu kamar yang sudah tertutup. Matanya perlahan berubah dingin. "Kalau bukan karena rencanaku ..." gumamnya pelan. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu berbaring. "Aku bahkan tidak ingin disentuh olehmu lagi, Doni." Lampu kamar masih menyala redup.

Dan di dalam kesunyian itu, Kyara kembali mengingat tujuan utamanya. Bertahan sedikit lebih lama. Mengumpulkan tabungan. Lalu pergi dari rumah ini, tanpa menoleh lagi.

_____

Doni melajukan mobilnya keluar dari garasi. Mesin mobil meluncur perlahan menyusuri jalanan kompleks perumahan yang mulai sepi.

Lampu-lampu taman berdiri berjajar di pinggir jalan, memantulkan cahaya kekuningan di aspal.

Begitu jarak rumahnya sudah cukup jauh, Doni meraih ponselnya yang tergeletak di kursi sebelah. Ia menekan nomor yang sangat ia hafal.

Beberapa detik kemudian sambungan terhubung. Suara perempuan terdengar di seberang, lembut dan manja. "Halo, Mas. Tumben nelepon malam-malam," ucap wanita itu. "Apa Mas nggak takut ketahuan istri Mas yang galak itu?"

Doni langsung terkekeh pelan sambil menyetir dengan satu tangan. "Aku lagi di luar rumah, Sayang," jawabnya santai. "Tenang aja." Ia melirik jalanan yang kosong di depannya. "Kamu ada di apart nggak? Aku kangen banget nih."

Di seberang sana terdengar tawa kecil yang genit. "Ada dong," jawab wanita itu. "Mas mau ke sini?"

Doni menjawab cepat. "Iya, kalau kamu nggak keberatan mah."

"Nggak, dong. Aku juga kangen banget sama Mas," balas perempuan itu manja.

Doni tersenyum lebar. Ia memang sudah menunggu jawaban itu. "Oke. Aku ke sana sekarang," katanya. Beberapa detik kemudian ia menambahkan dengan nada yang lebih rendah, "Dan kamu ... harus pakai lingerie yang waktu itu aku belikan."

Terdengar suara perempuan itu tertawa pelan lagi. "Oke, Masku sayang."

Telepon terputus.

Doni meletakkan ponselnya kembali di kursi sebelah, lalu menekan pedal gas sedikit lebih dalam. Mobilnya meluncur lebih cepat meninggalkan kompleks perumahan itu. Wajahnya tampak santai, bahkan sedikit bersemangat.

Beberapa puluh menit yang lalu ia masih berpura-pura menjadi suami penuh penyesalan di hadapan Kyara. Meminta maaf. Berjanji akan berubah. Namun sekarang, ia justru sedang menuju ke apartemen wanita lain.

Senyum tipis muncul di sudut bibir Doni. "Kyara ... Kyara," gumamnya pelan sambil menggeleng. "Kamu masih aja percaya sama omonganku. Dasar istri bodoh! Tolol!"

1
falea sezi
bkin cerai lah lama amat g sat set kya menye menye agak. oon
falea sezi
harusnya semua isi ATM di kuras
falea sezi
muter. doank. sih. Thor hadehh. g sat sett. kelamaan. drama. doank
falea sezi
menye menye oon
stela aza
menjijikan
stela aza
males bgt kebanyakan drama
stela aza
Nora bgt biyunge Doni Karo Doni ,, melayat kaya mau kondangan
Ama Apr: haha orkay sombong adigung kk
total 1 replies
stela aza
Thor emang si Kya g punya kelebihan selain beres2 rumah ,,, kasian amat mau minggat dari rumah itu nunggu ngumpulin duit di kasi Doni 🤦
stela aza: kalau bisa karakter cewenya jgn cuma cantik doank Thor harus punya kelebihan yg bisa di banggakan 🤭
total 2 replies
I Love you,
🤣🤣🤣🤣🤣 kaget ya...🙏🙏
Ama Apr: hehe iya
total 1 replies
I Love you,
nnk karma tunai bayar nya g nyicil loh🤣🤣
Ama Apr: hehehe
total 1 replies
I Love you,
😤😤😤😤selingkuh dia😡😡
Ama Apr: iya kk
total 1 replies
falea sezi
bertele tele tolol males
Ama Apr: skip aja kk
total 1 replies
falea sezi
ngadu ngadu percuma ambil tindakan. lah. goblok. je males. like. lahh g jelas
falea sezi
oon menye menye
Amy
jgn mau kyaa
Ama Apr: semoga kya nggak luluh
total 1 replies
CB-1
lanjut kaak💪
Ama Apr: siap kk, makasih🫰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!